CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Tidak kembali


“Apa Rico tidak bilang kalau dia mau kemana, bik?”


Alis Lila semakin bertaut saat menangkap gerakan bik Surti yang menggelengkan kepalanya. “Tadi Pak Rico perginya buru-buru sekali, bu..”


‘Mau kemana dia ?’


Lila membatin.


“Ditelepon saja bu, biar tau kalau Pak Rico sebenarnya mau kemana..” sela bik surti lagi saat melihat Lila yang masih tercenung sambil menimang-nimang ponsel ditangannya.


Lila memang baru saja membalas pesan dari Rudi, asisten dari Sebastian Putra Djenar yang tidak lain merupakan Ceo Indotama Group yang baru saja mengundang secara resmi dirinya beserta Pak Halim dan beberapa staf yang terlibat dalam rencana pembahasan pelaksanaan launching Mercy Green Resort untuk makan siang pada besok  hari.


Lila sangat senang bahwa Tian ternyata benar-benar serius dengan ucapannya tadi siang. Saking senangnya Lila bahkan sudah memutuskan untuk memberitahukan Rico tentang semuanya, kalau perlu Lila sudah berniat untuk mengajak Rico sekalian, itupun  jika suaminya itu bersedia.


Semua orang tau bahwa Rico dan Tian bersahabat baik. Sepertinya sah-sah saja kalau sudah berada di titik ini dan dirinya melibatkan Rico. Lila sudah berhasil membuktikan kemampuannya, setidaknya ia sudah bisa membangun hubungan serta kesan yang baik dengan Tian tanpa harus terlebih dahulu berdiri dibalik sosok Rico apalagi hanya memanfaatkan koneksi pribadi suaminya.


Tapi alih-alih ingin memberitahukan Rico, bahkan bayangan Rico malah sudah tidak terlihat lagi saat Lila keluar dari kamar mandi. Awalnya Lila mengira Rico turun kelantai bawah sehingga Lila berniat menyusulnya. Tapi saat membuka pintu kamar Lila sudah disambut bik surti dengan kabar bahwa Rico tergesa-gesa pergi dengan mobil sport-nya entah kemana.


“Bu Lila, tadi pak Rico juga berpesan katanya bu Lila kecapean trus bibik disuruh pijitin bu Lila..”


Kalimat bis Surti sontak menyadarkan Lila dari lamunannya. Lila menatap bik Surti yang masih setia diambang pintu kamar sambil memegang sebotol minyak zaitun.


‘Rico menyuruh bik Surti untuk memiijitnya? Sejak kapan lelaki itu menjadi begitu perhatian padanya?’


Namun Lila menggelengkan kepala segera.


‘Kenapa aku jadi baper banget sih.. baru dikasih perhatian segede upil udah baper aja,’


Rutuk Lila dalam hati gemes sendiri.


“Jadi bu Lila mau makan dulu, atau mau langsung bibik pijitin ?”


“Langsung pijitin kaki aku aja, bik.. emang agak pegal..”


“Kenapa cuma kaki aja, bu ? gak seluruh badan sekalian ?”


“Gak usah bik, kaki Lila ajah..”


“Tapi bu Lila gak mau makan dulu ?”


“Aku belum laper, bik..”


Lila menggeleng pelan kemudian berbalik kembali masuk kedalam kamar diikuti bik Surti. Benak Lila masih dipenuhi tentang kepergian Rico yang tiba-tiba bahkan tanpa merasa perlu memberitahukannya, namun seperti biasa Lila tak kuasa untuk bertanya langsung kepada suaminya itu.. meski dihatinya sangat ingin, Lila menahan semua rasa ingin tahunya dan memilih menyimpannya dalam diam.


Lila baru mau menghempaskan tubuhnya keatas sofa saat ponsel yang masih ada dalam genggamannya kembali berdering. Alisnya sedikit mengerinyit saat melihat nama Rudi Asisten IG muncul di layar ponselnya.


“Halo, Assalamualaikum..”


“Waalaikum salam, bu Lila.. maaf saya mengganggu lagi dengan menelpon ibu malam-malam begini..”


“Iya Pak Rudi tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu ?”


“Begini, bu.. saya hanya ingin konfirmasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf bahwa untuk rencana makan


siang besok sekaligus pembahasan pelaksanaan launching Mercy Green Resort hanya akan diwakili oleh salah satu manager Indotama Group, karena Pak Tian memiliki agenda penting yang tidak bisa di cancel..”


“Tidak apa-apa, Pak Rudi.. saya mengerti kalau orang seperti Pak Tian tentu memiliki jadwal yang sangat padat,” meskipun dalam hati Lila sedikit kecewa mendengar informasi dari Asisten pribadi Tian tapi ia tidak mungkin menampakkannya.


‘Apa nanti Tian tetap bisa hadir diacara launching MGR juga yah ?’


Lila membatin masygul.


“Bu Lila tenang saja, untuk launching nanti Pak Tian dipastikan akan tetap hadir sekaligus meresmikannya, karena itu sudah masuk di agenda penting Pak Tian.”


