
Malam mulai beranjak semakin larut namun Tian masih sibuk didepan layar laptopnya saat Arini tiba-tiba duduk disebelah Tian sambil bergelayut manja dilengan kirinya.
“Sayang..” panggil Arini perlahan.
“Hmm..”
“Kamu.. pernah ke pulau Dewi tidak..?” tanya Arini sambil menatap tanpa minat pada layar laptop yang sedang menjadi fokus Tian sejak tadi nyaris tanpa bekedip.
“Pernahlah.. sudah tidak terhitung lagi malahan. Memangnya kenapa?” meskipun sejak awal berusaha tidak menoleh akhirnya konsentrasi Tian terusik juga saat menyadari istrinya yang saat ini tidak hanya memeluk lengannya, tapi mulai gelendotan, seraya mengendus-ngendus tubuhnya dengan gaya yang khas.
“Aku ingin kesana..” berhenti mengendus lalu kembali fokus menatap Tian lagi.
“Iya, nanti..” ucap Tian acuh sambil mengalihkan fokusnya ke layar laptop yang ada dihadapannya.
“Aaa.. sayang, selalu saja jawabannya nanti. Aku mau jawaban pastinya, sebenarnya kapan kita bisa jalan-jalan kesana..?”
“Arini, kamu kan tau akhir-akhir ini aku sangat sibuk..”
“Sibuk terus, lalu kapan kamu punya waktu untukku..?”
Tian menatap wajah Arini lagi yang kini tengah mencebik. “Hah? memangnya kapan aku tidak pernah memberikan waktuku untukmu? bukannya setiap malam aku selalu tidur denganmu.. menghabiskan sepanjang malam denganmu..”
“Huhh, maksudku bukan yang seperti itu!” bibir Arini mencebik semakin tinggi.
“Egh..? lalu apa ?” tanya Tian dengan tampang bodohnya.
Arini tidak menjawab, ia malah cemberut dan telah melepaskan tubuhnya yang awalnya menempel ketat kini ia sudah mengambil jarak dengan Tian.
“Aku maunya diajak berpergian.. honeymoon kemana gitu..”
Mendengar itu Tian mengembuskan nafasnya. “Arini.. aku bukan tidak ingin berpergian atau melakukan honeymoon. Tapi kalau honeymoon lalu mengajak Sean untuk apa? aku malah tidak bisa berbuat apa-apa.. masih lebih baik aku dirumah saja, setiap malam bekerja keras agar bisa mendapatkan adik lagi untuk Sean..”
“Sayang!!” pekik Arini. Telinganya terasa gatal saat mendengar Tian yang malah memikirkan dan mendahulukan untuk melakukan hal mesum terlebih dahulu daripada merencanakan quality time seperti yang ia harapkan. “Honeymoon yang aku maksud bukan yang seperti itu..”
“Lalu seperti apa? bukannya honeymoon itu dilakukan oleh pasangan yang ingin bercinta dengan situasi yang berbeda untuk menghindari kejenuhan..? kalau hanya seperti itu, aku tidak memerlukannya.. untuk apa pergi jauh-jauh hanya untuk bercinta? aneh sekali.. aku bahkan bisa melakukannya dimanapun..”
“Sayang!!” lagi-lagi arini memekik. Telinganya benar-benar ingin meledak mendengar semua hasrat ca bul yang tengah diuraikan Tian dengan gamblangnya tanpa sedikit pun rasa malu. “Intinya.. aku mau kita bisa liburan ketempat yang jauh. Titik.”
Mendengar itu Tian langsung menggeleng tegas. “Tidak.. tidak.. kita sudah membahasnya sejak awal. Kamu sudah tau aturannya bahwa aku tidak mau mengajak Sean naik pesawat ketempat yang jauh selagi Sean masih balita..”
“Tapi kenapa..? banyak anak-anak balita lainnya, yang lebih kecil dari Sean..”
“Mereka bukan anak Sebastian Putra Djenar, jadi terserah orangtuanya mau membawa anak mereka kemanapun.. dan mau mengajak anak mereka naik pesawat ke ujung dunia sekalipun.. aku tidak peduli. Perjalanan jauh dengan pesawat untuk anak balita sudah jelas tidak baik untuk kesehatan pendengaran Sean nantinya..”
“Sayang, banyak juga artis-artis yang membawa anak mereka yang masih kecil bahkan sampai keluar negeri dan..”
“Tapi aku bukan artis, kamu juga bukan artis.. Sean juga bukan artis cilik.”
“Sayang!!”
“Jawabannya tetap tidak.”
“Huhh..!!”
Kali ini Arini merasa benar-benar kesal. Suaminya yang hebat itu ternyata tidak main-main saat dulu mengatakan bahwa jika benar-benar Arini memilihnya dan ingin hidup bersamanya, itu sama artinya dengan bersedia tinggal dalam sebuah sangkar emas yang tinggi. Semuanya tersedia.. semuanya bisa ia miliki dengan mudah.. tapi tidak dengan kebebasannya.
Melihat pemandangan Arini yang terpekur membuat hati Tian mau tak mau tersentuh juga. Tian menutup layar laptopnya begitu saja, kemudian ia merengkuh bahu Arini dengan lembut, membawanya kedalam pelukan yang menenangkan.
“Bersabarlah sampai Sean berumur diatas lima tahun..” bujuk Tian, mengetahui dengan pasti apa yang membuat Arini sekarang berdiam diri dan tidak mendebatnya lagi.
“Kalau Sean keburu punya adik lagi bagaimana..?”
“Sayangg..!!”
“Iya sayaaaang..” pungkas Tian sambil meringis saat menyadari sebuah cubitan kecil telah menjepit perutnya dengan tanpa ampun.
“Aku tidak mau tau, pokoknya aku mau jalan-jalan..!” kembali lagi pada mode merajuk.
“Tidak bisa. Ada banyak pekerjaan yang akan deadline. Aku juga harus menghadapi launching indotama times square dan launching produk SWD Fashion untuk Fashion Milan diwaktu yang berdekatan..”
“Baik, kalau begitu setelah launching indotama times square dan SWD Fashion, aku mau kita refreshing sejenak..”
“Tidak boleh,”
“Tidak perlu ketempat yang terlalu jauh..”
“Tetap harus menggunakan pesawat kan ? heh.. itu sama saja..”
“Hanya satu jam perjalanan..”
“Arini..”
“Sayang..”
“Tidak..”
“Iya..!”
“Tidak..”
“Aku bilang iya untuk tempat yang dekat !! karena kalau tidak maka aku tidak mau tidur denganmu malam ini..”
“Appa??!”
“Bodo!!!”
“Enak saja memutuskan seperti itu..” Tian melotot, namun saat melihat wajah Arini yang bersungguh-sungguh dengan terpaksa Tian memilih menyerah untuk saat ini. “Baiklah.. baiklah.. ketempat yang dekat..” ujarnya lesu, namun sebaliknya wanita disampingnya itu langsung melonjak kegirangan.
“Yess.. finally, pulau Dewi..!! I’m coming..!!” Arini bersorak.
Tian melengos, namun tidak bisa lagi berbuat apa-apa saat menyadari Arini yang sudah kembali menghambur memeluknya, naik kepangkuannya begitu saja, bahkan telah mengambil inisiatif untuk melu mat bibir Tian terlebih dahulu dengan begitu bersemangat..
.
.
.
Bersambung..
Tolong jangan tanya pulau Dewi itu dimana? karena author juga cuman ngarang! 😅
Favoritekan novel ini,
like dan comment,
berikan hadiah serta vote. 🙏
Thx and Lophyuu all.. 😘