
Suasana mencekam sudah menyapa sejak mobil Tian yang dikendarai oleh Sudir meninggalkan lobby Hotel Mercy. Seperti hal nya Sudir yang membisu dibelakang kemudi, Rudi yang duduk tepat disebelah Sudir pun diam seribu bahasa, seolah menyadari ada aura gelap yang sedang melanda dua orang penghuni yang duduk dibangku belakang mereka.
Arini yang duduk di sisi kiri memandang penuh kearah hiruk pikuk jalanan lewat jendela kaca mobil disebelahnya. Entah mungkin karena sejak tadi ia nyaris tidak bicara sedikitpun, sekarang mulutnya bahkan semakin terasa kaku sehingga menjadi semakin enggan untuk membuka mulut terlebih disaat hatinya diliputi perasaan yang tak menentu seperti saat ini.
Perasaan tidak menyenangkan yang terus memeluknya sejak tadi siang saat Rudi memberitahukan jadwal Tian untuk bertemu dengan Lila begitu mereka selesai melakukan persentasi, dan kemudian Tian mengajaknya ikut serta untuk lunch bersama di Hotel Mercy, dan dirinya yang hanya seperti tim pelengkap dalam sebuah meja yang tidak memiliki kontribusi apapun sepanjang pembahasan peresmian Mercy Green Resort, hingga puncaknya sampai pada kemunculan Pak Rico Chandra Wijaya yang seperti biasa selalu membuatnya merasa risih dan semakin tidak nyaman dengan sikap ramah tamahnya yang terkesan berlebihan.
Arini mengakui, sejak mengetahui rumor kedekatan Tian dan Lila, dirinya selalu dihantui rasa ingin tau hubungan suaminya sendiri dengan seorang wanita yang levelnya berada sangat jauh dari dirinya itu. Memikirkan seperti apa hubungan mereka yang sebenarnya dibalik sifat pofesional yang sudah mereka tunjukkan dengan sempurna saat sedang menghadapi pekerjaan..
Arini mendadak menyadari satu hal, jika Tian bisa begitu rapi ‘menyimpan’ dirinya yang notabene sebagai istrinya yang sah.. menjadi seorang istri rahasia, bukankah tidak menutup kemungkinan Tian juga akan lebih rapi lagi ‘menyimpan’ seseorang yang benar-benar berstatus rahasia seperti Lila, kan ?
Hhuhf.. meskipun demikian entah kenapa Arini selalu merasa sangat membenci fikirannya sendiri saat ini. Arini merasa bersalah karena selalu berfikir buruk tentang Lila meskipun hanya dalam fikirannya sendiri, sementara dikali kedua ia bertemu dengan Lila, wanita itu tetaplah sosok yang sama, penuh keramahan dan kelemah lembutan dalam setiap perkataan dan gerak-geriknya.
Kalau saja Lila adalah jenis wanita agresif seperti kekasih-kekasih Tian sebelumnya mungkin Arini tidak akan segan meluapkan rasa kebencian, dan merasa sangat pantas jika ia harus berdiri dengan rasa kesal.
Tapi seorang Ariella Hasyim sama sekali
tidak ada mirip-miripnya dengan kekasih-kekasih Tian yang sebelumnya itu. Sosok
Lila yang selalu memaksa Arini untuk memikirkan pemikiran yang buruk, namun tetap saja sisi hatinya yang lain senantiasa mengagumi. Arini merasa ia benar-benar menyukai Lila secara keseluruhan, fisik yang indah dan sikap yang menyenangkan.. sungguh perpaduan sempurna seorang wanita, yang paling cocok mendampingi Tian.
Fikiran Arini yang terus mengembara membuatnya bahkan tidak menyadari lelaki yang duduk disisi lain yang ada disebelahnya itu saat ini sedang menatapnya kesal bercampur tidak sabar.
Bagaimana tidak ?
Sedari tadi ia melirik Arini yang duduk disebelahnya, sengaja bergerak gelisah, membuang nafas kasar, bahkan sampai pura-pura berdehem dengan intonasi sedikit lebay.. tapi semua yang dilakukannya itu sia-sia, karena tetap tidak berhasil menarik perhatian Arini untuk berbalik kearahnya.
Keterlaluan... geram Tian kali ini
benar-benar tidak bisa bersabar lebih lama.
‘Dia sedang memikirkan apa sih ? memikirkan Rico ?’
Begitu nama Rico melintas dibenak Tian, hatinya pun langsung meradang.
“Aku heran.. mengapa Rico bisa seakrab itu denganmu ?” akhinya Tian memilih membuka suara lebih dahulu saat menyadari ia telah gagal berkali-kali hanya demi untuk mencuri perhatian Arini yang ada disampingnya, yang bahkan tak kunjung membuka suara sejak mereka meninggalkan lobby Hotel Mercy kira-kira sepuluh menit yang lalu.
Arini yang sedikit terkejut mendengar kalimat dingin yang sanggup membuyarkan berbagai macam lamunannya itu serentak melirik kecil tanpa mengubah posisi duduknya sama sekali. “Aku tidak pernah merasa akrab dengan Pak Rico,” kilahnya sambil mengedikkan bahu, kemudian kembali acuh memperhatikan jalanan di luar sana dari balik kaca mobil Tian yang pekat, membuat Tian tidak lagi bisa menahan untuk tidak melotot kesal.
“Lalu kenapa dari tadi kamu diam saja ? Kenapa dari tadi tidak bicara ?”
