CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Malam yang panjang


Tian baru saja mengembalikan gelas yang masih tersisa sedikit air mineral itu keatas nakas, sebelum akhirnya ia kembali menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.


“Kamu ini seperti anak kecil, menelan ludah saja bisa sampai tersedak..” ejeknya membuat wajah Arini sontak memerah.


Arini yang merasa sudah telanjur malu dengan kelakuan noraknya yang bisa-bisanya tersedak karena mendengar sepenggal kalimat Tian yang membuatnya terhenyak itu, menarik selimut keatas, namun tak urung bibirnya mencebik dua centi.


Arini baru akan bergerak memunggungi Tian karena merasa tidak nyaman terlentang dengan jantung yang berdetak tak karuan karena menyadari tubuh kekar Tian yang masih bisa ditangkap ekor matanya itu. Belum juga aroma maskulin khas Tian yang menggoda indera penciumannya.. manakala tiba-tiba seraut wajah tua ayah seperti melintas begitu saja di benaknya.


“Apakah aku boleh meminta sebuah jawaban ?” suara Arini memecah keheningan.


Tian yang awalnya sedang menatap langit-langit kamar suite yang mereka tempati dengan fikiran yang melayang kemana-mana sontak memalingkan wajahnya kesamping, guna mendapati wajah Arini yang sedang terlentang juga sedang menatap langit kamar suite mereka.


“Tentang apa ?” sahut Tian singkat.


“Ayah..” kemudian Arini pun memalingkan wajahnya kesamping, hingga kedua matanya bisa melihat penuh kearah tubuh yang terlentang itu. “Kenapa nanti memberitahu semua ini setelah ayah sudah selesai dioperasi, bahkan sudah melalui masa pemulihan awal ?”


Tian tidak langsung menjawab melainkan bergerak mendudukkan tubuhnya kembali sambil bersandar dikepala ranjang. Melihat itu Arini akhirnya ikut bangkit mengikuti gerakan lelaki itu, duduk dikepala ranjang, tepat bersisian dengan Tian yang terdengar menghela nafasnya berat.


“Semua ini atas permintaan beliau..”


“Ayahku ?”


Tian menganguk, cukup membuat Arini terhenyak.


“Tapi.. bagaimana bisa..?”


Tian menatap sejurus kearah Arini yang terpekur. Sisi hatinya merasa tidak tega mengatakan semuanya meskipun Tian jelas-jelas merasa bahwa Arini berhak tau semua ceritanya.


“Hari itu, dokter Fadli menelponku untuk memberitahukan bahwa telah menemukan donor yang tepat untuk ayah. Kamu pasti sudah tau kan, bahwa menemukan donor yang tepat bukanlah perkara yang mudah ?”


Tian menatap Arini sekilas. Arini yang sedang berkonsentrasi penuh padanya serentak menganguk perlahan, tanpa kata, seolah sengaja tidak ingin menyanggah apa pun yang sedang Tian coba ungkapkan


padanya.


“Percayalah, Arini.. selama para tim dokter melakukan prosedur persiapan transplantasi, dokter Fadli dan semua yang terlibat sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk ayah agar bersedia memberitahukanmu. Tapi yang ada, setelah semua prosedur yang dilakukan dalam hal mencocokkan semua faktor, seperti golongan darah, antibody, ukuran jantung, serta analisa resiko yang nantinya akan dihadapi.. ayah tetap berkeras hati untuk menjalani operasi dengan merahasiakannya, dan hanya bersedia untuk didampingi oleh tim dokter.”


Arini mati-matian menahan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Bahkan saat Tian sengaja berhenti sejenak untuk mengecek kondisinya, Arini bahkan langsung mengisyaratkan agar Tian tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya dan tetap melanjutkan semua hal yang begitu ingin ia dengar.


Tian menatap Arini lekat.. namun ia memang tidak punya pilihan lain saat menerima sorot mata Arini yang seolah memohon untuk bisa mendengarkan semuanya, membuat Tian kembali meneruskan..


“Proses transplantasi jantung termasuk langkah aman selama tetap menjalani pemeriksaan secara rutin, dan kondisi ayah terbilang sangat baik begitu ia ditangani langsung oleh orang-orang professional selama ini. Sejatinya, untuk memulai tindakan memang disarankan untuk mengajak keluarga sebagai pendamping. Tapi karena ayah malah menginginkan untuk tidak memberitahukanmu, dokter Fadli menjadi dilemma karena tidak bisa mengambil resiko, tapi ayah membuat beliau tidak mempunyai pilihan lain. Kamu juga pasti tau kan jika proses perpindahan jantung dari pendonor kepada penerima tidak boleh lebih dari enam jam..?”


Kali ini sebuah bening tidak bisa lagi tercegah saat mengalir turun menyusuri pipi Arini perlahan. Tian yang melihat pemandangan itu tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menyentuh Arini. Perlahan tangannya terangkat mengusap sebuah bulir bening, yang anehnya setelah ia melakukannya malah membuat bulir-bulir yang lain ikut turun berlomba-lomba disana, disusul bahu Arini yang turun naik menahan isak, membuat Tian


memutuskan untuk beringsut lebih dekat dan meraih tubuh itu kedalam pelukannya.


“Kenapa ? kenapa ayah merahasiakan semuanya ? kenapa ayah seperti itu ? apa aku sudah tidak ada artinya lagi untuk ayah..”


