
Meskipun kalian kecewa denganku.. aq gak peduli ! aq tetap sayang.. 🥰 hahaha.. 🤣
.
.
.
Tian baru saja masuk kekamar usai mengantarkan dokter Hans yang datang memeriksa kaki Arini yang terkilir tadi siang, buah dari pemberontakan Rei sesaat setelah pemakaman Lila usai. Begitu ia masuk, Tian mendapati Arini yang sedang duduk menunggu dirinya kembali dengan posisi tubuh yang bersandar dikepala ranjang.
Tian menutup pintu kamar terlebih dahulu sebelum kemudian mendekati istrinya dengan senyum.
“Sayang.. aku baru ingat kalau ada yang ingin aku tanyakan sejak beberapa hari yang lalu..”
Tian menghempaskan tubuhnya ketepian ranjang tepat disebelah Arini. “Apa itu ?” tanyanya begitu terduduk, langsung mengelus perlahan tanda memar diseputaran pergelangan kaki yang awalnya berwarna ungu tua kini mulai berganti dengan warna ungu pucat. Bengkaknya malah mulai tidak terlihat disana setelah tadi sempat dikompres air hangat, dibalur dengan salep khusus bahkan Arini juga telah meminum obat pereda nyeri yang diresepkan dokter Hans untuk menghilangkan rasa sakit.
“Apa benar Laras akan menggantikan Meta menjadi sekretarismu ?’
Tian terdiam sejenak. “Aku sudah menawarkan posisi yang strategis di beberapa kantor cabang utnuk Meta seperti hal-nya Vera dulu, tapi Meta tidak ingin pindah dan memilih kembali menjadi staf administrasi di kantor pusat dengan alasan tidak ingin berjauhan dengan ibunya..”
“Ibu Meta memang sudah tua. Wajar saja jika Meta keberatan untuk berjauhan..”
“Tidak akan lama.” pungkas Tian begitu saja.
“Maksudnya..?”
“Laras. Setelah ini dia berjanji akan serius mengurus perusahaannya sendiri.”
Arini menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Anak itu penampilannya saja terlihat dewasa, tapi jalan fikirannya masih labil..”
“Selama sikap labilnya masih bisa aku tolerir.. aku akan berusaha memakluminya. Tapi kalau ia sudah kelewatan aku juga tidak akan segan untuk..”
“Haihh.. kamu ini bicara apa, sayang ?” Arini buru-buru memotong ucapan Tian yang mulai terlihat kesal. “Jangan terlalu keras padanya. Usianya baru mau dua puluh empat tahun, tidak semudah itu berjalan sendirian apalagi langsung memimpin perusahaan..”
“Usiaku bahkan lebih muda darinya saat memegang Indotama Group..”
“Tapi kamu tidak bisa menyamakan dirimu dengan orang lain..”
“Kenapa tidak ? nyaris seumur hidup bersama nenek seharusnya dia tidak se-lembek sekarang..”
Arini tertawa kecil. “Karena kamu dan nenek terlalu hebat, suamiku sayang.. tidak mudah menjadi kalian.” Arini
berucap demikian seraya beringsut mendekat, hanya agar bisa lebih leluasa memeluk tubuh suami hebatnya itu. “Apa kamu belum sadar tentang semua kelebihan yang ada pada dirimu..? Sayang.. kamu itu istimewa..”
Tian tersenyum mendengar pujian setinggi langit terlebih mendapati kemanjaan Arini yang sangat ia sukai.
Berkali-kali Tian mengecup ubun-ubun kepala yang harum aroma mint bercampur lavender yang selalu membuatnya nyaman itu.
Beberapa saat mereka lewati hanya dengan saling memeluk sebelum akhirnya Arini mendongak demi mendapati wajah Tian. “Sayang..” panggilnya perlahan, tatapan matanya sudah dipenuhi kesedihan yang mendalam.
“Hmm..?”
“Kasihan Rico yah..”
Tian menciumi seluruh wajah yang sudah terlihat sendu itu.
“Lila tega sekali.. meninggalkan Rico dan Rei seperti ini..” setitik air mata terlihat kembali menyusuri wajahnya saat Tian masih mengecup disana.
Tian menghela nafasnya berat saat mengangkat wajahnya dari wajah Arini, kemudian dengan kedua tangannya ia mencoba menghapus setiap jejak air mata yang ia temui.
“Karena maut mampu memisahkan kita dengan siapapun yang kita cintai dan yang kita sayangi tanpa bisa ditawar. Untuk itu.. selagi bersama jangan pernah berniat untuk berpisah. Manusia tidak memiliki hak untuk itu.. kecuali takdir..”