Seperti bisa membaca kekecewaan lawan bicaranya Rudi kembali berucap.


“Baiklah, Pak Rudi.. terimakasih banyak atas informasinya, lega sekali saya mendengarnya..” Lila hampir memekik kegirangan, tapi tentu saja lagi-lagi ia harus bisa menguasai dirinya dan menahan luapan kegembiraannya.


Pembicaraan itupun berakhir dengan senyum yang tak pernah surut dari bibir Lila.


 


Arini menggeliat kecil kemudian menegakkan tubuhnya yang mulai terasa kebas kesandaran kursi kerjanya. Sejak tadi pagi dirinya berkutat dengan pekerjaan hingga tak terasa hari mulai beranjak sore dan jam kerja hampir usai.


Arini mencoba menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengusir lelah yang menggerogoti kepalanya sampai ke pundak, setelah itu sejenak menyandarkan lagi tubuhnya ke sandaran kursi, menarik nafas sedikit


lega karena bisa sedikit mengistirahatkan punggungnya.


Beberapa hari terakhir ini ritme pekerjaan di kantor pusat Indotama Group memang bisa dibilang cukup padat, dikarenakan beberapa proyek yang sudah mulai berjalan, ditambah lagi dengan target beberapa tender


yang sedang dikejar.


Dan semua itu tentu saja berimbas pada semua karyawan, termasuk Arini. Mereka jadi sering lembur demi mengejar target, tapi tentu saja semua menjalaninya dengan suka cita.


Bukan hal yang rahasia lagi kalau dibalik sikap dingin dan cuek Sebastian Putra Djenar, sang Ceo itu justru akan menjadi sangat murah hati kepada bawahannya jika menyangkut kinerja karyawan. Pak Tian tidak segan-segan


Tentu saja hal itu berlaku juga untuk Arini. Berhari-hari Arini harus rela tiba di apartemen diatas jam tujuh malam, dan sudah berhari-hari pula ia hanya makan malam dengan mi instan kesukaannya.


Entah kenapa Arini memang tidak terlalu suka makan diluar. Mungkin karena sejak kecil ia tidak terbiasa jajan diluar sehingga kebiasaan tersebut terbawa sampai dirinya dewasa.


Mengapa demikian ?


Itu karena Arini kecil sudah terbiasa memasak dan berkutat didapur. Melanjutkan hidup tanpa seorang ibu sungguh berat, dan Arini kecil mau tidak mau harus menggantikan peran ibunya disaat usianya bahkan belum remaja.


Alhasil sesibuk apapun Arini akan lebih memilih untuk memasak makanannya sendiri, dan kalau tidak sempat maka pilihannya akan jatuh pada mi instan sebagai pengganjal perutnya yang melilit.


Arini sedikit tersenyum saat mengingat moment manis bersama Tian beberapa hari yang lalu, dimana suaminya itu tiba-tiba kembali ke apartemen dan tanpa diduga ikut makan mi instan bersamanya.


Saat itu Arini tidak bisa melukiskan bagaimana bahagia hatinya. Ia bahkan sudah berkhayal yang tidak-tidak dan merasa sangat gugup saat harus membayangkan apa yang akan mereka lakukan untuk menghabiskan sisa


malam yang panjang itu hanya berdua di apartemen sebelum akhirnya suara ponsel Tian yang berbunyi melunturkan semua pikiran halu yang menari-nari dibenaknya.


Tian baru saja akan menghabiskan mi instannya saat ponselnya berbunyi. Awalnya lelaki itu sempat mengacuhkannya dan terus menyeruput sisa kuah mi instan yang tersisa hingga di dasar baskom, tapi ponselnya terus berbunyi tanpa henti.


Akhirnya dengan wajah sedikit kesal Tian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan saat mengetahui siapa yang menelpon wajahnya nampak sedikit kesal.


Arini tidak tau pasti siapa gerangan orang yang diseberang sana karena saat menekan tombol terima bertepatan dengan Tian yang langsung bangkit dari duduknya untuk mengambil jarak dari meja makan.


Entah siapa yang menelepon Tian, dan entah apa yang mereka bicarakan, karena Tian terus berjalan kedepan, menjauh dari ruang makan. Tidak sampai dua menit kemudian lelaki itu telah kembali. Menyambar jasnya yang


ada di sandaran kursi makan sekaligus kunci mobil yang ada diatas meja. Ia menatap Arini sejenak yang sejak tadi hanya diam mengawasi gerak-geriknya.


“Saya mau keluar, hanya sebentar,” pamit Tian saat itu dengan mimik wajah yang sulit diartikan.


Arini hanya bisa menganguk tanpa kata, melepas langkah kaki Tian yang buru-buru menghilang dibalik pintu apartemen dengan perasaan campur aduk tak beraturan.


Rasa penasaran akan siapa yang ditemui Tian ? apa orang yang sama dengan orang yang menelponnya ? apakah itu rekan bisnisnya ? apakah itu seorang wanita ? apakah itu kekasihnya ? atau hanya salah satu dari


sekian banyak wanita yang selalu mengejar-ngejar Tian selama ini ?


