CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Trik menghilangkan amarah


Haii.. yang belum LIKE bab sebelumnya.. yuk, scroll atas lagi..😀


Terimakasih..😘


.


.


.


Sedih.. kesal.. marah.. kecewa..


Tentu saja !


Semua rasa tidak menyenangkan itu sudah bercampur aduk menjadi satu, terlebih saat melihat Tian bangkit meninggalkannya begitu saja. Setelah awal pernikahan terburuk yang mereka lewati semuanya serta merta membaik. Mereka tidak sekalipun berselisih paham dengan berarti, Tian tidak pernah marah seperti ini, apalagi pergi begitu saja dan meninggalkan dirinya tanpa kalimat berarti.


Kenapa ? sudah bosan padanya ? atau bosan mendengar semua rengekannya selama ini ?


Hati Arini sedikit tersentil. Apa mungkin justru dirinya sendiri sumber masalahnya ? apa karena dirinya yang tidak bisa memahami perasaan Tian ?


Sepertinya pemikiran terakhir inilah yang benar, karena selama ini Tian yang selalu menjadi kekuatannya.. menjaga raga dan jiwanya sedemikian rupa.. mengikuti semua kemauannya.. sementara lagi-lagi dia lupa melakukan hal yang sama.


Baiklah.. kali Arini mengakui bahwa dirinyalah yang bersalah. Tian telah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja asalkan Arini mempercayainya.. tapi yang ada ia selalu menambah persoalan dan membuat semuanya menjadi berat untuk Tian.


Tapi apapun kesalahannnya.. meninggalkan dirinya seperti ini apa pantas..?


‘Hhaihh.. aku tidak bisa menerimanya. Tian harus tau bahwa hatiku sakit sekali saat diacuhkan..!’


Berbekal rasa kesal karena tidak mendapat bujuk dan rayu seperti biasa, Arini nekad keluar dari ruangan Tian begitu saja, menyambar tas-nya yang tergeletak diatas meja dan melenggang menuju lift.


Butuh hiburan. Hanya itu yang ada dibenak Arini saat ini sambil mendekati lift.


Tepat didepan sana Arini melihat Meta juga sedang berdiri dengan resah didepan lift yang menjadi tujuannya. “Meta, mau kemana..?”  Arini menyapanya begitu tiba disisi Meta yang terlihat sedikit gelisah.


“Hari ini aku ijin pulang cepat, Rin. Adikku kecelakaan karena diserempet pick up. Ini aku mau ke rumah sakit melihat kondisinya..”


“Astagafirullahaladzim.. lalu keadaan adikmu bagaimana ?”


“Motornya nyaris hancur, tapi untungnya dia hanya mengalami luka ringan..”


“Ya ampun.. aku turut prihatin yah, Met..”


Meta menganguk tepat disaat lift terbuka. Mereka masuk kedalam dan lift mulai bergerak turun.


“Met, aku numpang sampai depan boleh tidak ?” Arini ingat bahwa Meta selalu membawa kendaraan pribadi saat kekantor, dan itu adalah alternative terbaik untuk membebaskan diri dari cctv dan orang-orang Tian yang berseliweran disekitarnya.


“Boleh saja. Memangnya kamu mau kemana, Rin ? bukannya si bos lagi rapat ?” Meta menautkan alisnya merasa heran.


“Iya, Met.. Tapi aku ada keperluan sebentar.. numpang nebeng yah..”


Dan dalam hati Arini sudah melonjak kegirangan begitu melihat anggukan Meta yang menggambarkan persetujuannya.


---


Arini turun dari sebuah ojek online tepat didepan lobby mall xx, mall terbesar di ibukota, dengan senyum kemenangan.


Tentu saja, karena ia tiba ditempat ini setelah terlebih dahulu mengecoh semua anak buah Tian yang bertugas untuk mengawasinya dengan keluar dari area basement kantor pusat menumpang mobil Meta, turun ditengah jalan tepat dijejeran ruko yang tidak seberapa jauh dari kantor.. dan terakhir memesan ojek online menuju lokasi mall xx.


Ia benar-benar memerlukan sebuah kata refreshing untuk menenangkan diri, dan untuk itulah Arini melakukan hal yang senekad ini. Keluar dari dunia Tian yang serba terkontrol dan terkoordinasi, mencoba menemukan kebebasan dirinya yang hilang sejak beberapa bulan terakhir ini.


Tapi saat ia baru saja merasakan hembusan kesejukan serta aroma mall yang khas Arini malah dikejutkan oleh sebuah suara yang sepertinya tidak asing..