“Memangnya aku harus bicara apa..” berucap perlahan sekali, nyaris seperti bergumam, tapi sayangnya Tian masih bisa mendengar semuanya.
Tian mengatupkan rahangnya yang mulai mengeras. “Hhh.. baiklah. Kalau kamu begitu tidak ingin bicara, maka jangan pernah bicara lagi !” akhirnya, demi mendapatkan perhatian penuh Arini yang bisa ia lakukan
hanyalah mengancam seperti biasa.
Tentu saja dengan serentak Arini
langsung menoleh padanya lagi, sedikit terhenyak mendapati wajah yang menahan gusar milik Tian tercetak dengan jelas disana. “Kenapa kamu mendadak marah..?” ujarnya menatap keheranan.
“Aku tidak marah !!” sembur Tian galak.
“Kenapa malah berteriak..?”
Tian menelan ludahnya dengan susah payah begitu melihat sepasang mata polos Arini yang begerak-gerak bingung itu sedang menatapnya protes.
“Bilang tidak marah, tapi berteriak..”
“Arini, sudah diamlah..”
“Arini, sudah aku bilang diamlah. Astaga..” Tian memijit keningnya pening mendengar Arini yang terus mendebatnya. Menarik nafas sejenak, mengaturnya lagi agar tidak memburu, berusaha tenang dan menguasai dirinya sendiri. “Hhhhh…” Tian membuang nafasnya berat, sambil menyandarkan punggungnya dikursi, melirik Arini lagi yang masih terdiam disebelahnya.
Sejujurnya jauh didalam lubuk hati Tian yang terdalam, Tian benar-benar menyesal saat menyadari mungkin dirinya juga sudah keterlaluan, ‘mengerjai’ Arini sehingga dipenuhi rasa jealous karena dengan sengaja mengajak Arini ikut serta untuk bertemu Lila dalam meeting pembahasan peresmian Mercy Green Resort barusan.
Tapi mau bagaimana lagi ?
Tian yang selama hampir seminggu
terakhir ini berada dalam perjalanan bisnisnya, memang sudah sejak awal
merancang untuk mengacuhkan Arini. Tian benar-benar ingin mengetahui isi hati wanita
yang telah menolaknya tanpa segan itu dengan sengaja memancing Arini agar
menunjukkan warna perasaannya.
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa perasaan rindunya pun bertalu-talu, bahkan beberapa kali Tian hampir menyerah, nyaris menghubungi Arini karena kerinduan yang memuncak yang sanggup membuat dirinya gila dan merana.
Terlebih saat Tian menerima laporan pihak keamanan apartemen yang melaporkan aktifitas mencurigakan yang terjadi di lantai enam apartemen, dimana seorang pria yang entah bagaimana asal mulanya terlihat sedang berusaha mengintai Arini yang saat itu menghuni apartemennya seoang diri. Untuk pertama kalinya Tian menyadari kekeliruannya telah membiarkan Arini tinggal di apartemennya yang notabene memang memiliki akses yang lumayan terbuka untuk pihak luar.
Mendengar semua itu membuat Tian merasa panik, semakin membuatnya tidak betah berlama-lama dan ingin kembali secepatnya ke tanah air agar selalu berada didekat wanita itu sehingga bisa melindunginya
dengan lebih baik.
Untunglah setiap kali menerima laporan keseharian Lila yang rutin dikirimkan Rudi beserta rekaman keseharian Arini, apalagi jika sudah menyangkut file secret yang berisi rekaman cctv dari kamar apartemen mereka selama empat hari, dan tentu saja rekaman cctv kamarnya dimalam terakhir cukup ampuh membuat Tian terhibur. Heh.. Tian bahkan tidak pernah menyangka obsesinya pada istrinya sendiri bisa sampai se-mesum itu. Ia bahkan tidak berfikir dua kali saat memutuskan untuk mengintip kegiatan istrinya setiap kali berganti pakaian didalam kamar yang selalu membuatnya harus menelan ludah berkali-kali. Haihh…
Sementara itu, menerima laporan Rudi tentang seberapa kacau hati Arini sejak mengetahui gosip murahan yang beredar di kantor pusat, membuat Tian seperti memiliki mood booster tersendiri.
Untuk itulah Tian sudah merancangnya hari ini, mengajak serta Arini bertemu Lila karena begitu ingin menikmati secara langsung seperti apa wajah yang dipenuhi kecemburuan itu.
Tapi lagi-lagi..
Kehadiran Rico Chandra Wijaya yang diluar rencana membuat keadaannya seperti berbalik seratus delapan puluh derajat. Alih-alih ingin menyaksikan wajah jealous Arini lebih lama, sikap Rico yang kerap memberikan perhatian-perhatian kecil kepada istrinya sepanjang makan siang tadi ibarat membalikkan papan score dengan begitu mudah.
Tian merasa kalah telak, karena semua sikap Rico itu tentu saja membuat Tian jealous setengah mati dalam sekejap, meskipun Tian sudah berusaha menahannya mati-matian.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Kemarin dapat pemberitahuan dari pihak NovelToon kalau Novel ini akan dibuatin cover eksklusif 😍Terima Kasih banyak NovelToon..😘 Covernya bagus banget.. bikin author baper liatnya..🤗
Btw.. Siap untuk bab selanjutnya kan..?
Tapi sebelum itu Like dulu, comment dulu, vote dulu, jangan lupa yah..🤭
Lophhyuu my all... Gasskeunnn…!!🤗