
Hari masih terlalu pagi saat Arini menggeliatkan tubuhnya, kedua matanya memicing sejenak. Menggeliat lagi sambil berusaha mengumpulkan nyawanya namun begitu kesadarannya muncul Arini langsung tersentak bangun, terduduk begitu saja diatas ranjang, dengan pikiran linglung.
Tatapan Arini mengembara kesekeliling dan ia kembali tersentak saat matanya bertumbukan langsung dengan sepasang mata yang sedang menatapnya lekat dengan tatapan yang sedingin es.
“Aaaa..!!”
Arini sontak menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia masih sangsi dengan penglihatannya namun semakin matanya mengerjap, bayangan sosok itu bukannya menghilang malah semakin terlihat nyata.
Arini bisa merasakan hatinya yang belakangan ini selalu diliputi kegundahan sontak menghangat begitu menyadari sosok yang menghadirkan kerinduan yang membuncah didadanya sekian lama itu sangat nyata berada dihadapannya, meskipun dalam kondisi sedang menatapnya dengan tatapan sedingin es. Hasrat kerinduannya yang menggelora rasanya membuat Arini ingin menghambur kepelukan lelaki itu begitu saja, tapi mendapati wajah kaku itu buru-buru ia tersadar untuk tidak bertindak gegabah.
Dan kesadarannya yang telah benar-benar pulih membuat Arini kembali menyadari satu hal. Jika sudah jelas-jelas saat ini ia melihat Tian sedang duduk di sofa yang akhir-akhir ini sudah beralih fungsi menjadi tempat tidurnya, lalu dirinya sendiri ada dimana..?
“Aaaa..!!”
Arini kembali menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, saat menyadari dimana ia berada sekarang. Diatas tempat tidur Tian !
‘Astaga.. pantas saja tidurku terasa lelap sekali.. bahkan aku sampai bermimpi dipeluk pangeran tampan berkuda putih. Jadi aku tidur disini sepanjang malam ? Tapi bagaimana bisa..?’
Refleks Arini meraba tubuhnya sendiri, seolah ingin memastikan dan memeriksa sesuatu disana.. dan Arini tidak bisa menyembunyikan kelegaan hatinya saat menyadari bahwa ia masih berpakaian lengkap dan tubuhnya tidak merasakan bahwa sesuatu yang aneh telah terjadi.
‘Cihh, dia sedang memikirkan apa ??’
Sungut Tian dalam hati, sedikit kesal melihat Arini yang bergerak-gerik bingung diatas ranjangnya itu sembari meraba tubuhnya sendiri.
Arini tidak bisa menebak sejak kapan Tian sudah berada disana dan mengawasinya. Tapi jelas terlihat bahwa dengan mengenakan pakaian ala running shoes, penampilan Tian saat ini benar-benar menghilangkan kesan formil lelaki itu yang seperti biasanya, namun ketampanannya sama sekali tidak berkurang.
Lalu apa yang sedang ia lakukan diatas ranjang Tian saat ini ? Arini mencubit kecil punggung tangannya berharap ini cuma mimpi dan dia benar-benar ingin bangun sekarang. Tapi yang ada ia meringis merasakan sakit akibat cubitannya sendiri.
Lalu bagaimana ini ?
Bagaimana bisa tiba-tiba ia terbangun diatas ranjang ini ?
Terakhir Arini hanya mengingat bahwa awalnya ia sedang duduk di sofa ruang tamu apartemen Tian yang menghadap pintu seperti biasa, karena menunggu kedatangan Tian disana seperti sudah menjadi kebiasaan Arini
belakangan ini. Arini tidak mendapatkan clue sama sekali mengapa secara tiba-tiba pagi ini ia justru terbangun diatas ranjang Tian
Aaaa.. ini benar-benar memalukan. Apa yang akan dipikirkan Tian tentang dirinya setelah kejadian ini..? Arini bahkan tidak bisa membayangkannya.
Sementara Arini masih berkutat dengan kebingungannya dan semakin merasa gugup saat menyadari tatapan dingin Tian yang masih lekat padanya.
