
DILARANG KERAS UNTUK BAPER ! 🤭
Karena author tidak bertanggung jawab atas ke-baperan yang terjadi ! 😅
.
.
.
Ini adalah kali pertama Meta menginjakkan kakinya digedung tujuh belas lantai yang merupakan kantor utama dari pak Rico.
Sungguh saat ini perasaan marah, kesal dan geram, bercampur aduk tak beraturan didalam dirinya, terlebih setelah pak Rico telah mengacuhkan setiap panggilan telponnya, beberapa mesagenya, bahkan chat wa-nya yang dipenuhi kemarahan hanya di read oleh lelaki itu tanpa satu pun yang dibalas.
Sesaat setelah ia menerima begitu banyak pemberitahuan tentang panggilan tak terjawab dari nomor ibu dan Mayra usai mendampingi pak Tian dalam meeting dengan salah satu klien indotama group, Meta langsung bergegas menelpon balik ibu.
Tak lama panggilan Meta telah dijawab, namun bukan suara ibu melainkan Mayra. Dan dari Mayra-lah Meta mendapati kenyataan bahwa atas permasalahan yang sedang dihadapi ibu mengenai uang kontrakan yang telah ditagih dua hari sebelum tanggal jatuh tempo oleh pemilik rumah yang mereka kontrak, lagi-lagi pak Rico telah menjadi pahlawan ibu dalam menyelesaikan persoalan yang lagi-lagi dan lagi.. menyangkut persoalan uang.
Dua puluh lima juta sebenarnya bukan-lah angka yang cukup besar untuk Meta, mengingat bahwa didalam rekeningnya Meta bahkan memiliki sejumlah uang yang telah mencapai tujuh digit dalam sekejap, setelah ia dengan sengaja terus meminta upah kepada pak Rico atas keberadaan dirinya dalam kehidupan lelaki itu.
Tapi mengingat bahwa lagi-lagi pak Rico selalu berada di posisi yang tepat setiap kali persoalan keluarganya membutuhkan uang itulah yang membuat Meta gusar. Meta sudah memperingatkan lelaki itu berkali-kali untuk tidak lagi mencampuri urusan keluarganya tapi pada kenyataannya pak Rico kembali mengingkarinya.
“Aku ingin menemui, pak Rico Chandra Wijaya. Apa beliau ada ?” tanya Meta ke bagian resepsionis, dimana seorang wanita cantik dengan rambut dicepol ala pramugari telah menyambutnya dengan senyum ramah.
“Maaf.. tapi apa ibu telah membuat janji sebelumnya ?”
“Tidak, tapi aku ingin bertemu dengan beliau. Apa beliau ada ? ini penting..!”.
“Pak Rico ada diruangannya, tapi anda tidak bisa bertemu langsung tanpa membuat janji terlebih dahulu.”
“Sudah saya bilang saya tidak membuat janji. Tapi bisa tidak anda mengatakan kalau Armetha Wulansari ingin bertemu ?” ucap meta bersikeras.
Untuk sejenak wanita resepsionis itu nampak menatapnya ragu, namun Meta membalasnya dengan tatapan memohon.
“Tolong.. pliss..” ucap Meta lagi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya sebelum akhirnya ia sedikit lega karena wanita resepsionis itu akhirnya mengangkat gagang interkom yang ada dihadapannya, menghubungi sekretaris pak Rico untuk meminta ijin menemui sang boss best electro itu.
XXXXX
Rico mengusap wajahnya usai menerima pemberitahuan sekretarisnya yang mengabarkan bahwa seorang resepsionis telah memberi informasi bahwa dilantai satu ada seorang wanita bernama Armetha Wulansari, sedang memaksakan diri agar bisa menemuinya.
Rico membuang nafasnya sejenak. Padahal ia sengaja telah mengacuhkan telepon Meta untuk menghindari perdebatan, begitupun dengan message dan wa, tapi siapa sangka Meta malah nekad mendatanginya langsung ke kantor.
“Katakan kepada resepsionis itu untuk mengantarnya langsung keruanganku..” ujar Rico akhirnya, sebelum menutup interkom.
XXXXX
Meta telah berdiri tepat dihadapan Rico. Tubuhnya tegak, pandangannya tajam, wajahnya bahkan memerah dan terkesan kaku dipenuhi amarah, namun Rico yang melihat semua aura gelap yang terpancar dihadapannya itu malah tersenyum.
