
CINTA ELEANA DAN PANGLIMA PERANG sudah mau masuk ke part yang seru loh, yuk kepoin.. 😀 Cekidoott 🤗
.
.
.
"Huhhffh..!"
Laras yang tengah berjalan menyusuri sepanjang bibir pantai yang terlihat begitu cantik lagi-lagi merenggut kesal.
Pemandangan indah yang terhampar dihadapannya ternyata tidak sanggup mengubah moodnya yang telanjur memburuk usai ditinggal tidur oleh Rudi pada setengah jam yang lalu.
"Kak Rudi.. benar-benar tidak berubah! selalu saja tidak pernah menganggap diriku penting! aaaaahhh..!!" gerutu Laras dengan kekesalan diubun-ubun.
Matahari yang masih cukup tinggi membuat suasana pantai tidak terlalu ramai. Hal itu pula yang membuat Laras bebas berteriak sesuka hati, sambil menghentakkan kedua kakinya sekaligus keatas hamparan pasir pantai yang putih bersih.
Laras menengok kesana-kemari, hanya terlihat beberapa orang yang sedang bersantai dibawah payung pantai dan ada juga yang beberapa pasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu bersama menatap laut yang tenang.
Melihat semua pemandangan itu membuat Laras semakin kesal.. dan akhirnya memutuskan untuk terus berjalan dengan langkah yang terus menghentak khas orang merajuk
"Hahahaha.."
Disebuah gazebo kecil dipinggir pantai, seorang lelaki muda yang kelihatannya seumuran Laras nampak tertawa melihat pemandangan lucu tersebut.
"Menertawakan apa sih, Han?" wanita disamping Han yang kelihatannya juga sebaya sekaligus memiliki garis wajah yang mirip itu nampak mengerinyitkan alis kearah Han yang masih saja terpingkal-pingkal.
"Coba lihat gadis itu, Hil.." telunjuk Han mengarah penuh kearah Laras yang yang berada nun jauh disana, sedang berjalan menghentak-hentak disepanjang bibir pantai yang tenang.
Hil mengikuti arah telunjuk Han, dan kemudian ia juga tertawa. "Ada apa dengan gadis itu?" Hil tidak bisa lagi menahan gelak saat melihat kelakuan Laras yang begitu lucu.
Han terlihat mengangkat bahu
"Sepertinya sedang patah hati.." gumam Hill.
"Baguslah.."
"Apanya yang bagus?
"Dia cantik.."
"Dasar! dimatamu semua wanita selalu cantik.." Hil menggerutu panjang pendek.
"Karena aku lelaki sejati. Makanya aku selalu memuja wanita dengan segala keindahannya.."
"Cihh.."
Han melotot kecil melihat tanggapan Hil atas kalimatnya yang tersusun dengan sistematis. Namun detik berikutnya air muka Han nampak berubah.
"Egh.. egh.. Hil.. coba lihat..!"
Hil yang hendak menyeruput es kelapa muda urung karena Han telah memaksa memutar wajahnya kedepan, dimana sosok wanita yang baru saja menjadi topik utama pembahasan mereka tengah berlari kesetanan kearah mereka, dan tanpa berbasa-basi langsung meringkuk dibawah meja yang terhalang sisi depannya.
"Ssstt.." wanita itu nampak menempelkan telunjuknya keatas bibir, bertepatan dengan munculnya lima orang wanita, yang satu diantaranya adalah seorang pria namun dengan gaya dan penampilan layaknya wanita tulen, tengah menengok kesana kemari, seolah tengah mencari seorang residivis yang melarikan diri.
XXXXX
"Astagaaa.. siapa sih manusia gak ada otak yang tega-teganya membuang sampah dipantai yang sebersih ini?? dasar manusia gak sadar kebersihan!"
Laras ngedumel panjang-pendek kearah kaleng bekas sofdrink yang tergeletak dibibir pantai dan nyaris membuatnya terjerembab karena tadi sempat menginjakknya secara tidak sengaja.