“Sstt.. Arini, bukan seperti itu. Ayah begitu karena tidak ingin membuatmu khawatir..”


“Tapi kalau terjadi sesuatu bagaimana ? meskipun aku tidak tau persis seperti apa proses transplantasi jantung, tapi selama ini aku sudah banyak menonton, aku membaca semua artikel yang berhubungan dengan prosesnya, aku sering bertanya pada orang-orang yang pernah mengalaminya, aku mencari tau banyak hal ! meskipun kecanggihan tekhnologi kedokteran sudah sedemikian maju, tapi tetap saja ada begitu banyak resiko yang bisa saja terjadi saat proses itu berlangsung..”


“Aku tau.. tapi saat ini berfikirlah positif. Ayah baik-baik saja, operasinya berjalan dengan lancar. Resiko saat proses transplantasi yang kamu khawatirkan, entah itu efek samping pengobatan, infeksi, bahkan keadaan tubuh yang menolak jantung baru.. semua itu tidak terjadi..”


Tian mencoba menghibur Arini yang masih sesegukan.


“Arini.. tolonglah.. jangan seperti ini. Tolong berikan wajah yang terbaik untuk ayah besok pagi..”


“Maaf.. tapi aku benar-benar merasa takut saat membayangkan..”


“Jangan membayangkan hal yang buruk. Cukup pikirkan bagaimana kedepannya setelah melewati semua ini. Coba kamu fikir, ayah bahkan sudah mengambil jalan terberat.. hanya agar bisa kembali kepadamu..”


Mendengar kalimat terakhir Tian, tangis Arini langsung berderai tak berbendung.


Kalimat Tian seperti trus berputar-putar disetiap sudut hati dan fikirannya..


‘Ayah bahkan sudah mengambil jalan terberat.. hanya agar bisa kembali kepadaku..? Ayah.. mengapa aku bisa menjadi anakmu yang begitu tidak berguna seperti ini..?’


“Bagaimana ini ? mataku sembab sekali. Bagaimana kalau sampai besok pagi sembabnya tidak berkurang..?” Arini berucap panik seraya memperhatikan penampilan kedua matanya yang berkantung lewat kamera ponselnya.


Tian mendengus. “Aku kan sudah bilang, jangan menangis terlalu banyak.” imbuh Tian dengan ekor matanya yang melirik Arini.


Arini mengerucutkan bibirnya mendengar kalimat itu. “Besok pagi-pagi sekali aku akan mengompresnya dengan es..”


“Nanti suruh saja Rudi menyiapkannya. Sebaiknya kita tidur, ini sudah lumayan larut,” Tian berucap sambil mengambil alih ponsel ditangan Arini yang sedari tadi ia pakai untuk melihat penampilan kedua mata pandanya akibat terlalu sering menangis seharian ini. Ia tidak peduli meskipun Arini terlihat melotot mendapati tindakannya itu.


“Kembalikan ponselku..”


“Tidur..” Tian berucap acuh sambil membenarkan letak bantalnya.


“Aku tidak bisa tidur kalau tidak membuka ponsel, aku mau membaca novel online dulu..”


“Bagaimana kalau aku menggantikannya dengan dongeng..?”


“Ihh memangnya aku balita ?”


“Tidak mau dongeng yah ? baiklah, sini aku ganti jalan ceritanya menjadi cerita roman, biar mirip novel yang kamu baca..” berucap begitu seraya menarik lengan Arini. Tentu saja Arini langsung terpekik saat menyadari gerakan Tian yang tiba-tiba itu membuat tubuhnya jatuh keranjang membentur tubuh keras lelaki itu.


“Aaa.. kamu mau apa sih ?” Arini mencoba melepaskan diri.


“Mau tidur.” Tian berucap acuh sambil memejamkan matanya, namun kedua lengannya tetap menahan tubuh Arini kuat-kuat sehingga pemberontakan tak berarti wanita itu semakin sia-sia.


“Kalau mau tidur ya tidur saja, kenapa harus seperti ini ?”


“Aku mau tidur sambil memelukmu,”


“Dasar mesum..” masih mencoba membebaskan diri.


“Hemm..”


“Tian !” protes Arini.


Hening.


Mata yang terpejam itu serentak terbuka, melirik Arini tajam yang sontak menelan ludahnya menerima tatapan tajam yang seperti hendak menelannya hidup-hidup.


Dan Arini belum bisa memikirkan apa yang harus ia lakukan manakala tiba-tiba tubuhnya sudah terdorong begitu saja. Keseluruhan tubuhnya sudah terlentang menyentuh permukaan ranjang yang lembut dibawah tubuhnya, namun kepalanya berada didalam tangan besar Tian.


Arini masih bisa merasakan dadanya berdebar kencang saat tangan besar itu meremas rambutnya perlahan, membelai tengkuknya kemudian menekannya, sebelum akhirnya lelaki itu menyatukan dirinya dengan begitu lembut, sanggup meluluh lantakkan segenap pemberontakannya yang awalnya begitu gigih dan gagah berani..


.


.


.


.


.


Bersambung…


Bohong kalau kalian gak berdebar... hahaha... 🤣🤣🤣


Like and Comment, jangan lupa.. yahh..😍😍😍


dukung trus author kentang ini biar bisa meningkat performanya..🤗


semangad dong.. kalau semangad ntar sore tambahin 1 bab lagi.. 😅


Lophyuuu… all.. 😘