
Happy Ied Mubarak 🙏
Hi... Akuu kangeeeennn kaliaaannn my Readers… 🥰
.
.
.
“Arini..”
Arini urung menaiki lift saat sebuah suara menyapanya. Saat kepalanya menengok keasal suara Arini melihat nenek Sarasawati tengah berdiri kira-kira tiga meter dari dirinya.
”Nenek.. ada apa ? kenapa belum tidur..?” urung memasuki pintu lift yang sudah terpentang, memilih berbalik dan mendekati Saraswati.
“Aku tidak bisa tidur.. makanya aku memutuskan untuk duduk sebentar dihalaman samping..”
“Bersama Laras ?”
Saraswati menggeleng. “Aku hanya sendirian. Laras mungkin sudah tidur..” Seraya memperhatikan Arini yang manaruh nampan berisi air mineral keatas meja. “Kenapa tidak menyuruh maid saja yang mengambilkan, Arini ? kamu kan sedang hamil.. jangan terlalu melakukan sesuatu yang bisa membuatmu lelah..”
Arini tersenyum. “Tidak apa-apa, Nek.. aku hanya mengambil minum saja kok, lagian ini sudah larut malam.. kasian jika harus membangunkan maid, mereka juga butuh istirahat.” kemudian Arini mendekati Saraswati. “Yuk.. aku antar dulu nenek ke kamar..” Arini mengamit lengan Saraswati dengan lembut yang tidak menolak saat Arini menuntunnya ke salah satu kamar tamu yang hanya berjarak tidak lebih dari lima meter dan ditelah ditempati selama beberapa hari ini oleh Saraswati.
Begitu tiba didalam kamar dengan telaten Arini membantu Saraswati hingga terduduk dipinggir ranjang, selanjutnya mengatur letak bantal terlebih dahulu sebelum kemudian membantu Saraswati berbaring.
“Nenek istirahat ya.. ini sudah larut..” ujar Arini kemudian sambil membenahi selimut.
Saraswati menganguk perlahan. “Arini...”
“Iya Nek..?”
Namun setelah memanggil namanya Saraswati malah tidak kunjung bicara, membuat kedua alis Arini sontak bertaut, telebih saat menyadari tatapan Saraswati yang lekat padanya.
“Nek..” Panggil Arini perlahan. “Ada apa..?” menatap Saraswati dengan tatapan lembutnya yang khas.
Saraswati nampak menghela nafas sejenak. “Ada.. sesuatu yang sejak dulu ingin aku ungkapkan kepadamu tapi..” mengambang.
Arini tersenyum sambil menarik kursi yang berada tidak jauh dari ranjang, mendudukinya dengan perlahan.
“Katakan saja, Nek.. aku siap mendengarkan..”
Saraswati terdiam sejenak, kemudian ia menatap Arini lagi dengan tatapan yang semakin dalam. “Arini, maafkan aku, nak.. aku pernah melakukan kesalahan yang besar pada dirimu. Aku bisa melihat selama ini betapa Tian sangat menyayangimu dan memperlakukanmu dengan sangat baik, kemudian Sean lahir dan tumbuh menjadi anak yang pintar dan tampan. Sekarang.. aku malah akan kembali diberikan cucu lagi.. akh, Arini.. aku semakin merasa bersalah pernah berniat memisahkan kalian..”
“Nenek ini bicara apa ? hal itu sudah lama berlalu, Nek.. aku bahkan sudah melupakannya..”
“Tapi sepertinya tidak semua hal bisa serta merta diubah akibat kesalahanku itu, Arini..” mendadak bulir bening membasahi pipi Saraswati.
“Nek, apa maksud nenek..? kenapa nenek menangis..?” Arini terhenyak mendapati pemandangan itu, terlebih saat ia merasa kesulitan mencerna makna tersembunyi dari ucapan Saraswati barusan.
