CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – HILANG TAK BERSISA


“Hhh ... dasar merepotkan. Ya sudah sana. Toiletnya ada dilantai dua.” gerutu Rudi acuh.


Laras masuk kedalam dengan langkah tergesa menahan hajatnya untuk buang air kecil yang tertahan, melewati Rudi yang berdiri begitu saja dan langsung menaiki tangga menuju lantai dua, dimana kamar mandinya berada didalam kamar yang letaknya juga ada disana..


‘Desh ...’


Bunyi suara pintu kamar yang tertutup dengan sendirinya terdengar mengusik keheningan.


Rudi masih berdiri tegak disana, diantara syahdunya suasana ruangan lantai satu yang senyap dan temaram, karena belum semua lampunya sempat dinyalakan.


Sedikit demi sedikit, pembicaraan tadi siang antara Pak Tian dan Laras kembali mengusiknya, seperti rekaman sebuah video yang terputar ulang.


Kemudian berganti dengan seraut wajah Meta yang tersenyum, namun membuatnya gundah ...


Kemudian berganti lagi dengan ingatan, pada seorang gadis belia dengan wajah lugu berseragam putih abu-abu, yang berdiri tepat dihadapannya dengan sepasang mata tergenang, saat pernyataan cinta-nya dibalas dengan tawa.


Yah .. saat itu dirinya memang membalasnya dengan tawa. Terus tertawa seolah-olah ia sedang menonton opera van java.


Lucu?


Tentu saja. Coba bayangkan saat dirimu berumur dua puluh enam tahun, diberi pernyataan cinta oleh gadis ingusan berseragam putih abu-abu dengan penampilan yang sedikit lugu. Apa itu tidak lucu ?


"Kamu jahat sekali, kak ... aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Suatu saat aku akan membuatmu menyesal pernah menertawakan perasaaan cintaku padamu. Aku bersumpah ..."


"Benarkah?"


Berucap pelan, seolah sambil lalu. Tidak pernah menduga kalau hal yang menurutnya lucu ternyata mampu menorehkan luka yang tertanam dalam.


"Boleh saja, tapi jadikanlah dirimu berarti dulu. Setelah saat itu tiba, barulah kamu boleh datang kesini lagi untuk membalas."


Rudi tersenyum kecut saat ia mengingat dengan jelas akan seraut wajah lugu yang memucat, saat menerima kalimatnya yang kejam.


Smart card lock yang masih berada dalam genggamannya ia lemparkan kesembarang arah begitu saja, sebelum memutuskan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga seraya membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan.


Potongan-potongan puzzle ingatan masa lalu silih berganti memenuhi benak Rudi, membuatnya tanpa sadar telah berdiri tegak didepan pintu kamar mandi yang terpentang tiba-tiba.


“Aaa ...!” Laras terpekik kaget saat menyadari sosok Rudi yang bertelanjang dada menghadangnya tepat didepan bingkai pintu kamar mandi.


Gadis itu mendorong refleks dada bidang Rudi, namun yang ada Rudi malah menangkap kedua tangannya.


Dengan kedua tangan kuat miliknya, Rudi langsung membelit kedua tangan Laras kebelakang tubuhnya, seperti seorang tahanan yang sedang diborgol.


Laras yang kembali memberontak, membuat Rudi malah menyudutkan tubuh Laras ke dinding. Detik berikutnya Rudi menyurukkan wajahnya diceruk leher wanita itu.


“Rudi, jangan gila ...!” Laras berucap dengan nada tersenggal, tapi bukannya berhenti Rudi kembali mengecapnya lagi.


Dengan kepanikan dan kekuatan yang tersisa Laras berhasil melepaskan cekalan dikedua tangannya yang berada dibelakang tubuhnya. Tapi belum beberapa langkah ia terbebas, Rudi sudah menarik tubuh Laras kembali dan menghempaskannya keatas ranjang, membuat Laras mengaduh karena terhempas sedikit keras disana.


“Aku bersumpah, akan mengadukan semua kekurangajaranmu ini kepada kak Tian ...”


Rudi menyeringai sebelum bergerak naik keranjang yang sama. “Aku tidak peduli ...” desisnya acuh.


Laras menggeleng panik, tubuhnya bahkan sudah bergetar ketakutan. Ia tidak mengerti, meskipun Rudi sedikit mabuk, tapi setan apa yang sedang merasuki Rudi sehingga kehilangan akal sehatnya seperti ini.


Laras meringsek mundur setiap kali Rudi meringsek maju. “Rudi aku mohon sadarlah, pliss.. kenapa kamu melakukan semua ini?”


Bertepatan dengan kalimat itu punggung Laras sudah menyentuh tepian ranjang paling atas, menandakan bahwa ia sudah tidak bisa kemana-mana lagi.


“Tidak Rudi, tolong jangan jadikan aku pelampiasan atas rasa patah hati yang sedang kamu rasakan. Pliss ...” Laras kembali memohon seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali saat Rudi meraup rahangnya sedikit kasar.


Rudi melengos. “Patah hati? apa kamu sedang membicarakan Meta? bukankah kamu sendiri yang mengejekku karena aku bahkan bukan siapa-siapanya kan?”


“Ak-aku minta maaf kalau saat itu aku membuatmu marah ...”


“Hal itu tidak cukup membuatku marah ...”


“Lalu kenapa kamu seperti ini? kenapa kamu ... hhmp ...”


Rudi telah berlabuh sedikit kasar, memaksa membungkam semua kalimat Laras yang menyisakan sepasang mata yang membeliak lebar.


Seberapa banyak usaha Laras untuk memberontak, sebanyak itu pula Rudi kembali merampas sesuatu yang lembut milik wanita itu lagi ... dan lagi ...


