CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Headline


Tian pura-pura sibuk menscroll layar ponselnya padahal saat ini fikirannya juga sudah blank saat merasakan ranjang yang sedang ditempatinya sedikit bergelombang menandakan ada sebuah beban yang terhempas di sisi lain permukaan ranjang.


Tian menyembunyikan senyumnya saat menyadari Arini sudah ada disisinya. Setelah beberapa saat akhirnya ia memutuskan mengangkat wajahnya dan menoleh.


“Mengantuk ?”


Arini menggeleng. “Belum. Sebaiknya aku membaca novel online dulu, biar bisa mengantuk.” berucap gugup sambil mengatur bantal dibelakangnya, berniat menyandarkan tubuh di kepala ranjang sambil mulai mengaktifkan layar ponselnya.


Arini baru ingin membuka aplikasi NovelToon yang letaknya memang ada dilayar depan namun urung saat melihat nama ‘Meta’ muncul di layar ponselnya, deringnya bahkan membuat Tian menoleh.


“Siapa ?”


“Ini.. Meta..”


“Temanmu yang ada dikubikel sebelah, kan ?”


“Iya..”


“Kenapa tidak diangkat..?”


“Ini.. video call..” Arini menjawab ragu.


Tian terdiam sejenak. “angkat saja.. mana tau penting..” ucap Tian santai sambil tersenyum.


“Baiklah, tapi.. kamu jangan berulah yah..!” Arini akhirnya memberanikan diri menekan icon hijau untuk menerima panggilan itu setelah terlebih dahulu melotot tanda mengancam kearah Tian yang terkekeh melihatnya.


“Hai, Rin.. kamu ada dimana..?” wajah Meta tersenyum sumringah saat muncul dilayar ponsel Arini.


“Ada apa, Met ?” Arini langsung bertanya, mengabaikan basa-basi Meta barusan.


“Besok weekend kita nonton yuk, aku punya tiket gratis nih..” Meta nampak melambai-lambaikan dua buah tiket bioskop ke kamera.


“Aduh.. bagaimana yah, Met.. aku lagi males banget..”


“Uhh, Arini ayo dong..”


“Maaf yah, Met.. lain kali aja yah..” bujuk Arini sambil meringis kecil didepan kamera.


“Ya sudah kalau begitu..” ucap Meta sedikit kecewa, tapi mendadak Meta tiba-tiba terdiam seolah memperhatikan sesuatu. “Rin.. kamu.. kamu ada dimana sebenarnya ? kenapa latar kamu seperti di hotel mewah ?”


Arini tercekat. “Egh.. oh.. aku.. aku..”


“Kamu lagi menginap di hotel yah ? ngaku deh.. itu background kamu keliatan banget kalau kamu lagi ada di kamar hotel mewah. Rin.. kamu kok bisa menginep di hotel sih ? sama siapa ? Emang suamimu yang pelaut itu datang yah..? kenapa kamu tidak cerita..?” pertanyaan beruntun Meta mampu membuat Arini pias dalam sekejap. Serentak ia menatap Tian yang ada disebelahnya dengan tatapan panik sebelum kembali melihat layar ponselnya yang masih nampak wajah Meta yang diselimuti raut wajah super penasaran.


“Egh.. aku.. aku..”


“Sudah sayang, mengaku saja kalau sekarang kamu lagi bersama suamimu. Kalau sikapmu seperti itu nanti temanmu malah semakin curiga..” tiba-tiba Tian yang berucap disebelahnya hampir membuat Arini pingsan saat itu juga.


“Yang benar, Rin ? itu.. itu suara suami kamu..?” raut wajah Meta nampak terkejut.


“Egh.. anu.. iya, Met..”


“Yang benar, Rin ?” ulang Meta masih terlihat jelas keraguannya, apalagi sejak tadi ia hanya bisa mendengar suara berat seorang lelaki tapi sedikit pun tidak bisa melihat seperti apa gerangan lelaki yang ada disamping Arini dan mengaku sebagai suaminya itu.


“Meta.. masa aku bohong sih..”


Hening. Meta membisu sambil menatap Arini di layar ponselnya yang masih gelagapan.


Tian yang sejak tadi memperhatikan Arini yang gelagapan dari samping membuang nafasnya berat, mulai gregetan. “Sepertinya teman kamu butuh bukti yang lebih meyakinkan.” tukas Tian. “sinikan jemari kamu..” Tian berucap lagi membuat Arini melotot padanya.


“Mau apa sih..” ia ingin protes.


