
Yang belum mampir di Cinta Eleana dan Panglima Perang, mampir yuk, biar author semangat up bab berikut.. 🙏
.
.
.
"Kita memang pergi bersama.. tapi disana.. aku akan membebaskan kalian melakukan apapun sesuai dengan rencana kalian sendiri. Jangan sampai ada yang saling mengganggu.. karena aku juga tidak mau diganggu!"
Kalimat Tian yang panjang terdengar cukup jelas saat private jet yang mereka tumpangi telah mengudara dengan tenang diketinggian ribuan kaki diatas permukaan laut.
Mungkin Meta menjadi satu-satunya orang yang tidak terlalu paham dengan maksud tersirat sang bos besar. Terbukti dengan ekspresi wajahnya yang tetap datar disaat kedua pipi Arini yang duduk dengan Tian di jejeran depan terlihat bersemu mendengar kalimat Tian yang terdengar sangat berterus terang..
Laras yang langsung tersenyum lega seraya memeluk lengan kekar Rudi yang terlihat agak salah tingkah dengan ultimatum aneh itu..
Sedangkan Rico yang duduk di jejeran tengah bersama Meta dengan percaya diri malah mengacungkan jempol penuh semangat kearah Tian sebelum kembali mengerling kearah Meta yang balik menatapnya heran.
Meta yang polos tidak pernah menyadari bahwa lelaki disampingnya itu seolah tengah menyimpan dendam yang ingin dibalas, setelah semalaman tidak bisa tidur dengan lelap karena tidak bisa melakukan apa-apa. Masih untung bisa tertidur dipangkuan Meta.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Meta yang mulai jengah dengan Rico yang tak berhenti menatapnya.
"Cantik.." bisik Rico.
Meta terdiam. Ia merasa belum terbiasa mendengar Rico yang terus mengatakan hal manis tentang dirinya, karena yang ada dipikiran Meta adalah Rico hanya ingin menggombalinya saja.
Salahkah kalau Meta berpikir demikian?
Tentu saja tidak..!
Meta telah bertahun-tahun terus berada disekitar lelaki yang hanya sibuk melihat para wanita cantik itu, sedangkan Rico tak pernah sekalipun menyadari kehadirannya.
Lalu setelah bertahun-tahun menjadi seseorang yang terlihat kasat mata, entah mengapa dalam beberapa hari terakhir, tiba-tiba Rico menjelma menjadi seorang lelaki yang seolah terkena pelet asmara darinya, sehingga terus menggombal, memuji dan menggoda.
Itu terlalu cepat. Bahkan dibenak Meta semuanya terlihat hanya seperti modus seorang lelaki hidung belang saja.
"Aku mau melihat Rei," imbuh Meta merasakan hatinya yang telah diliputi kesedihan yang datangnya entah darimana.
"Tidak usah,"
Rico dengan sigap sudah menghalangi laju pergerakan tubuh Meta yang ingin beranjak.
"Kamu tidak dengar peringatan Tian tadi..?" ucap Rico kali ini sambil menarik bahu Meta agar lebih mendekat kedadanya yang bidang.
"Peringatan apa?"
"Peringatan tentang jangan mengganggu satu sama lain."
"Memangnya aku mengganggu siapa? aku hanya ingin duduk dengan Rei." desis Meta.
"Kalau kamu ngotot kesana.. itu sama artinya kamu akan mengganggu kesenangan Rei dan Sean sekaligus.." ucap Rico lagi dengan begitu liciknya sambil melirik Rei dan Sean yang berada ditempat duduk terpisah, bersama suster mereka masing-masing.
Rei dan Sean sedang serius mengamati sebuah film kartun yang terputar pada layar televisi, dimana seekor tikus berotak licik seperti dirinya yang tak henti dikejar seekor kucing, namun sang tikus selalu bisa memperdayai kucing tersebut dengan berbagai cara.
"Tapi.."
"Sstt.. sudah jangan membantah. Sebaiknya kamu tetap disini, ditempat dudukmu. Kalau kamu merasa bosan.. kamu boleh memeluk tubuhku ini. Aku sudah rela kamu peluk.."
