
Saat pintu terbuka, Lila langsung
mendapati Rico yang berdiri tepat dibingkai pintu. Tatapan lelaki itu lurus padanya.. tajam.. namun tiba-tiba alis lebat itu mulai bertaut perlahan. Seperti merasa heran karena Lila keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah masih basah sambil menekan wajahnya kuat-kuat dengan sapu tangan.
“Aku harus buru-buru, Yunita sudah menelpon kalau ada hal penting yang harus segera aku urus..” Lila melewati tubuh Rico begitu saja.
“Ada apa denganmu ?”
Lila tidak langsung menjawab pertanyaan yang dipenuhi nada keheranan itu melainkan dengan gerakan cepat menyambar tasnya yang ada diatas meja rias, sambil membuang pandangannya jauh-jauh dari rolling table beserta isinya.
“Lila, aku sedang bicara denganmu !”
“Maaf, aku buru-buru.. “ langsung keluar dari kamar Rico, melesat begitu saja secepat kilat sebelum dorongan rasa mualnya kembali.
Rico menatap kepergian Lila dengan perasaan campur aduk-aduk.
Sementara itu, begitu keluar dari kamar Rico, Lila baru bisa menarik nafas lega. Kemudian dengan perlahan ia menyusuri sepanjang koridor yang menghubungi villa satu sama lain menuju ke front office yang ada dibagian depan dari unit villa yang berjejer rapi tersebut.
Aktifitas pagi dari para pegawai Mercy Green Resort yang ada pada morning shift terutama bagian kebersihan sudah terlihat hiruk pikuk. Sesekali Lila membalas sapaan mereka saat berpapasan dengannya di sepanjang koridor menuju front office.
Yunita, asisten pribadi Lila yang sejak tadi menunggu Lila di salah satu sofa yang ada disudut ruangan sontak berdiri begitu menangkap bayangan Lila yang baru saja masuk dan langsung mendekat kearahnya.
“Ada apa yun ?” tanya Lila saat melihat raut wajah Yunita yang sedikit gelisah.
“Ada banyak sekali awak media di gerbang depan, bu..”
Lila mengerinyit. “Awak media ? masa sih sampai pagi begini mereka masih ada ? memangnya ada apa ?”
“Sepertinya ada kaitan erat dengan kejadian saat wawancara pak Tian semalam, bu, sehingga mereka semua menjadi semakin tertarik dengan isu tersebut dan nekad menunggu pak Tian sampai pagi ini.”
Lila terdiam. Tentu saja ia sudah
mendengar kejadian semalam saat seorang wartawan yang entah dari media mana, nekad melemparkan isu panas bahwa Ceo Indotama Group itu telah mengajak seorang karyawannya sendiri bermalam di Mercy Green Resort.
Mendapati isu hangat tersebut.. wajar saja jika para pemburu berita dari segala penjuru tumpah ruah di gerbang utama demi mendapatkan klarifikasi atau setitik clue, apalagi setelah itu Pak Tian langsung menghilang dan tidak lagi terlihat setelahnya padahal masih ada begitu banyak event-event menarik yang merupakan hiburan serta acara lanjutan yang dipersembahkan usai acara resmi dari launching tersebut.
Semua orang seperti bisa memastikan bahwa CEO Indotama Group itu masih berada didalam kawasan dan dipastikan belum meninggalkan Mercy Green Resort setelah semalam penuh, sehingga menambah daftar kecurigaan awak media yang jumlahnya semakin berlipat ganda.
“Sudah hubungi pak Rudi untuk konfirmasi ?”
Yunita menganguk. “Sudah, bu..”
“Lalu ?”
Yunita nampak terdiam sejenak., membuat Lila mengerutkan alis.
“Lalu, Yun ?” Lila mengulang pertanyaannya saat melihat kebimbangan yunita.
“Egh.. kata Pak Rudi.. biarkan saja..” kemudian Lila menambahkan. “Dan sepertinya pak Tian akan check out pagi ini, bu..”
“Oh, ya ?”
‘Nekad juga..’
Lila membathin.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Lila baru saja berniat untuk menuju keruangannya manakala ia berbalik dan terkejut saat melihat sosok Rico yang sudah berdiri menjulang tepat dihadapannya.
“Kita perlu bicara.”
Lila terdiam sejenak sebelum akhirnya berucap singkat. “Yun.. tolong minta Rafa setengah jam lagi keruanganku, yah,”
“Baik, bu,” Yunita menganguk, mengiyakan.
