
Hai.. kalian yang sudah Like, ketemu lagi.. hahaha.. 😅
.
.
.
Saat mobil yang dikendarai Sudir berhenti sempurna didepan teras, Rico sebagai tuan rumah yang baik sudah terlihat berdiri didepan menyambut mereka. Senyum lelaki itu nampak begitu sumringah.
Awalnya keengganan kembali menyapa Arini, apalagi mengingat ia harus bertindak netral sebagai sekretaris Tian meskipun terasa sangat aneh bahwa untuk apa seorang sekretaris menemani sang bos untuk private dinner seperti ini kalau tidak ada apa-apanya.
Biasanya begitukan pasti yang ada difikiran orang-orang ?
‘Huhh.. kenapa saat ini aku merasa seolah-olah menjadi wanita simpanan suamiku sendiri sih..?’
Arini menghembuskan nafasnya gundah, mencoba menguatkan hatinya kembali acap kali pemikiran seperti itu merasuki fikirannya, dan dirinya merasa seperti seorang wanita selingkuhan yang selalu ditutup-tutupi identitasnya.
Tapi mau bagaimana lagi.. sudah
seharusnya ia menjalani semua ini dengan sabar kan ? sambil menanti waktunya tiba.. waktu dimana segala usaha keras dan setiap doa serta harapan dirinya dan Tian akan dikabulkan yang di-Atas sana..
Dengan berat hati akhirnya Arini
memberanikan diri untuk turun dari mobil, mengikuti jejak langkah Tian yang sudah mendahuluinya terlebih dahulu.
Rico langsung menyambut riang begitu sosok Tian mendekat. “Akhirnya datang juga..” sapa Rico hangat sambil merangkul bahu Tian sejenak. “Oh ya.. dimana Ver…” mengambang sejenak begitu tau siapa wanita yang sudah berada dibelakang Tian. “A-Arini..?” berucap nyaris tak percaya.
Arini menelan ludahnya, mencoba melempar senyum saat mendapati raut keheranan Rico yang menyorot aneh kepadanya kemudian langsung mengalihkan pandangannya kearah Tian seolah meminta penjelasan.
Terkejut ?
Tentu saja..!
Bagaimana pun Rico tidak pernah menyangka jika Tian bisa se-nekad sekarang, membawa serta Arini bersamanya..? benar-benar sudah tersesat..!
“Bukannya kemarin kamu bilang kamu akan datang bersama sekretarismu..?” Rico tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
“Arini memang sekretarisku.” Tian
berucap santai.
“Hah ? lalu.. Vera..?”
“Sudah bukan sekretarisku lagi.”
“Tapi..”
“Aku memberikan Vera posisi manager SDM di kota B.”
‘Ck.. ck.. ck.. dasar buaya licik.. pinter banget melakukan modus seperti ini..’
Rico masih terhenyak tak percaya.
“Sudah, tutup mulutmu.. sebaiknya kita langsung makan saja, aku bahkan sudah sangat lapar..” Tian berucap acuh sambil ngeloyor begitu saja kedalam rumah Rico tanpa menunggu dipersilahkan tuan rumah terlebih dahulu yang masih setia dengan mode bengong.
Arini yang masih berdiri dibingkai pintu menjadi salah tingkah sendiri. Ingin masuk mengikuti Tian tapi rasanya tidak enak melewati tuan rumah begitu saja.
“Arini, untuk apa berdiri disitu ? ayo
masuk..!” titah Tian yang berbalik saat menyadari Arini tidak berada dibelakangnya, membuat Arini salah tingkah menatap Tian dan Rico berganti-ganti.
Untung saja suara Tian yang keras mampu membuat Rico tersadar. “Oh iya, maaf.. maaf.. mari Arini.. silahkan masuk..” menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi jalan yang lebih lapang bagi Arini untuk masuk kedalam rumahnya.
“Apa sebaiknya kita langsung makan saja..?” Rico mensejajari langkah Tian yang terus beranjak keruang makan.
Tian memang cukup sering kerumah Rico saat dirinya belum menikah, makanya tidak heran kalau lelaki itu sudah hafal luar kepala setiap sudut rumahnya. Sedangkan Arini mau tidak mau akhirnya terus mengikuti kemana langkah kedua orang itu dari belakang tanpa suara.
“Tentu saja. Kamu mengundangku kesini untuk makan, bukan..?" kilah Tian begitu sampai di ruang makan. Ia langsung menemukan sebuah meja makan yang sudah dipenuhi dengan berbagai menu makanan.
Tanpa canggung Tian menarik salah satu kursi, kemudian menatap Arini. Lewat gerakan kepalanya seperti mengisyaratkan Arini untuk duduk disana terlebih dahulu.
Meskipun kikuk dan agak enggan Arini akhirnya duduk juga dikursi yang sudah ditarikkan Tian padanya. Kemudian dengan sikap cuek lelaki itu menarik kursinya sendiri yang bersebelahan tepat dengan Arini, menghempaskan tubuhnya disana dengan acuh seolah tak peduli dengan raut terperangah Rico saat meihat adegan yang cukup aktraktif tepat di depan hidungnya.