Nyaris seminggu tidak melihat Meta cukup membuat hatinya sedikit lega saat menyadari wanita itu terlihat baik-baik saja, penuh dengan aura kepercayaan diri yang semakin kuat.
Tidak ada yang tau bahwa disaat hari pertama Dani menunjukkan postingan story Meta dibeberapa akun media sosial wanita itu, sejak saat itu diam-diam Rico sering mengintip setiap aktifitas Meta setiap hari, menjadi saksi keceriaan
hari-harinya yang begitu cepat kembali seperti sedia kala.. sebelum Rico hadir dan merampok dunia wanita itu serta memenjarakannya bersama segudang persoalan hidupnya yang seolah tak pernah usai.
“Apakah kamu se-kangen itu sampai-sampai begitu ngotot ingin menemuiku..?” ucap Rico mencoba mencairkan suasana yang mencekam diruang kerjanya.
Meta terlihat melengos. “Apa pak Rico benar-benar tidak tau.. atau hanya berpura-pura tidak tau..?”
Rico tertawa tanpa suara mendengar kalimat sinis yang terlontar dari mulut mungil yang kemudian mencuri perhatiannya.
“Duduk dulu..” ujar Rico mengangkat kedua alisnya seolah ingin menunjukkan dua buah kursi kosong yang ada dihadapan meja kerjanya yang besar.
“Tidak perlu !”
Mendengar bantahan itu Rico menarik nafasnya perlahan, terlebih saat kilatan api kemarahan yang menyala pada sepasang mata Meta yang sama sekali tidak bekurang kobarannya.
Lama Rico menunggu pergerakan Meta namun Meta tetap berdiri tegak. Melihat hal itu akhirnya Rico memutuskan untuk berdiri dari kursi Ceo, berjalan mengitari mejanya sebelum akhirnya berdiri tepat dihadapan Meta yang masih saja menatapnya marah.
Rico meraih pergelangan tangan wanita itu dengan lembut. “Kemari..” ajaknya seraya berjalan kearah sofa yang ada disudut ruangan. Mengajaknya untuk berbicaran dengan tenang di sana, tapi belum ada dua langkah pergelangan tangan itu telah menghentak kasar hingga terlepas dari genggaman Rico.
“Aku bisa sendiri !” sungut Meta dengan raut wajah terlipat, sambil berjalan kearah sofa dengan langkah tegas.
Sejenak Rico hanya memandangi pergerakan Meta hingga wanita itu benar-benar menghempaskan tubuhnya keatas sofa panjang dengan sedikit kasar.
Rico memilih duduk di sofa single sambil terus mengawasi Meta. “Jangan marah pada ibu, karena ibu menghubungiku dalam keadaan yang mendesak, sementara ponselmu tidak bisa dihubungi..”
“Itu adalah urusanku dengan ibuku. Pak Rico tidak perlu mencampuri terlalu dalam.”
Mendengar kalimat pedas itu kesabaran Rico nyaris hilang begitu saja, untunglah Rico masih bisa mengontrol emosinya. “Baik.. mari kita buat semuanya lebih mudah..” ujarnya mulai kesal seraya menatap Meta. “Jadi.. apa yang kamu inginkan..?”
“Aku kan sudah bilang berkali-kali. Berhenti peduli pada masalahku..! berhenti peduli pada kami !””
“Lalu ?”
“Tidak kepadaku.. tidak kepada ibu.. tidak kepada semua keluargaku..”
Rico menatap Meta semakin dalam. “Ada lagi..?”
“Intinya, Aku tidak mau menerima kebaikan begitu saja..!” pungkas Meta dengan tegas, membuat senyum sinis Rico terkembang.
“Kata siapa aku memberikan kebaikan begitu saja ?” usai berucap demikian Rico memindahkan duduknya yang awalnya berada di sofa single, kini beralih ke sofa panjang.. tepat disamping Meta.
“P-pak Rico mau apa ?” melihat itu Meta refleks beranjak menjauh, hingga posisi tubuhnya mentok ditangan sofa.
“Kamu tidak ingin sesuatu yang gratis kan..? kamu selalu ingin berhitung untung rugi denganku, kan ?”
“Aku setuju denganmu. Aku juga tidak mau melakukan sesuatu yang cuma-cuma.”
“Aku sudah bilang, aku tidak suka pak Rico mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan dariku..!”
“Baik, mari kita deal-kan saja sewa kontrak rumah sebesar dua puluh lima juta itu. Anggap saja aku sudah melakukan bagianku, dan sekarang aku meminta imbalannya..”
