
Sebelum kesini jangan lupa Like dulu bab sebelumnya yah.. yuk, cekidot.. 🤗
.
.
.
Rico tertawa tanpa suara mendengar kalimat yang mem-provokasi tersebut. Sayangnya hari ini sudah cukup melelahkan untuknya, sehingga Rico merasa tidak terlalu berminat untuk meladeni kalimat menyebalkan yang terucap dari bibir mungil yang sekarang sedang melemparkan senyum mengejek dihadapannya ini.
“Bisa saja menjadi milikmu, tapi tergantung apa yang nantinya bisa aku dapatkan dari dirimu dulu.” ujar Rico dengan ekspresi yang kalem namun cukup membuat dirinya bisa melihat kilatan kemarahan yang melintas disepasang mata bulat milik Meta.
Sepertinya Rico telah berhasil menyentil harga diri Meta meskipun ia melakukannya dengan tenang.
“Bukankah pak Rico sudah mengambil terlalu banyak..?” pungkas Meta menahan geram, membuat Rico lagi-lagi tertawa tanpa suara.
“Jangan mengada-ngada. Aku bahkan belum mendapatkan apa-apa selain ini..”
Berucap demikian seraya mengusap bibir Meta dengan jemarinya yang terangkat, membuat Meta yang terhenyak kaget langsung mundur lagi selangkah untuk menghindari sentuhan Rico yang posesif namun mendebarkan.
“Sebaiknya pak Rico pulang.” tukasnya dengan wajah dan dan cuping telinga yang memerah.
“Yakin mau aku pulang?” Rico tersenyum mengejek seraya menyimpan dua buah telapak tangannya masing-masing kedalam saku celana yang ia kenakan. “Sayang sekali.. padahal aku telah bersusah payah membawa hadiah yang aku janjikan dua hari yang lalu..”
Meta membisu. Sungguh ia benar-benar tidak tertarik dengan ucapan Rico karena yang ada, setiap kali lelaki itu memberinya sesuatu lelaki itu juga pasti akan meminta imbalannya seperti biasa.
Tidak ada satu pun yang gratis, jika berhubungan dengan pemberian seorang Rico Chandra Wijaya.
“Hadiahmu ada didalam kamarmu.”
Meta melotot. “Pak Rico masuk ke kamarku?” tanyanya dengan mimik protes, menyadari bisa-bisanya Rico dengan lancang masuk ke area pribadinya.
“Aku menaruhnya diatas tempat tidurmu.” ujar Rico lagi dengan acuh tanpa mempedulikan tatapan mata Meta yang seolah semakin ingin menelannya hidup-hidup.
‘Benar-benar lancang..’
Desis Meta dalam hati, kesal dengan sikap Rico yang selalu semena-mena. Tapi belum sempat Meta melakukan sesuatu bahkan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba saja pergelangan tangan Meta telah ditarik lembut oleh tangan besar yang sialnya terasa hangat itu.
“Kemari..” ujar Rico yang mulai tak sabar menghadapi kediaman Meta.
Rico baru melepaskan tangannya begitu mereka sampai dibingkai pintu kamar. Dengan gerakan kepala disertai alis yang terangkat Rico mengisyaratkan Meta untuk membuka daun pintu yang telah berada dihadapan Mereka.
Meta menatap kembali sepasang mata Rico yang menggelap. Dalam diam Meta terhenyak saat menyadari bahwa kedua mata lelaki itu terlihat sedikit kuyu dan lelah.
Tentu saja, karena hari ini pastilah merupakan hari yang sangat melelahkan untuk Rico.
Usai perhelatan besar launching Indotama Times Square tadi siang, Rico telah memaksakan dirinya datang malam-malam begini hanya untuk memenuhi janjinya yang telah tertunda pada dua hari yang lalu yakni membawakan Meta hadiah.
Akhh.. seperti yang sudah-sudah. Kali ini Meta kembali merasakan hal yang sama.
Sungguh lelaki pemberi harapan yang ulung..!
Lalu haruskah Meta kembali percaya dan terperdaya?
Meta ingin menggeleng, tapi kesungguhan yang ada dikedalaman mata Rico kini membuat Meta justru sedikit terenyuh.
“Bukalah dulu. Aku mau tau apa kamu menyukai hadiahnya atau tidak..” ujar Rico lagi saat melihat keraguan Meta saat menyentuh handle pintu.
Meta tidak menjawab, hanya tangannya yang memutar handle pintu itu dengan gerak perlahan.
Pintu terbentang.. dan detik berikutnya nafas Meta seolah tercekat ditenggorokan begitu melihat pemandangan didepan matanya, sesuatu yang dimaksud Rico sebagai hadiah untuknya.
“Bagaimana? apa kamu suka..?” bisik Rico sedikit membungkuk saat mengucapkannya dibelakang telinga meta yang terlihat terhenyak.
Sepasang mata Meta telah menghangat begitu saja, bulir-bulir air mata bahkan telah jatuh berlomba-lomba membuat beberapa parit sekaligus dipermukaan pipinya yang halus, namun ia tetap mengangguk dalam isak yang tertahan.
“A-aku suka.. aku suka hadiahnya.. t-terima kasih.. pak Rico, t-terima kasih..” seiring dengan meluncurnya kalimat yang tergeragap, bahu Meta pun ikut turun naik karena sesegukan, yang entah mendapat dorongan kekuatan darimana yang membuat Rico nekad memberanikan diri untuk merengkuhnya begitu saja kedalam dadanya.
Meta masih berdiri tegak dibingkai pintu sambil terisak hebat, dibelakangnya ada Rico yang memeluknya erat.
Mereka berdua memandang kearah yang sama..
Keatas tempat tidur Meta..
Dimana hadiah yang dijanjikan Rico berada disana.
Seorang bocah lelaki berumur tiga tahun.. tengah tertidur lelap diatas ranjang dengan wajah yang damai.
Dengkur halusnya seolah menandakan seberapa lelap mimpi membuai tidurnya.. diatas ranjang dengan aroma khas sang mommy yang telah lama ia rindukan..
.
.
.
Bersambung..
Favoritekan novel ini,
like dan comment setiap bab-nya, dan
berikan hadiah serta vote yang banyak yah.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