Kemudian ia menatap Rico sekilas, beranjak begitu saja seraya berucap datar. “Diruanganku saja,”
Tanpa bicara Rico langsung mengikuti langkah Lila menuju ruangannnya yang tidak seberapa jauh dari tempat mereka.
Lila masuk keruangannya diikuti Rico yang menutup pintu yang ada dibelakangnya dengan perlahan sebelum akhirnya mendudukkan diri di sofa sudut yang ada disudut ruangan. Lila yang melihat Rico duduk disana akhirnya ikut menghempaskan tubuhnya di sofa yang sama, menjaga jarak sekitar dua meter dari Rico.
“Mau bicara apa ?” tanya Lila dengan mimik datar.
Rico tidak serta merta bicara, melainkan memperhatikan wajah Lila lekat-lekat, hingga akhirnya Lila sedikit jengah.
“Wajahmu pucat sekali..”
“Itu karena aku kurang tidur.”
“Kamu juga kelihatan semakin kurus..”
Kali ini Lila tidak menjawab melainkan membuang nafas kesal.
“Apa kamu sedang sakit ?”
Lila menatap Rico sekilas, entah kenapa ia merasa aneh saat mendengar Rico seperti sedang mengkhawatirkan dirinya seperti ini. “Sebenarnya kamu mau bicara apa sih, Co ? jangan bertele-tele.. pekerjaanku masih banyak.” berucap datar kalau tidak ingin dibilang ketus.
Rico sedikit terhenyak mendengar kalimat dingin itu.
“Sejak kapan kamu bisa berbicara se-ketus ini ?”
Lila membuang pandangannya kesamping. Ia bukannya tidak menyadari bahwa akhir-akhir ini moodnya selalu turun naik seperti roller coaster. Seorang Lila yang biasanya begitu pintar mengcover dan mengontrol dirinya.. saat ini selalu dibuat tidak berdaya oleh desakan yang entah datang dari mana asalnya.
Yang Lila tau, diawal kehamilan sebagian besar wanita akan mengalami emosi yang tidak stabil, mudah tersinggung, suasana hati yang berubah-ubah, cengeng, rasa takut berlebihan, perasaan was-was.. dan masih banyak lagi yang semuanya itu didapatinya dari hasil browsing di internet tentang tanda-tanda kehamilan muda, dan anehnya lagi semua itu terjadi pada dirinya saat ini.
“Lila, sebaiknya kita ke dokter.”
Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja Lila mendapati Rico sudah berada tepat disisinya, sedang menguliti keseluruhan dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Untuk apa ke dokter ?”
“Tentu saja kamu harus ke dokter untuk memeriksakan kesehatanmu dulu..”
“Lila..”
“Sudah aku bilang, aku tidak sedang sakit !!”
Lagi-lagi Rico terhenyak mendengar kalimat ketus yang kembali meluncur dari bibir Lila.
Rico membuang nafas berat. “Baiklah, kalau kamu tidak ingin pergi aku akan menyuruh dokter Tio kesini..” sambil mengambil ponselnya, bermaksud menelpon dokter Tio, yang merupakan dokter pribadi keluarga Wijaya. Tapi belum sempat ia menekan sesuatu disana ponselnya mendadak sudah berpindah tangan.
Rico menatap Lila tajam, mulai kehilangan kesabaran menghadapi wanita yang tiba-tiba bertingkah sangat keras kepala, sama sekali tidak mencerminkan seperti kelakuan istrinya selama ini..
“Kembalikan.”
“Tidak.”
“Lila.. kembalikan. Aku akan menelpon dokter..”
“Sudah aku bilang tidak perlu, karena aku tidak..”
“Kalau tidak sakit lalu apa namanya ?! wajahmu sudah pucat seperti mayat, tubuhmu semakin kurus, kata salah seorang pegawaimu akhir-akhir ini kamu sering pusing, kemarin kamu bahkan hampir pingsan, dan tadi pagi kamu mual.. kamu.. kamu..”
Mengambang, mendadak Rico merasa tenggorokannya seperti tercekat, seperti menemukan sebuah kejanggalan yang membuat jantungnya sontak berdebar keras. Rico masih menatap lekat-lekat sosok Lila yang juga menatapnya tanpa kata, namun entah kenapa tiba-tiba ia sudah menangkap sudut mata Lila yang basah.
Rico beringsut mendekat, meskipun merasa ragu tapi dia mencoba merengkuh tubuh Lila serta merta..
