CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 104


Kepoin novel author yang lain, check profil author yah.. 😘


- PASUTRI


- TERJEBAK CINTA PRIA DEWASA


Support mereka juga yah.. 🤗


.


.


.


Laras telah kembali ketempat duduknya diiringi applause meriah dari seluruh penjuru bar dewi lagoon.


"Luar biasa, tidak disangka multi talenta juga.." Hendi sempat menggoda Laras yang menyambutnya dengan senyum yang sedikit malu-malu. "Bagaimana dengan Armetha bisa tidak? atau ibu Arini.. mau mencoba menyanyi?"


"Egh.. tidak.. tidak.. bakat menyanyiku hanya sebatas dikamar mandi.."


"Iya, Hen, istriku benar. Lagipula aku tidak mau membuat pengunjung yang lain tidak nyaman karena mendengar suaranya yang.. aduhh..!" Tian langsung meringis begitu mendapati pahanya yang telah dihadiahi oleh sebuah cubitan kecil.


Ekspresi nyengir Tian saat menerima pelototan galak Arini mampu membuat semua penghuni meja itu tergelak. Tidak menyangka kalau Ceo Indotama Group yang hebat, sangat dihormati, berkharisma, dingin dan arogan itu bisa mati kutu hanya dengan sebuah pelototan mata dari istrinya.


"Meta saja yang menyanyi.." ujar Arini melempar bola. Kalimatnya tersebut langsung ditanggapi gelengan kepala oleh Meta dengan wajah pias.


"Tidak.. tidak.. aku juga tidak tau menyanyi, suaraku tidak ada merdunya sama sekali.." tolak Meta mentah-mentah, membuat suara gelak tawa kembali terdengar dari meja itu.


Kemudian setelah beberapa obrolan ringan yang diselingi canda tawa, semua perhatian setiap orang nampak mulai kembali kepanggung dimana kali ini Han telah berdiri ditengahnya dan mengambil alih mic.


"Bohong.. padahal suaramu sangat merdu.." diam-diam Rico berbisik ditelinga Meta yang langsung mengerinyit mendengarnya.


"Memangnya kapan daddy mendengar aku bernyanyi..?" Meta balas berbisik, ia merasa heran karena selama ini ia merasa belum pernah menyanyi dihadapan Rico atau dikamar mandi sekalipun.


"Tidak pernah.." ujar Rico sambil tersenyum aneh.


"Lalu kenapa bisa mengatakan suaraku merdu..?" mereka berdua terus berbincang sambil berbisik satu sama lain.


Rico mendekatkan mulutnya lagi, kali ini begitu rapat ketelinga Meta seolah benar-benar tidak ingin ada yang menyimak pembicaraan mereka.


"Aku mendengarnya saat kamu mendesah.. itu terdengar merdu sekali.. aduhh.."


Rico meringis tertahan ketika dalam temaramnya lampu bar dewi lagoon diam-diam pahanya telah mendapatkan sebuah cubitan gratis.


Meta melotot kearah Rico, tatapannya dipenuhi oleh rasa kesal bercampur malu. Namun bukannya jera, Rico malah mencuri kecupan dipermukaan bibir Meta yang naik dua centi itu, detik berikutnya Rico telah tertawa melihat mata Meta yang semakin melotot kearahnya.


Untung saja diatas panggung suara music mulai mengalun lembut sehingga perhatian orang-orang seperti teralih keatas sana, dimana Han tengah melantunkan It's You, sebuah lagu romantis berirama lembut yang dinyanyikan oleh Sezairi Sezali.


'You, You're my love, my life, my beginning, and I'm just so stoked I got you, girl, you are the piece I've been missing, remembering now, all the times I've been alone, showed me the way, led me here, led me home, right through that door straight to you, you're my love, my life, my beginning, it's you..'


(Kamu, kamu adalah cintaku, hidupku, awalku, dan aku sangat bersemangat aku mendapatkanmu, gadis, kamu adalah bagian yang aku rindukan, mengingat sekarang, sepanjang waktu aku sendirian, tunjukkan aku jalannya, memimpin saya di sini, membawa saya pulang, tepat melalui pintu itu langsung ke kamu, kamu adalah cintaku, hidupku, awalku, itu kamu..)


XXXXX


"Kemarikan ponselmu."


Meta yang baru saja berniat naik keatas ranjang mendadak urung.


"Ada apa?" tanyanya dengan dahi mengkerut.


"Kemarikan ponselmu dulu." masih dengan kalimat dan intonasi yang sama datarnya, membuat Meta akhirnya melangkah kearah nakas dan mengambil ponselnya, menyerahkannya kearah Rico yang telah menunggu dengan tangan menengadah.


"Nih.."


"Password.."


"Triple dua, triple tiga.."


Rico mengerinyit sesaat mendengarnya namun akhirnya jemari lelaki itu mengetikkan sederet nomor tersebut kelayar ponsel Meta.


"Apa maksud angka itu..? ada artinya?" ucap Rico lagi menyelidik begitu kunci layar terbuka, menampakkan foto Rei yang tersenyum lucu di layar ponsel Meta, membuat diam-diam sudut hati Rico tersenyum juga.


"Tidak ada maksud apa-apa, tidak ada artinya juga.."


