
Ditunggu kunjungannya di :
-TERJEBAK CINTA PRIA DEWASA
-PASUTRI
.
.
.
Sudah sejak tadi Rico tak henti-hentinya melirik sepasang manusia yang terlihat begitu bersemangat saat berkemas itu.
Disisi lain ada Rei yang sibuk mengubek beberapa mainannya, memilah-milah sejenak sebelum akhirnya menyerahkannya kepada Meta hasil pilihannya, dan disisi yang lain ada Meta yang dengan semangat yang sama menaruh semua mainan yang telah dipilih Rei untuk dimasukkan kedalam koper.
Sepasang manusia itu terlihat sangat senang, bahkan tak henti bercanda dan tertawa-tawa.. melupakan kehadiran Rico yang sedari tadi hanya diam mengawasi dengan kekesalan yang tertahan.
Itu adalah koper ketiga.. setelah dua buah koper dengan besar yang sama sudah berdiri dengan gagah terlebih dahulu didepan pintu kamar Rei.
“Mommy.. bawa ini juga..?” Rei menatap Meta meminta pendapat pada sebuah robot kecil yang ada ditangannya.
“Kenapa membawa banyak sekali barang sih.. memangnya kalian mau pindah rumah..?”
Belum sempat Meta menjawab pertanyaan Rei manakala Rico sudah lebih dahulu berucap datar seraya melempar koran pagi yang sedang dibacanya keatas meja.
Rico bangkit dari duduknya, beranjak mendekat dengan tampang kesal yang lagi-lagi susah payah ditahannya, sedangkan Rei yang mendengar protes Rico serentak menatap Meta dengan tatapan meminta pembelaan terhadap si robot kecil agar bisa lolos seleksi menuju penghuni koper ketiga yang sudah terisi full dengan berbagai mainan.
“Tentu saja harus membawa banyak pakaian dan mainan. Kan Pak Rico sendiri yang bilang kalau Pak Rico akan pergi selama seminggu..”
Mendengar bantahan Meta yang bahkan menyebutnya 'Pak Rico' hingga dua kali itu membuat Rico langsung melotot tajam. Namun terlambat.. Rei telanjur menyadari kalimat Meta yang terdengar aneh ditelinga polosnya.
“Mommy.. kenapa tidak memanggil Daddy..?” Rei yang sedianya ingin ikut-ikutan protes dengan kalimat Rico mendadak langsung berganti sasaran mengajukan protesnya kearah Meta yang gelagapan menyadari keteledorannya.
“Ohh ya.. Sayang.. mmm.. maksud Mommy.. kita kan akan mengunjungi nenek selama seminggu, jadi harus membawa banyak barang..” segera berucap manis guna mengecoh Rei, seraya menyambar robot kecil yang masih berada dalam genggaman Rei dan dengan cepat menaruhnya kedalam koper. “Begitu kan, Daddy..” menatap Rico sekilas seraya memutar bola matanya.
Rico serentak meraba tengkuknya sendiri mendengar kalimat itu. Panggilan ‘Daddy’ yang diucapkan Meta semanis gula entah kenapa membuat tengkuknya meremang.
Sesaat kemudian Meta sudah terlihat kesulitan saat merapatkan mulut koper yang penuh sesak itu agar bisa menguncinya.
“Sini..!” Rico dengan serta merta mengambil alih.
Meta membisu disamping Rico, mengamati gerakan lelaki itu yang begitu cekatan mengunci koper, sedangkan diatas karpet Rei tengah sibuk mengutak-atik mobil remote control, salah satu dari sekian banyak mainannya yang tidak masuk seleksi penghuni koper ketiga.
“Selesai. Dan aku harap ini koper terakhir!”
Meta menelan ludahnya. “Tiga koper dan.. enam buah paper bag..” telunjuk Meta mengarah ke enam buah paper bag besar yang dimaksud yang tengah berdiri pongah disisi nakas.
Melihat pemandangan itu Rico langsung menepuk jidatnya.
Sesuai dengan kesepakatan terakhir yang dibuat Rico dan Meta, hari ini seharusnya memang Rico mengijinkan Meta selama seharian penuh untuk pulang kerumah menjenguk ibunya, seraya membicarakan alasan yang berkaitan dengan pekerjaan baru Meta yang akan membuat wanita itu jarang pulang kerumah.
Semua rencana yang sedang ia rancang ini sudah terlebih dahulu ia bicarakan dengan Tian. Tentu saja ia harus melibatkan Tian kan..? karena kalau hanya mengandalkan kemampuan dirinya.. wanita keras kepala yang belakangan ia ketahui bernama lengkap Armetha Wulansari ini tidak akan mungkin semudah itu bisa diintimidasi oleh Rico.
Tapi kesepakatan mereka tiba-tiba berubah.
Setelah mengetahui ia harus melakukan perjalanan yang cukup lama kebeberapa kota yang ada di luar pulau jawa dalam rangka pemasaran brand beberapa peralatan elektronik rumah tangga terbaru yang dikeluarkan Best Electro, tiba-tiba Meta malah memberikan penawaran lain.. yang sungguh diluar rencana.
Meta ingin menghabiskan waktu kepergiaannya yang cukup lama itu untuk pulang kerumah, dengan membawa Rei ikut serta.
“Tian.. bagaimana ini? masa Meta berencana membawa Rei kerumah ibunya selama aku pergi..?”
Saat mengetahui tawaran itu, Rico serentak mengambil kesempatan untuk menghubungi Tian.
Iya.. tentu saja. Karena hanya Sebastian Putra Djenar saja yang bisa seorang Rico andalkan dalam setiap persoalan.
