
Yunita Wijaya mengambil sebutir obat asam lambung milik suaminya dan segelas air mineral.
Namun sebelum ia kembali ia memilih menelpon dokter Tio terlebih dahulu agar bisa datang ke hotel Mercy tempat mereka menginap saat ini untuk sekalian mengontrol kesehatan suaminya, karena sejak dulu dokter Tio memang merupakan dokter pribadi keluarga Wijaya.
Saat ia berbalik usai menaruh ponsel keatas meja sekaligus mengambil obat asam lambung yang ada disana, ia sangat terkejut dan semakin kesal saja ketika mendapati suaminya telah mempersilahkan wanita yang diam-diam telah dinikahi oleh putranya itu untuk masuk kedalam kamar, serta mempersilahkannya duduk di sofa mini yang ada di sudut kamar mereka yang luas.
Ia terlihat merenggut protes namun tetap mendahulukan melayani kebutuhan suaminya terlebih dahulu yakni menyerahkan sebutir obat disertai segelas air mineral.
Sementara itu, Meta yang meskipun berusaha duduk dengan tenang, namun karena ketegangan yang telah melandanya begitu rupa tiba-tiba saja ia mulai merasa pening dan agak mual.
Meta sungguh tidak menyangka bisa bertemu kedua orangtua Rico sekaligus dalam situasi seperti ini.
Sejak tadi dirinya sibuk memutar otak mengenai keberadaan kedua orangtua Rico di tanah air, sejak kapan mereka datang, dan mengapa mereka bahkan tidak memberitahu perihal kedatangan mereka kepada Rico.
Awalnya Meta sempat mencurigai bahwa bisa jadi Rico sengaja menyembunyikan kebenaran tentang kedatangan orangtuanya. Tapi mengingat akhir-akhir ini lelaki itu bahkan sedang kejar target demi bisa meluangkan waktu agar bisa mengunjungi kedua orangtuanya yang beberapa tahun terakhir ini memilih menetap diluar negeri itu, maka asumsinya gugur seketika.
Tidak. Saat ini Meta benar-benar yakin bahwa Rico pasti tidak tahu menahu dengan kedatangan Ayah dan Ibunya, begitupun dengan misi terselubung yang sedang diemban kedua orangtuanya saat ini.
Memikirkan semua itu membuat kepala Meta semakin terasa berat saja.
"Ayah, apa-apaan sih?" kalimat bernada kesal dari mulut Yunita Wijaya langsung menyapa gendang telinga Meta begitu melihat Ayah Rico telah menelan obatnya.
"Ibu duduk dulu.." bujuk Ahmad Wijaya sambil menepuk permukaan sofa yang ada disebelahnya.
Meta melihat meskipun Ibu Rico kelihatan judes dan suka mengomel, namun wanita itu tetap saja tunduk setiap kali Ayah Rico berucap dengan nada kalem namun tegas. Semua pemandangan didepan mata Meta itu diam-diam membuatnya salut dengan keharmonisannya.
"Kalau merenggut terus, kapan bisa bicara dengan baik-baik..?"
"Huhh..!" Yunita Wijaya yang meskipun terpaksa telah duduk disamping Ahmad Wijaya, terlihat membuang muka sambil memeluk dadanya dengan angkuh.
"Jadi kamu yang bernama Meta..?" sepasang mata tua milik Ahmad Wijaya kini menatapnya lekat.
"Iya Ayah.." Meta mengangguk takjim.
"Lalu.. sedang apa kamu dihotel ini..?"
"Aku baru saja menemani bos bertemu klien sekaligus meeting di co-working space hotel ini, Yah.."
Ahmad Wijaya mendadak menatap Meta sejurus. "Sebentar, bukannya kamu bekerja dengan Tian..?"
Meta mengangguk. "Iya, Ayah.. aku adalah sekretaris Pak Tian."
"Wah.. aku tidak tau kalau tadi Sebastian ada di co-working space juga. tau begitu aku menemuinya tadi.." Ayah Rico nampak bergumam, ada setitik penyesalan yang menghias diwajah tuanya, begitu menyadari bahwa tadi ia telah berada ditempat yang sama dengan Ceo Indotama Group tapi malah tidak menyadari kehadirannya.
Yah.. siapa yang tidak kenal Sebastian Putra Djenar..? bahkan seorang pebisnis senior sekelas Ahmad Wijaya saja terlihat sangat menghormati lelaki berusia tiga puluh empat tahun yang sering disapa Pak Tian itu. Pengaruh serta popularistas seorang Sebastian Putra Djenar memang tidak bisa diragukan lagi.
"Kalau Ayah ingin bertemu, aku bisa langsung mengaturnya.." kilah Meta kemudian saat melihat mertuanya yang termenung.
Dengan sigap Meta langsung mengeluarkan tablet khusus untuk menangani pekerjaan, dan langsung memasukkan nama Ahmad Wijaya kedalam Agenda Pak Tian pada besok hari.
Sebagai sekretaris pribadi Meta memang bisa melakukan perubahan langsung pada agenda kerja sang bos besar, dan itu biasa terjadi pada hal-hal yang bersifat urgent.
