
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Pagi itu sangat cerah, secerah sinar mentari yang menerobos lewat celah tirai.. secerah sinar diwajah kedua manusia yang tengah bersiap menjalani aktifitas pekerjaan yang telah menanti..
Laras masih mematut dirinya didepan cermin seraya memandangi penampilan dirinya disana berkali-kali. Lewat pantulan cermin itu juga sudut matanya menangkap bayangan Rudi yang berada didekat jendela, yang terlihat sedikit kesulitan saat harus mengancingkan kenop di pergelangan tangannya.
Laras mendekati Rudi serta merta, langsung mengambil alih kegiatan lelaki itu begitu saja.
Rudi sedikit kaget mendapatkan perhatian kecil itu namun ia memilih membiarkan Laras melakukan hal itu untuknya.
“Sudah..” ucap Laras seraya menatap suaminya dengan senyum puas. Yang ditatap malah terlihat masih terpana.. membuat Laras mengibaskan tangannya didepan wajah Rudi. “Kak..” panggilnya.
“Oh.. iya.. terima kasih..” berucap dengan sedikit salah tingkah, kemudian ia menatap Laras dengan lembut. “Selamat yah..”
“Selamat untuk apa ?”
“Selamat karena telah benar-benar menjadi Ceo SWD Fashion, pemilik butik bertaraf internasional, sekaligus pemilik salah satu pabrik konveksi terbesar di negeri ini..”
Laras tersenyum mendengarnya, sedikit malu, namun karena otaknya yang memang sudah terprogram dengan baik sebagai sosok yang jutek dan sedikit angkuh maka mulutnya selalu saja mengatakan hal yang tidak menyenangkan. “Kamu pasti insecure kan sekarang ?” ujarnya tersenyum sombong.
Laras selalu lupa kalau yang ada dihadapannya ini bukanlah seorang berondong labil, melainkan seorang Rudi Winata yang nyaris seumur hidupnya telah ia lewati untuk melayani dan menghadapi orang yang seribu kali lebih angkuh, lebih sulit, dan lebih arogan dari seorang Larasati. Siapa lagi kalau bukan Sebastian Putra Djenar ?
Alhasil mendengar kalimat itu Rudi hanya tertawa. “Iya.. sedikit..” angguknya sambil tersenyum tipis.
“Bilang saja banyak !” cibir Laras lagi, namun kali ini Rudi tidak menanggapi, malah beranjak mengambil jam tangan yang teronggok diatas nakas, dan mengenakannya. Sikapnya terlihat begitu tenang meskipun sedang menghadapi seseorang yang menyebalkan.
“Kak.. hari ini jam berapa selesainya..? sampai malam lagi ?” Laras bertanya saat melihat Rudi yang sudah meraih kunci mobil diatas nakas.
Rudi menggeleng. "Mungkin sore ini sudah selesai. Kemarin kerjanya marathon sampai malam, jadi hari ini tinggal menyelesaikan sisanya saja..”
“Kenapa cepat sekali ? bukannya kata kak Tian urusan kalian bisa sampai tiga hari ?”
“Tergantung..” ucap Rudi lagi, kali ini sembari membenahi tas-nya. Semua gerak-gerik lelaki itu tidak ada satu pun yang luput dari pandangan Laras.
“Tergantung apa ?”
“Tergantung dirimu..”
“Kenapa tergantung diriku ?”
Rudi sudah menentang tas-nya saat berdiri menatap penuh kearah Laras. “Kalau kamu masih ingin aku disini aku bisa membuat pekerjaan itu molor sampai tiga hari sesuai keinginanmu..”
Laras terdiam mendengarnya, namun detik berikutnya bibirnya malah mencibir.
“Bagaimana ? mau aku bertahan sampai besok, atau aku akan langsung pulang saja bersama pak Tomi sebentar sore begitu semuanya selesai ?”
Laras mengangkat bahunya dengan acuh. “Aku tidak tau. Terserah kak Rudi saja..”
“Kamu tidak ingin aku ada disini ?”
“Aku tidak bilang begitu.. aku hanya bilang terserah..”
“Ya sudah.. baiklah kalau begitu.. terserah ya..” Rudi berjalan keluar dari kamar Laras dengan ekspresi dingin, yang akhirnya diikuti Laras dengan langkah lesu.
Mereka berdua masih sama-sama membisu sampai lift yang mereka naiki tiba di basement apartemen. Laras keluar lebih dahulu dari bilik sempit itu begitu pintu lift terbuka.
“Hati-hati dijalan..” ujar Rudi yang berjalan dibelakang Laras.
“Hhmm..”
“Jangan ngebut kalau menyetir..”
