
Believe me..
Thx, karena saat aq pertama kali menulis pada Sesion 1, kalian telah melewati part awal yang membosankan dan sangat berantakan.. 🤗
di Sesion 2, bisakah aq diberi kesempatan lagi..? bertahan dalam beberapa part awal, yang sepertinya akan mengecewakan kalian lagi.. 😅
Aq, penulis yang benar-benar baru, CTIR adalah karya pertamaku. Aq tidak pernah menulis novel sebelumnya karena ini benar-benar pengalaman yang pertama.. 🥺
Alur sesion 2 sudah ada, tinggal menulisnya yang belum.. 😅. Alurnya menurutku bagus. Semoga tidak receh2 amat, beda, dan aq jamin ori seperti halnya sesion 1, yang meskipun hanya karya yang biasa saja, tapi semoga tetap berbeda, dari karya dan bahkan maha karya yang lain.. 🥰
So.. jika nanti sesion 2 ini ternyata tidak sebagus alur yang sudah aq buat, itu artinya kesalahan ada pada tingkat kemampuanku sebagai author untuk menuangkannya kedalam tulisan.. hehhehe.. 🤪 (Sorry..)., 🙏
Jangan kecewa diawal dulu yah, karena setelah part dibawah ini, bisa jadi kalian akan semakin kesal. Tapi mohon percayakan alurnya kepada author kentang ini..pliss.. 🙏
.
.
.
“Bagaimana kabarmu, Met.. rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu..”
“Alhamdulillah baik, Rin..”
Mereka bercipika-cipiki sebentar sebelum akhirnya menghempaskan tubuh masing-masing keatas kursi. Wajah Arini berbinar-binar saat melihat kehadiran Meta yang telah duduk manis dihadapannya.
Sore ini seusai jam kantor mereka memang janjian untuk bertemu disalah satu café yang berlokasi di pusat kota. Meskipun Arini dan Meta sering sekali saling bertukar kabar lewat telepon, chat dan video call.. namun ini kali pertama mereka bisa bertatap muka kembali setelah terakhir mereka bertemu di rumah sakit Indotama Medical Centre saat Meta menjenguk Arini yang keguguran usai pemakaman Saraswati Djenar kira-kira empat bulan yang lalu.
“Kabarmu sendiri bagaimana, Rin..? sehat kan..?”
Arini menganguk. “Iya, Met.. Alhamdulillah..”
Kehadiran pelayan yang membawa daftar menu mengusik pembicaraan mereka sejenak membuat mereka berdua sibuk memilih menu yang ada agar bisa dicatat oleh pelayan wanita tersebut.
“Met.. gimana kerjaan kamu ? gak terasa dua tahun lebih sudah berlalu.. betah gak jadi sekretaris Tian ?”
“Betah lah, Rin.. bagaimana gak betah kalau gajinya saja segede itu..” Meta meringis kecil kearah Arini yang
malah tersenyum aneh.
“Bukannya betah karena sering ketemu asisten Tian ?” goda Arini membuat mata Meta sontak melotot.
“Rudi ?”
“Siapa lagi ?”
“Ishh.. apaan sih.. enggak lah..” Meta tidak bisa menyembunyikan semburat yang tiba-tiba sudah menghiasi kedua pipinya saat ingatannya terbentur pada sosok tinggi tegap Rudi yang selalu dikagumi sekaligus dihormati oleh siaapun yang mengenalnya.
Sikap Rudi yang sopan dan ramah kepada siapa saja, namun begitu gesit dan bisa diandalkan dalam setiap pekerjaan dan tanggung jawabnya merupakan perpaduan yang sangat sempurna. Rudi merupakan orang kepercayaan Ceo Indotama Group, sementara semua orang tau bahwa menjadi orang kepercayaan Sebastian Putra Djenar bukanlah hal yang mudah.. namun sejauh ini lelaki itu sanggup membuktikan seberapa pantas dirinya untuk berada di level tersebut.
