CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Menggoda Tian


Mobil yang dikendarai Rudi berhenti tepat didepan lobby kantor pusat Indotama Group.


Rudi terlihat turun dari sana dan meminta salah seorang sekuriti untuk memarkirkan mobilnya di parkir area, sementara Arini turun dari sisi yang lain.


Sebenarnya sebelum kembali ke kantor pusat Rudi sudah menawarkan untuk mengantar Arini kembali ke apartemen saja. Tapi dengan berdalih bahwa jam kantor belum usai dan ia masih memiliki beberapa pekerjaan yang targetnya ingin dituntaskan hari ini juga maka Arini langsung menolak tawaran Rudi dan meminta asisten Tian itu untuk mengantarkannya kembali ke kantor.


Saat ini mereka berdua baru saja menapakkan kaki kedalam gedung kantor pusat ketika sebuah suara merdu milik seorang resepsionis mengalihkan perhatian mereka.


“Eh, itu dia Pak Rudi sudah datang,”


Arini yang semula berjalan dengan wajah yang sedikit menunduk sontak mengangkat wajahnya. Dilihatnya seorang lelaki tampan dengan tubuh atletis nampak bersandar rileks di meja resepsionis yang dihuni oleh dua orang wanita cantik. Sekali lihat Arini langsung mengenali siapa pemilik wajah itu.


‘Itu kan Pak Rico ? sedang apa dia dia disitu ? mau menggombali resepsionis ?’


Arini membatin sinis.


‘Mau itu Tian.. mau itu Rico.. dua lelaki itu sama saja. Sama-sama hidung belang. Mentang-mentang mereka Ceo, kaya, tampan, seenaknya saja menabur pesona dimana-mana. Dasar sepasang sahabat yang sama-sama buaya darat..!! huhh !!”


Tanpa sadar Arini sudah mengomel panjang pendek meskipun hanya dalam hati.


Rudi yang melihat kehadiran Rico langsung mendahului langkah Arini untuk segera menemui lelaki itu.


“Maaf, sudah membuat Pak Rico menunggu..”


“Tidak apa-apa, Rud. Saya juga belum lama kok. Oh ya.. bagaimana dengan dokumen yang saya perlukan ? sudah kamu siapkan ?”


Rudi menganguk. “Sudah Pak Rico, tapi sekarang saya harus kebagian informasi dulu. Saya ada keperluan sebentar disana, dan kalau tidak keberatan Pak Rico bisa menunggu diruangan Pak Tian saja, nanti saya akan menyusul secepatnya,”


“Baiklah kalau begitu,” Rico menganguk setuju.


“Pak Rico boleh keatas duluan bersama-sama dengan bu.. eh Arini,”


Arini yang awalnya berjalan melewati meja resepsionis begitu saja sontak berbalik saat mendengar Rudi menyebut namanya.


“Arini.. tolong sekalian antarkan Pak Rico keruangan Pak Tian, nanti saya akan menyusul.”


Arini menatap Rico sekilas, yang ternyata lelaki itu sudah lebih dulu menatapnya.


“Baiklah.. mari Pak Rico,” ucapnya mencoba bersikap ramah meskipun sebenarnya hatinya enggan berbaik-baik dengan Rico yang sudah diketahui bagaimana reputasinya.


Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya ia tidak perlu merasa terlalu khawatir berlebihan. Lagian apa yang harus dia khawatirkan ? Dirinya sama sekali tidak termasuk kategori wanita cantik maupun sexy seperti kegemaran lelaki ini. Jadi lelaki ini juga tidak mungkin tertarik padanya kan ? apalagi berniat menggodanya..!


‘Sama seperti Tian, selera Rico pastilah hanya kepada wanita-wanita cantik yang berkelas yah.. kira-kira seperti Ceo yang bernama Lila itu..’


Arini melengos dalam hati, saat seraut wajah sempurna milik Lila yang sedang tersenyum ramah melintas dibenaknya begitu saja.


‘Ahh.. Ceo cantik bernama Lila itu sebenarnya kelihatannya baik dan sangat ramah, tapi didalam hatiku, belum apa-apa aku sudah tidak menyukainya hanya karena rasa cemburu terlebih rasa insecure-ku ini..’