Saraswati menggenggam jemari Arini dengan erat. “Arini.. tolong berjanjilah padaku, apapun yang terjadi..
jangan pernah meragukan cinta Tian untukmu. Tian benar-benar sangat mencintaimu, nak..”
Arini mengangguk. “Aku berjanji aku tidak akan pernah meragukan Tian, Nek.. tapi.. apa maksud semua ini..?”
Saraswati nampak menggeleng. “Dikemudian hari mungkin saat itu aku sudah tiada.. jika sesuatu terjadi yang diakibatkan karena kesalahanku padamu.. tolong maafkanlah aku, nak.. dan ingatlah pesanku tadi untuk tetap bersama Tian dan mempercayainya..”
“Nenek..” tanpa sadar pipi Arini ikut basah melihat Saraswati yang menangis sambil mencium tangannya. “Nenek jangan bicara seperti itu karena nenek akan selalu sehat dan berumur panjang.. nenek akan menghabiskan waktu yang lama bersama cucu-cucu nenek..”
“Arini.. aku.. aku minta maaf..”
“Aku sudah memaafkan nenek, tapi aku mohon nenek jangan seperti ini..”
“Peganglah tangan Tian sekuat-kuatnya..”
“Nek..”
“Percayalah.. hanya kamu satu-satunya wanita yang dicintai Tian..”
“Nek..”
“Maafkan aku, Arini.. maafkan aku..”
Tangan Saraswati yang semula menggenggam kuat jemari Arini mendadak melemah.. kemudian terkulai begitu saja..
“Nek..?” panggil Arini perlahan menyadari Saraswati tidak lagi bicara dan bergerak.
"Nenek..?” panggil Arini lagi-lagi kali ini suaranya mulai keras.
“Nenek..!! Nenek bangunlah..!!” Arini berteriak histeris saat melihat pemandangan itu tidak berubah. Arini
“Nenek kenapa kak..?” bertanya dengan wajah yang keheranan.
“Entah, Ras.. tiba-tiba nenek sudah pingsan begitu saja.. kamu jaga nenek.. aku mau panggil Tian..”
“Baik kak..”
Tanpa membuang waktu Arini sudah berlari kearah lift, dan merasa begitu tidak sabar saat menunggu lift bergerak naik. Begitu pintu lift terbuka seperti kesetanan Arini berlari menuju kamar, menerobos begitu saja kedalam membuat Tian yang sedang menunggunya diatas ranjang dengan ponsel ditangan sontak mengangkat wajahnya sedikit tersentak.
“Sayang.. ada apa ? kamu tidak boleh tergesa-gesa seperti itu.. kamu lupa kalau kamu sedang hamil ?” Tian
turun dari ranjang dengan gerakan secepat kilat menyongsong Arini yang tiba didalam kamar dengan nafas yang turun naik tak beraturan.
“Sayang.. nenek.. nenek..” nafas Arini memburu namun tangannya refleks menekan perut bagian bawah yang tiba-tiba terasa nyeri, mungkin akibat dari ia berlari barusan.
Wajah Tian sontak menegang. “Nenek ? ada apa dengan nenek ?” terdengar panik sampai-sampai ia lengah dengan ekspresi wajah Arini yang meringis menahan nyeri.
“Nenek pingsan.. dikamarnya..”
“Apa kamu bilang ? nenek p-pingsan ?”
“Iya sayang.. nenek pingsan.. cepatlah..”
Tian langsung berlari secepat kilat keluar, melihat itu Arini yang masih menekan perutnya langsung berbalik
membuntuti Tian yang masuk kedalam lift dengan wajah yang luar biasa panik. Arini bahkan harus ekstra keras bergerak dengan cepat, mengabaikan sejenak rasa nyeri yang semakin terasa agar bisa menyusul Tian yang sudah mencapai lift terlebih dahulu.
“Kenapa nenek bisa pingsan..?” Tian bertanya saat lift mulai bergerak turun.