Mengingat Ahmad Wijaya merupakan Ayah Rico Chandra Wijaya sekaligus mertuanya, Meta yakin Pak Tian pasti tidak akan keberatan dan akan memahami mengapa dirinya memperlakukan Ahmad Wijaya dengan istimewa, karena memasukkan tambahan agenda yang dilakukan Meta saat ini, nantinya secara otomatis laporannya akan diterima juga oleh Pak Tian lewat ponselnya.
"Baiklah. Sore ini.. atau besok bagaimana..?"
"Sore ini tidak bisa, yah. Agenda penting Pak Tian khusus untuk mengantar istrinya check up ke dokter, tidak bisa diganggu gugat. Tapi aku sudah menambahkan agenda bertemu Pak Tian besok, khusus untuk Ayah.." ucap Meta sambil tersenyum sumringah, apalagi melihat Ayah mertuanya juga nampak senang dengan tindakannya yang cekatan.
"Oh, ya.. katamu tadi Sebastian mau mengantar istrinya ke dokter..?"
Meta mengangguk lagi, sambil kembali memasukkan tablet kedalam tasnya. "Iya, Ayah.."
"Memangnya istri Sebastian sakit apa..?"
Kali ini Meta menggeleng sambil tersenyum. "Ibu Arini tidak sakit, Yah, hanya check up kehamilan rutin.."
"Wah.. mau punya anak lagi..?" Ahmad Wijaya sedikit terkejut, kemudian memalingkan kepalanya kearah wanita yang duduk dengan wajah terlipat disampingnya. "Bu, Sean sudah mau punya adik lagi.. lalu Rei kapan yah..?"
Tentu saja mendengar celetukan yang tiba-tiba itu membuat Yunita Wijaya langsung melotot galak, sementara Meta hampir tersedak salivanya sendiri.. untung saja ia masih bisa menguasai dirinya sesegera mungkin.
Dengan wajah cemberut Yunita Wijaya berbalik menatap Meta dan suaminya berganti-ganti.
"Ayah, Ayah ini bicara apa..? apa Ayah sudah lupa apa yang sudah wanita ini lakukan pada Rico, juga pada saham Best Elektro..?!"
Mendengar itu rasanya tulang belulang Meta seolah terlepas satu persatu dari persendiannya.
Inilah yang Meta takutkan. Bahwa perbuatannya di masa lalu, yang terus menerus menentang ego Rico sehingga selalu meminta semuanya termasuk kepemilikan saham Best Elektro, pada akhirnya telah berdampak buruk pada penilaian orangtua Rico terhadap dirinya.
Ini bukan salah Ibu Rico, ini semua sepenuhnya kesalahannya semata. Kalau sudah seperti ini.. bahkan Meta pun bingung harus menjelaskannya darimana, bahwa dirinya sungguh tidak peduli dengan kepemilikan saham yang enggan Rico ambil kembali itu.
"Ibu.. Ayah.. aku minta maaf.." Meta terpekur, saat ini sepasang matanya telah bertelaga tanpa bisa lagi tercegah.
"Mudah sekali mengucapkan kata maaf.." ujar Yunita Wijaya seraya mencibir dengan cueknya.
"Ibu aku mohon, tolong jangan salah mengerti. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku bersungguh-sungguh, Bu.. aku tidak menginginkan apa-apa, kecuali Rei dan Rico saja.."
Yunita Wijaya malah tersenyum kecut mendengarnya. "Tuh, dengar Ayah.. katanya dia tidak mau apa-apa, tapi akhirnya malah mau Rei dan Rico sekaligus. Serakah sekali.."
"Ibu.." tegur Ahmad Wijaya, saat menyadari wajah Meta yang telah banjir air mata. Entah kenapa hatinya merasa sangat iba melihat pemandangan menantunya yang telah terisak lirih itu.
"Ayah, tolong jangan halangi Ibu. Biarkan Ibu mengatakan semuanya agar dia mengerti, betapa sakitnya hati Ibu saat anak yang selama ini begitu patuh dan sangat mendengarkan apapun kata Ibunya, tiba-tiba saja mengambil keputusan besar dengan melangkahi kedua orangtuanya..!"
"Ibu.. maaf.."
"Enak saja minta maaf. Sudah berhasil jadi istri Rico sekian lama.. baru sekarang kamu berfikir untuk minta maaf..?!"
"Ibu..!" Ahmad Wijaya akhirnya merasa harus kembali menegur istrinya, kali ini lebih tegas dari teguran yang pertama.
Ia sungguh tidak tega menyaksikan menantunya yang kini telah tersedu-sedu dihadapannya.
"Sebaiknya.. panggil Rico kesini dulu. Tidak adil kalau hanya Meta yang menerima kemarahanmu, sementara putra kita juga melakukan kesalahan yang sama..!" putus Ahmad Wijaya, kali ini dengan intonasi suara yang teramat sangat tegas.
.
.
.
Bersambung..
Like and Support jangan lupa.. 🤗
Thx and Loohyuuu all.. 😘