"Dasar kaleng sialan. Siapapun yang membuangmu adalah orang yang tidak punya perasaan! sama seperti kak Rudi..!!"
Pukk!!!
Laras menendang kaleng bekas softdrink tersebut sekuat tenaga, seolah ingin melampiaskan kekesalannya. Hatinya lega bukan main setelah melakukan hal tersebut sebelum kemudian sebuah pekikan nyaring terdengar..
"Omegaaattt..!! sialan banget.. perbuatan siapa sih ini..??!! gilingan yah.." Shela memungut kaleng bekas sofdrink yang baru saja mendarat manis di punggungnya.
"Wahh, Shel.. kelihatannya.. tuh dia orangnya..!!" Gia menunjuk seorang wanita yang sedang berdiri berkacak pinggang dibibir pantai.
"Oh em ji.. beb.. samperin beb.. samperiiinn..." kali ini giliran Fechay, wanita jadi-jadian dengan bibir tebal bergincu ombre, ikut memanas-manasi Shela.
Shela tersenyum kecut seraya menenteng kaleng bekas softdrink yang tadi sempat singgah dipunggungnya itu sebelum tergeletak diatas pasir. "Mau nyari gara-gara kayaknya, dia belum tau siapa Shela..?" Shela bangkit dari duduknya berniat menghampiri Laras beserta bala tentaranya yang setia, tiga wanita cantik, dan seorang wanita luar biasa yang memiliki nama asli Fendi, namun lebih suka dipanggil Fechay.
"Sikat, beb.." Lusi memberi semangat.
"Pokoknya jangan kasih kendor," Erin ikut memanas-manasi saat mereka menuju kearah Laras yang masih tidak menyadari akan didatangi oleh lima ekor hiu betina sekaligus.
"Hellooo.. kamu pemilik kaleng ini kan?" Shela menowel lengan Laras yang sontak terkejut karena telah dikelilingi oleh lima orang dengan tampang songong sekaligus.
"Egh, sori yah.. ya kali aku pemiliknya.." jawab Laras dengan gaya yang khas, jauh lebih songong dari tampang lima ekor hiu betina yang ada dihadapannya.
"Tapi kan kamu yang melemparnya.."
"Aku gak melempar..!"
"Jangan bohong kamu yah!!" Shela melotot kesal.
"Wah.. berani kamu ya.."
Tangan Shela yang terangkat hendak menampar mendadak dipelintir begitu saja oleh Laras yang kemudian dengan sigap mendorong tubuh Shela hingga jatuh terjerambab keatas pasir.
"Aaaaaa..!"
Empat orang teman-teman Shela nampak berteriak histeris sekaligus shock, kaget dan tidak menyangka sama sekali mendapati Shela yang telah tersungkur diantara kaki mereka.
Sedangkan Laras jangan ditanya, usai mengeluarkan jurus pelintir dan menghempas cantik ala Syahrana, Laras langsung mengeluarkan jurus langkah seribu.
Lagian.. siapa juga yang mau konyol begitu saja dikeroyok lima orang yang satunya sudah jelas-jelas seorang lelaki yang sedang menyamar ala miss indonesia.
"Kenapa kalian malah diam saja sih? kemana perginya wanita bar-bar itu, coba?" Shela yang mencoba bangkit dengan dibantu empat orang temannya nampak kesal setengah mati, terlebih saat menyadari wajah dan rambutnya telah dipenuhi pasir.
"Kayaknya kesana deh.." Erin menunjuk kearah hotel megah tempat mereka menginap.
"Egh.. bukannya kesana cyinnt..?" tunjuk Fechay dengan manja, kearah gazebo-gazebo mungil yang berderet rapi disepanjang pantai.
"Iya, Rin.. kayaknya kearah sana deh tadi larinya tuh bocah.." Gia ikut mendukung pendapat Fechay sementara Lusi bingung sendiri karena benar-benar tidak melihat kearah mana bayangan Laras menghilang.
