CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Ingin diperhatikan


“Ini bekal makan siang saya, Pak..”


“Bekal makan siang ?” ulang Tian.


“Iya, Pak.. saya terbiasa membawa bekal makan siang saya sendiri dari rumah,” Arini menjawab malu-malu.


“Jadi kamu kekantor membawa tupperware seperti ini ?” Tian sedikit terbelalak mendapati kebiasaan aneh Arini lainnya.


Arini menganguk kuat-kuat. “Saya tidak terlalu suka pergi ke kantin pada jam makan siang, Pak.. makanya lebih baik saya bawa saja dari rumah.”


Tian masih menatap tak percaya.


“Sungguh Pak Tian.. saya tidak sedang berusaha membuat makanan untuk Pak Tian kok.” Arini mencoba menjelaskan dengan wajah yang dibuat semeyakinkan mungkin bahwa ia memang tidak sedang melanggar aturan sang boss besar. Arini tidak ingin Tian kembali marah dan semakin illfeel padanya hanya karena ia tidak  mengindahkan ucapan Tian kemarin untuk tidak boleh peduli pada Tian meskipun hal itu sangat sulit untuk dilakukan Arini dan membuat hatinya merasa teramat sangat sedih.


Sejak awal Arini selalu berangan-angan untuk bisa menjadi istri yang bisa melayani semua kebutuhan suaminya kelak, tapi hal itu ternyata justru bertolak belakang dengan keinginan Tian yang sejak awal justru sudah menutup semua pintu hatinya untuk kehadiran Arini sebagai istrinya.


Arini tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti semua keinginan Tian dulu. Merelakan kehilangan kesempatannya menambang pahala dalam menjalankan kewajibannya demi menjaga agar suaminya tidak merasa kesal dan semakin tidak nyaman dengan kehadirannya yang tentu saja tidak pernah diharapkan lelaki itu.


Meskipun hanya diam, tapi sejujurnya Tian cukup terhenyak mendengar penjelasan Arini.


‘Astaga.. wanita ini..?’


Tian merasa sedikit menaruh curiga, apakah ia tidak salah menikahi wanita dibawah umur ? Apakah Arini ini sudah benar-benar dewasa ? mengapa cara berfikir dan tingkah polahnya teramat sangat naif seperti anak kecil yang tanpa dosa begini ?


Tian menatap Arini lagi yang masih memegang bekal makanannya dengan erat seperti seorang bocah yang takut jika Tian akan merampas miliknya.


‘Memangnya berapa sih umur perempuan ini ? kenapa dia bisa se polos ini sih ?’


Rutuk Tian gemas sendiri.


“Saya minta maaf, Pak, tapi Pak Tian tidak keberatan kan jika saya meminjam dapur ini..?”


Pertanyaan sederhana itu nampak dilontarkan dengan hati – hati.


“Pakailah sesukamu.” Ketus Tian hendak berbalik secepat kilat. Rasa heran, gemas terlebih malu campur aduk di hatinya saat ini.


Entah apa yang ada diotak polos Arini, bisa–bisanya dia mampu mengatakan bahwa dia hanya memasak makanannya sendiri ? otak Tian langsung terasa pening seketika. Ia merasa teramat sangat malu sudah ge-er duluan, tapi Tian tetap berusaha mempertahankan wajah dinginnya dihadapan Arini yang terus menatapnya dengan pandangan bingung.


“Pak Tian..”


“Apa..?!”


“Aaa.. apa Pak Tian benar–benar tidak ingin saya siapkan bekal makan siang juga..?” Arini bertanya perlahan, meskipun dalam hatinya merutuk.


‘Pertanyaan bodoh. Untuk apa bertanya jika ia sendiri sudah tau jawabannya. Lelaki itu, menatapnya saja enggan.. apalagi membawa bekal makanan yang dibuatnya..??’


“Apa kamu pikir aku anak taman kanak-kanak sampai harus kekantor bawa Tupperware segala ?”


“Kalau Pak Tian malu membawanya, saya bisa membawanya..”


“Tidak perlu !” Beranjak begitu saja tanpa menoleh.


