CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Gosip


Arini menatap kaca wastafel yang ada didepannya yang sedang memantulkan bayangan dirinya dengan sempurna. Ia baru saja membasuh wajahnya disana, namun bukannya segera beranjak Arini malah termenung sambil menatap bayangannya sendiri yang ada didalam cermin.


Seraut wajah tampan milik Tian lagi-lagi melintas dibenaknya. Tidak bisa dipungkiri saat ini Arini kembali merindukan sosok itu, bahkan disetiap saat tak peduli apapun yang ia lakukan, apapun yang ia kerjakan, semuanya selalu saja mengingatkannya pada Tian.


Saat Arini pulang, setiap sudut


apartemen akan mengingatkan Arini pada Tian, saat kemarin Arini pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari yang persediaannya mulai menipis di supermarket dekat apartemen, ingatan Arini pun langsung terbentur pada moment kebersamaan mereka. Apalagi saat sedang dikantor seperti ini..? Biasanya setiap kali menyadari ada Tian yang berada dibalik bilik kaca ruangannya itu, cukup membuat hati Arini tentram dan merasa dekat.


Yah.. tanpa Arini sadari ternyata kehadiran Tian selama ini telah menjadi kebiasaannya, itupun kalau tidak ingin berlebihan dengan menyebut kebutuhannya. Meskipun lelaki itu lebih banyak bersikap menyebalkan, tapi entah kenapa Arini sudah terbiasa dengan kehadiran Tian, dengan semua kejutekan lelaki itu padanya.


Ini adalah hari keempat setelah kepergian Tian ke Singapore. Dan sejak ia melepas kepergian Tian didepan pintu apartemen empat hari yang lalu, ia seperti langsung kehilangan jejak Tian. Lelaki itu seperti menghilang ditelan waktu.


Tidak ada telepon, tidak ada pesan.. benar-benar tidak ada kabar sama sekali. Padahal sebelum pergi Tian bersikap sangat manis, membuat Arini mau tidak mau kembali berharap jika sesuatu yang baik akan mengubah hubungan mereka kedepannya.


Tapi kenyataanya.. apa ini ?


Suaminya itu tetaplah seorang Sebastian Putra Djenar, orang yang sama seperti seorang yang selama ini dikenalnya sebagai lelaki berhati dingin.


Arini menatap ponsel yang ada


ditangannya, menimbang-nimbang. Apakah dia yang harus mencari tau keadaan Tian lebih dahulu? Lalu apa yang harus dia lakukan? Menelpon Tian? Mengirimkan sms? Atau.. mengirimkan whattsapp?


Kenyataannya dari semua alternative yang ada tidak ada satu pun yang dipilih Arini. Ia terlalu takut menghubungi Tian terlebih dahulu. Meskipun disaat terakhir sikap Tian sudah jauh lebih baik padanya, tapi tetap saja Arini tidak mengantongi keberanian.


Banyak sekali pertimbangan dibenak Arini yang membuat niatnya urung. Arini tidak ingin yang dilakukannya malah mengganggu pekerjaan Tian, terlebih jika nanti dia malah akan kembali diacuhkan oleh lelaki itu.


Hhh.. bahkan setiap kali melihat Vera dikantor Arini ingin sekali menanyakan bagaimana keadaan Tian pada sekretarisnya itu. Arini sangat ingin tau apakah Tian baik-baik saja? Apa pekerjaannya berjalan dengan lancar? Atau.. kapan tepatnya Tian akan pulang?


Tapi sudah pasti semua pertanyaan itu tidak mungkin ia lontarkan. Bagaimanapun Arini tidak ingin menimbulkan kecurigaan Vera, untuk apa karyawan biasa seperti dirinya menanyakan kabar bos besar mereka..? Apa urusannya..?


Disisi lain Arini juga ingin menanyakannya pada Rudi, asisten pribadi Tian.. namun Arini merasa malu. Apa nanti pendapat Rudi jika dirinya yang notabene adalah istri Tian yang sah justru menanyakan kabar Tian padanya? Kelihatannya hal itu akan terlihat sangat aneh dan memalukan.


Kemarin sore Arini sempat mencuri dengar pembicaraan Vera dan Rudi. Sepertinya Tian baru saja menelpon Vera untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan, dan Vera mengkonfirmasikan hal tersebut pada Rudi.


Tentu saja itu bukan kali pertama Tian menelpon Vera untuk menanyakan ini dan itu. Suaminya itu rutin menelpon Vera setiap hari bahkan sampai berkali-kali.