Meta kembali mencebik mendengar tawaran gila itu. namun ketika ia ingin menegakkan tubuhnya Rico malah semakin kuat merengkuhnya.
"Pak Rico.."
Meta baru ingin mengucapkan kalimat protes tapi yang ada mulutnya telah dibungkam oleh Rico dalam hitungan detik, membuat Meta menyadari lagi-lagi ia sedang menerima hukuman hanya karena dirinya salah memanggil.
"Bisa tidak agar jangan mencium didepan umum seperti ini..?" Meta benar-benar berhasil mengeluarkan unek-uneknya setelah bersusah payah melepaskan diri dari sebuah sentuhan yang semakin lama semakin menuntut.
"Kalau kamu selalu mengucapkan hal yang salah.. itu artinya kamu memang ingin aku cium.." pungkas Rico cuek.
"Itu tidak benar.." Meta melotot mendengar tuduhan itu.
"Lalu kenapa terus melanggar..?"
"Aku.. tentu saja karena aku belum terbiasa.."
"Kalau begitu biasakan. Apa iya kamu akan terus memanggilku seperti itu seolah-olah aku ini orang lain disepanjang hidupmu?"
Meta terhenyak mendengar kalimat Rico yang terucap tanpa beban. "S-sepanjang hidupku?"
"Hemm.."
"Tapi itu.."
Jemari Rico terangkat menyentuh permukaan bibir Meta, membuat sejumlah kalimat urung meluncur dari sana.
"Sepanjang hidupku dan sepanjang hidupmu. Sepanjang hidup kita.." kali ini suara berat itu terdengar sangat serius.
Rico semakin menurunkan wajahnya, membuat semua yang ada diwajah mereka berdua kini nyaris sejajar.
Mata dengan mata..
Hidung dengan hidung..
"Mommynya Rei.." desis Rico lirih dengan suara berat yang teriring oleh hembusan nafas hangat yang menyapu seluruh permukaan wajah Meta yang langsung dipenuhi semburat berwarna merah merona hanya karena Rico memanggilnya demikian. "Kalau kamu masih ingin bertanya lagi, tentang apa arti dari semua ucapanku tadi.. maka fix, mata hatimu itu sangat buta.."
Meta menelan ludahnya yang terasa kelu, terlebih saat menerima tatapan mengintimidasi Rico yang keseluruhan wajahnya sudah berjarak kurang dari lima centi meter dari wajahnya sendiri.
"Tell me something.." bisik Rico lagi, separuh gemas menyadari Meta yang belum juga berucap apapun.
Meta menggeleng perlahan. "Aku.. aku.. tidak tau.. aku.." nafas Meta tersenggal panik.
"Kalau begitu tidak usah mengatakan seperti apa warna perasaanmu, cukup tunjukkan saja.."
Rico mendekatkan wajahnya hingga tanpa jarak, sedangkan Meta terpaku ditempat. Ia menerima sepenuhnya lelaki itu kedalam dirinya.. namun semua yang telah ia dengar barusan terlalu sulit membuat dirinya percaya.
"..Armetha Wulansari.."
Rico mengucap nama Meta disela-sela ciu mannya yang syahdu, hangat dan melenakan. Lebih mirip sebuah desahan yang terucap dipenuhi segenap emosi yang memenuhi seluruh dinding jiwanya.
"..I love you.."
Detik itu juga Rico merasa lega telah berhasil mengatakannya, tepat disaat mereka berada diatas ketinggian ribuan kaki dari permukaan laut.. dengan background suara kehebohan seekor tikus dan kucing sedang berkejaran yang berasal dari tontonan televisi Rei dan Sean.
Memang sangat aneh jika Rico ingin memaksakan diri dan mengatakan semua itu terasa romantis. Mengungkapkan perasaan dengan situasi yang seperti ini namun tidak membuatnya gentar untuk terus melu mat seluruh pusat kelembutan milik Meta yang seluruh raganya sedikit demi sedikit terkulai sempurna dalam rengkuhan Rico..
