CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 118


"Berakhir.. bukan berarti berhenti.."


(From Author with Love 😘)


.


.


.


Rico masih menatap Meta dengan tatapan sanksi. Ia sama sekali tidak bisa mempercayai informasi yang diberikan Meta.. namun sebaliknya, Meta juga tidak mungkin berbohong.


"Aku masih tidak bisa mempercayainya. Terakhir saat kami berbicara serius, Tian bahkan tidak mengatakan apa-apa.." Rico nampak berpikir sejenak. "Melepas Rudi adalah keputusan yang besar.. tapi kenapa Tian melakukannya dengan tergesa..?"


Rico seolah bicara pada dirinya sendiri, sementara dihadapannya Meta terlihat merenung.


"Sesuatu pasti telah terjadi.."


Meta menatap Rico sejurus. "Apa?"


Rico mengangkat bahu. "Entahlah.. aku juga belum mengetahuinya dengan pasti. Tapi yang jelas, selalu ada sebab akibat dari setiap keputusan Tian.."


"Apa ada hubungannya dengan Laras?"


Rico menatap Meta sejurus.


"Karena sepertinya.. saat ini hubungan Rudi dan Laras sedang tidak baik-baik saja.."


Rico sedikit tercenung. Memikirkan kemungkinan tentang apa yang diutarakan Meta cukup masuk diakal. Yang ada dibenak Rico saat ini hanya satu kemungkinan, bahwa bisa jadi Tian telah menyerah, untuk terus memaksakan kehendaknya. Semua jalan telah buntu.. dan semua pintu telah tertutup..


Memikirkan hal itu mendadak pikiran Rico telah tertuju pada Laras seorang. "Kasihan Laras.." tanpa sadar ia bergumam sangat perlahan, namun ternyata Meta masih bisa mendengarnya.


"Dadd..?" alis Meta bertaut sempurna.


Rico terhenyak, seolah tersadar. "Tidak.. tidak.." ia menggeleng, namun perhatian Meta telanjur tertuju, tidak bisa lagi ia alihkan.


"Katakan kenapa.."


"Tidak ada.."


"Aku sudah mendengarnya, Dadd, kamu mengasihani Laras.. memangnya ada apa..? maaf.. tapi bukankah Rudi yang telah berkorban begitu banyak..?" ujarnya dengan nada sedikit protes.


"Hhmm.."


"Mungkin saja Pak Tian bermaksud memberikan Rudi dan Laras kesempatan untuk berbaikan.."


"Sepertinya fase itu sudah terlewat.."


"Kalau demikian itu artinya Pak Tian orang yang egois.." sembur Meta tak tertahan. Gemas sendiri saat membayangkan jika keputusan sang bos besar adalah memisahkan bukan malah mendekatkan.


Rico menarik nafas perlahan. "Itu artinya, kamu belum mengenal Tian.." desis Rico perlahan, tersenyum agak getir, semakin membuat Meta merasa bingung.


XXXXX


"Melepaskan Rudi, itu sama artinya dengan memberikan kebebasan. Rudi berhak memilih apa yang akan ia putuskan.. dan Tian pasti tidak akan mengintervensi lagi. Lalu apa yang akan menjadi keputusan Rudi.. sudah pasti Tian telah bisa menebaknya, meskipun Rudi bahkan belum juga memutuskannya. Dari segi bisnis Rudi pasti akan membuka peluang pada perusahaannya sendiri yang telah ia rintis diluar negeri dalam tiga tahun terakhir. Dan dari sisi kehidupan pribadi.. bisa dipastikan, Rudi pasti akan mengakhirinya dengan Laras.."


Rico telah terlelap, namun Meta tak kunjung bisa memejamkan matanya.


Benarkah..?


Benarkah yang sudah dikatakan Rico itu..?


Tentang Rudi.. tentang pemikiran Rudi.. tentang riwayat penyakitnya juga..


Meta bahkan baru mengetahuinya dan seakan tidak ingin mempercayai. Rudi terlihat begitu normal.. sangat sehat.. tidak terlihat sedang sakit..


Tentu saja. Karena ternyata dibalik fisiknya yang tegap bukan tubuh lelaki itu yang sakit.. melainkan jiwanya..!


Membangun hubungan, dan..


Keturunan..


Dua hal yang menjadi catatan ketakutan seorang Rudi Winata yang tercatat jelas dalam riwayat proses penyembuhan psikologinya.


Dan semua itu adalah jawaban yang nyata, yang coba dipungkiri oleh Tian, saat memaksa Rudi menikahi Laras.


Trauma Rudi adalah trauma seorang anak, yang telah menyaksikan kedua orangtuanya yang meninggal didepan matanya..


Trauma Rudi adalah trauma seorang anak, yang merasa marah karena menganggap kedua orangtuanya begitu tega telah meninggalkannya..


Trauma Rudi adalah trauma seorang anak, yang merasa takut akan melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya kelak..


Trauma Rudi adalah trauma seorang anak, yang menolak menjadi orang tua, jika nantinya pun akan meninggalkan anaknya kelak..


Meta tidak habis pikir. Bagaimana bisa Laras begitu kuat bertahan, mencintai lelaki seperti itu sejak awal hingga akhir..?


Lelaki yang tidak menginginkan seorang istri.. dan lelaki yang tidak mengharapkan seorang anak..?


