
Usai disemayamkan semalam karena tidak mungkin langsung dilaksanakan pemakaman, akhirnya paginya jenazah Lila telah selesai dikebumikan disebuah tempat pemakaman umum.
Gundukan tanah merah itu masih basah, dan nama Ariella Hasyim tercetak jelas diatas batu nisan. Para pelayat telah beranjak begitu acara pemakaman selesai, hanya tertinggal beberapa orang yang masih setia.
Rico duduk terpekur didepan makam Lila dengan hati hancur dengan kedua orangtuanya disisinya, sementara dihadapannya ada kedua mertuanya yang sejak tadi tak henti menitikkan air mata. Ibu Lila bahkan telah berkali-kali pingsan sejak mendengar berita kematian putri semata wayang mereka kemarin sore.
Rei yang berada dipelukan Rico, tentu saja masih tidak mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi. Bocah itu nampak mengusap wajah daddy nya tiap kali melihat air mata Rico yang jatuh, membuat semua mata yang melihat pemandangan pilu itu tidak bisa tidak untuk ikut terenyuh.
“Daddy.. mommy mana ? aku mau mommy.. mau bangunin mommy..” sepertinya bocah itu teringat Lila kembali. Sejak kemarin ia terus menangis berusaha membangunkan Lila yang telah terbujur kaku, dan semua orang akhirnya bekerja ekstra keras untuk bisa mengalihkan perhatian Rei.
“Daddy.. aku mau mommy..” Rico tidak bisa menjawab saat Rei kembali menggoyangkan kedua bahunya dengan segala kekuatan yang ia miliki karena merasa tidak mendapat respon seperti apa yang ia harapkan. Bocah itu terlihat mulai menangis lagi.. merindukan Lila yang tak mungkin kembali.
Melihat pemandangan itu Arini serta merta berjongkok untuk mengambil alih Rei, terlebih saat melihat Rico yang nampak kembali terpekur dalam tangis.
“Rei.. sini sama mommy Sean yah sayang..”
“Gak mau.. aku mau mommy..” meskipun Rei menepisnya namun Arini nekat memeluk bocah itu, membawanya menjauh dari Rico yang terlihat kembali tersedu. Sekelebat Arini melihat Tian sudah duduk berjongkok disebelah Rico dan menepuk bahu Rico yang terguncang hebat.. sementara melihatnya beranjak menjauh Meta terlihat mengekori langkahnya.
“Rei sayang.. jangan menangis yah.. nanti mommy Sean akan belikan Rei ice cream yang banyak. Rei mau kan ?” Arini berusaha membujuk Rei, terus berusaha menjauh dari tempat peristirahatan terakhir Lila namun kali ini sepertinya usahanya kembali gagal karena tangis Rei terdengar semakin kencang membuat Arini semakin bingung mengatasinya.
“Gak mau.. aku mau mommy.. huhuuu.. kangen mommy…” Rei sudah menangis sambil berontak dalam pelukan Arini, membuat Arini kewalahan dan kakinya tersandung akar pohon yang tumbuh di area pemakaman.
Tubuh Arini hampir limbung, untung saja Meta menahan lengannya dengan cepat karena kalau tidak ia dan Rei pasti sudah jatuh terjerembab.
“Sini biar aku saja, Rin..” Meta mengambil alih Rei dari pelukannya manakala melihat Arini meringis karena sepertinya kakinya terkilir.
“Rei sayang, jangan menangis yah.. sini sama.. mommy, peluk mommy yah sayang..” bujuk Meta dengan lembut, yang diluar dugaan meskipun dengan tangis yang kencang namun Rei malah berbalik menyambut dengan melingkarkan kedua tangannya kuat-kuat dileher Meta sambil membenamkan wajahnya disana, tangisan yang awalnya kencang nampak berganti sesegukan tertahan sambil terus memeluk Meta dengan erat. Meta terus menenangkan Rei dengan mengusap lembut punggung mungil itu berkali-kali.
Arini menyandarkan tubuhnya seraya berteduh dibawah sebatang pohon akasia, masih terlihat meringis.
Mereka berdua akhirnya memilih berdiri dibawah pohon tersebut tanpa suara, hanya terdengar isak Rei yang semakin lama semakin terlihat tenang. Mungkin karena kelelahan bocah itu terlihat mulai terkantuk-kantuk masih dengan posisi wajah terbenam diceruk leher Meta.
“Tidur.. ya?” tanya Arini seraya berbisik.
Meta menganguk mengiyakan membuat Arini menarik nafas lega.
“Kasihan sekali anak ini..” lirih Arini tak bisa menahan air matanya yang kembali tergenang mengusap lembut rambut Rei yang halus. “Aku sama sekali tidak menyangka Lila akan meninggalkan Rei secepat ini.. dia masih terlalu kecil..” bisik Arini lagi.
Meta membisu, hanya tangannya yang terus-menerus mengusap punggung mungil Rei tanpa henti. Ia sendiri tak mampu berkata apa-apa lagi. Hatinya begitu sakit seperti diremas-remas sejak kemarin melihat pemandangan Rei yang sibuk membangunkan Lila yang terbujur kaku.. dan kemudian setelah Lila usai dikafankan bocah itu terus menerus menanyakan Lila yang tak kunjung ia temui lagi.