Sesal hati Arini, tak berdaya.


Sementara itu Rico yang akhirnya ikut melangkahkan kaki mengikuti langkah Arini menuju lift akhirnya tersadar bahwa mengapa sejak tadi ia merasa familiar dengan wajah karyawan bernama Arini ini. Tentu saja, ini adalah karyawan Tian yang tempo hari sedang ditatap dengan pandangan intens oleh Tian saat ia sedang menikmati makan siang dikubikelnya.


Pintu lift sudah tertutup dan lift itupun sudah bergerak keatas, kelantai lima belas. Rico melirik sekilas Arini yang berdiri acuh disudut yang lain sambil memeluk map file.


Jangankan menyapa, wanita ini malah sepertinya tidak berniat melihat wajahnya sama sekali. Membuat Rico tersadar, bahwa rasanya baru kali ini ada wanita yang kelihatan tidak penasaran dan tidak berminat dengan wajah tampannya.


“Aku baru ingat..”


Rico dengan kepercayaan dirinya yang seperti biasa, akhirnya membuka suara kearah sosok yang berdiri membisu disudut lift itu. Mencoba mendapatkan sedikit perhatiannya, dan benar saja.. wanita bernama Arini itu akhirnya menoleh padanya.


“Kamu yang tempo hari ada dikubikel itu, kan ?” ucap Rico kemudian sambil tak lupa melempar senyum khas.


Arini hanya melirik Rico sekilas mendengar basa-basi Rico padanya. “Iya pak, tentu saja aku ada dikubikel, karena semua karyawan sepertiku di kantor ini memang memiliki kubikelnya masing-masing.” ucap Arini tanpa ekspresi.


Mendengar kalimat dengan nada sindiran itu membuat tawa Rico langsung pecah begitu saja.


Arini terheran,


‘Kenapa dia malah tertawa ?’


“Wah.. aku tidak menyangka, ternyata selera humor kamu bagus juga, yah.” Imbuh Rico disela-sela tawanya yang mulai mereda.


‘Cihh, memangnya siapa yang berniat melawak ?’


Kendatipun Rico tersenyum sumringah dihadapannya namun Arini malah diam saja. Lagian untuk apa dia ikut tertawa kalau rasanya tidak ada yang menurutnya lucu sama sekali ?


“Iya, tentu saja aku tau semua karyawan disini memiliki kubikel masing-masing, tapi maksudku tadi, aku mengenalimu pertama kali saat melihatmu makan siang didalam kubikel setelah habis meeting Best Elektro beberapa hari yang lalu..” ucap Rico menjelaskan panjang lebar, sambil menatap Arini sejurus.


“Ohh..” Singkat. Arini masih tidak


berniat meladeni lelaki dihadapannya ini.


Sikap Arini yang kembali acuh seperti itu justru membuat Rico sedikit melongo. Waduhh.. benar-benar baru kali ini dirinya berhadapan dengan wanita yang tidak peduli padanya sama sekali bahkan sanggup mengacuhkan kehadirannya seperti ini..!


Wah, Rico jadi berfikir, bisa jadi mungkin inilah penyebabnya kenapa Tian juga sepertinya tertarik pada wanita bernama Arini ini. Tidak menutup kemungkinan Arini juga tidak tertarik pada kehadiran Tian, sehingga hal itu membuat Tian penasaran.. persis dengan yang dialaminya sekarang..!


Mendapati kenyataan tersebut, bukannya malah kapok setelah diacuhkan sejak tadi Rico malah merasa semakin penasaran dengan sosok Arini.


“Sepertinya kita harus saling mengenal terlebih dahulu. Perkenalkan namaku Rico,” ia berucap percaya diri dengan tidak tahu malunya.


“Aku sudah tahu,”


“Tapi aku belum tau namamu kan ?” Rico tersenyum usil.


‘Ting..!’


Bertepatan dengan suara pintu lift yang terbuka, membuat Arini tidak membuang waktu untuk keluar dari bilik lift itu begitu saja.