“Hhhhmmm..”
“Jangan lupa makan siang..”
Kali ini tidak menjawab.
Rudi menggelengkan kepalanya melihat sikap pongah Laras yang masih berjalan acuh menghampiri mobilnya yang terparkir, sedangkan Rudi dengan terpaksa harus menghentikan langkahnya sendiri menyadari ia telah tiba lebih dahulu di sisi mobil kantor yang terparkir lebih dekat dengan pintu basement dari pada mobil Laras.
Disana.. dengan jarak tiga mobil dari mobilnya Laras melihat sosok dengan kemeja putih bergaris samar itu baru saja hendak bergerak menaiki mobilnya.
Dengan tas yang tersampir dibahu dan kacamata hitam pekat..
“Cihh.. apa maksudnya berpenampilan seganteng itu ? mau pamer tampang sama karyawan-karyawan wanita dikantor cabang ?”
“Dasar om-om ganjen..!!”
Umpat Laras bermonolog saat menyaksikan penampilan suaminya di pagi ini yang kelihatan glowing.
Laras naik kemobilnya dengan gusar, menyalakan mobil dengan kesal dan langsung tancap gas.. meninggalkan sedikit serpihan debu diudara.
Melihat sikap ugal-ugalan itu membuat Rudi kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, bahkan sampai mengusap dada beberapa kali.
Usai dengan rasa terpukaunya begitu melihat Mazda CX-3 yang merupakan salah satu mobil sport utility vehicle keluaran terbaru berwarna putih susu itu melesat meninggalkan basement, dengan tanpa menimbang lebih lama lagi Rudi langsung menekan tombol nomor satu yang ada di ponselnya.
Memanggil..
Ceo Indotama Group
Begitu yang tertera dilayar ponsel Rudi, saat memilih menyandarkan tubuhnya dibemper mobil terlebih dahulu, seraya menunggu panggilan itu direspon dari sang bos besar.
XXXXX
Hari masih pagi, bahkan belum juga jam sembilan, saat Rico kembali menghempaskan tubuhnya disamping Tian. Ia baru saja kembali dari toilet untuk membuang hajat kecilnya ketika mendapati Tian yang sedang berbicara di telpon, entah dengan siapa.
Pagi ini sesuai rencana, mereka berdua memang sengaja akan pergi bersama dalam mengawasi langsung perkembangan tahap akhir indotama times square yang sudah mendekati final. Untuk itulah saat ini Rico sudah berada di kantor pusat indotama group, dan mereka berdua sepakat untuk menikmati secangkir kopi terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi.
“Sudah kuduga.. kamu pasti ingin aku menambah pekerjaanmu kan..?” suara Tian terdengar diiringi tawa yang khas.
…
“Baiklah.. karena kamu adalah orang yang jarang meminta sesuatu aku akan mengabulkan permohonanmu ini..”
Berbicara seperti itu sambil melirik kearah Rico yang terlihat sudah melotot kearahnya, agak tersindir karena merasa dirinya adalah orang yang sebaliknya dengan si penelepon yang menurut Tian jarang meminta sesuatu.. sedangkan Rico adalah kebalikannya seratus delapan puluh derajat.
Tian yang telah menutup pembicaraan masih terlihat tertawa kecil, kemudian kembali menekan salah satu nomor kontak yang ada diponselnya, mengurungkan niat Rico yang sebenarnya sudah ingin meluncurkan kalimat protes.
“Halo ? pak Tomi ?”
…
“Jadi sudah mau selesai sore ini ?”
…
“Akhh.. tidak.. tidak.. saya mau laporannya tidak hanya seperti itu.. tapi dirinci secara mendetail, kalau perlu satu persatu..”
…
“Iya.. dan jangan lupa, kalau bisa sekalian buatkan laporan terperinci untuk..”
bla.. bla.. bla..
Tian sudah menjelaskan begitu banyak hal yang ia perintahkan kepada manager produksi yang kelihatannya hanya bisa menerima dengan pasrah semua titah Ceo Indotama Group itu.
Yah.. nun jauh disana, pak Tomi, manager produksi kantor pusat indotama group itu nampak lunglai usai menerima telepon dari sang Ceo.
Harapannya untuk bisa menghabiskan weekend bersama istri dan kedua anaknya buyar begitu saja manakala Sebastian Putra Djenar baru saja kembali memberikannya segudang pekerjaan baru yang harus ia lakukan dikantor cabang, yang membuatnya dengan sangat terpaksa harus menghabiskan waktu satu malam lagi di kota B.
.
.
.
Bersambung..
Yang lagi gandrung sama om-om.. nih
author kasih lagi om-nya yah.. 🤭
Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