“Sinikan jemari kamu.. kamu mau temanmu berfikir macam-macam tentang kamu..?” bisik Tian sambil menatapnya tajam, membuat Arini mengulurkan jemarinya ragu-ragu.


Dengan gerakan secepat kilat Tian mengambil alih ponsel Arini sehingga membuat Arini tidak bisa menahan untuk memekik kecil. Tian mengeluarkan sesuatu dari balik leher bajunya, sebuah kalung berbandul cincin yang sama persis dengan cincin yang melingkar dijari manisnya.


Tian mengambil jemari Arini, menempatkan diatas dadanya, bersisian dengan bandul cincin yang menggantung disana.


“Kalau seperti ini, percaya kan kalau aku beneran suaminya Arini..“ Tian mengarahkan kamera ponsel ke dadanya, tentu saja setelah memposisikannya sedemikian rupa agar menghindari wajahnya.


Arini yang melihat pemandangan itu sontak membeku. Selama ini ia terus berfikir bahwa Tian tidak pernah telihat memakai cincin pernikahan mereka tapi ternyata..


Arini tidak bisa mencegah perasaannya yang tiba-tiba menghangat. Lelaki ini benar-benar tidak bisa tertebak kan ? bagaimana mungkin ia bisa mengenakan cincin itu menjadi sebuah bandul kalung ? Oh God.., bagaimana ia bisa terus menjaga hati agar tidak porak poranda jika setiap saat harus menerima hal semanis ini..?


“Ya ampun.. maaf, aku tidak tau kalau suami Arini beneran datang. Arini sih tidak cerita apa-apa.. tau begini kan aku tidak mungkin mengganggu.”


Buru-buru Arini merampas ponselnya dari tangan Tian. Tian hanya tekekeh saat Arini masih sempat menghadiahi dirinya dengan sepasang mata yang melotot garang, sambil menarik tangannya yang ada dalam genggaman Tian dan bertengger manis didada lelaki itu.


“Maaf, Met.. aku tidak mengatakan padamu sebelumnya..”


“Ya sudah, tidak apa-apa, Rin.. justru aku yang harus minta maaf, aku sudah mengganggu honeymoon kalian, bahkan sempat berfikir yang tidak-tidak.. aduuhh.. maafkan aku, Rin..” wajah Meta kelihatan memerah menahan malu dan rasa bersalah.


“Iya, Met.. santai saja lagi..”


“Sudah ah.. kelamaan mengobrol semakin mengganggu orang yang mau kangen-kangenan. Sampaikan maafku pada suamimu, yah.. bye Arini.. met honeymoon..”


Arini masih saja menatap terpana pada layar ponselnya yang sudah kembali ke layar default, menandakan bahwa panggilan Meta sudah berakhir. Saat tersadar buru-buru ia menatap Tian yang ada disampingnya.. yang malah sibuk mengutak-atik ponselnya.


Tian mengangkat wajahnya sedikit, alisnya terangkat saat menyadari tatapan Arini yang lekat padanya. “Kenapa ? mau mengucapkan terima kasih lagi..?”


Arini melengos. “Kamu sudah gila yah ? Melakukan hal seperti itu.. bagaimana kalau Meta melihat wajahmu ?”


Tian tersenyum. “Tapi dia tidak melihat kan..?” ucap Tian tanpa beban, membuat Arini benar-benar mendelik tapi laki-laki itu malah sudah kembali berucap dengan mimik lucu. ”Tapi seru juga yah..”


“Kamu bisa bayangkan tidak, bagaimana reaksi sahabatmu itu kalau tau siapa sebenarnya suamimu ini ?” Tian berucap dengan nada sok keren.


“Mungkin dia akan pingsan !” Arini berucap asal.


Bagaimana tidak ?


Saat mengingat tampang Meta yang mengelu-elukan Tian setiap saat, sudah pasti Meta akan pingsan kan jika mengetahui kalau Tian adalah suaminya. Mendadak Arini teringat saat beberapa hari yang lalu awal mula berhembus isu kedekatan Tian dengan Lila, Ceo PT. Mercy itu, Meta juga sempat heboh sendiri, patah hati setengah mati.. tapi sesaat kemudian alih-alih dia malah mendukung hubungan Tian dan Lila yang


katanya merupakan pasangan yang sangat serasi itu. Huhh..!


Mengingat hal itu tiba-tiba Arini sudah merasa kesal sendiri.


“Ada apa dengan wajahmu ?” Tian menautkan alis saat menyadari wajah Arini yang seperti sedang menahan kekesalan.


