
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🤗
.
.
.
Meta masih setia menepuk pan tat
Rei dengan lembut meskipun sudah sejak tadi Rei tertidur. Entah kenapa Meta senang saja melakukannya.. menepuk-nepuk pan tat Rei yang berisi sampai bocah itu tertidur dan akhirnya dirinya pun akan ikut-ikutan tertidur.
Tapi kali ini Meta memang sengaja
tidak buru-buru tidur menyusul Rei karena sedang menunggu kapan ponsel yang sudah ia pelankan volumenya itu akan berbunyi. Telpon terakhir dari Rico untuk hari ini sesuai jadwal yang telah digariskan oleh lelaki itu sejak awal.. bahwa ia akan menelpon Meta untuk memantau keadaan Rei tiga kali dalam sehari. Pagi, siang, dan malam. Sudah seperti jadwal minum obat saja.
Bunyi pintu kamar terbuka
mengusik lamunan Meta. Wajah ibu muncul disana.
“Rei sudah tidur ?” tanya ibu Arum nyaris berbisik seraya melangkah kedalam kamar dan menghempaskan tubuhnya dipinggiran ranjang dengan sangat perlahan.
“Sudah, bu..” angguk Meta seraya berusaha bangkit ikut mendudukkan dirinya juga diatas ranjang.
“Susternya sudah pulang ?”
“Iya bu, tapi besok pagi kesini lagi. Lagian kalau aku paksa susternya Rei tetap disini, bingung juga mau disuruh tidur dimana..” ujar Meta kemudian.
Kondisi rumah kontrakan Meta saat ini memang terbilang berukuran sangat kecil. Letaknya berada ditengah perkampungan dimana rumah yang satu dengan yang lain nyaris berdempetan dinding, belum lagi untuk menuju kerumahnya jalannya harus melewati gang sekitar dua puluh meter dari jalan raya.
Hanya ada dua kamar tidur yang
ukurannya juga sempit yang ditempati Meta dan Rei saat ini, dan satunya lagi ditempati ibu dan Mayra.
Awalnya Meta sekeluarga menempati
sebuah perum yang diperoleh dari hasil mencicil setiap bulan selama lima belas tahun oleh almarhum ayah Meta. Tapi setelah kecelakaan yang menimpa Mayra adiknya kira-kira tiga tahun yang lalu.. Meta dan ibunya terpaksa harus merelakan rumah peninggalan ayah satu-satunya itu untuk dijual guna biaya pengobatan Mayra, begitupun dengan mobil merk sejuta umat milik Meta. Mobil second hand itu Meta dapatkan dari hasil menyisihkan sebagian besar gajinya untuk memudahkan aktifitasnya sehari-hari saat Meta akan pergi dan pulang kantor.
Akibat dari kecelakaan itu, Mayra
harus menjalani operasi lutut hingga beberapa kali, yang kalau tidak segera dilakukan maka adiknya telah divonis oleh dokter akan mengalami kelumpuhan permanen. Meskipun akhirnya mereka bertiga harus rela pindah kerumah kontrakan yang jauh lebih kecil, namun uang hasil penjualan rumah dan mobil tersebut masih tidak bisa mengakomodir seluruh biaya operasi terakhir yang dirangkai sekaligus dengan biaya teraphy lutut agar Mayra bisa berjalan dengan normal kembali.
Dalam situai terjepit saat itu diluar
sepengetahuan Meta, ibu dengan terpaksa meminjam uang sejumlah seratus juta rupiah dengan bunga yang besar kepada seorang rentenir.
Singkat cerita, akhirnya setelah
melewati perjuangan yang cukup pajang, kondisi Mayra berangsur-angsur pulih seperti sedia kala. Namun sebaliknya, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini tanpa diketahui siapapun hidup mereka sangat pontang-panting. Gaji Meta yang besar di Indotama Group hanya mampu mencicil bunga pinjaman yang semakin mencekik, yang mengakibatkan nominal hutang yang semakin hari semakin berlipat ganda.
Bagaimana mungkin semua itu bisa
dicukupkan, jika semua beban perekonomian saat ini seluruhnya berada dipundak Meta, termasuk uang sekolah Mayra. Ibu yang biasanya menerima pesanan kue untuk tambahan biaya hidup sehari-hari seiring usia yang menua dan seringnya mengalami sakit yang juga diakibatkan usia.. akhirnya dengan sangat terpaksa harus berhenti dari segala aktifitasnya, sedangkan belakangan ini debt collector yang merupakan orang suruhan sang juragan pemilik uang yang dipinjam ibu itu begitu sering menagih.. akhir-akhir ini malah semakin berani dan disertai dengan ancaman. Semua itu membuat Meta merasa pusing memikirkan, entah jalan keluar seperti apa lagi yang harus ia tempuh agar terbebas dari belenggu kehidupan yang merantai.
Beberapa kali Meta hampir keceplosan untuk meminta bantuan Arini, tapi lidahnya tidak sanggup untuk berucap.