“Sayang, aku tidak ingin berpisah denganmu dan Sean. Aku sangat mencintai kalian berdua. Aku bisa mati kalau kamu..”
“Ssstt.. Arini, kamu ini sedang bicara apa ? jangan bicara seperti itu.. aku tidak ingin mendengarnya. Beberapa
bulan terakhir ini terasa sangat berat. Kepergian nenek yang tiba-tiba.. kemudian kehilangan calon bayi kita yang diakibatkan kesalahanku karena tidak bisa menjaga dirimu dengan baik.. semua itu masih membekas. Kalau bukan karena dirimu yang selalu menggenggam tanganku.. mungkin saat ini aku sudah menghancurkan diriku sendiri..”
‘Arini.. apakah kamu tau ? bahwa ketakutanku kehilangan dirimu pastinya lebih besar dari ketakutanmu..? aku benar-benar takut kehilanganmu, sayangku.. aku tidak akan mampu berdiri sendirian seandainya aku benar-benar kehilangan dirimu..’
Mendengar kalimat panjang yang tercurah dari lubuk hati Tian yang terdalam membuat Arini serta merta kembali memeluk Tian. Dadanya terasa semakin sesak saat ingatannya kembali pada empat bulan yang lalu.. dimana ia harus dihadapkan pada kematian Saraswati yang menghembuskan nafas terakhir dengan menggenggam jemarinya erat.. terlebih saat kemudian mengetahui ia telah kehilangan calon bayi dalam rahimnya.
Yah.. Saraswati Djenar meninggalkan dunia yang fana ini usai meminta maaf dan membuat Arini berjanji untuk selalu bersama Tian apapun yang terjadi. Semua kalimat Saraswati saat itu senantiasa mengusik fikirannya sampai detik ini. Arini merasa Saraswati seperti ingin memberitahukan dirinya tentang sesuatu tapi.. entahlah.. sampai detik ini Arini bahkan tidak bisa menemukan jawaban yang pasti atas semua itu.
“Ajaklah Sean sesering mungkin untuk bermain dengan Rei..” Tian berucap perlahan.
Arini menganguk seraya mengurai pelukannya. “Iya, sayang.. aku memang sudah berniat untuk itu..”
Tian menganguk sambil tersenyum, menatap wajah dihadapannya itu dengan tatapan yang lekat. Detik berikutnya tatapan mereka sudah beradu tanpa kata.. terkunci satu sama lain, sebelum akhirnya Tian mendekatkan wajahnya, menyentuh Arini sebenar-benarnya dengan penuh kelembutan.
Perlahan tangan Tian terasa menyentuh pergelangan kaki Arini yang terkilir. “Masih sakit..?” tanyanya saat memberi jarak kira-kira satu inchi.
“Sedikit..” jawab Arini tersenyum tipis.
“Sudah bisa..?” berucap begitu saja sambil mengerling nakal penuh makna.
Mendengar itu Arini serentak melotot galak. “Appa !?”
“Apaa..? maksud aku sudah bisa jalan..” ujar Tian ngeles sambil terkekeh.
“Huhh..”
“Nah kan.. ketahuan kan sekarang siapa yang suka mikirin yang ‘iya-iya’..” ledek Tian tersenyum menang.
Arini mencibir. “Bilang saja memang ‘iyya’..” desisnya mulai sedikit kesal karena Tian belum juga selesai dengan tawanya.
Bukannya langsung menjawab Tian malah memindahkan duduknya lebih merapat. “Kalau iya memangnya mau dikasih..?” ujarnya tersenyum smirk, tangannya sudah berpindah posisi dengan cepat. Tidak lagi mengelus bagian kaki yang sakit pada awalnya, kini sudah berputar-putar membuat pola abstrak didengkul.
Arini mengatupkan kedua bibirnya serentak, mencegah suara aneh tak berakhlak yang nyaris keluar dari dalam dirinya yang sudah meremang.
Tian tersenyum tenang sambil terus menatap dalam wajah cantik yang berada tepat dihadapannya. Kedua bola matanya menghangat saat mengirimkan signal gairah yang terbakar namun terbungkus rapi dalam ketenangan pengendalian diri yang memprovokasi lawan.
Aura maskulin Tian menguar sempurna, selaras dengan pergerakan tangan yang semakin naik kelas ke-area paha. Tentu saja Tian harus menyembunyikan senyum kemenangan saat jemarinya bisa merasakan betapa semua pori-pori kulit wanita itu telah terbuka pertanda terbukanya juga peluang.
“Sayang..” Arini berusaha menegur meski nada suaranya sudah terdengar putus asa.
Medengar itu Tian malah balas menatapnya lembut. “Hemm..”
