CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 086


Jangan lupa di like semua bab yang sudah dibaca tapi lupa di-like yah..🤗


.


.


.


Entah ini sudah kali ke berapa Meta melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


Jarum jam tangan Meta sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua belas siang, dan Meta gelisah bukan karena apa-apa, melainkan karena dirinya harus menuruti keinginan Rico untuk membawa makan siang ke kantor Rico. Namun yang ada sampai detik ini, jangankan order makanan, Meta bahkan masih belum bisa beranjak dari meeting room.


Meeting singkat tentang pelaksanaan launching produk SWD Fashion pada besok hari sebenarnya sudah berakhir. Tapi karena Tian masih betah berlama-lama menguliti satu persatu sample produk yang terdapat dalam katalog yang dibawa oleh Laras tadi pagi maka dengan sendirinya tidak ada satupun orang yang berani beranjak terlebih dahulu.


Jangankan Meta yang hanya seorang sekretaris Tian.. Laras yang terkenal manja dan seenaknya saja tidak berani bangkit dari kursinya dan memilih menunggu dengan tenang sambil sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan Tian mengenai isi katalog yang ada ditangannya.


Konsentrasi Tian yang masih betah berlama-lama menatap kagum pada isi katalog tersebut lembar demi lembar mendadak pecah begitu saja begitu ponsel lelaki itu berbunyi.


Tian merogoh benda yang berdering itu, dan nama Rico Chandra Wijaya tertera dengan jelas dilayar ponselnya.


"Halo, Co.. ada apa ?" ujar Tian yang langsung memutuskan untuk menerima panggilan itu begitu tau siapa yang menelponnya.


Meta yang berada dikursi belakang, tidak seberapa jauh dari Tian sontak sedikit terhenyak mendengar kalimat Tian tersebut.


'Apakah itu pak Rico..?'


Bathin Meta menduga-duga. Konsentrasi Meta dan beberapa orang yang ada di meeting room itu mendadak terusik begitu mendengar tawa Ceo indotama group itu yang tiba-tiba sudah memecah dengan renyah memenuhi ruangan.


"Dasar modus.. aku kan sudah bilang sejak awal, bahwa kamu yang akan menangani proyek itu. Lalu untuk apa bersusah payah menghubungiku dan terus menanyakannya..?"


Yang sedang dibicarakan Tian adalah tak lain sebuah proyek pembangunan real estate di area pesisir yang rencananya akan dilakukan indotama group dengan kembali bekerja sama dengan perusahaan pengembang milik sahabatnya itu.


Tian sudah menaruh katalog yang ada ditangannya keatas meja, kemudian lelaki itu nampak berdiri dari kursinya hendak beranjak, membuat mereka semua yang berada diruangan tersebut ikut berdiri dari kursi masing-masing.


Tian menatap Laras, mengisyaratkan untuk menyudahi meeting itu begitu saja, yang disambut anggukan mengerti dari Laras, kemudian ganti melirik Meta sejenak sebelum beranjak keluar dari ruangannya.


Lirikan yang datar, hanya sekitar dua detik namun cukup membuat keringat dingin Meta merebak.


Entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa saat ini pembicaraan pak Tian yang masih berlangsung itu bukan hanya sekedar membicarakan pekerjaan. Itu mungkin hanya awalnya saja sebelum akhirnya telah berganti topik menjadi.. dirinya..? entahlah..


"Cih.. aku tidak percaya kalau ternyata sekarang kamu hanya sedang mencari alasan. Intinya untuk hari ini tidak bisa, Co. Aku sangat sibuk.. dan kami semua sedang berpacu dengan waktu.."


Entah apa yang mereka bicarakan, namun yang jelas kalimat penolakan Tian kembali terdengar sebelum lelaki itu menghilang dibingkai pintu diikuti Rudi.


Meta serentak berdiri, membereskan beberapa dokumen yang tertinggal di meja bekas diduduki Tian, sementara Laras terlihat mengambil alih untuk menutup meeting di siang itu.


