CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 063


Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


.


.


.


Rico memejamkan matanya saat menyandarkan tubuhnya pada dinding kolam renang usai berenang bolak-balik dari ujung ke ujung kolam renang lainnya hingga beberapa kali. Mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bahkan nafasnya saja masih ngos-ngosan setelah berenang nonstop.


Mungkin tubuhnya memang lelah, tapi sejujurnya Rico merasa hatinya berkali-kali lipat lebih lelah. Hampir seminggu yang terlewat, tanpa terasa hal itu merupakan sebuah fase terberat dalam hidup Rico. Disisi lain Rico harus benar-benar menyenangkan hati ibu yang terus meminta keputusannya, sementara disisi lain juga, Rei selalu menanyakan keberadaan mommy-nya setiap hari tanpa absen sedikitpun.


“Daddy kapan mommy sembuh ?”


“Daddy kapan mommy pulang..?”


“Daddy.. Lei kangen mommy..”


Pertanyaan yang sama yang terlontar dari mulut mungil Rei terus mengejar Rico setiap pagi, saat bocah itu terbangun dan menyadari lagi-lagi Meta tidak menemuinya hingga ia tertidur melewati mimpi.


Rico tau Rei bahkan telah membuat kesulitan tersendiri untuk ibu dan ibu mertuanya. Rei tidak bisa diajak bekerja sama begitu saja saat mereka menginginkan menggantikan peran Meta dengan kehadiran Shela.


Bahkan saat ibu membuat skenario yang telah membohongi Rei sejak awal bahwa Meta sedang sakit, dan tidak bisa datang menemui Rei sebelum sembuh, pada kenyataannya tidak semudah itu merampas ingatan Rei akan kehadiran Meta.


Sementara Meta ?


Rico tertsemyum kecut. Wanita itu bahkan sepertinya bisa melalui harinya dengan begitu santai tanpa beban. Tidak seperti dirinya yang terkurung dengan segudang persoalan saat harus menghadapi Rei, menghadapi ibu dan ibu mertuanya, belum lagi menghadapi godaan Shela setiap ada kesempatan.


Meta tidak berusaha menghubunginya meskipun hanya untuk berbasa-basi menanyakan keadaan Rei, dan Meta juga terlihat bersemangat menjalani rutinitasnya sehari-hari, tenggelam dalam kesibukannya setelah kembali resmi menjadi sekretaris Tian lagi.


Bahkan sehari berselang setelah Rico mengantarkannya ke apartemen, besoknya Dani yang merupakan asisten Rico di best electro telah memperlihatkan berbagai postingan media sosial wanita itu yang tengah bersenang-senang disebuah pusat perbelanjan bersama Arini dengan wajah yang dipenuhi keceriaan, yang dilanjutkan dengan menghabiskan waktu dengan perawatan salon kecantikan yang berkelas.


‘Dasar wanita pencinta uang..!’


Rico tidak bisa lagi mencegah hatinya untuk mengumpat, menyadari hanya uangnya saja yang bisa membuat Meta tertarik. Selain uang.. bahkan Rei pun seolah tidak berarti bagi wanita itu ! cihh !!


Hari ini ibu akan kembali ke New York. Kondisi asam lambung ayah yang memburuk membuat ibu mau tidak mau harus meninggalkan sebuah pe-er besar untuknya.


“Anggap saja ibu memberimu waktu. Tolong pergunakan dengan baik, Co.. jangan mengecewakan ibu.”


Kalimat ibu tadi pagi kembali memenuhi benaknya saat menunggu mang Udin selesai menyiapkan mobil yang akan dipakai untuk mengantarkan ibu dan ibu mertuanya ke bandara.


Saat itu Rico memilih membisu, enggan mengatakan sesuatu yang bisa mengecewakan ibu, disisi lain ia juga tidak ingin memberi harapan.


“Co, ibu titip Shela disini yah.. ibu juga akan menunggu keputusanmu secepatnya..”


Kali ini suara ibu mertuanya yang semakin menambah beban fikiran Rico. Harus diakui kehadiran Shela cukup mampu membantunya mengalihkan dunia Rei. Shela menyukai Rei, wajar saja.. karena Rei notabene adalah keponakannya juga, bukan orang lain untuk Shela. Tapi semua itu bukan berarti persoalan Rico selesai begitu saja..


“Kak.. tanding yuk..


Rico tersentak mendengar kalimat ajakan yang terucap syahdu, terasa begitu dekat dengan dirinya. Dan benar saja.. karena begitu matanya terbuka, Rico langsung bisa melihat sosok Shela dihadapannya, berada didalam sejuknya air kolam entah sejak kapan, lengkap dengan bikini model string triangle berwarna hijau tosca yang mengekspos tubuh bagian atasnya dengan sempurna.


“Tapi aku pakai freestyle*), kak Rico pakai butterfly stroke*), biar imbang..”


Rico menelan ludahnya saat mengalihkan fokus pandangannya yang dengan refleks mengarah pada satu titik temu yang terhimpit oleh dua belahan yang ukurannya terlihat sangat pas untuk seleranya.


“Kenapa diam..? takut yah..?” Shela kembali berucap kali ini dengan tawa renyah. Wanita itu bergerak gemulai menempatkan dirinya di posisi start.


Rico tertawa kecil mendengarnya. “Bukannya takut, tapi aku sudah selesai. Ada pekerjaan yang harus aku..”