Rico ngedumel dalam hati menyaksikan betapa sweet-nya Tian memperlakukan sekretarisnya.
'Apa-apaan sih ? sejak kapan dia mau menarik kursi untuk seorang wanita seperti tadi ?'
“Duduk, Co.” perintah Tian semena-mena.
“Huhh.. memangnya siapa tuan rumahnya ?” pungkas Rico kesal, tapi tak urung ia akhirnya menarik kursi yang letaknya berseberang meja dan mendudukkan dirinya disana dengan wajah terlipat.
Bik surti, asisten rumah tangga Rico nampak muncul dari arah dapur sambil membawa nampan, yang diatasnya terdapat sebuah mangkuk berisi hidangan berkuah yang masih mengepul. Menaruhnya ditengah meja yang terlihat memang sengaja dikosongkan untuk menaruh menu tersebut.
“Semuanya sudah siap pak.. silahkan..” ucap bik surti dengan santun seolah ingin memberitahukan bahwa semua menu yang hendak disajikan malam itu sudah terhidang diatas meja. “Nanti kalau ada yang kurang panggil bibik saja.”
“Baik, bik, terima kasih..” ucap Rico, sebelum akhirnya bik surti pamit dan kembali kearah dapur.
Rico sudah ingin mempersilahkan tamunya yang semena-mena ini, namun urung saat melihat sepasang mata Tian dan Arini yang meskipun terlihat kalem tapi tetap saja terlihat bergerak-gerak seolah mencari sesuatu.
“Sedang mencari apa..? ayo makan..” ucap Rico kearah Tian, berpura-pura tidak menyadari ekspresi wajah penuh tanda tanya Tian yang berada tepat dihadapannya, sedangkan Arini dengan gerakan perlahan terlihat meraih gelas panjang berisi air mineral dihadapannya yang tadi dituangkan bik surti, meneguknya pelan-pelan membasahi tenggorokannya yang sejak tadi terasa kering kerontang menyaksikan interaksi dua orang yang sedang duduk berhadap-hadapan ini.
Tian terlihat menautkan alis sambil menatap Rico. “Co, dimana istrimu ?” akhirnya memutuskan untuk bertanya karena belum
menangkap sosok Lila sama sekali sejak tadi.
“Oh.. ada diatas,” ucap Rico masih berpura-pura cool.
“Kenapa tidak turun ?”
“Nanti juga dia bakal turun koq. Pas kita selesai makan..”
Tian semakin bingung dengan jawaban santai Rico. “Kenapa harus menunggu selesai makan ? kenapa kamu tidak mengajaknya makan bersama kita sekalian ?”
“Dia sedang dalam kondisi tidak bisa memakan hampir semua makanan.” Rico mengulum sejuta senyum penuh misteri saat mengatakan kalimat itu. Ia memandang lurus kearah Tian yang sedang berada tepat dihadapannya.
“Kenapa bisa begitu ? sedang diet ya ?”
Dan itu adalah kalimat yang memang sedang ditunggu oleh Rico untuk show time.....
“She is not on a diet.. but she is pregnant..”
'Uhukk..!'
Tian tersedak tiba-tiba mendengar kalimat Rico, membuat Arini yang masih memegang gelas berisi air mineral yang barusan ia minum sedikit sontak bergerak refleks menyerahkannya kearah Tian yang langsung meneguknya cepat.
Memandangi pemandangan yang begitu manis itu tak urung Rico masih sempat mencibir kecil.
Tatapan Arini terpusat penuh pada Tian. “Bagaimana ? sudah merasa baikan..?” tanyanya perlahan dengan pancaran mata yang dipenuhi kekhawatiran. Kalau tidak ada Rico dihadapan mereka mungkin Arini sudah mengelus punggung Tian untuk membantu melegakan pernafasan suaminya itu akibat tersedak saat mendengar bahwa istri Rico sedang berbadan dua.
Menanggapi pertanyaan Arini, Tian hanya menganguk setelah merasa tenggorokannya juga sudah sedikit lebih lega.
Sesaat Tian balik menatap Rico tajam yang terlihat menyeringai kecil menerima tatapannya. Tian sepertinya sudah langsung bisa menebak maksud dan tujuan Rico yang memang sengaja merancang dan menggiring semua percakapan itu untuknya, agar bisa menyampaikan cerita tentang kesombongannya akibat kehamilan istrinya dengan sedikit drama.
‘Jadi ini maksud dari bajingan tengil ini kan ? mau pamer bahwa ia sudah berhasil membuat hubungannya dengan Lila membaik bahkan sampai tekdung..?’
Tian menggerutu dalam hati. Sejenak Tian merasa dirinya mulai merasa kesal berlipat ganda karna ternyata seperti yang diucapkan Rico.. bahwa untuk hal ini Tian harus mengakui bahwa Rico benar-benar sudah berada berpuluh-puluh langkah lebih unggul jauh dari dirinya..
.
.
.
.
.
Bersambung…
Alhamdulilah.. author tinggal duduk manis sambil nunggu Like, Comment, dan VOTE. Hehehe.. terima kasih yah.. 😅
Lophyuu.. ALL.. 😘