Mendengar sanggahan itu Arini malah mencibir. “Sudah dua tahun lebih belum ada kemajuan juga.. payahh.. Ganteng doang.. nembaknya kagak..!” Arini malah semakin menggoda dengan nada ikut-ikutan jargon kekinian.
Meta melotot. “Jangan ngadi-ngadi..!”
“Lha.. bener kan..? calon mertua aja sudah jatuh cinta setengah mati.. tapi sayang.. anak gadisnya belum di..”
“Arini, stoped it..” Meta menatap Arini yang sedang terkikik dengan tatapan memohon mendengar godaan yang semakin gencar itu, kedua pipinya tak bisa tercegah untuk semakin memerah. Ia tidak perlu menanyakan bagaimana Arini bisa mengetahui sesuka apa ibu nya pada Rudi karena untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi diatas muka bumi ini sepertinya akan menjadi hal yang mudah mengingat status Arini.
Dan semua informasi yang didapat Arini itu tentu sangat valid, karena ibu bahkan sangat mengidolakan Rudi dan sudah berharap setinggi langit bisa menjadikan Rudi menantunya.
Kedekatan mereka bermula sejak kecelakaan adik Meta yang diserempet minibus beberapa bulan yang lalu membuat Meta terpaksa harus menjual mobil dengan merk sejuta umat miliknya itu guna membiayai biaya fisioterapi dislokasi sang adik pasca kecelakaan. Hal itu mebuat Meta akhirnya harus menggunakan ojek untuk pergi dan pulang kantor, sampai suatu ketika saat Meta lembur karena setumpuk pekerjaan yang menekati deadline, pak Tian menyuruh Rudi untuk mengantar Meta pulang kerumah karena hari sudah larut malam. Sejak saat itu mereka semakin dekat, dan saat ini Rudi sudah terhitung sering mengantar jemput dirinya pergi dan pulang kantor, jika bertepatan tidak sedang bersama pak Tian.
Lelaki itu juga sering meminta restu ibu saat mengajaknya jalan meskipun hanya sekedar makan diluar di saat
mendapatkan waktu luang karena kesibukan Rudi yang tingkat tinggi membuat ia bahkan memiliki kesibukan yang setara dengan Pak Tian.
“Dih.. malah melamun..” tegur Arini seraya tergelak.
Meta semakin merenggut, lebih-lebih saat menyadari bahwa Arini sepertinya bisa membaca dengan jelas isi benaknya yang sedang membayangkan sosok Rudi yang diam-diam memang dikaguminya itu. Tapi sesaat kemudian, saat Meta teringat sesuatu ia kemudian menatap Arini dengan serius.
“Oh ya Rin.. ngomong-ngomong tidak lama lagi posisiku sebagai sekretaris dalam waktu dekat ini akan tergantikan..”
Mendengar itu tawa Arini sontak terhenti begitu saja. “Hah..? sama siapa..?”
“Laras..”
“Laras..? kok bisa..?” alis Arini bertaut, sedikit terhenyak.
“Iya, pak Tian bahkan sudah memanggilku secara khusus mengenai hal ini.”
“Tapi kenapa ? Tian malah belum mengatakan apa-apa kalau Laras akan menggantikan kamu..”
“Tidak apa-apa, Rin.. aku juga sudah dua tahun menjadi sekretaris.. butuh penyegaran juga..”
“Meskipun yang menggantikan dirimu adalah Laras, tapi aku akan tetap menanyakannya pada Tian..”
Meta terdiam mendengarnya, tepat disaat yang sama pelayan yang tadi datang membawakan pesanan mereka. Arini memperhatikan gerak-gerik sang pelayan yang dengan gesit saat menaruh dua buah banana sweet nachos beserta dua cangkir hot tea dengan varian chamomile sesuai pesanan mereka keatas meja, sementara Meta malah memperhatikan Arini dengan seksama.
“Rin.. apa Laras masih tinggal dirumahmu ?” Meta tidak bisa tidak untuk tidak bertanya. Meskipun ia mati-matian tidak ingin menyinggungnya, terlebih mengingat betapa seringnya Rudi yang selalu mewanti-wanti dirinya mengenai hal itu, namun Meta juga tidak bisa menahan dorongan yang ada dihatinya.
