
'Padahal aku telah mencatatnya dengan baik ... bahwa apapun itu aku tidak boleh dilemahkan lagi!'
'Tapi apa ini ...?'
'Aku tidak pernah berhenti menjadi orang yang bodoh ...'
'Armetha Wulansari ... kamu memang bodoh ...!'
.
.
.
Pada awalnya saat Rico menggenggam tangan mungil Rei dan membawa putranya itu melangkah kedalam apartemen ini tadi sore, Rico sudah berjanji dalam hati. Bahwa dirinya tidak boleh menyentuh Meta lagi dengan paksaan dan intimidasi.
Tapi kenyataannya apa ...?
Begitu ego Rico menolak menerima perlakuan Meta, dengan gagah berani Rico langsung naik ketempat tidur yang sama.
Memeluk dan memberi stempel kepemilikan diatas tubuh Meta, tentu saja dengan penuh pemaksaan.
Namun setelahnya, tiba-tiba hati Rico kembali melembut ... saat menyadari Meta memilih menerima perlakuan buruknya daripada harus melakukan perlawanan dan membuat tidur Rei terusik.
Rico pun akhirnya menarik dirinya lagi, dengan rasa sesal yang bertalu-talu disetiap sudut hati.
"Maaf ..." Rico berucap sungguh-sungguh.
Meta harus tahu bahwa dirinya menyesal, namun Rico tetap menolak untuk tidak memeluk, meskipun Meta hanya diam, membuat keheningan merajai sekian lama.
Meta tetap memunggungi Rico, dan Rico tetap bersikeras memeluk meski pun penolakan tubuh yang dipeluknya begitu terasa. Yang awalnya mati-matian ingin diacuhkan tapi ternyata tidak semudah itu.
Rico sadar, dirinya tetaplah seorang Rico Chandra Wijaya. Lelaki ber-ego tinggi yang tidak terbiasa ditolak oleh siapapun, lelaki angkuh yang selalu diperjuangkan oleh semua wanita.
Lila orang pertama yang terlihat tidak pernah benar-benar mengejarnya ... dan itu wajar saja.
Lila cantik, fashionable, kaya, mapan dan mandiri.
Lila memiliki banyak kelebihan, dan sejak awal Lila tidak begitu membutuhkan uang dan perhatian Rico.
Lila adalah gambaran real dari sosok wanita sempurna, yang seolah sanggup membuat semua lelaki bertekuk lutut.
Tapi Armetha Wulansari bukanlah Lila. Wanita itu tidak punya seujung kuku pun yang bisa menyamai Lila.
Semua itu yang membuat Rico tidak bisa menahan diri lebih lama untuk menerima kenyataan, bahwa dirinya selalu saja tidak dianggap oleh Meta seperti saat ini.
Rico melepaskan pelukannya, memutuskan untuk bangkit dari tidurnya saat menyadari kepalanya mulai pusing.
Wangi aroma sabun milik Meta membuatnya mendadak pening, dan lembutnya tubuh Meta dalam pelukannya seolah ingin membuat Rico gila dan tersesat.
"Mau kemana?"
Rico menoleh, tapi Meta tetap memunggunginya.
"Aku titip Rei, aku akan menjemputnya besok pagi ..."
"Masih ingin keluar selarut ini?" masih terus memunggunginya. "Bagaimana kalau Rei akan mencari ..."
"Rei tidak akan mencariku. Rei juga tidak pernah terbangun di malam hari ..."
Rico menelan ludahnya. Melihat Meta yang mendebatnya tapi tetap tidak menoleh padanya, membuat Rico melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Sementara itu, Meta yang menyadari Rico telah kembali menyeret langkahnya menjauh dari ranjang refleks bangkit begitu saja.
"Jangan pergi."
Langkah Rico terhenti. Menoleh sesaat ke wajah Meta yang terduduk di ranjang dengan rambut yang sedikit berantakan, namun sialnya menambah aura damage dimata Rico, yang kemudian memilih untuk melanjutkan niat awalnya, tetap beranjak keluar dari kamar Meta.
Meta turun dari ranjang tepat disaat Rico memutar handle pintu.
"Pak Rico ..."
Rico membisu saat menyadari Meta telah berdiri dibingkai pintu, tepat dibelakang punggungnya.
"J-angan pergi ..." Meta tidak tahu darimana ia mendapatkan keberaniannya, saat dirinya berdiri menentang mata Rico usai lelaki itu membungkuk meraih kunci mobil yang tergeletak diatas meja.
"Kenapa jangan?" tanya Rico datar, menyadari Meta yang seolah ingin menahan langkahnya namun gerak tubuhnya terlihat ragu dan gugup.
"K-karena ... aku ... aku ..."
