CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 018


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.


.


.


.


‘Jadi.. sebenarnya Laras tidak mengatakannya..?’


Diam-diam Tian merasa sangat bersalah, sebelumnya telah menuduh Laras telah mengatakan sesuatu kepada Arini.


Astaga.. betapa bodohnya. Beragam rasa campur aduk dihati Tian, tapi lebih daripada semua rasa yang bercokol didalam dirinya satu hal yang melegakan Tian adalah sepertinya Arini cukup kuat menerima kebenaran, bahwa wanita yang sempat membuat Saraswati bersikeras untuk ia nikahi tiga tahun lalu adalah Laras.


Meskipun awalnya Arini terlihat sedikit shock dengan kebenaran yang ada dan itu sanggup membuat Tian sedikit menyesal.. separuh lega.. meskipun pada akhirnya dosa terbesarnya tetap ia tutup rapat.


‘Tuhan.. tolong ijinkan aku menyimpan dosa terbesarku untuk diriku sendiri. Tolong ijinkan aku menyimpan kesalahan fatal yang telah aku perbuat dari mata Arini, karena sesungguhnya aku benar-benar tidak mampu membuat diriku menjadi orang yang telah mengecewakan istriku sendiri..’


Bathinnya yang penakut kembali melantunkan permohonan yang buruk kepada sang pemilik hidup.


‘Ohh.. Sebastian Putra Djenar.. dirimu sungguh tidak tau malu..!’


Nurani Tian mengumpat saat menyadari jiwa pecundangnya telah menang. Yah, tentu saja. Karena Tian telah memutuskan untuk memilih tidak akan pernah mengakui perbuatannya dihadapan Arini disepanjang hayatnya.


Tidak mengapa.. Tian sanggup membuka semua kejujuran hidupnya tanpa bersisa untuk Arini, tapi tidak dengan yang satu itu. Tidak akan pernah.


Arini terlihat menyusut sedikit sudut matanya sebelum menggeleng perlahan. Dalam hati Arini berbisik.. bahwa bukan kenyataan dan pengakuan seperti ini yang awalnya ia ingini.. tapi ternyata yang ia dapatkan adalah kenyataan yang lain.


Bahwa wanita yang ingin dijodohkan Saraswati waktu itu adalah Larasati.. dan ia menemukan jawabannya dari mulut Tian sendiri.. tidak dari Saraswati.. tidak juga dari Larasati..


“Lalu.. bagaimana dengan rahasia besar yang kamu katakan tadi..? apa yang sudah dikatakan Laras sebenarnya ?"


Arini membisu seraya membuang wajahnya. Ia belum sempat menjawab manakala ia merasa Tian tengah meremas jemarinya lembut.


“Arini.. apapun itu.. aku bersumpah, aku dan Laras benar-benar tidak pernah menikah. Memang benar, selama aku bolak-balik ke Guangzhou pada waktu itu nenek terus mendesak tanpa henti. Tapi aku berupaya sedapat mungkin mengulur waktu sampai hati nenek melunak padamu..”


“Jadi aku hanya berharga karena mengandung penerus keluarga Djenar ?”


“Tidak, sayang.. tidak.. kamu berharga tidak semata-mata hanya karena hal itu saja melainkan karena cintamu, dan karena cintaku juga. Hati nenek telah melunak karena dia menyadari betapa besarnya perasaan cintaku untukmu.. dan nenek telah mengalah sebelum mengetahui bahwa kamu telah mengandung cucunya. Sungguh..”


Arini tersenyum kecut. Baru kali ini hatinya bimbang apakah harus mempercayai Tian lagi.


Terlalu banyak kebohongan yang dilakukan suaminya.. meskipun disisi lain Arini juga menyadari bahwa Tian melakukannya demi menjaga agar hatinya tidak sakit acap kali menerima kenyataan.


Tapi jika membayangkan sebagaimana dekatnya hubungan Laras dan Tian ? serta mengetahui dengan pasti bahwa Tian sanggup melakukan hal yang paling ekstrim sekalipun guna mencapai tujuannya, kendati jalan yang dilaluinya tidak selalu benar..