Entahlah.. ia merasa tidak adil jika hanya berdiam diri dan membiarkan Arini tidak mendapat petunjuk apapun, meski disisi lain ia tau bahwa dengan Rudi sudah mengatakan akan semaksimal mungkin menanganinya, secara tidak langsung itu juga pasti merupakan hal yang dilakukan pak Tian juga, karena tindakan Rudi pastinya merupakan cerminan dari tindakan dan keinginan sang bos besar.
“Iya.. memangnya ada apa, Met ?” berucap demikian sambil melempar senyum kepada pelayan yang memohon diri karena telah selesai melakukan tugasnya.
“Bukannya dia sudah punya rumah mewah yang diwariskan almarhumah nenek Saraswati ?”
“Tapi buktinya ini sudah empat bulan berlalu. Kenapa belum pindah juga ? lama banget move on nya..” Meta
mencibir kesal membuat Arini tertawa.
“Kamu ini kenapa sih ? lagian gak apa-apalah, Laras juga anaknya dieman kok. Gak merepotkan juga selama ini..” kemudian ia menatap Meta sembari berucap. “Makan dulu.. kelamaan dianggurin makanannya..”
Masih dengan berat hati akhirnya Meta mengikuti juga gerakan Arini untuk mencomot banana sweet nachos miliknya, meskipun sesungguhnya dalam hati ia merasa gemes sendiri melihat Arini yang masih juga membela Laras, rubah kecil yang semakin hari semakin menampakkan wujud aslinya.
Wajar saja Arini tidak pernah merasa terancam. Selama ini Laras memang terlihat cukup pintar mengendalikan
situasi saat berada dihadapan Arini dengan bertingkah polos dengan sifatnya yang memang sedikit pendiam. Tapi Meta berani bersumpah bahwa wanita itu jauh lebih licik dari apa yang ia tampilkan selama ini karena buktinya ia bisa menipu Arini sekian lama dengan mudahnya yang terus bersikap baik dan tidak terusik, padahal dibelakang semua sandiwaranya itu pak Tian sering dibuat repot dengan ulah rubah licik itu.. yang seolah tak mengenal kata menyerah dalam mencari kesempatan untuk bisa mendekati pak Tian yang bahkan sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
“Rin.. menurutku, tidak baik kalau Laras mengikutimu dan pak Tian terus menerus. Lagian.. nenek kan sudah mewariskan usaha yang bisa ia kelola sendiri dengan mandiri.. untuk apa memilih bekerja dan menjadi sekretaris ?”
Arini tersenyum. “Mungkin Laras butuh waktu. Dia juga sudah mengatakannya padaku sejak awal bahwa kelak ia akan resign dan fokus mengurus bisinis yang telah diwariskan nenek padanya..”
“Tapi Rin..”
Meta yang berniat hendak protes tersebut urung manakala mendengar suara ponsel Arini yang berdering. Arini yang hanya dengan mendengar nada dering tersebut sudah tau persis siapa gerangan si penelpon tanpa membuang waktu lebih lama langsung menekan icon hijau tanda menerima panggilan dengan wajah yang sumringah.
“Halo sayang.. ada apa ?” berucap riang.
“Sayang.. kamu ada dimana ?” suara Tian terdengar kalut membuat alis Arini sontak bertaut.
“Aku ada di café besama Meta. Ada apa sayang..? kenapa suaramu seperti itu ?” bertanya dengan nada curiga campur was-was, terlebih saat telinga Arini bisa menangkap sayup-sayup suara tangisan dibelakang Tian yang membuat jantung Arini semakin berdetak tak karuan.
Tidak ada jawaban.. hanya helaan nafas berat yang teramat gundah yang bisa ditangkap Arini.
“Sayang.. kenapa diam ? ada apa ? kamu dimana sekarang..?” bertanya beruntun dengan perasaan yang semakin tidak enak, bahkan wajah Meta yang sedang duduk di hadapannya ikut menegang saat menyimak pembicaraan Arini dengan Tian.