Oh my..
Semua itu terasa sangat menggetarkan jiwa.
Sementara itu..
Meta masih merasa seperti sedang bermimpi. Rico telah mengatakannya, ditengah situasi yang sangat jauh berbeda dari gambaran yang ada didalam benaknya, bahwa kini dirinya telah benar-benar menerima ungkapan cinta, dari seorang lelaki yang selama ini sangat ia inginkan.
Entah ini kebenarannya.. ataukah semuanya hanya sebatas gombalan semata..
Entah cinta merupakan sesuatu yang begitu mudah untuk dirasakan.. apalagi diucapkan oleh seorang Rico Chandra Wijaya..
Entahlah.. karena semua ketakutan Meta tiba-tiba menjadi tidak begitu penting..
Rasa rendah diri dan insecure yang selalu mengingatkan dirinya yang tidak sebanding pun menjadi hal yang ingin buru-buru ia tepis, manakala usaha Rico yang tetap berusaha menghancurkan tembok keraguan yang menjadi benteng pertahanannya yang terakhir semakin terasa begitu manis.. membuat Meta menyerah dalam pusaran perasaan..
"Daddy.. i love you too.."
Bisikan itu mampu membuat aktifitas Rico terhenti. Detik berikutnya Rico tersenyum lega saat mendapati wajah Meta yang bersemu merah.
"Really..?" sepasang mata Rico terlihat berbinar.
Meta mengangguk dengan wajah semakin memanas, terlebih saat Rico mengecup singkat permukaan bi birnya, terus melakukan hal itu berkali-kali di permukaan wajahnya yang lain, dengan senyum yang tak lekang.
Perlahan Meta memberanikan diri untuk beringsut lebih dekat, merapatkan diri dan bersembunyi didalam dada Rico yang hangat.
Tubuh Meta disambut sukacita oleh Rico yang kemudian memilih menyandarkan tubuhnya yang terasa begitu ringan dan lega, seolah ribuan kilogram beban yang bergelayut selama ini hilang begitu saja.
Saat ini Rico merasa seluruh hatinya ibarat sebuah taman bunga.. yang keseluruhannya telah mekar bersamaan..
XXXXX
"Sayang.. masih ingat tidak saat pertama kali kamu mengajakku terbang dengan private jet ketempat ayah..?"
Tian tersenyum mendengar pertanyaan Arini yang sedang menatapnya sambil tersenyum. "Tentu saja aku selalu mengingatnya." kemudian Tian mengerling sedikit sebelum kembali menambahkan.. "Waktu itu, sepanjang perjalanan kamu menangis terus.. bajuku sampai basah terkena air mata dan.."
"Just stop it..!" tatapan Arini sudah berubah galak, begitu menyadari Tian tengah menggodanya.
Tian tertawa menerima respon galak Arini, sementara Arini meskipun melotot namun tak urung dalam hati membenarkan juga.
Tian memang benar.. saat itu dirinya memang nyaris tidak berhenti menangis sepanjang perjalanan, sampai-sampai kemeja Tian basah saking banyaknya air matanya yang tumpah ruah dipelukan suaminya itu.
Arini begitu terharu menerima hadiah Tian yang ternyata mengajaknya menemui ayah yang telah berhasil menjalani operasi transplantasi jantung.
(Reader.. kalian masih ingat gak sih moment manis itu..? 🤗)
Mengenang semua hal manis itu membuat Arini tanpa aba-aba telah menghambur begitu saja kedalam pelukan Tian yang kemudian memilih mengusap punggung Arini dengan lembut.
Kenangan itu sangat berkesan dan mendebarkan, karena dari perjalanan itulah mereka berdua memiliki keberanian untuk menunjukkan warna perasaan mereka masing-masing, memberanikan diri untuk terbuka satu sama lain, serta saling menerima..
.
.
.
Bersambung..
Untuk anggota Grup Chat :
"Istrinya Ceo Tampan"
Maaf ya.. anda kena PRANK.. 🤭
Support terus yah.. Thx and Lophyuu all.. 😘