“Rei ini lucu sekali yah.. pintar
lagi..” kalimat ibu memecah lamunan panjang Meta. Saat Meta menengok ia malah mendapati ibu sedang menatap Rei lekat seraya mengusap-ngusap pipi montok itu penuh kasih sayang.
Meta tersenyum, dalam hati bergumam..
Tentu saja. Malaikat mungil ini
memang begitu pandai mencuri hati siapapun yang melihatnya. Sangat pintar dan sangat lucu. Bahkan meski umurnya baru saja genap tiga tahun, tapi Rei sangat tau caranya mengungkapkan kasih sayang yang tulus.. bocah itu seperti sebuah
hadiah istimewa yang tidak kuasa ditolak oleh siapapun..
Tidak dirinya yang bahkan tidak
bisa lagi berada jauh.. tidak Mayra yang langsung bisa akrab hingga seharian ini terus bermain dengan Rei tanpa henti.. begitupun dengan ibu. Belum ada satu hari tapi ibu bahkan sudah seperti orang yang sedang jatuh cinta setengah mati. Meta bahkan sempat dibuat panik dan kesal saat tadi sore usai meminta ijin agar bisa memandikan Rei.. tanpa sepengetahuan Meta ibu malah membawa Rei berkeliling kesana kemari.. memamerkan bocah tampan yang dengan fasih terus memanggil dirinya dengan sebutan ‘Nenek’ itu dengan begitu bangganya kepada para tetangga dan kepada siapapun yang ia temui.
“Ibu sangat menyukainya.. kapan
yah kira-kira ibu bisa mempunyai cucu setampan ini..?”
Karena merasa kalimatnya tidak
menatap layar ponsel yang gelap, belum ada tanda-tanda sedikit pun untuk berbunyi.
‘Kenapa pak Rico belum menelpon yah..?’
Bergumam dalam hati.
“Meta..”
Meta terhenyak mendapati tangan
ibu yang sudah melambai-lambai didepan hidungnya.
“Susah payah ibu bertanya, kamu
malah melamun..”
“Memangnya ibu bertanya apa ?”
“Ibu bertanya, kapan kira-kira ibu bisa mendapatkan cucu seperti ini..”
Mendengar pertanyaan itu Meta
sontak mengerinyit seolah memikirkan sesuatu. “Entahlah bu,”
“Haihh..” ibu Arum menggerutu
kesal melihat tanggapan yang tidak peka itu. “Tidak mengerti maksud ibu yah ?”
“Memangnya apa maksud ibu ? aku
tidak mengerti, bu.. mana aku tau kapan tepatnya ibu bisa mempunyai cucu seperti Rei..? lagian.. sepertinya tidak mungkin jika cucu ibu nantinya akan setampan Rei kan..?”
Ibu Arum menghempaskan nafasnya
dengan keras, nyaris kehilangan kesabaran menghadapi kepolosan Meta, atau lebih tepatnya kebodohan Meta, putrinya itu. “Maksud ibu.. kapan kamu dan Rudi akan meresmikan hubungan kalian ? kalau kamu menikah dengannya.. ibu kan juga bisa secepatnya memiliki cucu seperti Rei..”
Mendengar kalimat ibu yang to the
point membuat Meta terparanjat.“Ibu, tolong berhenti menyebut nama Rudi. Aku kan sudah mengatakannya berkali-kali, kalau aku tidak punya hubungan apapun dengannya..”
“Lalu ?”
“Lalu apa ?”
“Jadi maksudmu kamu memiliki
hubungan dengan ayah bocah ini..?”
“Ibu !!”
‘Astaga… ibu..’
Meta membekap mulutnya sendiri
saat melihat Rei menggeliat, karena terusik dengan suaranya yang memekik tak tertahan.
“Kamu ini.. kalau kamu ingin berteriak.. keluar sana..” usir ibu Arum dongkol karena suara pekikan Meta yang telah mengusik lelapnya tidur Rei. Wanita paruh baya itu bahkan terlihat sudah naik ketempat tidur dengan perlahan dan kemudian membuat gerakan mengusap-ngusap punggung Rei sambil bersenandung kecil, sebuah lagu pengantar tidur anak yang familiar.
Tepat disaat yang sama.. layar
ponsel Arini menyala, nama ‘Pak Rico’ tertera dengan jelas disana.
Meta ingin bergegas mengangkatnya
manakala gerakan tangan ibu yang terlihat mengusirnya agar berbicara diluar kamar semakin gencar. Lewat bahasa tubuh ibu memang mengisyaratkan agar dirinya menerima panggilan telepon itu diluar kamar.. agar tidak akan mengusik Rei yang terlihat belum begitu pulas usai terusik tadi.
Karena melihat ibu yang bersikeras akhirnya Meta mengalah. Ia memilih keluar dari kamar terlebih dahulu menuju ruang tamu, sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan masuk tersebut dengan dada yang berdebar aneh.. entah kenapa..
.
.
.
Bersambung..
See you next time kesayangan.. Tolong di Like, Tolong di Comment, Tolong di Vote yah..
Thx and Lophyuu all..😘