"Kita kesana!" putus Shela seraya menunjuk kearah deretan gazebo yang berjejer rapi.
Beriringan kelima sahabat itu menelusuri setiap gazebo satu demi satu, celingak-celinguk kesana kemari, namun target yang mereka cari tidak kunjung terlihat.
"Capek ah, Shel.. udahan yah.." Erin berucap setelah sekian lama mencari namun bayangan Laras tak kunjung terlihat.
"Beruntung banget dia. Awas aja kalau ketemu.. aku bikin jadi peyek selalian!" umpat Shela dengan nada dongkol.
"Ya sudah lah nek.. mending kita jalan-jalan nyari oleh-oleh.. gimana?" usul Fechay dengan gayanya yang lentik dan manja, yang disambut anggukan setuju oleh keempat sahabat lainnya.
XXXXX
"Sudah aman. Kamu boleh keluar.."
Begitu kalimat lelaki yang terlihat sekali sedang menahan tawa itu terdengar, Laras pun bergegas keluar dari bawah meja tempat ia meringkuk diantara kaki kedua orang itu hingga nyaris sepuluh menit lamanya.
"Terima kasih ya.." Laras tersenyum kearah sepasang manusia dengan wajah yang mirip itu. Yang membedakan mereka berdua hanyalah satunya lelaki dan satunya wanita.
'Sepertinya mereka saudara kembar..'
Gumam Laras dalam hati menyadari betapa miripnya wajah kedua orang yang telah dengan senang hati bekerja sama untuk membantu menyembunyikan dirinya dari kejaran lima ekor hiu betina.
"No problem, anggap saja sedang membantu teman. Oh ya.. perkenalkan, namaku Handa, panggil saja Han. Ini adikku Hilda.. panggil saja Hil.."
Laras menyalami kedua tangan yang terulur itu dengan sedikit terpana, baru menyadari jika lawan bicaranya ternyata seorang lelaki muda berwajah super tampan.
"Aku.. Laras." ucap Laras usai terbengong beberapa saat lamanya dengan pipi merona.
"Wah.. namanya cantik banget.. seperti orangnya.." imbuh Han.
"Bisa aja kamu, Han.." Laras semakin tersipu, sementara Hil nampak memutar bola matanya mendengar gombalan Han yang sudah begitu sering didengarnya.
"Duduk dulu, yuk.." tawar Han dengan ramah seraya menepuk bangku yang ada disisinya, mengisyaratkan Laras agar duduk disana.
"Terima kasih.." Laras tersenyum seraya menghempaskan tubuhnya dihadapan Han dan Hil.
"Mau minum apa, Ras?" kali ini suara Hil yang menawarkan dengan ramah.
"Tidak.. tidak usah.." tolak Laras halus. "Aku hanya ingin duduk sebentar, karena setelah ini aku berencana akan pergi ketempat yang menjual cenderamata.. kata petugas hotel tadi, sepertinya bisa ditempuh dengan jalan kaki sebentar.."
"Aku tau tempatnya. Mau aku antar?" pungkas Han dengan cepat.
Mata Laras langsung berbinar mendengarnya. "Boleh deh.." ucapnya penuh semangat sebelum menatap Hil yang sejak tadi paling banyak menyimak. "Hil, ikut kan..?"
Mendengar ajakan itu Hil ingin sekali mengangguk, namun pelototan Han membuatnya urung melakukannya.
"Sepertinya, aku disini saja, Ras. Males jalannya.. capek.. mana panas juga.." ujar Hil memberi alasan seraya melakukan gerakan yang mengipasi tubuhnya.
Laras terlihat sedikit kecewa mendengar penolakan Hil, namun dengan cepat Han mengatasinya.
"Tenang saja, masih ada aku kan.. ayo, Ras.. kita jalan sekarang.."
.
.
.
Bersambung..
Yang nungguin part Meta yang ngambek, sabar yah.. ada di next part.. 😅
Dukung author terus yah.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