“Tidak apa-apa !” merenggut, masih menahan dongkol.


“Tidak apa-apa tapi menghembuskan nafas sekeras itu..”


Arini tidak menanggapi. Ia membisu, masih kesal saat teringat isu tersebut. Untuk menutupi kekesalannya ia meraih ponselnya lagi dan mengutak-atiknya tanpa arah. Namun yang ada ia malah membuka sebuah situs berita online yang cukup terkenal dengan tajuk berita utama dengan judul “Wanita Cantik Dibalik Kesuksesan Mercy Green Resort” lengkap dengan sebuah foto seorang wanita yang memang sangat cantik, berwajah oriental, dengan kaca mata hitam dan rambut panjang yang berwarna coklat gelap.. siapa lagi kalau bukan Ceo PT. Mercy, Ariella Hasyim.


“Wahh.. Ceo PT. Mercy jadi berita utama Turbinnews hari ini..”


Arini berucap dengan nada yang sengaja ia buat riang, menutupi rasa yang sebenarnya ada dihatinya, namun ia malah tidak mendapat respon berarti dari Tian yang ada disampingnya.


“Headline-nya.. Wanita Cantik Dibalik Kesuksesan Mercy Green Resort..” Arini mengeja kalimat yang menjadi headline news dari portal berita online terbaik di Indonesia itu. “Foto bu Lila cantik sekali disini..”


“Hemm..”


“Coba lihat, penampilannya juga sangat menarik.” tidak puas dengan reaksi Tian yang datar Arini dengan nekad menyodorkan layar ponselnya yang terpampang sosok Lila yang terbalut dress merah maroon diatas lutut kewajah Tian.


“Sexy sekali kan..” ucapnya memprovokasi.


“Hemm..” berucap tanpa minat sambil menepis tangan Arini yang sedang menyodorkan layar ponsel tepat didepan hidungnya.


“Penampilannya sangat menarik. Semua wanita yang melihat pasti akan meniru gaya bu Lila yang always fashionable..”


“Semua wanita ?”


“Tentu saja,”


“Apa kamu juga akan bergaya seperti itu ? memakai baju pendek sambil memamerkan paha kemana-mana.. memangnya kamu mau menarik perhatian siapa ?” saat berucap begitu Tian terlihat mulai gusar.


‘Cihh.. kenapa reaksinya seperti itu ? apa dia pikir cuma Lila seorang yang bisa berpenampilan seperti itu ? haiih.. aku juga bisa kali..’


Arini ngeumel dalam hati, balik kesal dengan respon Tian yang ia terima.


“Kamu kenapa ? bukannya kamu juga suka melihat wanita yang berpenampilan seksi ?”


“Kapan aku mengatakannya ?“


Arini terdiam.


‘Egh.. iya yah, Tian memang tidak  pernah mengatakan secara pasti apa dia menyukai wanita yang berpenampilan waow seperti Lila, tapi untuk seorang playboy seperti Tian ? bukankah berjubel wanita yang pernah menjadi kekasihnya nya bahkan penampilan mereka jauh lebih seksi dan  jauh lebih seronok ?’


“Jangan coba-coba berpenampilan seperti itu, karena aku tidak suka kalau kamu berpenampilan seperti itu.”


“Cih.. kenapa memangnya ?”


“Tidak ada alasan. Pokoknya aku tidak suka.”


“Padahal aku hanya ingin seperti Lila.”


“Kenapa harus seperti Lila ?”


“Karena kamu juga menyukai penampilan Lila kan ?”


“Apa aku pernah mengatakan suka penampilannya ?” Tian terlihat semakin kesal.


Arini terdiam lagi.


‘Yah.. memang Tian tidak pernah mengatakannya, tapi kan.. dia memang menyukai Lila kan ?’


“Kamu ini aneh sekali. Padahal semua lelaki sepertinya menyukai wanita seperti Lila. Memangnya kamu tidak ?” Arini mencibir.


Tian menatap Arini kesal. “Aku memang tidak menyukainya. Berani-beraninya menuduhku seperti itu. Kamu lupa kalau aku sudah menikah ? lalu apa untungnya menyukai wanita lain ?!"


Arini terhenyak mendengarnya.. sedetik kemudian ia telah benar-benar tersedak salivanya sendiri dengan sukses..


.


.


.


.


.


Bersambung…


Jangan berhenti dukung author terus ya,🤗 Like n comment dulu yuk.. Lophyuuu… 😘