“Arini..?”


Arini terperangah melihat siapa gerangan wanita yang berdiri dihadapannya dengan perut membuncit. “Eh..? bu Lila..?”


“Lila !” ralat Lila cepat.


“Oh iya.. Lila..”


“Sedang apa kamu disini ?” Lila menelisik dirinya seolah menaruh curiga yang tidak terkatakan.


Arini terdiam.


“Sendirian..?” tanya Lila lagi semakin terlihat curiga.


“Egh.. iya..”


“Benar-benar sendirian ?” Lila tiba-tiba sudah berbisik dengan suara nyaris tercekat.


Akhirnya Arini menganguk juga. “I-iya.. memangnya kenapa ?”


Lila terbelalak mendengarnya. “Astaga Arini.. kamu sudah gila ? berkeliaran dikeramaian begini seorang diri.. ? kalau Tian tau bagaimana..?”


Arini terhenyak.


‘Tian ? barusan Lila menyebut nama Tian, kan ?’


---


Saat ini Arini dan Lila, sudah berada disalah satu kedai kopi yang ada di mall xx. Kedai kopi yang identik dengan logo penyihir tersebut memang lumayan familiar.


“Aku juga sedang melarikan diri. Aku mengambil kesempatan karena aku tau hari ini Rico sangat sibuk dan akan bersama suamimu seharian ini..” berucap demikian sambil tak henti mengunyah red velvet roll dengan krim keju yang tebal dan dipenuhi taburan kacang dipinggiran kue. Tidak hanya itu, Lila bahkan memesan raisin oatmeal scones, lengkap dengan vanilla latte dan sebotol blended juice drinks, sementara Arini sendiri hanya memesan frappuccino green tea.


Yah.. Lila memang telah mengetahui segalanya, dan Arini sudah tidak bisa lagi menghindar. Pasrah saat mengetahui kenyataan bahwa sepasang suami istri itu bahkan sudah mengetahui perihal pernikahan rahasianya dengan Tian sejak lama.


“Setiap hari dia mengurungku dirumah tidak boleh ini dan itu.. aku benar-benar sudah seperti tahanan rumah..” Lila masih ngedumel panjang pendek, mengeluhkan semua sikap posesif Rico padanya sejak mengetahui dirinya hamil.


Arini hanya menatap wanita dihadapannya yang tidak berhenti mengunyah ini dan itu sejak tadi. Lila terlihat semakin cantik dengan pipi yang terlihat lebih gemoy. Pantas saja saat ini Lila terlihat lebih berisi, sepertinya masa ngidam yang tidak bisa makan dan mencium bau makanan apapun rupanya sudah terlewati, dan sekarang ia sepertinya bisa mengunyah dan menelan makanan apapun.


“Lalu bagaimana denganmu ? kalian bertengkar yah..?”


Meski canggung akhirnya Arini menganguk juga. Sepertinya ia juga butuh bercerita dengan seseorang.. menumpahkan sedikit perasaan kepada orang yang mengetahui keadaannya yang sebenarnya.. seperti Lila.


“Sebenarnya ini kesalahanku juga, aku yang membuatnya marah..” lirih Arini dengan wajah lesu.


“Sudahlah.. mari kita lupakan sejenak tingkah laku suami kita yang menyebalkan itu. Daripada sakit hati memikirkan mereka mendingan kita buat perhitungan..”


“Perhitungan ?  memangnya kamu akan melakukan apa jika sedang merasa sangat marah ?”


“Simple.. aku akan pergi berbelanja dan menghabiskan uang Rico !”


“Menghabiskan uang ?”


“Iya menghabiskan uang Rico dengan berbelanja..”


“Apa membeli sayur, ikan, dan sebagainya bisa menghilangkan rasa marah..”


Lila tertawa keras. “Arini, kamu ini polos sekali sih.. untuk apa membeli ikan dan sayuran ? bukan berbelanja seperti itu.” Kemudian Lila menatap Arini dengan serius. Siap mengajarkan trik ampuh menghilangkan amarah ala dirinya yang selalu bisa membuat Rico geleng-geleng kepala setelahnya. “Kalau aku sedang kesal, aku akan berbelanja sesuatu yang mahal yang akan membuatku merasa puas sehingga rasa kesalku menghilang..”


