
Bukk..!
Meta terhuyung ketika merasakan bahunya kembali terbentur sesuatu.
‘Astaga demi apa..? mengapa hari ini orang-orang selalu menabrakku sih..?’
Meta tak habis pikir. Saat di rooftop seseorang karyawan pria telah menabraknya hingga terhuyung, dan sekarang di toilet wanita pun seseorang kembali menabraknya begitu saja.
Meta mengangkat wajahnya perlahan dan ia sontak terkesiap. Lewat pantulan cermin yang ada dihadapannya ia bisa melihat seraut wajah yang sangat ia kenali, berdiri tepat disebelahnya sedang mengoleskan lipstick berwarna pink cerah ke bibirnya yang sensual dengan gaya yang cuek.
Wanita yang sama dengan wanita yang telah menabrak bahunya tadi tanpa merasa perlu untuk meminta maaf, bahkan sekarang ini Meta sudah berfikir bahwa jangan-jangan wanita ini telah melakukannya dengan sengaja.
“Kamu sengaja melakukannya yah?” ucap Meta to the point seraya menoleh.
“Heloww.. melakukan apa yah?” Laras balas menatap Meta dengan tatapan meremehkan yang khas.
“Mengaku saja. Kamu sengaja menabrak bahuku barusan..”
Laras menyimpan lipsticknya kedalam tas louis vuitton miliknya, masih keukeuh dengan gayanya yang acuh. Kemudian setelah itu ia sudah menghadapkan tubuh sepenuhnya kearah Meta sambil tak lupa berkacak pinggang.
“Yang pertama, aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan itu dengan sengaja. Dan yang kedua.. bukannya kamu memang sangat suka ditabrak orang biar bisa jatuh dan mendarat dipelukan seseorang?”
Wajah Meta mendadak pias mendengar sindiran yang terang-terangan mengenai kejadian di rooftop tadi itu. “Laras, maksud kamu apa sih..?”
“Menurutmu?!” Laras malah balik bertanya, semakin berdiri pongah dengan gaya menantang.
“Kamu melihat kejadian di rooftop tadi?” tanya Meta menegaskan.
“Cihh..!” Laras membuang wajahnya kearah lain.
“Oohh jadi sekarang ini kamu sedang cemburu ya..?”
Laras melotot mendengar kalimat yang terucap ringan itu.
“Apa kamu bilang? aku cemburu? kepadamu?” serentak ia tertawa remeh. “Heh, kamu liat kaca itu tidak..?" jari telunjuk Laras mengarah ke kaca besar yang ada disepanjang dinding toilet, sebelum akhirnya melabuhkan lagi tatapannya kearah Meta. “Liat dirimu baik-baik disana sebelum kamu bicara yang tidak-tidak..!”
“Kamu tidak perlu menyuruhku berkaca, karena aku cukup tau diri..”
“Bagus dong..”
“Tapi Laras.. itu bukan berarti kamu bebas menuduhku yang tidak-tidak..”
“Aku tidak menuduhmu, aku hanya menyuruhmu berkaca!” pungkas Laras lagi dengan gayanya yang cuek bebek.
Meta menelan ludahnya geram.
‘Aku salah besar sudah berfikir bahwa menikah dengan Rudi bisa mengubah watak Laras. Karena ternyata anak kecil ini masih saja congkak, kasar, menyebalkan, dan masih saja gemar meremehkan orang lain..!’
Bathin Meta gemes sendiri.
“Aku Larasati Djenar, memangnya kamu siapa sampai begitu percaya diri mau menjadi sainganku ?”
‘Cihh.. memangnya siapa juga yang ingin bersaing denganmu, bocil..?’
Meta menatap Laras dan hanya bisa memupuk kesabarannya sedikit demi sedikit dalam menghadapi sikap menyebalkan Laras.
“Ohh.. atau.. jangan-jangan kamu berfikir karena kamu sudah berhasil menikah dengan kak Rico trus dengan sendirinya kamu sudah naik level? begitu?”
Laras terlihat mulai tertawa jahat, membuat Meta mati-matian menahan dirinya untuk tidak lagi membalas tapi ternyata Laras belum juga puas menghinanya.
“Percuma menikah kalau statusnya dirahasiakan.. ha.. ha.. ha.. kasian sekali, dinikahi cuma buat jadi baby sitternya Rei..”
Meta berusaha keras mengatur laju jalan masuk keluar nafasnya yang mulai memburu.
“Ya iyalah...kamu saja beda level sama kak Rudi, apalagi kak Rico..? wahh.. jangan mimpi deh! dasar upik abu!”
Kali ini sepasang mata Meta sudah melotot tapi yang ada ia kembali merasakan bahunya didorong kasar kesamping..
“Minggir!!”
Laras berjalan melewatinya dengan ekspresi wajah super songong, meninggalkan Meta yang hanya bisa meninju udara dengan tangannya yang terkepal sejak tadi.
“Sial! kalau bukan adik pak Tian sudah aku cekek leher kuntilanak kecil itu!”