Yah.. meskipun yang dibicarakan


semata-mata hanya pembicaraan tentang pekerjaan yang ia tinggalkan untuk dihandle oleh Rudi maupun Vera, namun tetap saja Arini merasa seperti tersisihkan. Iya.. tersisihkan. Mungkin istilah itulah yang lebih layak dipakai kalau tidak ingin mengakui bahwa yang sebenarnya Arini merasa cemburu.


‘Baiklah.. bahkan dia punya waktu untuk menelpon Vera berkali-kali, sedangkan untuk istri yang selalu ia sembunyikan keberadaanya ini ia bahkan tidak punya waktu sama sekali..! Jangankan menelpon dan menanyakan kabarnya, mengirimkan satu message pun tidak pernah..!’


Arini melirik sekilas arloji dipergelangan tangan kanannya dan mendapati bahwa masih tersisa sekitar dua puluh menit sebelum jam istirahat makan siang berakhir.


Arini juga baru menyelesaikan makan siangnya yang seperti bisa merupakan bekalnya yang dibawa dari rumah. Beberapa hari terakhir ini ia hanya mampu menghabiskan separuh makan siangnya. Selera makannya mendadak menghilang sejak hari pertama ia tidak lagi melihat sosok Tian di kantor.


Arini yang sejak selesai makan siang tadi mendiami toilet khusus wanita itu akhirnya memutuskan untuk segera keluar.


Sebaiknya ia meneruskan menginput data laporan bulanan Indotama Group saja daripada berlama-lama melamun didepan kaca wastafel hanya membuat rasa rindu bercampur kesalnya pada Tian semakin membuncah tak terbendung.


Arini baru saja menghempaskan tubuhnya diatas kursi kerjanya saat sosok Meta muncul diruangan itu dengan sedikit tergesa-gesa dan langsung menuju kearah Arini. Yang membuat Arini heran, tidak seperti


biasanya tetangga disebelah kubikelnya ini kembali saat jam makan siang bahkan belum berakhir.


“Belum juga selesai waktu makan siang, tumben sudah balik,” tegur Arini sambil tersenyum kecil saat melihat Meta menarik kursinya untuk duduk lebih dekat dengannya.


“Arini.. sudah dengar gosip terbaru belum?” Meta berucap tanpa menghiraukan ucapan Arini sebelumnya.


“Gosip? Gosip apa..?”


Arini yang hendak membuka layar komputer dihadapannya masih bisa berucap acuh tak acuh meskipun wajah Meta yang ada disampingnya terlihat sangat serius.


“Arini, aku bersungguh-sungguh. Tadi saat makan siang hal ini sudah jadi buah bibir disemua karyawan.. ini tentang bos kita.. pak Tian..” bisik Meta kemudian.


Arini nyaris tersedak. Konsentrasinya langsung tercuri saat mendengar nama Tian disebut. Refleks ia menoleh kearah Meta yang langsung terlihat bersemangat karena mendapati perhatian penuh Arini.


“Nah kan.. kalau menyangkut pak Tian, pasti kamu penasaran juga kan?” Meta nyengir, yang langsung dibalas pelototan oleh Arini.


“Memangnya ada gosip apa tentang pak Tian..?” Arini mati-matian menahan dirinya agar terlihat sewajarnya dan tidak terlalu penasaran.


Meta memperbaiki duduknya agar lebih nyaman sebelum akhirnya kembali berbisik. “Katanya Pak Tian punya kekasih baru..”


“Hah? K-kekasih baru..?” Arini


“Iya, Rin.. setelah sekian lama tidak


pernah terdengar lagi gosip tentang kisah percintaan pak Tian, kali ini kekasih pak Tian tidak tanggung-tanggung. Namanya Ariella Hasyim, dia seorang Ceo yang bekerja sama dengan Indotama Group pada proyek MGR..” Meta berucap panjang lebar, membeberkan semua informasi tentang Tian yang ia dapatkan dari hasil jam makan siangnya barusan.


“Proyek MGR? Maksudmu proyek Mercy Green Resort yang katanya mau diresmikan langsung oleh pak Tian itu yah?”


Meta sontak menganguk mengiyakan. “Iya Rin.. dan kayaknya kali ini pak Tian serius deh, soalnya pak Tian melakukan investasi untuk proyek MGR dari nol, hingga sekarang saat mau diresmikan pak Tian juga telah membentuk tim khusus untuk menghandle acara dan semua budget yang berhubungan dengan peresmian resort itu.”


“Tapi.. pak Tian kan memang selalu seperti itu, Meta. Beliau tidak tanggung-tanggung mengapresiasi sesuatu yang dia anggap istimewa, apalagi jika hasilnya sesuai dengan apa yang dia targetkan.” Arini mencoba berucap bijak meskipun saat ini ia merasa bahwa hatinya sudah luluh lantak.