“A-Appa yang Pak Tian lakukan ?” tanyanya dengan mimik bodoh.
Tian yang tersenyum masam mendengar pertanyaan linglung itu membuat Arini semakin mengkerut. “Seharusnya saya yang bertanya. Apa yang kamu lakukan disitu..?”
“S.. saya tidak melakukan apa-apa.” gelengnya cepat.
“Tidak melakukan apa-apa ya..?”
“Saya.. saya tidak tau kenapa bisa tertidur disini. Maafkan saya, Pak Tian, saya berani bersumpah saya benar-benar tidak ingat..”
Wajah Tian yang menyorot lekat Arini dengan dingin membuat Arini tak kuasa lagi meneruskan pembelaan diri. Akhirnya Arini hanya bisa turun dari ranjang itu perlahan sambil sesekali melirik jengah sosok dingin yang terus mengawasinya dari sofa.
“Ternyata kamu punya kebiasaan yang menakutkan yah..”
“Eh, appa..?!”
Arini meringis mendapati senyum sinis Tian disana.
‘Kebiasaan menakutkan ? apa maksudnya..?’
“Berani-beraninya kamu tidur di ranjang saya,”
Arini menatap Tian dengan tatapan memelas. “Sungguh, Pak.. saya ingat betul kalau sebelumnya saya tidak tidur di ranjang ini..”
“Begitu ya..?”
“Semalam sepertinya saya ketiduran di sofa ruang tamu, entah kenapa pagi ini.. tiba-tiba saya sudah ada disini..”
Tian berusaha sekuat tenaga menyimpan tawanya saat melihat pemandangan Arini yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat gelagat Arini yang semakin bingung membuat Tian sangat menikmati pemandangan tersebut. Tian bahkan tidak mengerti mengapa wajah kusut masai Arini lengkap dengan gerak-gerik absurdnya ini bisa membuatnya merasa begitu terhibur.
Tapi seperti tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di otak Arini manakala ia menatap Tian dengan pandangan yang sulit dijelaskan..
“Kenapa kamu ?” Tanya Tian mendapati tatapan mereka-reka Arini yang seolah ingin menghubungkan sesuatu diotaknya.
“Apa.. Pak Tian yang memindahkan saya kesini ?” Tanyanya polos, tanpa dosa.
Mendengar itu Tian nyaris tersedak, apalagi melihat wajah polos yang sedang nyengir itu menatapnya lekat seolah ingin mencari kebenaran dalam raut wajahnya. “Apa kamu bilang ??”
“Egh, itu.. itu karena seingat saya semalam saya benar-benar ada disofa ruang tamu. Jadi.. kalau bukan Pak Tian yang..”
“Jadi kamu mau bilang saya yang pindahin kamu kesini ?”
Arini tidak menjawab, tapi matanya terlihat berbinar aneh membuat Tian gemas sendiri.
“Apa kamu pikir saya ini jin ? bisa mindahin manusia sebesar kamu dari ruang tamu ke kamar ini ?” potong Tian cepat sebelum Arini usai menyimpulkan kesimpulannya yang sejujurnya memang itulah kebenarannya, tentu
saja karena semalam memang Tian yang telah memindahkan Arini yang terlelap dari sofa ruang tamu hingga keatas ranjangnya.
Yah.. Tian memang menggendong Arini ala-ala bridal style, tapi tentu saja Tian tidak akan semudah itu mengakuinya.
“Semalam waktu saya datang, kamu memang ketiduran di sofa ruang tamu.”
“Tuh.. benar kan ??!” pungkas Arini langsung terlihat girang.
“Jangan buru-buru senang dulu. Kamu harus dengar sampai tuntas.. baru kamu boleh memutuskan apa yang mau kamu lakukan,”
“Iya, memang. Tadinya memang seperti itu sebelum kamu pindah ketempat tidur saya,” tandas Tian.
“Jadi ternyata benar Pak Tian yang pindahin saya..?” ulang Arini lagi dengan raut polosnya, sambil melirik sekilas lengan kekar Tian.