Semakin kesini Arini bahkan semakin tidak yakin jika Tian tidak melakukan sesuatu. Suaminya itu boleh saja bersumpah bahwa mereka tidak pernah menikah.. bahwa Tian terus menolak.. tapi hati seorang istri tidak bisa dibohongi.


Mungkin sudah seharusnya ia menyiapkan hatinya mulai sekarang jika prasangkanya bukan hanya sebuah prasangka semata. Dan juga hatinya.. karena hatinya juga harus kuat untuk bisa memberikan maafnya..


Tian merengkuh Arini serta merta. Mereka terdiam tanpa kata untuk beberapa saat lamanya.


“Aku ingin membuka semua yang terjadi dimasa laluku, bahkan kalau perlu semuanya yang terjadi jauh sebelum kamu masuk dalam kehidupanku. Selama ini kamu ingin mengetahui seperti apa diriku kan ? aku akan mengatakan semuanya, sayang.. apapun yang ingin kamu ketahui. Tapi.. aku tidak tau harus memulainya dari mana..”


Mendengar itu Arini berusaha mengurai pelukan Tian. Meskipun Tian terlihat enggan melepas tubuh Arini dari dalam pelukannya namun akhirnya Tian menyerah dengan tetap menggenggam erat jemari Arini, seolah takut jika telepas.. Arini benar-benar akan menghilang seperti bayangan buruknya selama ini.


“Sayang.. maafkan aku yang terlalu banyak menyimpan banyak hal. Sungguh aku tidak bermaksud  membohongimu.. aku.. aku hanya tidak ingin kamu memikirkan semua hal rumit yang sedang aku jalani..”


“Dan aku membenci diriku karena semua itu. Bagaimana mungkin aku sama sekali tidak berguna..”


“Arini.. sayang.. bukan seperti itu..”


“Dimatamu.. aku tidak pernah seberharga Saraswati Djenar, Rico Chandra Wijaya.. atau bahkan Rudi Winata.  Kamu bahkan selalu membuatku merasa bahwa aku bukanlah tempat yang tepat untukmu membagi semuanya..”


“Sayang, bukan seperti itu..” Tian menggeleng berkali-kali, nyaris putus asa agar bisa meyakinkan Arini betapa sesungguhnya wanita itu sangat berarti sehingga ia tidak ingin sepersekian inchi pun menyakiti hatinya, meski kenyataannya malah sebaliknya, ia selalu menyakiti Arini tanpa dirinya sadari.. terus membohongi wanita itu.. lagi dan lagi..


“Lalu kenapa masih menahan diri ? kenapa tidak juga menceritakan semuanya ?”


“Itu akan memakan waktu yang lama..” Tian mengusap wajahnya.


“Aku akan tetap mendengarnya..”


“Semua kejadian telah saling kait mengait dan persoalannya sudah sedemikian rumit. Jika aku mengatakan semuanya.. sama halnya aku membuka semua kisah, latar belakang, bahkan rahasia hidup dari beberapa orang. Aku selalu merasa itu tidak adil.. sayang.. tapi aku juga tidak ingin kamu menuduhku menyembunyikan kebenaran..”


“Ini bukan hanya cerita tiga tahun yang lalu. Tapi sejak delapan tahun yang lalu.. bahkan jika kamu ingin


mengetahui semuanya tanpa bersisa ini bahkan diawali sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu..”


Arini nyaris terhenyak mendengar penuturan itu. “L-lebih dari... d-dua puluh tahun yang lalu..?”


Tian menganguk pasrah.


“Sayang.. aku tidak mengerti, apa yang sedang ingin kamu perlihatkan..?”


“Jalan panjang yang berliku.. yang dengan sendirinya akan berujung pada kejujuran tentang diriku. Siapa aku, mengapa aku tumbuh menjadi pribadi yang sangat keras hati terhadap apa yang aku inginkan seperti sekarang, pribadi yang kamu bilang tidak bisa kamu pahami hingga detik ini.. semua itu terjadi karena aku telah mengalami banyak hal..” diam sejenak sebelum kembali berucap. “Kamu ingat kan bagaimana kedua oangtuaku meninggal ?”


“Apakah semua sifatmu ada hubungannya dengan kecelakaan lebih dari dua puluh tahun yang lalu itu..?”