Bertepatan dengan usainya kalimat itu Rico langsung mengikis jarak yang tidak seberapa diantara mereka.
Meta yang tidak menyangka aksi Rico yang tiba-tiba kembali menciumnya itu sontak terbelalak ditempatnya dengan pikiran yang blank. Bayangan erotis yang telah mengotori jiwa polosnya setelah seminggu yang lalu tercemar oleh perbuatan pak Rico sebelumnya saja belum bisa ia lekangkan dari benaknya.. dan sekarang hal serupa malah terjadi lagi.
“Apa sekarang kita sudah impas ? atau masih kurang..?” bisik Rico sambil tersenyum sinis, wajahnya yang begitu dekat membuat Meta memalingkan wajahnya yang memanas. Jantung Meta berdebar tak karuan saat menyadari sepersekian bobot tubuh lelaki dewasa itu bahkan telah menindihnya di sofa.
“C-cukup..”
“Cukup ? bukankah kamu hanya suka dengan uangku ? kalau kamu tersipu seperti ini bisa-bisa aku jadi salah paham kalau kamu juga menyukaiku..”
“Jangan mimpi. Aku tidak mungkin menyukai lelaki brengsek seperti pak Rico..” dalam hati Meta mengutuk setiap semburat yang menghiasi wajahnya yang menandakan kepolosan jiwanya.
“Aku lega mendengarnya.”
“Pak Rico.. aku membencimu..”
Tangan Rico yang tiba-tiba menyusup dibawah tengkuk Meta membuat sekujur tubuh Meta meremang. Lelaki itu menekan tubuhnya lebih rapat seraya berbisik dengan suara berat. “Tidak apa-apa.. selagi kamu masih menyukai uangku.. itu saja sudah cukup..”
Dan Rico kembali melu mat bibir itu lagi, kali ini lebih lama..
Lebih dalam..
Lebih hangat..
Lebih membuai..
Bekas ciuman panjang yang menggairahkan kembali menguasai benak Meta. Membuat Meta merasa benci sekaligus penasaran dengan sensasi rasanya yang membuat terlena.
Namun saat Meta merasakan dorongan aneh dari dalam dirinya..
Yang semakin ingin membuka diri..
Semakin ingin mencicipi lebih banyak..
Semakin menginginkan lelaki yang begitu pandai melakukan semua hal yang baru untuknya..
Tiba-tiba Rico sudah berhenti dan kembali mengambil jarak, bangkit dari duduknya dengan senyum penuh kepuasan.
“Lunas..” ujar Rico sambil tersenyum menang, detik berikutnya lelaki itu telah kembali ke mejanya untuk mengangkat interkom yang kembali berbunyi, menandakan sekretarisnya yang ada diluar ruangannya sedang menghubunginya untuk memberitahukan sesuatu.
“Iya, Winda ?”
…
“Membawa makan siang ? Shela ?”
…
“Tidak apa-apa, suruh dia masuk saja..”
Rico menaruh kembali gagang interkom ketempat semula, sementara Meta langsung berdiri dari duduknya begitu mendengar pak Rico menyebut nama Shela. Hatinya mendadak terbangun begitu saja.. dari sebuah mimpi yang melenakan.
“Mau kemana ?”
“Aku akan pergi. Jangan sampai mengganggu pak Rico dan..”
Mengambang..
Bunyi pintu terpentang memutus kalimat yang belum sempat keluar dengan sempurna karena Meta secara refleks telah mengalihkan fokusnya kebingkai pintu, dimana seorang wanita yang memang sekilas memiliki kemiripan dengan ibu Lila bahkan terlihat sedikit lebih cantik karena usianya yang lebih muda, telah berdiri disana seraya tersenyum menawan.
‘Inikah Shela ?’
Bathin Meta tehenyak, mendapati wanita cantik yang mematung dibingkai pintu itu.. juga sedang mengulitinya.
Sementara itu..
Senyum sumringah Shela yang menenteng sebuah tas makanan dengan logo salah satu resto terkenal itu pun mendadak memudar.. saat mendapati wanita lain diruangan kerja lelaki yang sedang menjadi target masa depannya.
.
.
.
Bersambung..
Doain author yah, readers.. mag lagi kambuh nih.. perihh beud.. 🥺
Favoritekan novel ini,
like dan comment setiap bab-nya, dan
berikan hadiah serta vote yang banyak yah.. 🙏
Thx and Lophyuu all.. 🥰