‘Benarkan..? Sudah kubilang, Arini.. Arini.. kamu benar–benar wanita bermuka tembok yang


pantang menyerah.. masih berharap Pak Tian mau berbaik kata denganmu..? Huhh,


mimpi saja..!’


Ledek batinnya sendiri.


Tanpa sadar ia menggeleng. Aahh astaga.. bahkan sekarang nuraninya sendiri sudah berani mengejeknya seperti ini. Tapi saat Arini ingat sesuatu bergegas ia menyusul lelaki itu yang berniat kembali kekamar setelah menaruh kembali tupperwarenya terlebih dahulu keatas meja.


“Eh.. Pak Tian..” tukasnya setelah sukses mengejar dan berada tepat dibelakang punggung kekar itu.


Tian urung memutar gagang pintu kamar mereka. “Apa lagi ?“


“Hari ini saya sudah masuk kerja.”


“Lalu ?”


“Saya mau berangkat sekarang saja..”


“Ya sudah sana..”


“Pak Tian..”


“Aduhh, apa lagi sih Arini ??”


“Apa Pak Tian benar–benar tidak butuh bantuan saya..?”


“Bantuan kamu ? Bantuan apa..?” Tian berbalik menatap Arini yang berdiri jengah dihadapannya.


Arini menatap Tian ragu–ragu. “Mmm.. misalnya menyiapkan baju yang akan Pak Tian pakai ke kantor nanti atau..” ucapannya terhenti saat menerima sorot mata Tian yang menatapnya tajam setajam mata pisau, mendadak ia meringis kecil mendapati sorot mata Tian yang tajam itu. “Maaf Pak.. tadi pagi sebenarnya saya mau  enyiapkannya.. tapi saya khawatir kalau pilihan saya tidak sesuai keinginan Pak Tian..”


“Kalau tidak disiapkan, ya sudah..!” ucap Tian dongkol setengah mati. Tiba–tiba ia merasa kesal sendiri mengapa Arini selalu seperti ini. Apa dia tidak bisa berinisiatif sedikit saja untuk menyiapkan pakaiannya tadi ? Huhh !


Tapi setelah itu sisi hati Tian yang lain merasa sedikit tidak mengerti mengapa sekarang ia justru ingin diperhatikan Arini ? Mengapa sekarang ia merasa tidak senang saat diacuhkan ? Memikirkan semua itu Tian merasa otaknya semakin tidak beres saja.


“Saya takut Pak Tian nanti akan marah lagi kalau saya melanggar..”


“Kalau takut ya sudah. Jangan siapkan apa–apa. Dan kalau tidak siapkan apa–apa tidak usah ribut bertanya macam–macam juga. Sungguh merepotkan !”


Arini tertunduk lemah.


“Sekarang apa lagi ?!” ketus Tian saat menyadari Arini yang masih belum beranjak.


“T–Tidak.. egh, kalau begitu saya berangkat kerja duluan, Pak.”


Tian tidak menjawab, ia menyelonong begitu saja kedalam kamar dan membanting pintu keras tepat didepan hidung Arini yang hanya bisa menarik nafas berat dan tersenyum kecut.


Hhh.. Selalu seperti ini. Tidak pernah sedikit pun mereka bisa bicara dengan baik. Arini kembali kedapur dengan gundah. Nasi goreng telur diatas meja nampak mulai mendingin. Ragu akhirnya Arini menghempaskan tubuhnya perlahan disana dan mulai mengunyah sarapannya itu perlahan. Sesekali matanya melirik kearah pintu kamar yang tertutup rapat.


Akhirnya, sampai Arini selesai memakan sarapannya, membereskan meja makan yang telah dipakainya, bahkan mencuci peralatan makannya, pintu kamar itu masih tertutup rapat. Perlahan Arini meraih bekal yang terkemas didalam tupperware, menaruhnya kedalam tas.


Arini memutuskan untuk segera berangkat ke kantor karena kalau tidak ia pasti akan terlambat. Arini beranjak keluar sambil terus mengawasi pintu kamar sesekali, namun pintu itu tetap tertutup rapat sampai Arini benar–benar keluar dari pintu apartemen Tian.


---


Tian baru saja melangkahkan kakinya memasuki gedung kantor pusat Indotama Group. Seperti biasa, Rudi, Asisten pribadi Tian yang menyambutnya begitu Tian turun dari mobil setia mengikuti langkah sang Ceo, mereka berjalan kearah lift.