“Kakiku masih.. hhmmp..”
Pertahanan Arini mulai goyah manakala Tian berhenti sejenak, menatap sepasang mata yang terbingkai dengan lentiknya. “Kakimu kenapa..?” bertanya dengan menyuguhkan senyum devil.
“Kakiku masih sak.. hhmmpp..”
Lagi-lagi.. lelaki itu seolah sengaja ingin membuat perseteruan yang membuat Arini harus memilih antara rasa nikmat yang sedang ia berikan atau keinginan awal yang ingin melakukan penolakan.
Usaha maksimal Tian bahkan telah didukung sepenuhnya oleh pergerakan aktif kedua tangan yang tidak mungkin tinggal diam. Dengan gesit menelusup kedalam penghalang entah sejak kapan.. karena sekarang yang Arini rasakan adalah bagian tubuh sensitifnya mulai terpilin dengan gerakan lembut dan berirama.. kemudian keras menghentak.. kemudian melembut lagi.. sedikit kasar.. menjepit.. bermain-main.. yang semuanya berhasil membuat Arini terlempar dipuncak frustasi paling tinggi.
“Kakimu kenapa sayangku..? masih sakit..?” tiba-tiba Tian sudah menatap lembut tanpa dosa.. berhenti total dari segala aktifitas yang begitu profesional, usai membuat setiap jengkal syaraf Arini tawuran satu sama lainnya.
‘Damn..’
Rutuk Arini sambil menggigit bibir sekaligus meneguk ludah sendiri mendapati senyum kemenangan Tian yang semakin merekah penuh misteri. Seperti kegemarannya selama ini, Tian memang selalu berhasil jika menyangkut urusan menjebak gairahnya terlebih dahulu, membuat dirinya sangat menginginkan lelaki itu, barulah kemudian Tian akan menebus kenakalannya dengan balik memuja sebaik-baiknya, sepenuh hati, laksana lelaki sejati. Menyelamatkan rasa gengsi Arini didetik terakhir.
Tian menatap sepasang mata itu dengan hangat.. menyentuh rambut bergelombang yang meriap. Detik berikutnya tanpa banyak bicara ia segera membuka T-Shirt yang ia kenakan, memamerkan keseluruhan pesona tubuh yang liat hasil olahraga rutin yang tak pernah lalai dilakukan seiring bertambahnya usia, kemudian tanpa ragu mendekatkan dirinya semakin rapat, pertanda ia tidak ingin bermain-main lagi.
Masih tanpa kata, hanya senyum memikat yang Tian sajikan saat kemudian secara terang-terangan meloloskan setiap penghalang Arini yang melekat, satu demi satu dengan begitu mudah tanpa ada lagi protes, penolakan apalagi perlawanan.
Kedua jemari Arini menyentuh lembut rahang yang keras, kedua bahu yang lebar, lengan yang kokoh, dada yang
bidang.. semua yang telah menjadi miliknya dengan penuh kebanggaan dan rasa cinta.
Arini tertawa tanpa suara karena sepertinya dirinya semakin ingin menyentuh lebih banyak lagi setelah ini saat menyadari lewat ekspresi wajahnya Tian terlihat menyukai semua petualangan yang sedang ia lakukan.
Nafas lelaki itu mulai terasa memburu saat menyatukan wajah mereka, tapi tetap menuntunnya dengan tenang sehingga yang Arini rasakan hanyalah menerima betapa lembutnya Tian yang terus mengayun membuatnya terlena.. menikmati semua pergantian keindahan yang berkali-kali dengan tiada tara..
Keindahan yang selalu membuai dan membuat Arini melupakan kekesalan akibat hasrat yang selalu dipermainkan.. sekaligus memaafkan setiap kenakalan lelaki itu pada awal mula. Tidak lagi.. karena pada akhirnya Tian selalu berhasil membayar lunas semuanya.
Dengan penuh kebanggaan Arini merapatkan wajahnya dengan wajah mengeras yang berpeluh milik Sebastian Putra Djenar, suaminya yang hebat, yang tidak pernah berhenti menjadi pemenang yang begitu mahir menguasai sejengkal demi sejengkal raganya, terlebih jiwanya..
XXXXX
Arini tersenyum saat melihat wajah Tian yang terlelap damai dengan sisa-sisa kelelahan yang nampak jelas. Bukan hanya semata-mata karena aktifitas panas mereka saja.. tapi karena selama dua hari ini Tian juga nyaris tidak memejamkan matanya dengan tenang.
Tragedi yang menimpa Rico karena kehilangan Lila membuat tidak hanya Tian, bahkan dirinya pun nyaris melupakan dunia mereka sendiri. Lebih-lebih Tian yang terus berada di sisi Rico yang terlihat sangat terpukul dan kehilangan.