'Kasihan Laras..'


Itu adalah kalimat Rico, suaminya yang kini tertidur lelap. Dan Meta harus mengakui bahwa pendapat Rico memang benar.


Bahwa ternyata.. untuk kesekian kalinya.. Tian lagi-lagi gagal memberikan keadilannya untuk gadis itu..


XXXXX


Laras meletakkan ponselnya diatas meja, menatap benda pipih itu sambil termanggu.


Seminggu yang begitu manis.


Yah.. sangat manis. Seolah tidak ada lagi yang lebih manis dari semua ini.


Pesan itu berasal dari Rudi. Sama halnya seperti kemarin-kemarin, pesan yang sama di jam yang sama, sehingga Laras sempat berpikir lelaki itu hanya kembali melakukan copy-paste pada chat sebelumnya, tidak mungkin repot-repot mengetik kalimat yang sama dua kali.


Sejak tiba dimalam itu, paginya ia terbangun dengan alis bertaut. Lelaki itu, Rudi Winata, terlihat segar dan rapi.. khas orang yang baru saja selesai mandi. Duduk di sofa dengan secangkir kopi yang masih mengepul, sambil mengawasinya dengan senyum.


"Selamat pagi.." sapaan ringan itu terdengar aneh.


Aneh..?


Iya, karena baru kali itu Laras mendapati Rudi yang terlihat begitu manis. Namun Laras tetap membalas ucapan selamat pagi itu dengan kikuk, sebelum menghilang secepat kilat kedalam kamar mandi. Merasa malu bangun kesiangan.. lupa jika seharusnya ia justru harus bangun lebih pagi dari Rudi.


"Aku akan mengantarmu kekantor.."


Lagi-lagi Laras terhenyak, mendengar ucapan Rudi begitu ia telah rapi sambil mematut dirinya didepan cermin.


"Tidak perlu repot-repot, kak.. aku biasa menyetir sendiri.."


"Tidak repot."


"Tapi kak.."


"Ayo.."


Laras terhenyak begitu Rudi telah berhasil meraih kunci mobil yang ada ditangannya sehingga berpindah tangan.


Akhirnya ia hanya bisa pasrah mengikuti langkah Rudi yang terayun ringan.


"Pekerjaanmu banyak tidak?" pertanyaan Rudi kembali terlontar begitu mobil berhenti sempurna di lobby depan Kantor SWD Fashion, dengan mesin mobil yang masih menyala.


"M-maksudnya..?" tanya Laras yang saat itu tidak terlalu connect dengan arah kalimat Rudi.


"Turunlah, aku akan menjemputmu lagi tepat jam empat.." pungkas Rudi tanpa bermaksud menanggapi pertanyaan Laras.


Dan benar saja..


Tepat jam empat ponsel Laras berbunyi. Sebuah notifikasi chat masuk dari Rudi yang menginformasikan bahwa lelaki itu telah berada diparkiran depan kantor SWD Fashion yang terlihat semakin megah karena baru selesai di renovasi besar-besaran.


Seminggu sudah Rudi berada di kota B, masih dengan aktifitas sama yang berulang. Setiap malamnya mereka bercinta penuh gelora, dan paginya Rudi akan mengantar Laras ke kantor, kemudian menjemputnya lagi disore hari. Begitu terus setiap hari.


Sejauh ini mereka belum bercerita lebih tentang apapun, selain hanya mengobrol ringan. Laras bahkan belum sempat bertanya perihal Rudi yang tiba-tiba datang.. namun anehnya kali ini tidak terburu waktu untuk kembali seperti biasa. Ponsel Rudi bahkan tidak sesibuk di waktu-waktu yang lalu.. dan Rudi juga belum menampakkan gelagat untuk kembali secepatnya ke ibukota.


Apakah Rudi mengambil cuti panjang..?


Entahlah..


Seminggu terakhir ini, Rudi bahkan terlihat berbeda. Memperlakukannya dengan baik.. menempatkannya seolah dirinya istimewa.


Anehnya.. meskipun hatinya dipenuhi kebahagiaan oleh semua perhatian Rudi, namun sebuah ruang hampa justru tercipta direlung hatinya yang lain, ditempat yang terdalam. Terasa kosong.. dan seperti mengabur.. sedikit demi sedikit..


Laras terkesima saat menyadari ada yang jatuh diatas punggung tangannya begitu ia mengerjap.


Air mata lagi..?


Ia terhenyak. Bingung saat menyadari, betapa akhir-akhir ini air matanya selalu jatuh tanpa ia sadari, seolah hatinya sudah mati.


Pria itu bernama Rudi Winata.. cintanya..


"Didunia ini.. kira-kira apa saja yang bisa membuatmu bahagia, kak?" itu adalah pertanyaan Laras semalam, saat Rudi merengkuhnya dalam, usai jatuh dipelukannya dengan peluh berhamburan.


Lelaki itu nampak terdiam lama, hanya bernafas diantara helai rambut Laras yang meriap.


Kemudian dengan perlahan mengucapkan kalimat lirih..


"Mungkin aku hanya akan benar-benar merasa bahagia.. jika aku tidak bisa lagi menyakiti hatimu.."


.


.


.


Bersambung..


Like


Comment


Vote


Tip,


Subscribe,


Rate 5,


Author banyak maunya.. 🤭


Thx and Loophyuu all.. 😘