XXXXX


Meta tersentak begitu ia mendongak dan mendapati sosok yang senantiasa hadir mengusik hatinya setiap saat telah berdiri tegak tepat didepan mejanya.


'Pak Rico..?'


Tidak seperti dirinya yang mendadak gugup seperti abg yang tidak sengaja bertemu gebetannya, sebaliknya Rico malah terlihat jauh lebih santai.


'Tumben bertanya.. biasanya kalau datang main nyelonong saja..'


"I-iya pak.."


"Apa aku boleh masuk ?" tanya Rico lagi.


'Apa lagi ini..?'


Meta mendengus dalam hati, karena setiap kali mendatangi Tian tidak sekalipun Rico menganggap dirinya ada.


Mungkin dimata Rico, Meta seolah tak lebih dari seekor kambing congek sehingga dia akan masuk begitu saja ke ruangan Tian tanpa sedikit pun merasa perlu untuk meminta ijin terlebih dahulu.


Selama ini Meta memang selalu luput dari perhatian Rico. Beda cerita kalau Rico berhadapan dengan karyawan-karyawan yang cantik dan seksi lainnya, sementara sayangnya Meta memang tidak pernah masuk kedalam dua kategori tersebut.


Rico tidak pernah sekali pun menganggap keberadaan Meta yang sebenarnya telah sekian lama terus berseliweran didekat lelaki itu. Jadi tidak heran jika hari ini Meta merasa aneh, mengapa sekarang untuk masuk ruangan Tian saja, Rico malah meminta persetujuannya terlebih dahulu..?


Meta tidak percaya kalau kejadian semalam mampu membuat Rico menyukainya begitu saja. Imposible.. bisa jadi dirinya hanya diperalat sebagai pelampiasan, dan lelaki ini akan terus bersikap baik sebelum dirinya merasa bosan.


Huhhf.. miris sekali..


"S-sebenarnya kalau belum membuat janji terlebih dahulu, maka tidak boleh ada tamu yang bisa menemui pak Tian.." kalimat Meta terdengar kikuk, namun Meta tetap berusaha menjawab meskipun belum sempat Meta menyelesaikan kalimatnya, Rico sudah memotong penjelasan formilnya dengan lugas.


"Baiklah.. kalau begitu aku langsung masuk saja.." pungkas Rico dengan senyum smirk-nya yang akhirnya merasa tidak sabar sendiri dengan keputusannya yang sengaja berbasa-basi dengan Meta, yang notabene merupakan sekretaris Tian di kantor pusat.


Pada akhirnya Rico langsung berbalik dan melenggang santai menuju ruangan Tian sambil tak lupa terlebih dahulu menggoda Meta dengan mengedipkan sebelah matanya.


Meta yang tidak menyangka akan mendapati perlakuan genit tersebut serentak terhenyak. Ia tidak menyangka akhirnya ia bisa menerima kebiasaan khas Rico setelah selama ini hanya menonton bagaimana lelaki itu melakukan hal yang sama pada semua wanita yang ia jumpai dengan dua kriteria mutlak yang Meta sebutkan tadi yaitu cantik dan sexy.


Detik berikutnya Meta memilih mencebikkan bibirnya dua centi begitu melihat sosok jangkung itu telah melenggang acuh kedalam ruangan Ceo.


'Cih.. apa itu tadi ? dasar ganjen..'


Meskipun kelakuan Rico tak urung membuatnya berdebar namun Meta memilih tidak terlalu terbawa perasaan ge-er.


Apapun itu, yang jelas saat ini Meta bisa menarik nafas lega.


Kehadiran Rico yang mendekati jam istirahat siang di kantor pusat sangat melegakan Meta, karena itu tandanya, dihari yang super sibuk ini, Meta tidak perlu ke kantor lelaki itu hanya untuk memenuhi permintaan konyol Rico yang mengharuskannya membawa makan siang, ke kantor best electro setiap hari.. selama satu bulan penuh.


.


.


.


Bersambung..


Jangan lupa di support yah.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