Di otak Arini hanya terlintas, bahwa dengan lengan yang dipenuhi otot sebesar itu, seharusnya Tian memang akan dengan mudah mengangkat bobot tubuhnya yang tidak seberapa. Bukankah begitu ?
Lelaki dihadapan Arini menggeleng tegas. “Sudah saya bilang saya tidak mindahin kamu.” sanggahnya kemudian.
“Jadi Pak Tian menyuruh orang lain untuk memindahkan saya ??” menatap protes.
Tian melotot. “Jangan halu kamu. Tidak ada seorangpun yang memindahkan kamu dari sofa ke kamar. Kamu pikir kamu Cinderella..?”
“Lalu siapa..?” Arini menatap Tian bingung.
“Kamu sendiri.”
“Appa..?”
“Iya, kamu sendiri.”
“Saya..??” ulang Arini seolah tak percaya, tak sadar Arini sempat membuat gerakan menunjuk dirinya sendiri.
Tian menganguk tegas.
“Bagaimana bisa ? saya kan tertidur, Pak..”
“Bisalah, karena kamu tidur sambil berjalan,”
“Tidak mungkin..!” Arini terpekik.
“Apanya yang tidak mungkin ? Kamu mimpi tidur sambil berjalan, tiba-tiba datang menerobos ke kamar dan langsung naik ketempat tidur saya.”
“Tidak mungkin..” Arini menggeleng berkali-kali, namun kali ini ucapannya melemah seiring wajahnya yang sudah bersemu merah padam menahan malu.
“Jadi kamu mau bilang saya berbohong..”
Arini membisu. “Tapi.. kalau saya tidur diranjang ini berarti Pak Tian..”
“Dengan sangat terpaksa akhirnya saya harus tidur disini.” Tian menepuk sofa yang sedang didudukinya. “Memangnya kamu berharap saya tidur dimana ?”
“Egh..??” wajah Arini semakin merah padam.
“Badan saya sampai sakit semua pagi ini..” gerutu Tian lagi, berpura-pura menggerakkan lehernya yang sama sekali tidak pegal ke kanan dan ke kiri. “Ini semua gara-gara ulah kamu.” tudingnya.
Arini tertunduk. “Maafkan saya, Pak..” ujarnya lesu.
Tian bangkit dari duduknya. Menyembunyikan senyum kemenangan. “Sana bersiap..”
“Bersiap ? kita mau kemana, Pak..”
“Pergi keluar,”
“Keluar apartemen ini ?”
“Tidak. Keluar kandang !” ketus Tian.
Arini tersenyum kecut mendengar sanggahan yang penuh kekesalan itu.
“Jogging sebentar diluar baik untuk kesehatan otak kamu.”
“Tapi saya paling males olahraga Pak..”
“Jangan membantah. Ayo cepat, saya tunggu diruang tamu,”
“Tapi, Pak..”
“Sudah saya bilang jangan membantah perintah saya.”
Arini mencibir kesal, tapi mau tak mau ia beranjak juga.
“Dan ingat.. jangan lebih dari sepuluh menit, kalau tidak, awas saja kamu..!” ancam Tian sambil berlalu begitu saja dari kamar tanpa mengindahkan wajah protes Arini.
Begitu mengatupkan daun pintu dibelakangnya Tian tidak bisa menahan tawa nya sendiri. Merasa lucu karena bagaimana mungkin Arini bisa dibuatnya percaya begitu saja bahwa ia telah tidur sambil berjalan, padahal jelas-jelas Tian yang sudah menggendongnya semalam.
‘Astaga.. Arini.. kamu memang benar-benar sepolos itu rupanya..’
Tian belum bisa berhenti tertawa. Benar-benar tidak bisa menahan geli saat mengingat raut wajah Arini tadi.
Sedangkan Arini, meskipun masih dalam kondisi mager mau tidak mau akhirnya ia beranjak juga menuju kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi dan membersihkan diri sebentar sebelum akhirnya mengganti baju tidurnya dengan satu-satunya setelan sport miliknya yang selama ini nyaris tidak pernah dipakainya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Lophyuuuu all...😘