Beruntung baginya, semakin besarnya Sean semakin memudahkan untuk ia percayakan dengan baby sitter meskipun hatinya pun diliputi kesedihan saat harus mengabaikan Sean, karena dalam dua hari ini mereka berdua melalui hari yang sebagian besar dirumah Rico yang sedang dirundung duka nestapa yang begitu hebat. Selama dua hari ini pula dirinya lebih memilih membantu mengalihkan segenap dunia Rei yang meskipun belum mengerti arti kehilangan Lila untuk selama-lamanya, meskipun berkali-kali perhatiannya teralih, namun tetap saja berkali-kali pula dunianya kembali berpusat pada mommy-nya kembali.
Dan diluar perkiraan Arini dan semua orang, keajaiban mendadak terjadi sesaat setelah jasad Lila dikebumikan. Rei yang semula rewel dan hampir membuat mereka berdua celaka karena kakinya yang tersandung akar pohon saat berusaha menenangkan Rei akhirnya terhindar dari hal yang buruk karena pertolongan Meta.
Tidak hanya itu saja.. diluar dugaan Meta yang awalnya hanya ingin membantunya menenangkan Rei tiba-tiba saja membuat bocah itu melengket dengan sangat pada sahabatnya sekaligus sekretaris Tian itu, yang membuat Meta harus rela terus menenangkan Rei bahkan ikut pulang bersama rombongan keluarga Rico saat akan kembali kerumah.
‘Bagaimana keadaan Meta sekarang yah..?’
Teringat tentang keadaan Meta membuat Arini menyisihkan perlahan lengan Tian yang melingkar ditubuhnya sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya perlahan seraya meraih ponselnya yang ada diatas nakas disisi ranjang. Mencari kontak Meta, kemudian menekannya segera.
Setelah menunggu sejenak, tepat di dering ke-empat panggilan Arini akhirnya direspon juga.
“Halo, Rin ?”
“Halo, Meta.. bagaimana keadaanmu sekarang ? kamu sudah pulang atau masih bersama Rei ?” tanya Arini to the point dengan nada rendah karena tidak ingin mengusik tidur Tian.
“Ini baru saja mau pulang, Rin..”
“Astaga… sampai selarut ini..?” Arini terhenyak mendengar penjelasan Meta setelah melirik sekilas jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Iya, Rin.. Rei selalu menangis kalau aku tinggal sebentar saja. Sekarang aku bisa pulang setelah menidurkan Rei dulu dan memastikan ia tenang..”
“Lha trus.. kamu pulangnya bagaimana..?”
“Ini.. kayaknya mau dianterin sopir..”
“Syukurlah, Meta jangan pulang sendirian yah.. ini sudah larut..”
“Iya, Rin.. dianterin kok.. udahan ya, mobilnya sudah ada ini. Egh, by the way kaki kamu bagaimana, Rin..”
“Gak usah khawatir.. kakiku sudah mendingan. Kamu hati-hati dijalan yah, Meta.. jangan lupa kabarin lagi kalau sudah sampai rumah..”
“Oh.. syukurlah kalau sudah mendingan. Baik, Rin.. pasti aku kabari lagi kalau sampai rumah. Bye Arini..”
Kemudian Meta memutus perbincangan itu terlebih dahulu sebelum akhirnya mendekati mobil yang telah menunggu tak jauh dari tempatnya berdiri. Belum sempat tangannya menyentuh handle mobil ia sudah terkejut saat kaca didepannya mendadak terbuka otomatis.
“Duduk didepan saja.” suara berat itu menyapa gendang telinga Meta.
‘Pak Rico..?’
Membathin, seraya bengong sesaat.
“Ayo, cepat..”
“Egh.. i-iyya pak..” tergeragap
saat akhirnya memutuskan membuka pintu depan dan menghempaskan tubuhnya disamping lelaki itu. “Maaf merepotkan, pak..” menunduk takjim.
“Tidak apa-apa. Saya memang
sengaja mengambil kesempatan agar bisa mengantarkan kamu pulang.”
“Egh..?”
“Ada yang ingin saya bicarakan.” ucap Rico lagi tepat saat mobil yang dikendarainya mulai bergerak perlahan.
“D-dengan saya, pak..?” bertanya ragu-ragu.
“Iya. Dengan kamu. Kita perlu bicara.”
Meta menunduk seraya menelan ludah, saat menyadari betapa dinginnya warna suara pak Rico saat ini.
.
.
.
Bersambung..
Like, Vote, Comment seperti biasa yah.. Reader kesayanganku.. 🥰🥰🥰