“Aku.. aku tidak berani..” Arini meringis. Meskipun sejak awal menikah Tian sudah membekalinya dengan dua buah kartu dan menambahkan sebuah kartu berwarna hitam lagi sekitar sebulan yang lalu, Arini tetap saja tidak pernah tertarik untuk membeli sesuatu yang tidak benar-benar ia perlukan. Lagipula semua yang ia butuhkan selalu tersedia.. apa lagi yang kurang ?


“Apa yang kamu takutkan ? Tenang saja, Rin.. suamimu itu punya banyak uang. Uangnya tidak akan habis meskipun kamu ngambek dan membeli barang mahal setiap hari..”


Arini terdiam sejenak, tapi setelah ingatannya kembali tertuju pada kejadian tadi dimana Tian terlihat marah sampai meninggalkannya begitu saja, mendadak sebuah pemikiran gila melintas dibenaknya. “Lila, sepertinya aku ingin membeli sesuatu yang bukan hanya bisa membuat aku puas dan rasa kesalku menghilang.. tapi aku ingin membalas Tian dengan membuatnya bertambah kesal.”


Lila terkesima mendengarnya. “Wah.. ternyata fikiranmu lebih bar bar dari diriku.. aakkh Arini, aku benar-benar suka padamu..” sambil terus menatap Arini dengan takjub.


Serentak Arini mengubek-ubek isi tasnya, mengeluarkan tiga buah kartu yang diberikan Tian dari dalam laci dompetnya dan menunjukkannya kepada Lila. “Lila.. dengan kartu-kartu ini kira-kira sesuatu yang sangat mahal seperti apa yang bisa aku beli ?” ujarnya dengan tampang blo’on.


Lila yang sedang membuka botol blended juice drinks dan meminumnya itu melirik Arini sekilas, namun sedetik kemudian ia tersedak..


Uhukk !


“Minum dulu..” Arini yang melihat Lila  tersedak refleks menyodorkan kembali botol blended juice drinks milik Lila, membuat Lila kembali meneguk minumannya itu.


Setelah merasa cukup lega, Lila melihat lagi sebuah kartu diantara ketiga kartu yang sedang dipegang Arini saat ini, memastikan bahwa ia tidak salah lihat dan mengenali sebuah kartu berwarna hitam pekat itu yang akhirnya ia yakini merupakan kartu Centurion American Express yang sering dikenal dengan sebutan black card, kartu pembayaran paling eksklusif yang hanya bisa dimiliki orang-orang tertentu diseluruh dunia, yang tentu saja dari kalangan yang benar-benar sultan.


“Sumpah demi apa.. Arini, kamu bahkan bisa membeli seluruh isi mall dengan menggunakan kartu ini..!” kali ini Lila benar-benar menatap Arini dengan takjub.


“Jangan becanda, La..”


“Siapa yang bercanda ? aku serius..!”


“Baiklah.. baiklah.. kalau begitu cepat berikan aku ide apa yang harus aku beli saat ini..” Arini mulai bersemangat, ia terlihat berfikir sejenak. “Sesuatu yang mahal dan bisa membuat Tian kesal.. tidak mungkin hanya membeli baju kan ?”


Lila mengangguk cepat. “Terlalu murah.. Bagaimana kalau perhiasan..? berlian yang mahal ?”


Arini berfikir sejenak. “Lumayan, tapi sepertinya kurang menantang..”


“Lalu apa ? masa iya mobil mewah..?” Lila tertawa terpingkal-pingkal saat mengatakannya.. tapi saat melihat Arini yang malah menatapnya dengan tatapan berbinar dahi Lila langsung berkerut. Serentak ia menggeleng berkali-kali.. “Tidak..tidak..”


Arini tersenyum kegirangan. “The right choice..”


“Arini, kalau kamu nekad melakukannya tolong jangan membawa namaku yah.. ” Lila berucap dengan wajah pias. Ia tidak bisa membayangkan kalau Arini membuat ulah karena dirinya.. dan Rico akan mendapat imbasnya, mengingat Rico saat ini sedang bersusah payah untuk membuat Tian terkesan lewat mega proyek yang dipercayakan kepada suaminya itu.


Arini tertawa keras saat melihat Lila tetap menggeleng, karena semakin Lila menggeleng entah kenapa hal itu malah menambah rasa nekad dan kepercayaan dirinya ...


.


.


.


.


Bersambung…


Yang sudah like bab ini dan bab sebelumnya, yang sudah meninggalkan jejak comment di bab ini dan bab sebelumnya, yang sudah memberi vote, yang sudah mengfavoritekan novel ini, yang sudah mengsubscribe profil author.. terima kasih tak terhingga.. 🤗🤗


Lophyuu my readers.. more and more.. 😘😘