“Bilang saja takut..” ejek Shela lagi sengaja menggoda Rico dengan sikapnya yang manja. “Ayo, kak.. sekali saja, siapa yang duluan sampai di ujung dia pemenangnya.”


“Pemenangnya dapat apa..?” Rico mulai terpancing.


“Yang menang bisa meminta satu permintaan, apa saja.. yang kalah harus menurut.”


“Baiklah.”


“Kak Rico mau minta apa kalau nanti menang..?”


“One kiss..”


Rico melotot mendengar ungkapan tanpa canggung itu. Tapi detik berikutnya ia memilih tidak mengindahkan kalimat konyol Shela. Lagipula Rico bisa menjamin bahwa wanita itu tidak akan mungkin menang darinya sekalipun ia harus menggunakan gaya renang butterfly stroke.


“Deal yah kak..” Shela kembali berucap saat menyadari Rico yang tidak kunjung menanggapi kalimatnya.


“Let’s do it,”


Senyum Shela terkembang sempurna. “Oke.. dalam hitungan mundur,” ujarnya sambil mengambil ancang-ancang, sementara Rico terlihat lebih santai. “Three.. two.. one..!”


Rico berenang dengan santai, namun tetap saja ia bisa mengimbangi Shela yang terlihat tengah mengerahkan semua kemampuan terbaiknya demi untuk mengimbangi laju pergerakan Rico yang bahkan mulai terlihat berjarak dengannya.


Rico tidak pernah tau bahwa Shela sudah merencanakannya dengan matang. Sehingga tepat pada akhir kompetisi yang tinggal menyisakan beberapa meter Shela berpura-pura mengalami kram.


“Kak.. kak Rico.. tolong.. aku kram..” Shela terlihat megap-megap dia air.


Melihat pemandangan itu Rico yang terkejut refleks berbalik arah, berenang dengan cepat untuk menjangkau tubuh Shela yang terlihat panik dengan kepala yang timbul tenggelam di permukaan air kolam.


Tepat disaat Rico berhasil menguasai tubuh Shela yang kemudian telah bergayut mengalungkan kedua lengannya dileher Rico, dengan  gerakan secepat kilat wanita itu menundukkan wajahnya, menempelkan bibirnya begitu saja kebibir Rico yang awalnya tidak menyangka sama sekali akan dihadiahi kejutan yang membuat jantungnya berdegup liar, terbuai dalam beberapa saat sebelum alarm dari akal sehat menyadarkan dirinya untuk melepaskan diri dari kenikmatan yang menyesatkan.


Shela tidak bersikeras saat Rico telah menjauhkan diri dari jangkauannya. Lelaki itu nampak masih betah mematung dengan tatapan yang dipenuhi dengan rasa terkejut.


“Yeayy.. aku menang..”


Rico terdiam menyaksikan kebahagiaan Shela. Ia menelan ludah.


Sesaat setelah Shela menipunya, entah kenapa benak Rico malah membayangkan sesuatu. Bibir lembut Shela yang membuai membuat Rico teringat akan hal yang lebih memabukkan dari semua itu. Sebuah kelembutan yang terasa kaku, perpaduan antara penolakan dan rasa mendamba yang berbaur dengan begitu kontras. Kelembutan yang telah ia kecap habis-habisan dari si empunya yang terlihat sangat membenci, namun justru membuat Rico semakin ingin dibenci, asalkan bisa terus merasakan rasa manis yang tidak pernah ia temukan sebelumnya dari segudang wanita yang pernah ia rasakan kelembutannya.


Rico menggigir bibirnya sebentar, seolah ingin mengusir lamunannya yang mulai terasa menggila, saat membayangkan kejadian mendebarkan didalam mobilnya beberapa hari yang lalu, dimana Meta terlihat terengah-engah menerima long kiss darinya yang seolah tak pernah puas.


Rico akhirnya memutuskan berenang kepinggir dan naik keatas.


“Egh, kak Rico mau kemana ? kak tunggu dulu..” Shela tercengeng mendapati Rico yang memilih berlalu, padahal sebelumnya ia telah membayangkan hal yang mendebarkan saat melihat seraut wajah Rico yang tiba-tiba bergairah.


“Aku harus pergi. Kamu sudah mendapatkan hadiahmu kan..?” Rico hanya menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali beranjak dari tepian kolam renang.


Mendengar kalimat Rico, Shela tersenyum, dan terus tersenyum.. meskipun punggung Rico telah menjauh dan kemudian menghilang dari pandangannya, namun hatinya tetap dipenuhi kelopak bunga yang bermekaran, saat menyadari ia telah berhasil merasakan manisnya hadiah yang ia peroleh.. hasil dari kecurangannya menipu lelaki setampan dan semapan Rico Chandra Wijaya.


.


.


.


Bersambung..


*Freestyle*) \= Berenang dengan gaya bebas*


Butterfly stroke) \= Berenang dengan**


gaya kupu-kupu***


Author kasih DOUBLE UP nih.. tapi bantu author juga untuk memperbaiki rating yang turun yah.. biar hasilnya kembali sempurna, berikan 5 bintang.. gratis kok.. 🤗




Favoritekan novel ini,


like dan comment setiap bab-nya, dan


berikan hadiah serta vote yang banyak yah.. 🙏


Thx and Lophyuu all.. 😘