Gerutu Meta dengan emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubun. Adrenalinnya belum juga normal manakala ponselnya sudah berteriak lantang, membuat Meta tersadar dan nyaris terhenyak menatap nama ‘Pak Rico’ tertera jelas di permukaan layar ponselnya.
“Meta?! kamu dimana?! meeting sudah mau dimulai kamu belum juga ada di ruangan?!”
“Egh.. iya pak.. maaf.. anu.. aku di toilet..”
“Segera kesini..!”
Klik.
“Omegooott.. siaallll.. nasibku sungguh siaaalll..!”
Ingin rasanya Meta meninju cermin yang ada dihadapannya saking kesalnya, sebelum akhirnya memilih melangkah keluar dari toilet wanita itu setelah menghentakkan kaki ke lantai beberapa kali.
XXXXX
“Bagaimana menurutmu keseluruhan hasil meeting tadi?” Tian menatap Rico yang duduk dihadapannya sambil mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya.
“So far baik.. meskipun ada beberapa point final yang aku sedikit kurang sreg, tapi secara keseluruhan oke lah.. masih bisa di toleransi..” Rico menjawab pertanyaan itu tanpa menatap Tian terlebih dahulu karena ia masih sibuk mengarahkan Dani asistennya untuk melakukan beberapa hal terkait pekerjaannya di best electro.
“Oh iya.. Rud.. nanti koordinasikan dengan Laras, jangan sampai jadwal launching kerjasama SWD Fashion dengan Fashion Milan bentrok sama launching indotama times square. Jangan lupa juga untuk menyisakan jeda minimal empat hari karena aku tidak mau persiapan acaranya menjadi tidak fokus dan tergesa-gesa. Laras juga harus bisa menyiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya agar tidak diburu waktu.” usai mengarahkan keinginannya panjang lebar, Tian ganti menatap Rudi yang sedang mengumpulkan beberapa dokumen yang bertebaran memenuhi meja kerjanya.
“Baik pak.. nanti saya akan coba hubungi Laras..”
Mendengar kalimat Rudi sontak membuat Rico mengangkat wajahnya serta merta. “Loh.. memangnya kamu tidak bertemu laras?”
‘Bertemu Laras?’
Alis Rudi mengerinyit mendengar sepenggal kalimat Rico. Apa itu berarti..
“Tadi siang Laras pergi ke rooftop. Aku pikir dia akan menemuimu..” ujar Rico lagi dengan wajah yang berpura-pura datar, seolah tidak mengetahui apa-apa.
Gerakan Rudi yang sedang menumpuk berbagai berkas yang ada diatas meja kerja Tian terlihat melambat sejenak seolah lelaki itu sedang memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya kepalanya menggeleng, dan kembali berusaha meneruskan pekerjaaannya sebelumnya.
“Rudi..” panggil Tian sesaat setelah ia hanya mengawasi gerak-gerik Rudi dan Rico dalam diamnya.
“Iya pak..?”
“Pulanglah lebih dahulu..”
“Egh.. a-apa pak?”
“Kamu pulanglah lebih dahulu dan temui Laras. Sisa pekerjaanmu hari ini, teruskan saja pada besok hari.” titah Tian lagi-lagi dengan gaya bicaranya yang khas. Datar namun terdengar tegas
“Baiklah, pak.. terima kasih..” pamit Rudi seraya menumpuk satu semua dokumen yang tersusun di sisi kiri meja Tian
Begitu Rudi berlalu dari ruangannya, Tian terlihat tengah mengawasi Rico lekat-lekat dari tempat duduk kebesarannya.
“Ada apa menatapku seperti itu? kamu sedang mencurigaiku yah?” Rico berucap kesal saat menyimpan ponselnya kesaku.
Mendengar kalimat itu Tian malah tertawa. “Darimana kamu tau kalau Laras pergi ke rooftop?”
“Tentu saja karena aku bertemu dengannya.”
“Di rooftop?”
“Tidak. Yang sebenarnya aku bertemu dengan Laras di pintu lift.”
“Yakin kamu tidak pergi ke rooftop dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kamu lihat disana?”
Tian menatap Rico tajam, membuat Rico agak gelagapan ditodong dengan pertanyaan seperti itu terlebih saat berada dibawah sepasang mata Tian yang mengintimidasi, sontak Rico akhirnya mengusap tengkuknya yang terasa kebas meskipun akhirnya memilih untuk berbohong, karena kepalanya tetap menggeleng samar.
“Terkadang apa yang kita lihat belum tentu itu kebenarannya..” tiba-tiba saja Tian sudah bergumam pelan.
“Maksudmu?” Rico menatap Tian sejurus.
“Tidak punya maksud apa-apa. Anggap saja aku hanya sedang berbagi kata-kata bijak, sedikit bekal untukmu agar bisa mengambil langkah yang tepat.”
Dan kalimat Tian itu cukup ampuh membuat Rico terdiam ditempatnya, hingga berjenak-jenak lamanya.
...
Bersambung..