“Persiapan meeting sudah siap, Rud..?”


“Sudah, Pak,”


sebelum jam meeting yang ditentukan.


“Rudi..”


“Iya pak ?”


“Bisa carikan saya nasi goreng telur ? tiba-tiba saja saya ingin sekali makan makanan itu sekarang.”


Rudi menganguk sedikit bingung dengan permintaan sang boss yang tidak seperti biasanya itu, “Bisa, Pak.. di café depan juga jual,“


“Ya sudah, cepat beli dulu, dan bawa ke ruangan saya


secepatnya,” titah Tian.


Rudi menganguk, tepat saat pintu lift terbuka, ia menunggu Tian masuk kedalam lift terlebih dahulu sebelum kemudian berbalik untuk membeli nasi goreng telur seperti yang diperintahkan.


“Rudi, tunggu sebentar,”


Rudi berbalik menatap sang boss lagi yang nampaknya sengaja menahan pintu lift agar tidak tertutup dengan tangannya.


“Masih ada lagi yang ingin dipesan, Pak ?”


Tian terlihat mencoba mengingat sesuatu, yang tak lain adalah penampilan nasi goreng buatan Arini tadi pagi. “Jangan lupa telurnya harus telur ceplok setengah matang..”


“Baik, Pak.” Rudi menganguk, meski dalam hati kembali diliputi tanda tanya ada apa gerangan Pak Tian hingga tiba–tiba menginginkan sarapan yang berat dipagi ini.


Nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang..?


Apakah Ibu Arini sudah hamil dan Pak Tian sedang mengalami syndrom couvades alias syndrome suami yang merasakan ngidam karena efek kehamilan istri ?


Tapi sepertinya tidak mungkin kalau Ibu Arini bisa hamil secepat itu. Mereka kan baru menikah..?


Rudi mengegeleng-gelengkan kepalanya, mengusir beberapa pertanyaan iseng yang timbul diotaknya begitu saja akibat keanehan Pak Tian di pagi ini.


---


Arini berdiri tepat didepan lift, menunggu pintu lift terbuka untuk membawanya ke lantai lima belas. Di tangan Arini ada setumpuk laporan yang rencananya jika sempat akan diselesaikan Arini hari ini juga.


Hanya mengambil cuti selama empat hari saja, ternyata cukup membuat Arini kewalahan dengan sejumlah pekerjaannya yang menumpuk.


Ting.


Pintu lift terbuka. Dengan cekatan Arini melangkahkan kakinya kedalam ketika sebuah suara sedikit mengejutkannya.


“Tolong tahan liftnya..”


Refleks Arini menahan pintu lift dengan tangan kirinya, dilihatnya Rudi berlari tergopoh–gopoh dengan menenteng kotak makanan dengan merek café yang letaknya berseberang jalan dengan kantor pusat Indotama Group.


Nafas Rudi sedikit tersenggal begitu tiba didalam bilik lift yang kemudian menutup dan mulai bergerak keatas.


“Maafkan kelancangan saya, bu, saya tidak tau kalau ternyata yang ada di lift ini bu Arini,” Rudi meminta maaf karena ia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang disuruhnya menahan lift itu adalah istri sang Ceo Indotama Group, Nyonya Sebastian Putra Djenar yang tak lain adalah Arini Ramdhan.


Arini tertawa kecil, sejujurnya Arini justru merasa risih menerima sikap Rudi padanya yang terkesan terlalu formil setelah ia menikah dengan Tian. Arini justru lebih suka menghadapi Rudi yang seperti sebelumnya karena bagaimanapun Rudi adalah orang kepercayaan Tian.


“Tidak apa–apa Pak Rudi, dan tidak perlu sungkan begitu..”


“Terima kasih, bu. Tapi saya merasa sangat tidak enak karena tadi saya tidak sengaja memerintah bu Arini. Saya juga minta maaf kalau tidak bisa bersikap dengan lebih baik jika dihadapan karyawan yang lain.”