Melihat hal itu secepat kilat Rico langsung menyusul langkah Arini keluar. “Baiklah.. baiklah.. aku juga sudah tau namamu. Arini kan..?” entah kenapa Rico semakin bersemangat menggoda Arini justru disaat ia sedang menerima sikap penolakan Arini yang sepertinya tidak menaruh minat sama sekali bahkan hanya untuk sekedar meladeninya bicara.


Arini tidak menyahut, melainkan terus berjalan kearah ruangan Tian dan baru berhenti setelah berada tepat dibingkai pintu. “Silahkan.. Pak Rico bisa menunggu Pak Rudi didalam ruangan ini..” ia mempersilahkan dengan sopan sementara tepat dihadapannya Rico masih tidak bergeming.


“Ehemm.. tidak usah repot-repot, biarkan saja aku menunggu Rudi disini,”


Arini mengerinyit mendengarnya. Tidak mengerti dengan sikap Rico yang kelihatan aneh.


“Apa Pak Rico mau berdiri disini sampai Pak Rudi datang ?” tanya Arini bingung dengan penolakan Rico yang tidak ingin masuk keruangan Tian dan menunggu Rudi disana.


“Apa disini tidak ada tempat duduk untuk tamu ?” Rico nampak menatap kesana kemari.


“Tidak ada, Pak Rico. Kami hanya mempunyai kursi kami masing-masing untuk kami duduki..”


“Baiklah, aku akan duduk disitu saja, dan menunggu Rudi,” tanpa mengindahkan kalimat Arini, Rico sudah menatap sebuah kursi kosong yang tidak seberapa jauh dari kubikel Arini dengan tatapan mata yang berbinar, seolah ia baru saja menemukan harta karun. Rico bahkan dengan percaya diri langsung ngeloyor begitu saja menghampiri kursi kosong yang dimaksud.


‘Astaga.. pantasan saja kosong, itukan kursi Vera..!’


Arini tersadar bahwa kursi kosong yang dimaksud Rico adalah kursi Vera, yang karena nyeri datang bulannya tadi siang pasti saat ini Vera sudah pulang lebih dahulu untuk beristirahat dirumahnya.


Arini tidak bisa berbuat banyak saat menyadari Rico yang tanpa sungkan duduk di kursi itu sambil tersenyum penuh kemenangan kearahnya.


‘Mau apa sih buaya ini ?’


Arini mendengus dalam hati namun bibirnya dengan terpaksa harus tetap menyunggingkan senyum ramah.


“Baiklah Pak Rico, silahkan menunggu Pak Rudi, maaf aku harus melanjutkan pekerjaan aku dulu,” tanpa meminta persetujuan Rico, usai berucap demikian Arini langsung berjalan menuju kubikelnya, langsung menghempaskan tubuhnya keatas kursi begitu tiba disana.


“Sstt.. Arini..”


Arini terhenyak mendapati kepala Meta menyembul dari balik dinding kubikel disebelahnya.


“itu si babang ganteng ngapain pake acara duduk disitu..?”


“Mau nungguin Pak Rudi katanya,” ucap Arini seala kadarnya.


“Ohh,” Meta ber-Ohh ria sambil tetap mengintip wajah tampan Rico diam-diam, membuat Arini yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah Meta tersebut.


“Ihh, biarin lah, Arini.. sudah lama juga aku tidak melihat wajah tampannya Pak Rico..” meta malah terkikik kecil membuat Arini kembali melotot.


Tapi sejenak seperti teringat sesuatu Meta kemudian menatap Arini serius.


“Eh ya, Rin.. katanya kamu habis mendampingi Pak Rudi meeting yah ? trus bagaimana hasilnya..?”


“Iya, Met.. ini aku baru kelar meetingnya. Hasilnya Alhamdulillah sesuai dengan yang diharapkan..”


“Wah, bagus lah Rin.. kamu bisa


diandalkan juga buat gantiin Vera.”


“Iya,, rasanya senang banget deh begitu semuanya berjalan dengan lancar..” ucap Arini sambil menghela nafas lega.


“Hebat kamu, Rin..” gumam Meta lagi merasa bangga dengan keberhasilan sahabat sekaligus tetangga kubikelnya ini.