“Aku.. masih berada di Indotama Medical Center..” Tian menyebut nama rumah sakit swasta milik Indotama Group. “Kamu pergilah kerumah Rico sekarang.. dan tunggulah aku disana..”
“Untuk apa kamu berada dirumah sakit, sayang ? dan kenapa aku harus menunggumu dirumah Rico..? memangnya siapa yang sakit ? apa yang terjadi ?” pertanyaan Arini semakin belepotan tak tentu arah. Tak bisa dipungkiri bahwa kali ini dirinya benar-benar mulai panik.
“Lila..” Tian berucap dengan nada suaranya yang bergetar.
“Lila ? Lila kenapa..?”
“Sayang, berjanjilah.. tolong kuatkan hatimu..”
“Aku berjanji. Tapi ada apa ?” pungkas Arini lagi secepat kilat, benar-benar merasa kesabarannya sudah berada
diujung tanduk.
Tian terdengar menarik nafasnya dengan berat, sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat dunia Arini
seketika terasa ingin runtuh seketika. “Barusan Lila mengalami kecelakaan..”
Ponsel yang ada ditangan Arini hampir saja terlepas dari genggaman. Arini menggeleng berkali-kali.. “Tidak..
ini tidak mungkin.. tidak TUHAN.. jangan lagi..” bergumam sambil berharap bahwa telinganya sedang salah mendengar.
“Ini kenyataan sayang.. Lila meninggal.. dalam perjalanan menuju rumah sakit..”
“Innalillahi wa innailaihi rojiun..“ Arini sudah tersedu tanpa bisa tercegah.
“Mobil Lila diserempet mobil saat akan pulang kerumah, dan nyawa Lila tidak tertolong. Lila menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju rumah sakit.. dan saat ini aku masih berada dirumah sakit untuk mengurus semuanya, Rico tidak bisa melakukan apa-apa karena dia masih sangat terpukul..”
Sepasang mata Arini telah mengabur dibanjiri air mata. Bahkan setelah Tian menutup pembicaraan Arini
masih tidak bisa berfikir apapun. Sekelebat bayangan Lila yang sedang tersenyum dengan lesung khas yang ada didagunya serentak melintas dibenaknya.
‘Ya TUHAN.. cobaan apa lagi ini..?’
Arini berteriak dalam hati, menyadari mendung duka yang lagi-lagi kembali. Semakin merasa tak kuasa menahan kesedihan manakala seraut wajah Rico melintas dibenaknya, terlebih wajah si kecil Rei yang datang silih berganti memenuhi benaknya yang telah begitu pedih. Membayangkan anak sekecil Rei yang telah kehilangan mommynya dengan begitu cepat.. sungguh naluri keibuan Arini tak pernah sanggup membayangkannya.
“Rin.. bu Lila kenapa, Rin..?” Meta yang masih ada dihadapannya bertanya untuk memastikan.
“Lila meninggal, Meta.. mobilnya diserempet mobil barusan..”
“Innalillahi wa innailaihi rojiun..” Meta terhenyak seraya menutup mulutnya nyaris tak percaya dengan apa
yang barusan ia dengar dari mulut Arini.
“Aku akan pergi ke rumah mereka, Met.. jenazah Lila akan segera dibawah pulang dari Indotama Medical Centre..” seraya meraih tasnya yang ada diatas meja dengan tangan bergetar.
“Aku akan ikut denganmu, Rin..” putus Meta yang serta merta juga meraih tas nya yang ada diatas meja.
“Baiklah, ayo kita kesana secepatnya..”
Dengan gerakan sedikit tergesa mereka bangkit meningalkan café tersebut dengan langkah yang juga tergesa namun gamang. Dikedua bola mata mereka terlihat guliran bening yang seolah tidak akan pernah bisa usai…
.
.
.
.
Bersambung..
Maaf.. masih bisa minta Like, Vote, Comment seperti biasa gak sih, kesayangan author yang kece-kece badaiiyy..? 😅😅😅