“Sudah saya bilang tidak apa–apa. Dan Pak Rudi jangan seperti ini lagi, saya justru yang tidak enak kalau bapak terus bersikap formil kepada saya..” ucap Arini, dilain pihak merasa jengah, disisi lain merasa lucu karena tidak biasanya menerima perlakuan Rudi yang rasanya berlebihan kepadanya.


“Baiklah, Bu.. terima kasih atas pengertiannya,” Rudi tersenyum, tapi tetap menunduk takjim.


Selama ini Rudi yang tak lain adalah asisten pribadi Tian adalah orang yang sangat teliti dan disegani oleh semua karyawan Indotama Group termasuk dirinya karena Rudi adalah orang kepercayaan sang Ceo.


Lelaki yang kelihatannya seumuran dengan Tian itu meskipun terlihat tegas dan gesit dalam menangani setiap pekerjaan dan tanggung jawabnya namun sikapnya bisa dibilang cukup baik dan ramah kepada semua orang. Itulah sebabnya mengapa semua karyawan Indotama Group juga terlihat sangat segan dan menghormati Rudi.


“Kalau boleh saya tau, apa itu yang sedang dibawa Pak Rudi ?” Tanya Arini sedikit penasaran dengan apa yang sedang dibawa Rudi ditangannya.


“Oh ini ? ini nasi goreng, bu,”


“Nasi goreng ?” ulang Arini keheranan.


“Iya, bu, nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang,”


Arini mengerinyit lagi, semakin heran. “Untuk siapa ?”


“Saya disuruh Pak Tian untuk membelinya, bu. Kata Pak Tian dia ingin sarapan dengan menu ini.”


Arini mengerinyit mendengar penjelasan Rudi.


‘Kalau mau sarapan nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang kenapa tidak bilang saja tadi pagi..? kenapa Tian malah menolaknya ?’


Arini membatin. Belum sempat ia bertanya lagi tapi pintu lift keburu terbuka.


“Saya duluan, bu Arini,” Rudi berucap sambil sedikit menunduk takjim sebelum melesat keluar. Bagi Rudi, meskipun sosok Arini merupakan istri rahasia Pak Tian yang tidak diketahui oleh semua karyawan di perusahaan ini selain dirinya, tapi Rudi tetap tidak bisa tidak untuk mengabaikan kehadiran Arini. Ia tentu harus menghormati Arini selayaknya seorang nyonya besar meskipun semua itu harus ia lakukan dengan sembunyi–sembunyi agar


karyawan yang lain tidak menaruh curiga.


Arini menganguk kecil, membiarkan Rudi keluar lebih dahulu, langsung menuju pintu ruangan Ceo, sementara Arini melangkahkan kaki ke kubikelnya.


Begitu menghempaskan tubuhnya diatas kursi Arini sedikit terkejut mendapati tirai yang biasa menutupi kaca pembatas ruangan Tian nampak terbuka.


‘Tumben..’


Dari tempatnya duduk Arini bisa melihat dengan jelas sosok Tian yang sedang duduk dibalik kaca, terlihat sedang menunduk memperhatikan sesuatu seperti sedang mempelajari sebuah dokumen ditangannya, sesekali kepala pria itu mendongak menatap layar monitor laptop yang menyala yang juga berada  diatas meja kerjanya yang besar.


Tian pasti sedang mempersiapkan semua bahan untuk meeting sebentar. Itu sebabnya ia terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya, bathin Arini.


Arini membuang nafasnya gundah saat melihat pemandangan menentramkan jiwa dihadapannya.


Betapa Tuhan begitu pemurah saat menciptakan lelaki yang ada dibalik kaca itu.


Begitu tampan, begitu gagah, begitu pintar, begitu sukses, dan begitu kaya.. mungkin Tuhan hanya sedang becanda saat mengirimkan lelaki itu seorang istri. Karena untuk lelaki sesempurna Tian.. apalah arti istri seperti seorang Arini Ramdhan..? Arini memejamkan matanya sesaat menahan rasa ngilu yang tiba-tiba menembus ulu hatinya.


Bersambung..


Halo Readers.. tinggalkan jejak jempol dan comment mu yah.. jangan lupa juga untuk menekan icon FAVORIT agar kalian bisa mendapatkan notifikasi saat update bab baru..


Lophhyuuu all…