“Aku tidak tau, sayang.. nenek menangis sambil menggengam jemariku dan tiba-tiba nenek pingsan..”
“Tapi kenapa nenek menangis..?”
Arini belum sempat menjawabnya manakala pintu lift keburu terbuka, dan sosok Tian langsung melesat keluar secepat anak panah.
Saat keluar dari lift suasana lantai satu nampak sudah ramai. Seluruh penghuni seisi rumah sudah terbangun dan terlihat panik. Begitu tiba dikamar terlihat pak Udin nampak menatap Tian dengan tatapan yang sulit diartikan.. sementara Laras nampak menangis tertahan sambil memeluk kedua kaki Saraswati yang terbujur kaku.
Tian mendekati Saraswati yang seperti tertidur dengan tenang, menyentuh tangannya yang telah terlipat didada dengan perasaan buruk yang sudah tercampur aduk begitu rupa.
“Pak Tian.. saya sudah menghubungi dokter Hans.. beliau sedang dalam perjalanan kemari untuk memastikan..”
“Untuk memastikan apa ?! kita bawa saja nenek ke rumah sakit. Siapkan mobil secepatnya..!”
“Pak Tian..”
“Tunggu apa lagi..??!!” suara Tian terdengar keras membentak, padahal selama ini Tian tidak pernah sekalipun berbicara sekeras itu pada pak Udin, yang nyaris seumur hidupnya telah ia habiskan untuk mengabdi pada keluarga Djenar.
“Pak Tian.. tolong tenanglah sejenak.. bersabarlah dan ikhlaskan karena semua yang terjadi sudah kehendak
yang diatas..”
Arini menutup mulutnya serentak saat mendengar kalimat arif dari pak Udin, mencoba menghalau tangis yang hendak menyeruak begitu saja, sementara Tian terlihat berdiri dengan sepasang mata memerah menahan amarah. Lelaki itu menggeleng tegas berkali-kali.
“Tidak.. ini tidak mungkin..” Tian mendekati Saraswati dan langsung memeluknya erat. Menangis disana, namun tanpa suara.. sedetik kemudian ia nampak mengguncang tubuh Saraswati.. “Nenek, bangunlah ! jangan bercanda ! Aku mohon jangan bercanda, Nek.. demi Tuhan ini tidak lucu lagi..!!”
Arini memeluk punggung Tian dari belakang. “Sayang.. jangan seperti ini..”
“Aku hanya ingin membangunkan nenek..!!”
“Sayang..”
“Diam Arini..!”
Arini terdiam. Akhirnya ia hanya bisa menangis sambil terus memeluk punggung Tian yang berguncang hebat, lupa bahwa saat ini perutnya juga sedang merasa kesakitan yang semakin lama terasa semakin mendera. Arini tidak bisa berkata apa-apa lagi.. namun memeluk Tian seperti ini membuatnya bisa merasakan betapa saat ini lelaki yang begitu kuat itu terlihat begitu kesakitan, hancur tak bersisa.
Yah.. takdir telah memutuskan untuk menggariskan akhir dari perjalanan seorang Saraswati Djenar, yang menutup usianya dengan senyum yang tenang, usai mengatakan hal yang seharusnya sudah ia katakan sejak lama.
Perasaan bersalah yang harus berani ia akui didepan Arini meskipun ia tidak bisa mengatakannya dengan terus terang.. tapi setidaknya, Saraswati telah mengatakan sesuatu yang sudah selayaknya ia katakan.. tentang pentingnya sebuah kepercayaan saat meminta Arini agar senantiasa memegang tangan Tian dengan sekuat-kuatnya, dalam menghadapi apapun yang sekiranya akan terjadi di masa yang akan datang.. seusai waktunya
didunia ini selesai..
.
.
.
Bersambung..
Minal Aidin Wal Faidzin.. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.. 🙏🙏🙏