“Apa yang kamu khawatirkan? suruh saja susternya Rei ikut serta.. kalau perlu sekalian sama Bik Sumi..”
Rico mendelik mendengar kalimat pongah Tian. “Bukan itu maksudku..”
“Sudah.. biarkan saja..”
Lagi-lagi kalimat pongah Tian tertangkap telinga Rico.
“Biarkan saja bagaimana maksudmu..? kamu sudah gila yah?”
“Aku tidak gila, tapi kamu saja yang bodoh.”
Semprot Tian dari seberang.
“Iya, tapi..”
“Lebih cepat target masuk perangkap, akan lebih baik. Dengan begitu, kamu sudah mencuri start awal dalam menghadapi ibunya Meta. Pekerjaan beratmu itu.. biarkan diselesaikan Meta dan Rei dengan mudah..”
“Astaga Tian.. kamu benar-benar kejam sekali..! otakmu itu sungguh licik..! bagaimana bisa kamu menempatkan Rei dalam situasi seperti ini..?”
“Ssst… diam. Cukup diam dan amati. Biarkan semesta yang akan mengatur dengan sendirinya. Tugasmu hanya membuat calon istrimu jatuh cinta, tidak hanya pada Rei.. tapi padamu juga..!"
“Sialan! saat ini aku tidak butuh cinta, aku hanya butuh ibu sambung!”
Mendengar kemarahan Rico, sahabatnya yang gak punya akhlak itu malah tertawa terbahak-bahak diujung sana.
“Tidak butuh? hahaha.. berani bertaruh..?”
"Cih..!!"
“Tidak berani kan..?”
Tawa Tian terdengar lagi.
Tidak berani? apa-apaan?!! sebenarnya Rico sama sekali tidak takut.
Memangnya siapa Meta? memangnya wanita aneh itu putri cantik impian para dewa yang baru turun dari kahyangan?
Cihh.. Rico bahkan sudah mengenal Meta bertahun-tahun lamanya dan selama ini, wanita itu sama sekali tidak bisa membuatnya tertarik meskipun seujung kuku..!
Fix..! sama sekali bukan tipe seorang Rico Chandra Wijaya. BIG NO!!
“Sudah punya gambaran apa yang ingin kamu bicarakan dengan ibumu nanti?”
Rico berucap, memecah keheningan diantara mereka yang sempat mengambil alih suasana kamar Rei yang sejuk.
“Gambaran apa..?” Meta balik bertanya dengan wajah polos dan alis yang bertaut.
Rico mendelik. “Yah tentu saja tentang Rei. Memangnya setelah tiga hari tidak pulang kerumah, kamu bisa begitu saja pulang dengan membawa Rei melenggang masuk kedalam rumahmu, bertemu ibumu, dan tidak menjelaskan apa-apa..?”
“Belum..” Meta mengangkat bahu acuh, membuat Rico terhenyak ditempatnya. “Aku.. belum memikirkan apa pun yang nanti akan aku katakan..”
“Astaga…” Rico berdesis pelan saat menyadari bahwa berbicara panjang lebar dengan wanita yang ada disampingnya ini bisa membuat tensinya naik mendadak.
“Sudah.. nanti aku pikirkan alasannya pas dijalan. Ayo pergi sekarang..” Meta mengibaskan tangannya didepan hidung Rico yang tidak berhenti terpana, apalagi disertai dengan ucapan cuek seraya berdiri dan langsung menarik koper Rei, menaruhnya untuk bergabung dengan dua koper sebelumnya yang sudah berada lebih dahulu didepan pintu kamar Rei.
Sejujurnya didalam benaknya, Meta juga merasa bingung. Perihal bagaimana nanti dia akan menjelaskan kehadiran Rei dihadapan ibunya yang rempong.
Tapi Meta merasa kalau ia terus memikirkannya.. itu akan semakin menambah daftar panjang persoalan yang ada dibenaknya. Jadi Meta lebih memilih untuk tidak memikirkannya dulu.. karena semakin dipikir otaknya semakin mumet saja.
“Rei sayang.. lets go to the jungle..” berucap ceria yang disambut Rei dengan pancaran mata yang berbinar.
“Lets go mommy..!”
“Sebentar.. sebentar..” Rico buru-buru menepis keceriaan itu dengan wajahnya yang kaku. “Jungle? apa-apaan ini? kamu mau ajak Rei ke hutan? tidak boleh!” berucap dengan nada berapi-api.
“Ish.. D**addy' serius amat sih. Itukan hanya ungkapan..”
Meta berucap dengan mimik lebay terlebih saat mengucapkan kata 'Da**ddy' yang diucapkan dengan sedikit penekanan, lengkap dengan ekspresi bibir yang mencebik serta disponsori oleh tawa renyah Rei yang seolah meledek Rico.
“Daddy gak gaul..” ejek Rei kemudian sambil memeletkan lidahnya, yang diringi tawa sepasang manusia yang terlihat begitu kompak itu.
Rei dan Meta masing-masing sudah sama-sama tergelak seraya meninggalkan Rico begitu saja yang masih bengong melihat pemandangan dua jemari bertaut yang melenggang keluar kamar dengan Riang.
‘Dasar wanita aneh! Tian sudah gila saat mengatakan aku harus membuatnya jatuh cinta! cihh… tidak sudi..’
Umpat Rico dengan wajah terlipat sebelum akhirnya beranjak keluar, berniat memanggil supir dan beberapa maid agar bisa mengangkat sekaligus tiga koper beserta enam paper bag besar yang susah payah disiapkan Meta dan Rei bahkan sejak semalam..!
.
.
.
Bersambung..
Tolong di Like, Comment, Vote.
Thx atas setiap dukungan kalian... Love you forever.. 😘