“Terima kasih, Meta. Udah ah.. aku mau lanjutin input data bulanan nih, tadi belum kelar udah keburu pergi sama Pak Rudi.” Ujar Arini kemudian, sudah kembali menatap layar komputernya yang sudah menyala, berniat melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai sejak tadi siang.


Melihat hal itu mau tidak mau meta


akhirnya menarik tubuhnya dari pembatas kubikel meskipun hatinya belum rela karena merasa belum puas menikmati wajah tampan Pak Rico yang sedang bersandar santai dikursi Vera sambil mengetik sesuatu pada ponsel yang ada ditangannya.


Arini yang baru mau berkonsentrasi dengan setumpuk angka yang ada pada laporan yang akan diinputnya sekilas saat ia mengalihkan tatapannya kesamping ia tak sengaja beradu pandang dengan Rico. Arini sedikit terhenyak saat menyadari jika ternyata sepasang mata elang milik Rico itu sedang mengawasinya dengan lekat.


‘Apa saat ini Pak Rico memang sedang menatapnya ? tapi.. sepertinya tidak mungkin !’


Pertanyaan yang ada dihati Arini langsung mendapat jawaban spontan dari hatinya pula.


Arini memilih membuang pandangannya kesamping, sedikit jengah saat merasakan tatapan Rico yang terus lekat padanya, meskipun ia tidak yakin.


Sementara itu…


Rico yang memang sejak tadi entah kenapa terus-menerus mengawasi setiap gerak-gerik Arini mendadak tersenyum usil saat sebuah ide gila melintas dibenaknya.


Diam-diam Rico mengarahkan kamera ponsel iphone keluaran terbarunya dan langsung membidiknya tepat kearah target yang tak lain wanita dihadapannya itu.


Rico memotret Arini diam-diam, dan sambil tersenyum devil ia langsung meneruskan foto wanita itu kesebuah kontak whatsapp-nya. Pada kontak siapa lagi tujuannya kalau bukan kepada kontak Tian.


Usai melakukan keisengan itu Rico kemudian menunggu sambil senyam-senyum sendiri. Ia sudah bersiap menghitung dalam hati begitu isi pesannya tercentang biru tanda telah terbaca. Rico penasaran akan seperti apa gelagat Tian saat mengetahui aksi usilnya barusan.


Kira-kira dua menit telah berlalu, Dan Rico hampir menyerah manakala tiba-tiba status whattsapp nya menunjukan notifikasi dua centang biru yang membuat sepasang matanya langsung berbinar.


Rico memang tidak bermaksud apa-apa selain hanya ingin menggoda Tian. Rico mulai menghitung dalam hati, ingin tau bagaimana reaksi Tian dan seberapa cepat responnya saat mengetahui dirinya sedang berada di kantor pusat Indotama Group sambil mengganggu salah seorang karyawan yang sepertinya juga mencuri atensi Tian, bahkan baru kemarin Rico memergoki Tian sedang menatap Arini dengan tatapan yang intens.


Di dalam hati Rico bertaruh pasti tidak akan sampai tiga puluh menit Tian akan balik menelponnya dengan nada geram.


Ha.. ha.. ha.. Rico baru saja tertawa dalam hati, manakala tiba-tiba ponselnya berdering. Mata Rico melotot nyaris tak percaya saat melihat nama Tian tertera dilayar ponselnya. Astaga.. ini bahkan belum sampai lima detik.. dan Tian sudah balik menelponnya ?!


Rico melirik wanita dihadapannya itu sejenak, sebelum memutuskan untuk menyentuh icon terima dilayar ponselnya.


“Halo, my bro ?” sapanya dengan intonasi setengah suara. Tentu saja Rico tidak ingin Arini tau jika dirinya sedang menerima telpon dari Ceo Indotama Group, bos besar mereka, yang diakibatkan ulah usilnya yang mengambil gambar Arini diam-diam.


“Sedang apa kamu dikantorku..?” suara yang ada diseberang itu terdengar dingin ditelinga Rico.