Tian terdiam sejenak, menarik nafas. “Sepertinya.. karena itu adalah peristiwa kecelakan beruntun yang sangat tragis.. yang bisa saja mempengaruhi siapapun yang mengalaminya..”


Tian menatap Arini dalam, yang juga sedang berkonsentrasi menatapnya.


“Sebuah truck bermuatan material bangunan tiba-tiba kehilangan kendali, yang menyebabkan kecelakaan fatal berupa tiga kendaraan yang mengalami tabrakan beruntun serta memakan korban jiwa. Sebuah minibus yang dikendarai oleh seorang lelaki yang sedang membawa istri dan seorang anak lelaki, mobil yang dikendarai kedua orangtuaku, dan yang satunya lagi sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh sepasang suami istri lainnya..”


Tian terdiam sejenak. Menatap Arini dengan tatapan nanar.


“Kecelakan maut itu telah merenggut tiga pasang suami istri sekaligus, yang kemudian meninggalkan tiga orang anak yang menjadi yatim piatu dalam waktu yang sama. Aku, seorang bayi perempuan berumur dua tahun, dan seorang anak lelaki seumuran denganku yang berada dalam kecelakaan yang sama namun nyawanya berhasil diselamatkan meskipun sempat koma selama hampir tiga bulan lamanya..”


Arini menutup mulutnya tanpa sadar mendengar kisah tragis itu.


“Apakah.. apakah.. bayi perempuan itu.. dia.. dia..”


Tian menganguk. “Dia adalah Larasati, dan dia telah dibesarkan di panti asuhan milik yayasan keluarga Djenar. Ketika beranjak remaja, nenek membawanya ke rumah. Sejak saat itulah Laras menjadi salah satu bagian penting dari hidup seorang Saraswati Djenar..”


Tian menatap Arini sejurus.


“Apakah kamu tidak merasa ada sesuatu yang terlewat ?”


Arini terdiam.. otaknya berputar mengingat-ngingat sebentar, berusaha menyaring maksud ucapan Tian sebelum akhirnya berucap dengan ragu.


“A-anak lelaki yang sedang koma..?”


Tian menganguk.


“Apakah anak lelaki itu bisa diselamatkan ?”


Lagi-lagi Tian menganguk. “Setelah nyaris tiga bulan akhirnya dia bisa bangun dari koma, terus menjalani proses penyembuhan yang panjang mulai dari fisik begitupun dengan trauma pasca kecelakaan, apalagi setelah menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya tidak bisa diselamatkan..”


Tanpa sadar mata Arini telah sembab oleh bulir-bulir bening yang awalnya hanya mengembun namun kemudian telah membentuk parit-parit kecil diatas pipinya.


“Hari-hari selanjutnya dia dibesarkan di panti asuhan yang sama dengan bayi perempuan itu. Indotama Group menjamin semua hajat hidupnya, pendidikan, semuanya.. sampai ia dewasa dan bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Dia bahkan tumbuh dewasa disekitarku..”


Arini terdiam sejenak. Tumbuh dewasa disekitar Tian ? tidak mungkin itu Rico.. karena Rico bahkan terlahir dari keluarga berada dan masih memiliki orangtua sampai sekarang, sedangkan bocah lelaki itu.. tiba-tiba Arini sudah membekap mulutnya lagi.


"J-jangan bilang kalau d-dia.. d-dia..”


Tian kembali mengangguk. Tersenyum, tapi dengan guratan kesedihan yang terpancar jelas dimatanya. “Tebakanmu benar sayang.. bocah lelaki yang selamat dari kecelakaan tragis lebih dari dua puluh tahun yang lalu itu tak lain adalah..”


“Rudi Winata.. asistenmu selama ini..”


.


.


.


Bersambung..


Tolong di Like,


Tolong di Comment


Tolong di Vote.


My readers.. my moodboster.. my all.. Thx and Love you forever.. 🥰


Doain yah.. agar mood author gak turun naik biar bisa nyampe 60.000 kata diakhir bulan, dan mendapat level menggembirakan di awal bulan. Besar harapan author atas dukungan kalian 🤗