Semua orang sibuk membujuk dan mengalihkan perhatian dan kesedihan bocah itu. Mulai dari Rico, babby sitter, kedua orangtua Rico, kedua orangtua Lila, Arini dan Tian, bahkan semua sanak saudara berusaha keras mengenyahkan kerinduan si kecil Rei. Kerinduan yang tak akan pernah bisa bocah itu pahami betapa mommy-nya Lila tidak akan mungkin kembali meskipun hanya sekedar untuk memeluknya lagi.
“Kakimu bagaimana, Rin.. masih sakit ?” tanya Meta setengah berbisik, tidak ingin perbincangan mereka mengusik tidur Rei yang terkulai dalam pelukannya.
“Iya, Met..” Arini memandang pergelangan kakinya yang bahkan saat ini nampak membengkak.
“Bisa jalan gak..?” tanya Meta prihatin.
“Trus bagaimana..?”
Arini tersenyum.”Tidak apa-apa.. biar aku tunggu Tian sekalian..” sambil melayangkan pandangannya kearah makam Lila, dimana terlihat Tian telah berdiri disamping Rico sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
Mereka yang tertinggal akhirnya nampak tengah berjalan beriringan beranjak dari tempat peristirahatan Lila yang terakhir meskipun dengan langkah yang terlihat begitu berat.
“Rei tertidur..” ucap Arini sambil mengelus punggung Rei yang masih ada dalam pelukan Meta begitu rombongan kecil itu telah berada tepat dihadapan mereka.
“Sini.. biar ibu gendong..” ibu Rico nampak berinisiatif mengambil alih Rei dari pelukan Meta namun tiba-tiba Rei malah mengencangkan rangkulannya pertanda penolakan.
Melihat itu Rico akhirnya menggantikan ibunya berinisiatif untuk mengambil alih Rei. Rico mendekati putranya itu untuk memudahkannya berpindah tangan. Gerakan Rico yang perlahan sepertinya cukup mengusik bocah itu.. sejenak saat ia melihat wajah Rico tiba-tiba Rei sudah kembali berteriak menangis.
“Dengan daddy yah, sayang..” bujuk Rico serta merta.
“Mommy.. aku tidak mau daddy.. aku mau mommy..” tangan mungil itu bergerak-gerak.. berusaha menggapai Meta yang sama seperti semua yang berada ditempat itu nampak terbengong melihat aksi Rei. Dan meskipun Rico terlihat bersikeras memeluknya.. Rei malah terlihat semakin tidak bisa ditenangkan, membuat Meta yang karena perasaan iba bercampur kesedihan entah mendapat kekuatan darimana akhirnya menyambut kedua tangan mungil Rei yang sejak tadi berusaha menggapainya sambil menangis keras.
"Pak Rico.. tolong ijinkan saya membujuk Rei dulu..” ucap Meta dengan tatapan memohon kearah Rico.
“Biarkan saja, Co.. mungkin dengan begitu Rei bisa tenang..” Ibu Lila nampak berucap dengan mata sembab.
Rico yang awalnya terlihat masih enggan melepas tubuh mungil Rei akhirnya mengalah, apalagi melihat pergerakan Rei yang tidak ada tanda-tanda untuk mengakhiri pemberontakannya. Putra semata wayangnya itu sepertinya ingin melompat kedalam pelukan Meta begitu saja kalau ia tidak sedang menahannya dengan kuat.
Dan benar saja, begitu Rico mengendurkan pelukannya, Rei langsung memeluk Meta secepat kilat, kedua lengan mungilnya terlihat terkalung dengan kuat dileher Meta, kembali membenamkan wajah mungilnya diceruk leher Meta seperti semula.
“Aku mau mommy.. sayang mommy..” bocah itu mencium kedua pipi Meta begitu saja dihadapan beberapa pasang mata yang terlihat tersentak melihat pemandangan menyayat hati itu, tak terkecuali Meta.
Tidak ada seorang pun yang tau entah apa yang sedang bersemayam dalam pikiran Rei tentang sosok Meta, dan mengapa bocah kecil itu seperti menganggap bahwa Meta adalah mommy-nya.
“Mommy juga sayang Rei..” tanpa sadar, meskipun dengan bibir bergetar menahan tangis Meta berucap lirih seraya menatap dalam-dalam sepasang mata Rei yang juga menatapnya lekat.
Bocah itu mengusap kedua pipi Meta yang masing-masing teraliri bening, mengecup kedua pipi Meta dengan
kelembutan bak seorang malaikat yang sedang ingin menyembuhkan luka hatinya.. sebelum akhirnya kembali membenamkan wajah mungilnya keleher Meta.. memeluknya dengan sangat kuat seperti menemukan kembali sesuatu yang hilang.. yang ingin ia jaga kembali dengan sepenuh hati, agar tidak akan pernah pergi lagi..
.
.
.
Bersambung..
Like, Vote, Comment seperti biasa yah.. Reader kesayanganku..