
Bab sebelumnya sudah di like kan?
Yuk.. cekidooott.. 😀
.
.
.
Setelah semua urusan keberangkatan selesai Rudi kembali ke lounge dimana Tian dan Rico beserta istri-istri mereka menunggu.
"Bagaimana, Rud? beres?"
"Siap pak." jawab Rudi disambut senyuman lega oleh Tian.
"Finally.." Tian bangkit dari duduknya. "Ayo semuanya, pulau Dewi sudah menanti.." ujarnya sumringah kearah tiga wanita yang duduk di sofa sambil menikmati breakfast, yang langsung menampilkan wajah cerah mendengar apa yang disampaikan Tian.
Ekspresi semua orang yang berada di lounge itu nampak ceria, namun berbeda halnya dengan Rico yang malah terlihat bengong ditempatnya..
Apa? pulau Dewi?
Jadi mereka akan pergi ke pulau Dewi?
Oh my..
Kepala Rico mendadak pening begitu menyadari situasi yang sedang ia hadapi.
Baru kemarin ia telah berhasil mengirim Shela dan teman-temannya ke pulau Dewi.. dan sekarang ternyata perjalanan mereka juga memiliki tujuan yang sama, yakni ke pulau Dewi.
'Bodohnya aku.. kenapa sejak awal aku tidak pernah bertanya kemana tujuan yang dimaksud Tian?'
Membayangkan wajah agresif milik Shela saja sudah cukup membuat pikiran Rico semakin kalut.
Meta yang bingung saat menyadari Rico masih betah bengong dan belum beranjak sama sekali dari duduknya setelah semua orang nampak bergegas keluar akhirnya memilih mendekati lelaki itu dulu setelah suster telah mengambil alih Rei darinya.
"Pak Rico.."
Bisik Meta perlahan, mencoba mendapatkan perhatian Rico namun ternyata tidak semudah itu karena Rico masih tercenung lama ditempat duduknya.
"Pak Rico..!!"
Kali ini suara Meta cukup keras seraya menusuk pipi Rico dengan jarinya telunjuknya, cukup ampuh membuat Rico terkesiap.
"Egh.."
"Pak Rico.. ayo, malah bengong.."
Sesaat Rico telah tersadar begitu melihat punggung semua orang yang telah menjauh, menyisakan dirinya dan Meta di lounge tersebut.
Meskipun awalnya pikiran Rico begitu kalut, namun ketika menyadari Meta telah mengingkari janji untuk tidak memanggilnya 'pak Rico' lagi justru lebih ampuh mengembalikan semangat Rico yang sempat pudar.
'Persetan dengan Shela..'
Bathin Rico sebelum kemudian menatap Meta dengan tatapan penuh maksud.
"Kemari.."
Mendengar titah itu membuat Meta menatap Rico bingung.
"Mendekat kemari.." ulang Rico lagi.
"T-tapi.."
Dan Meta hanya bisa melotot mendapati wajah Rico yang tersenyum usai mengecup dan melu mat beberapa saat.
"Jangan protes, itu sudah menjadi kesepakatan kita tadi pagi," dengan cuek Rico mengamit bahu Meta sambil tersenyum jumawa penuh kemenangan, membawa Meta berjalan keluar dari lounge khusus private jet tersebut, mengikuti kemana arah dari rombongan kecil yang sudah mendahului mereka didepan sana.
"Tadi.. kenapa melamun?" tanya Meta saat kembali teringat ekspresi Rico yang memucat usai mendengar kalimat Tian yang menyebutkan pulau Dewi.
"Tidak apa-apa," kilah Rico berusaha mengelak, namun Meta merasa tidak bisa percaya begitu saja mengingat gerak-gerik Rico saat ini saja terlihat salah tingkah dan mencurigakan
"Apa ada sesuatu di pulau Dewi?" usut Meta lagi penasaran.
Kali ini Rico menggeleng cepat.
"Tapi.."
"Pulau Dewi adalah pulau kecil yang cukup ramai. Dan menurutku.. disana tidak ada sesuatu yang terlihat sangat menarik.."
Mengambang, sambil menghentikan langkahnya sejenak guna mendapati wajah Meta yang juga tengah menatapnya.
"Selain kehadiran dirimu tentunya.." pungkas Rico mulai melancarkan jurus andalan.
'Gombal..?!'
Iya, memang saat ini Rico sedang melancarkan keahliannya yang sempat membuat Meta tersipu sejenak sebelum akhirnya memilih mencebik begitu tersadar, ia tidak boleh percaya begitu saja dengan rayuan casanova sekelas Rico yang jam terbangnya sudah jangan ditanya.
"Sudah sering.." sindir Meta sambil beranjak meninggalkan Rico yang malah tertawa kecil mendengar sindiran itu.
"Meta.."
Rico mensejajari langkah Meta yang terayun tenang tanpa mau menoleh padanya lagi. Sengaja bersikap acuh guna menghindari rasa baper yang akan melanda jika dirinya terus-menerus mendengarkan kalimat semanis gula.
"Meta.."
Kali ini Rico sudah kembali mengamit lengan Meta, namun Meta berusaha untuk tetap tidak mengacuhkannya.
"Mommynya Rei.."
'Akhh.. stop it..!!'
Panggilan terakhir itu terlalu manis, membuat Meta tidak bisa tidak untuk melunak, terlebih Rico memanggilnya dengan nada lirih dan sedikit berbisik ditelinganya.
Wajah Meta yang merona sudah cukup membuat senyum Rico merekah sempurna, seolah baru menemukan sebuah harta karun.
Yeah.. it does. Bagi Rico, menemukan kelemahan hati Meta memang ibarat menemukan sebuah harta karun yang terpendam ribuan tahun, atau dengan kata lain.. tidak mudah..
.
.
.
Bersambung..
Yang mau ikutan GC WA nya "Istrinya Ceo Tampan" subscribe profil author dulu yah, biar aq bisa kirim chat room untuk confirm no. WA.. 🤗
Buat seru2an aja biar makin tinggi halu-nya.. ðŸ¤
Yang gak mau ikutan gak apa-apa, tapi jangan berhenti untuk support author yah.. 🥰
Thx Lophyuu para kesayangan.. 😘