"Masa?"


Meta mengangguk yakin. "Hanya agar aku mudah mengingat.." jawab Meta polos karena memang begitulah kenyataannya.


"Baiklah.. " kemudian konsentrasi Rico terpusat pada layar ponsel Meta seolah ingin mengecek sesuatu.


"Ada apa sih, dadd? apa yang ingin dicari dari ponselku..?" tanya Meta lagi penasaran dengan kelakuan Rico yang seolah sedang mengubek-ngubek ponselnya.


"Ingin mendapatkan bukti tentang kecurigaanku agar aku merasa puas.."


"Ketemu. Ini dia.."


Detik berikutnya Meta menggeleng-gelengkan kepalanya begitu tau apa yang ternyata sedang ingin dibuktikan oleh Rico saat ini.


Beberapa pesan pak Hendi yang sempat beberapa kali mengajaknya nge-date tapi untungnya tidak ada satupun yang Meta tanggapi, karena Meta selalu menolaknya dengan halus.


"Sudah aku duga, lelaki itu memang menyukaimu.."


Meta tertawa kecil melihat wajah cemberut Rico yang menggemaskan.


"Malah tertawa.." protes Rico, tapi yang ada tawa Meta malah semakin kencang.


Meta mendekati Rico dan mengambil ponsel yang ada ditangan lelaki itu, mengembalikannya lagi keatas nakas. Namun saat ia berbalik, wajah Rico terlihat semakin cemberut saja.


"Jangan cemberut, hilang gantengnya nanti.." goda Meta, namun yang digoda malah menghempaskan tubuhnya dengan wajah terlipat, membuat Meta salah tingkah karena merasa dikacangin.


'Ihh.. apa maksudnya ini? masa iya aku harus membujuknya..?'


Bathin Meta sambil bergidik enggan. Ya kali dia harus merayu Rico, seumur hidupnya saja Meta belum pernah melakukannya kepada lelaki manapun.


Perlahan Meta mendekati sisi ranjang yang lain, dan membaringkan tubuhnya perlahan disamping Rico yang masih memunggunginya.


Dua menit telah berlalu dalam keheningan. Meta kembali melirik punggung Rico dengan gelisah, menyadari lelaki itu masih betah tidak bergeming, meskipun Meta yakin bahwa Rico pasti belum terlelap.


"Daddy.." Meta menusuk punggung Rico, akhirnya tidak tahan didiamkan lebih lama.


"Hhmmm.."


"Daddy marah ya?" memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak."


"Kalau tidak marah, kenapa aku dipunggungi begini?" lirih Meta, tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihan dalam suaranya.


Rico membalikkan tubuhnya, mendapati wajah Meta yang dipenuhi mendung, hati Rico mendadak luluh melihat pemandangan itu. Akhirnya ia menarik tubuh mungil Meta, yang mendapati sikap Rico yang melunak langsung meringkuk nyaman dalam pelukan Rico.


"Cuma gara-gara message pak Hendi sudah sekesal ini, kalau begitu aku juga mau memeriksa ponsel daddy.."


"Egh, untuk apa?"


"Untuk memeriksa ada berapa banyak pesan wanita didalam sana. Biar kita adil.." imbuh Meta dengan nada merajuk.


"Untuk apa hanya diperiksa..? nanti hapus saja sekalian beserta kontak-kontaknya.." ujar Rico cuek sambil mengeratkan pelukannya.


"Yang benar?"


"Iya, sayang.. paswordnya tanggal lahir Rei. Kamu bebas memeriksa semuanya kapanpun kamu mau, kamu juga bebas menentukan apa saja yang tidak kamu suka didalamnya. .."


Hening sejenak.


"Daddy.. apa pesannya banyak?"


"Hmmm.."


"Ishh..!!" Meta memukul dada Rico dengan kesal mendengar kejujuran suaminya itu.


Rico tertawa keras menerima kemarahan Meta yang telah memukul dadanya beberapa kali sebelum akhirnya menyerah dengan mudah saat Rico membelenggu kedua tangan itu, menguncinya agar tidak lagi bergerak bebas apalagi untuk memukul.


"Mari berjanji.." ucap Rico serius sambil menatap Meta lekat.


"Apa?"


"Mulai sekarang tidak boleh menyembunyikan apapun lagi.."


"Aku setuju. Tapi aku tidak yakin daddy juga bisa melakukannya.."


Rico mengulum senyum, sebelum akhirnya berucap lirih sambil mengusap pipi Meta dengan lembut. "Aku akan berusaha selalu jujur.. meskipun harus memilih menerima kemarahanmu. Apa semua itu sudah cukup?"


Meta menatap Rico lekat, ingin percaya.. tapi sejujurnya hatinya masih teramat takut untuk kecewa. Sampai pada akhirnya Rico telah mencium bibir Meta dengan lembut, tidak tahan untuk tidak menyentuh bibir merah Meta yang terlihat penuh, menyesapnya dengan sepenuh hati.


Rico tau Meta masih meragukannya, namun Rico sudah bertekad.. untuk memenangkan hati Meta seutuhnya..


.


.


.


Bersambung..


Like, comment, vote, subscribe, apapun dukungannya.. Thx and Lophyuu all.. 😘