“Oohh.. aku hanya kebetulan berada disekitar kantormu dan tiba-tiba aku teringat bahwa kemarin aku meminta salinan salah satu dokumen pendukung yang harus aku ambil pada Rudi.”


“Lalu ?”


“Lalu ?” ulang Rico. “Lalu.. yah aku memutuskan untuk menemui Rudi dikantormu,”


“Menemui Rudi ?”


“Iya, Rudi..”


“Lalu untuk apa kau ada didepan meja Arini ?”


“Arini ? oh.. hahaha.. tidak.. aku tidak ada maksud apa-apa, tadi aku hanya berada dalam lift yang sama dengannya, dan sekarang aku duduk dihadapannya..”


“Kamu..? untuk apa kamu duduk persis dihadapannya ??!”


Tian meradang.


“Eitt.. jangan marah dulu. Aku kan tidak duduk persis didepannya, foto itu hanya sedikit aku zoom saja, masa iya kamu bahkan tidak menyadari bahwa aku memakai mode zoom..?” protes Rico dengan sengit.


Tian terhenyak. Sial.. dia begitu gelap mata saat melihat isi pesan whattsapp Rico yang menunjukkan foto Arini yang sedang fokus berada didepan layar komputernya, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa foto itu ternyata memang di zoom saat pengambilan gambar.


Mengetahui Tian yang mulai kikuk membuat Rico tertawa. “Tenanglah, saat ini aku benar-benar sedang menunggu Rudi..”


“Baiklah, aku akan menyuruh Rudi untuk segera menyerahkan dokumen yang kamu inginkan agar kamu juga bisa secepatnya angkat kaki dari kantorku..”


“Egh, kenapa terburu-buru ? aku bahkan baru berbincang sedikit dengan Arini..”


“Jangan mengganggu karyawanku yang sedang bekerja, Co.”


“Tapi aku tidak mengganggunya..”


“Lalu untuk apa kamu masih duduk


dihadapannya seperti itu ??!”


“Aku.. aku hanya menatapnya..” berucap polos tanpa rasa berdosa sedikitpun.


“Co !”


“Astaga.. kenapa sih Tian ? Mengapa hanya menatap karyawanmu dari jauh saja sekarang tidak boleh ?”


Tian terdiam. Untung saja Rico tidak bisa melihatnya yang saat ini sedang memijat keningnya seperti kebiasaannya.


“Ya sudah.. baiklah.. aku tidak akan menatapnya lagi, hahaha.. kamu ini aneh sekali,”


“Hhh.. aku akan menelpon Rudi. Aku akan menyuruhnya untuk segera menyerahkan dokumen yang kamu inginkan lalu kamu boleh pergi dari kantorku sebelum aku menyuruh sekuriti mengevakuasimu dengan paksa..!”


“Egh.. tapi Tian..”


Tuttt..!!


Telepon itu diputus begitu saja.


‘Cihh.. arogan sekali ! taunya hanya memerintah saja..!’


Rico mencebik.


Sedetik kemudian ia menatap foto Arini yang ada di ponselnya, sedetik kemudian ia mengawasi Arini yang sedang berada dimuka komputer. Rico bahkan melakukan hal itu berkali-kali, menatap Arini kemudian menatap layar ponselnya, seperti sedang membandingkan hasil jepretan dan gambaran asli seorang Arini.


‘Wanita ini.. meskipun sekilas terlihat biasa saja tapi semakin dipandang, kenapa kelihatan semakin manis yah..?’


Rico berujar dalam hati.


Apalagi dengan sikapnya yang cuek bebek seperti itu, bahkan lelaki casanova seperti dirinya bisa dibuat penasaran dengan sosoknya.


Ck.. ck.. ck.. pantas saja Tian bahkan betah menatap wajah Arini berlama-lama, rupanya wanita ini ibarat sebuah mutiara didasar laut. Keindahannya tidak terlihat, namun keasliannya menyimpan sejuta pesona yang sulit terselam.


.


.


.


Bersambung…


Tungguin yah.. sore aq up 1 bab lagi..!!


so, jangan lupa like n coment nya yah.. 😊 lopphyuuu all.. 😘