Arini mengatakan hal itu bukan tanpa alasan, karena yang Arini tau Mercy Green Resort memang telah berhasil dibangun dengan perencanaan yang matang dan hal itu katanya membuat Tian merasa sangat puas dengan hasil akhirnya.


‘Tapi.. apa iya Ceo pemilik proyek MGR itu kekasih Tian ? Lalu bagaimana dengan dirinya ?’


Astaga.. bahkan sekarang Arini merasa dadanya ikut-ikutan sesak. Hatinya terasa sangat sakit, tapi saat ini ia tidak mungkin menangis dihadapan Meta dan membuat temannya itu bingung. Apa yang


nantinya akan dikatakan Meta kalau ia tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini?


Arini menggigit bibirnya kuat-kuat, mencoba menguatkan hati.


“Iya sih. Tapi jika seperti yang kamu bilang kalau pak Tian selalu mengapresiasi sesuatu yang dia anggap istimewa yah.. berarti tidak diragukan lagi. No debat, no kecot.. karena Ceo pemilik proyek MGR itu memang orang yang sangat istimewa, Iya kan?”


Arini membisu, tidak beniat menanggapi ucapan Meta yang terucap dengan nada lesu yang dipenuhi rasa patah hati mendalam mengingat Ceo idolanya sudah memiliki kekasih hati yang kelihatannya begitu sempurna.


“Wuahh.. Rin.. sepertinya semua yang merupakan pengagum berat pak Tian kayaknya bakal kembali patah hati berjamaah lagi..! Ahh, pak Tian.. lagi-lagi kau mematahkan hatiku..!” ucap Meta lebay dengan gaya merengek kecil. Tapi tiba-tiba wajah Meta kembali serius saat menatap Arini yang sejak tadi diam saja. “Eh, Arini.. apa menurutmu kali ini pak Tian serius dengan hubungannya?”


Arini mengangkat bahu. “Mana aku tau, Meta..” Arini berucap lirih, hampir menangis.


“Tapi kalau semua ini benar, meskipun aku merasa sangat patah hati.. tapi aku rasa kelihatannya kali ini pak Tian menemukan orang yang tepat.” imbuh Meta.


“Benarkah?” Arini membuang pandangannya yang terasa mulai mengabur itu kesamping.


“iyalah.. karena wanita kali ini bukan wanita biasa. Tidak sama dengan wanita-wanita yang pernah memiliki hubungan dengan pak Tian sebelumnya. Contohnya Lusy.. huh, model sexy yang suka wara-wiri kesini itu sama sekali tidak ada pantas-pantasnya dengan pak Tian kita. Tapi kalau dengan Ceo pemilik proyek MGR itu, nah.. itu baru namanya serasi.. yang lelakinya ganteng dan tajir.. yang wanitanya juga cantik dan punya karir cemerlang..”


“Maaf, Meta, aku mau ke toilet dulu..” Arini beranjak begitu saja. Ia benar-benar sudah tidak tahan mendengarkan ocehan Meta lebih lama.


“Eh, Rin.. kok pergi sih..? kan gosipnya belum selesai..”


Arini terus ngeloyor begitu saja


meninggalkan Meta yang kebingungan dengan sikap Arini.


‘Kenapa sih Arini? Apa dia lagi rindu sama suaminya yang pelaut itu yah..?’


Meta membatin saat menyaksikan punggung Arini yang hilang dibalik dinding pembatas ruangan.


Sementara itu..


Setelah beberapa saat terisak kecil


disalah satu bilik toilet, saat ini Arini sudah berdiri tegak didepan cermin wastafel yang sedang memantulkan bayangan wajahnya yang masih terlihat sedikit sembab, meskipun ia sudah membasuhnya dengan air berkali-kali.


Astaga.. kenapa hati ini rasanya sakit sekali sih? Lagian patah hati seperti ini.. apa pantas untuknya? Mengapa sekarang dia merasa seperti benar-benar sudah dikhianati?


‘Kasihan sekali nasibmu, Arini.. belum juga dicintai sudah diselingkuhi..’


Bahkan saat ini bathinnya pun sedang mengasihani dirinya sendiri.


Lagi-lagi Arini tersenyum kecut melihat bayangan dirinya yang terlihat begitu rapuh didalam cermin.


.


.


.


Bersambung…


Yuk.. yg belum, tekan icon favorite-nya dong, biar bisa nambahin level novel ini. Jgn lupa Subscribe profil author yah.. 🤗


Lophyuuuu deh.. muacchh..😘