Semakin Arini berusaha memikirkannya, semakin pening saja kepalanya. Ahh.. mengapa fikirannya tentang Tian jadi sekonyol ini ?


Arini menyerah. Tak sanggup meladeni sejumlah pertanyaan yang berseliweran dibenaknya, pertanyaan yang sudah pasti ia sendiri pun tidak mungkin bisa menjawabnya.


Beranjak dari duduknya dan memberesi meja makan, mengangkat dua baskom dan dua gelas yang dipakai mereka tadi dan membawanya ke tempat cuci piring. Membersihkan semuanya, sebelum akhirnya memilih beranjak kedalam kamar, memutuskan untuk menunggu Tian disana. Berharap dengan sepenuh hati kedatangan Tian.


Tapi sayangnya.. kalimat ‘hanya sebentar’ yang diucapkan Tian ternyata hanyalah sebuah kalimat harapan belaka. Karena kenyataannya.. sampai Arini tertidur di sofa disudut kamar.. Tian bahkan tidak kembali sampai besok paginya.


Sementara Arini yang tiba dikantor pagi-pagi sekali dengan perasaan campur aduk sudah seharian penuh tidak terhitung mungkin sudah lebih dari seratus kali matanya bolak balik melirik dinding kaca ruangan Tian yang tidak terbuka sejak pagi.


Arini hanya bisa melihat Rudi yang sibuk keluar masuk ruangan Tian, serta mendengar bunyi interkom Vera, sekretaris Tian yang tak henti berbunyi sejak pagi menandakan begitu banyak perintah sang Ceo padanya.


Saat jam makan siang Arini juga hanya bisa melihat kesibukan Vera yang memesan makan siang untuk Tian dan Rudi didalam ruangan terlebih dahulu sebelum ia turun untuk mendapatkan jam makan siangnya sendiri.


Seharian ini Arini merasa sangat sulit berkosentrasi. Bagaimana bisa ia bekerja disaat matanya selalu mengawasi dinding kaca yang tertutup rapat oleh tirai, dan fikirannya selalu tertuju pada seseorang yang merupakan pemilik ruangan itu.


Kenyataan bahwa Tian tidak kembali semalam sangat mengacaukan fikiran Arini, sehingga ia terus menerus menatap dinding kaca itu seolah dengan begitu dia bisa menyalurkan kerinduan hatinya untuk seseorang yang berada didalam sana.


‘Ini begitu konyol !’


Rutuk Arini nyaris putus asa.


Bagaimana bisa hanya dengan menatap dinding kaca ia bahkan merasakan di relung hatinya sangat bahagia entah dibagian mananya.. sekaligus merasa nyeri, entah dibagian mananya juga.


Menjelang sore pintu ruangan itu kembali terbuka. Arini refleks mengangkat kepalanya, mendapati sosok yang memenuhi fikirannya sejak semalam nampak keluar terburu-buru diikuti Rudi dibelakangnya, langsung menuju lift.


Arini bisa langsung mengenali bahwa pakaian yang dipakai Tian hari ini kelihatannya sudah berganti dari semalam, karena sekarang Tian mengenakan jas hitam dengan kemeja warna navy didalamnya.


Melewati kubikel yang berjejer disana tatapan Tian tetap lurus kedepan, sedikitpun tidak menoleh. Arini justru malah melihat Rudi yang sedikit mengerling kearahnya dan memberikan sedikit gerakan seperti menunduk hormat saat mengetahui istri sang Ceo tengah mengawasi langkah mereka lekat.


Arini hanya membalasnya dengan senyum samar. Mendapati perlakuan Rudi yang terlihat begitu menghormatinya meskipun dilakukan secara diam-diam membuat hati Arini terasa sedih. Yah.. Arini merasa sedih akan nasibnya sendiri yang entah kenapa begitu menyedihkan seperti ini.


Arini terus mengawasi sampai Tian dan Rudi menghilang dibilik lift, namun tetap saja Tian tidak menengok sedikitpun. Hati Arini seperti tersayat sembilu mendapati sikap yang begitu acuh tak acuh Tian, tapi seperti biasa ia hanya bisa menahan perasaannya yang berkecamuk.


Bersambung...


Hari ini, seperti yg aq janjikan semalam aq mau crazy up.


"Tapi kok cuma up 1 bab, thor ?"


"Eitt, tunggu dulu. Aq mmng mau Crazy Up hari ini, tapi pola nya tdk seperti biasa. biar beda sama yg lain, begituuu..😅, Mau gak nih ?"


Klw mau, yg belum, tekan icon favoritenya sekarang biar setiap UP kalian bisa langsung dpt notifikasi, krn dalam beberapa jam kedepan aq mau UP lagi biar bisa lebih dari 1 bab. Tapi total berapa banyak bab nya ?? tergantung seberapa banyak yg nungguin..!! jiahaha.. 🤣🤣


Ok ? Deal yah..😁😁


Lophyuu deh..😘😘