Awalnya Lila bergerak seperti melakukan sebuah penolakan. Namun semakin wanita itu menolaknya, Rico semakin bersikukuh menenggelamkan tubuh wanita itu dalam pelukannya, hingga dimenit berikutnya Rico bisa merasakan bahu Lila sudah terguncang perlahan.. dengan suara isak yang juga tertahan..
“Apakah yang ada difikiranku saat ini benar ?” Rico berucap perlahan, suaranya terdengar bergetar.
Hening.
“Lila..” panggilnya lembut.
Masih hening, tapi kali ini Rico bisa
merasakan perlahan wanita itu balik memeluk tubuhnya, semakin lama pelukan itu semakin dalam, seolah-olah Lila ingin meleburkan dirinya kedalam pelukan Rico, yang membuat Rico langsung menyadari satu hal.. bahwa ia telah menemukan jawabannya, tanpa Lila menjawabnya..
Arini menatap lekat Tian yang baru saja menerima telepon dari Rudi, yang melaporkan keadaan yang sedang terjadi di luar gerbang Mercy Green Resort.
Berbeda dengan dirinya yang tiba-tiba merasa khawatir, raut wajah Tian nampak biasa-biasa saja. Lelaki itu bahkan dengan santainya masih bisa membuka laptop, memeriksa laporan yang masuk selama dua hari terakhir dan mengecek beberapa email sambil sesekali menikmati croissant dan menyesap pekatnya espresso.
“Sayang.. bagaimana kita keluar dari tempat ini kalau ada banyak wartawan diluar ?” Arini duduk disamping Tian sembari menatap dengan raut wajah khawatir.
“Tinggal keluar saja kan..?” menjawab santai tanpa menoleh.
“Ishh..!” satu buah tinju kecil kembali mampir dilengan kiri Tian membuat lelaki itu langsung tergelak mendapati wajah Arini dengan bibir yang maju dua centi.
“Kamu ini benar-benar suka memukulku, yah ?” gumamnya, namun tidak benar-benar terusik dengan kelakuan Arini barusan yang sebenarnya sebagian besar hanya ingin meminta perhatiannya saja.
“Lagian aku bicara serius, kamu malah menjawab dengan becanda..”
“Kata siapa aku menjawab dengan becanda ? jawabanku tadi itu jawaban yang serius. Mau pergi dari tempat ini.. tinggal pergi saja, iya kan ?”
“Ishh..”
Arini meraih segelas jus jeruk yang juga merupakan bagian paket pelayanan room service dari continental breakfast mereka pagi ini. Meminumnya dengan wajah yang semakin cemberut terlebih karena merasa sedikit tidak diperhatikan pagi ini.
Menyadari istrinya yang manja itu tidak lagi berceloteh membuat Tian melirik sekilas, kemudian serta merta menutup layar laptop dihadapannya sambil tersenyum dalam hati lalu menegakkan punggungnya.
“Kamu ini sedang mengkhawatirkan apa ?”
Tidak ada jawaban.
“Kamu selalu lupa yah siapa suamimu ini ? Aku ini Sebastian Putra Djenar, suamimu yang hebat. Masa iya sih masalah wartawan didepan gerbang saja bisa membuatmu gelisah begini..?”
Arini semakin mengerucutkan bibirnya. Kemudian melirik sekilas. “Aku mau pulang,”
“Loh, kenapa ? Tidak betah disini ?”
Arini menatap Tian penuh dengan mimik wajah yang bersungguh-sungguh. “Bagaimana mau betah ? dari kemarin aku tidak kemana-mana, tidak melihat apa-apa, tidak bertemu siapa-siapa.. aku bosan sayang, kamu bahkan melarangku untuk mendekati balkon..”
Tian terkekeh mendengar keluhan ceriwis itu. “Padahal aku sudah berusaha keras menyenangkanmu, tapi masih tidak betah juga..?”
Arini mendelik mendengarnya.
‘Apa katanya ? menyenangkan aku..? padahal justru dia yang menang banyak..! dasar tukang memutarbalikkan fakta !’
Gerutu Arini dalam hati.
“Hhhufhh.. apa mungkin itu artinya aku harus berusaha lebih keras lagi ya..?”
Lagaknya bergumam seolah bertanya pada diri sendiri tapi mendengar itu tak ayal Arini langsung meninju lengannya lagi membuat Tian tak bisa lagi menahan tawanya yang pecah begitu saja meskipun sepasang mata Arini seperti sudah mau keluar dari sarangnya..
.
.
.
.
.
Bersambung…
Like and Comment jangan lupa ya... Lophyuu.. ALL... 🤗😘