Rudi yang telah berhasil mendaratkan kelembutannya dengan memaksa membuat pertahanan Laras semakin melemah.


Satu persatu dendam, kebencian, terlebih akal sehat miliknya telah ditanggalkan Rudi dengan mudah, semudah lelaki itu menanggalkan setiap penghalang yang ada diantara mereka.


Sejenak Rudi mengambil jarak dengan terengah-engah, menatap dalam Laras yang juga bernafas dengan ritme yang sama dengannya.


“Aku telah menghapusnya. Aku telah menghapus satu kesalahan, yang telah membuatmu mengejar lelaki yang tidak sepantasnya kamu kejar ...”


Bisik Rudi dengan senyum yang sinis bercampur hambar, setelah puas menguasai Laras sepenuhnya dipusat pertemuan terindah sepasang manusia yang memabukkan.


Sesaat kemudian ia mengangkat tubuhnya sedikit untuk memposisikan dirinya ditempat yang tepat, mengabaikan tatapan permohonan Laras yang dibanjiri air mata.


“Rudi, aku mohon, tolong jangan lakukan ... kasihanilah aku ...” suaranya benar-benar bergetar saat berucap.


“Kalau kamu masih mengingat bagaimana caranya kamu memanggilku seperti sedia kala, mungkin aku akan mengampunimu.”


Mendengar itu Laras menganguk cepat, seolah memiliki setitik harapan diujung kehormatannya yang nyaris terkoyak. “Baiklah kak Rudi, aku mohon kak..”


“Gadis pintar..”


Dan pada detik berikutnya mulut Laras telah terbungkam sempurna.


Rudi menelan semua suara isakan Laras beserta erang kesakitan wanita itu, menutup kedua matanya yang tergenang saat mencium sudut mata Laras yang juga telah tergenang.


Kesalahan..


Kekhilafan..


Kepercayaan..


Pengabdian..


Cinta..


Saat ini Rudi tau bahwa dia telah kehilangan semuanya secara bersamaan. Hilang tidak bersisa .. tepat setelah ia menghancurkan Laras sedemikian rupa ...


XXXXX


‘Maaf kalau mengganggu istirahat pak Rico malam ini. Saya hanya ingin memberikan informasi bahwa seorang wanita baru saja membuka satu unit kamar di mercy green resort dengan menggunakan identitas atas nama Rudi Winata.”


Rico masih berada dibelakang meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala, manakala alisnya bertaut sempurna usai membaca pesan singkat yang dikirimkan David, manager mercy green resort.


‘Seorang wanita membuka satu unit kamar di mercy green resort atas nama Rudi Winata? Rudi Winata asisten Tian?’


Tanpa berfikir panjang Rico menekan nomor David yang ia tau persis bahwa biasanya weekend seperti ini lelaki itu pasti akan tetap berada di mercy green resort sampai besok pagi.


“Halo david, apa kamu masih berada di mercy green resort?” tanya Rico memastikan.


“Iya pak Rico, ada yang bisa saya bantu?”


“Mengenai isi pesanmu tadi tentang Rudi Winata, apa kamu yakin itu tidak keliru?” bertanya dengan intonasi suara rendah, tidak ingin seseorang yang tertidur dikamar yang terletak persis disebelah ruang kerjanya mendengar pembicaraannya saat ini.


“Awalnya saya mengetahuinya berdasarkan laporan dari resepsionis yang sedang shift malam ini. Tapi saya sudah memastikannya sendiri, pak.. itu benar-benar pak Rudi Winata, asisten pak Sebastian Putra Djenar..”


“Apa.. kamu juga sudah mendapatkan informasi.. siapa wanita yang sedang bersamanya?”


“Iya pak, wanita itu adalah Larasati Djenar, adik angkat, sekaligus sekretaris pak Sebastian di kantor pusat Indotama Group. Mereka berdua baru selesai meeting dengan seorang tamu dari Italy yang menginap di mercy green resort. Setelah meeting mereka meneruskannya dengan minum-minum di mini bar, yang kemudian berakhir dengan pak Rudi membuka kamar untuk menginap.”


Rico terhenyak mendengarnya. “Apa kamu yakin mereka menginap di kamar yang sama?” bertanya lagi dengan intonasi suara yang semakin rendah.


“Saya sudah memastikannya pak Rico, sampai sekarang mereka masih berada didalam kamar yang sama.”


“Baiklah, kalau begitu tolong lakukan satu hal lagi untukku.” Rico menarik nafas sejenak, “Tolong berikan salinan lengkap data pemesanan kamar, pastikan juga jam berapa mereka check out, dan.. dapatkan juga dokumentasi kebersamanaan mereka. Kalau semuanya sudah lengkap, emailkan semuanya untukku..”


“Baik pak.”


Pembicaraan itu pun akhirnya berakhir.


‘Double jackpot..’


Rico tersenyum kecut. Bingung memilih perasaan yang tepat untuk hatinya saat ini.


‘Benar-benar tidak sebaik yang aku kira. Cihh.. Rudi Winata, ternyata kamu brengsek juga yah.. sungguh aku tidak menyangkanya..’


Bergumam dalam hati sebelum menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, akhirnya lebih memilih tersenyum penuh kepuasan seolah habis memenangkan lotere.


Rico merasa, selain mendapatkan dokumentasi akurat, saat ini ia hanya perlu memastikan satu hal, bahwa baik Rudi maupun Laras.. tidak ada satu pun yang keluar dari unit empat puluh sembilan itu.. sampai fajar menyingsing pada keesokan pagi..


.


.


.


Bersambung..


Double update untuk hari ini 💪


Trus.. LIKE-nya buat author mana dong sayang ? 😀


Thx and Lophyuu all.. 😘