"Ada apa denganmu?"
"T-tidak ... bukan aku, tapi Rei ..." kalimat Meta terdengar semakin kikuk.
Meta tahu bahwa selama ini Rico selalu bersikap dingin kepadanya. Tapi dinginnya tatapan pria itu kini berbeda dari sebelumnya.
Dingin ... namun seperti ada yang terbakar dan membara, membuat kepala Meta refleks menggeleng.
'Tidak mungkin ... aku pasti hanya salah mengartikannya ...'
Meta berucap dalam hati namun tetap saja jantung Meta berdebar, saat mengingkari jika ia telah melihat sebuah hasrat menakutkan yang ia temukan di kedalaman sana ... jauh di kedalaman sepasang mata Rico yang pekat ...!
Rico terdengar menghembuskan nafasnya berat sebelum akhirnya mendekat, meraih pergelangan tangan Meta begitu saja dan menariknya untuk kembali.
"Seharusnya kamu jangan menahanku. Kamu benar-benar sedang mencari masalah ...!"
Meta yang awalnya mengira Rico akan membawanya kembali ke kamar sebelumnya sontak terhenyak, karena yang ada lelaki itu bukannya meraih handle pintu kamar dimana Rei berada ... melainkan handle pintu kamar kosong yang ada di sebelah pintu kamar semula.
"P-Pak Rico ..."
Meta mencoba menghentakkan tangannya yang berada dalam genggaman Rico begitu kesadarannya pulih, saat menyadari Rico benar-benar telah membawanya masuk kedalam kamar yang salah.
"Pak Rico jangan bercanda ..." gumam Meta berniat beranjak keluar namun lengannya kembali dicekal.
"Pak Rico lepaskan, Ini tidak lucu!"
Pemberontakannya bukannya membuat ia terbebas malahan sebaliknya, Meta terpekik begitu Rico nekad membopong tubuhnya, dan menaruh tubuh Meta yang berusaha melepaskan diri itu keatas ranjang begitu saja.
Seolah tidak ingin mendengar kalimat protes, detik berikutnya Rico telah membungkam mulut Meta sesaat, sebelum akhirnya menatap lekat wajah Meta yang memerah.
"T-tidak ..." Meta menggeleng. Memilih menunduk menghindari tatapan tajam Rico, dengan nafasnya yang memburu. Wajah mereka begitu dekat, hanya beberapa inchi satu sama lainnya.
"Kenapa tidak?" suara Rico terdengar berat, menahan hasrat yang sedang mendobrak dinding pertahanannya yang terakhir.
Meta menggeleng lemah. "Pak Rico ... ini ... ini tidak boleh ..."
"Kamu istriku. Kenapa tidak boleh?" Rico mengangkat sebelah tangannya, menelusuri pangkal lengan Meta yang terasa gemetar saat ia sentuh.
"T-tidak ..."
"Iya ... karena aku suamimu ..."
Rico melu mat bibir itu. Mencegah kalimat penolakan yang hendak keluar dari sana.
Penolakan Meta terhadap sentuhannya tidak ia hiraukan, karena Rico terus melu mat sampai pada titik wanita itu menyerah dan menerimanya seperti yang sudah-sudah.
Meta tau apa yang sedang terjadi pada dirinya. Namun tetap memilih menerima kelembutan yang memabukkan, yang kali ini disertai dengan kedua tangan Rico yang ikut memprovokasi bagian tubuhnya yang lain, membuat seluruh persendiannya seolah lumpuh total.
Namun saat akal sehatnya mulai kembali, Meta merasa tidak ingin menyerah dengan mudah, walau kenyataannya sosok Rico begitu sulit ia tolak.
Perasaan cinta yang membutakan matanya, membuat tubuhnya menerima dengan baik semua perlakuan lelaki yang barusan telah mengukuhkan diri sebagai suaminya, orang yang memiliki hak penuh atas dirinya, yang sayangnya semua itu terucap disaat hasratnya menggebu ingin dituntaskan ... bukan karena lelaki itu benar-benar menganggap dirinya sebagai wanita yang layak untuk mendapatkan cinta dan disayangi.
Rico berhenti sejenak dengan nafas tersenggal. Tanpa ragu ia melepas hoodie hitam yang membalut tubuh kekarnya, melemparkannya begitu saja kelantai.
Namun saat jemari Rico meraih kancing piyama milik Meta, Meta telah beringsut mundur sambil menggeleng.
"Kenapa ...?"
Meta membisu dengan wajah merah padam.
Rico mendekat, kembali berusaha meraih Meta yang kembali beringsut kebelakang. "Pak Rico tidak mencintaiku ..." ucap Meta lirih.
Rico mendengus mendengarnya. "Sejak awal kita tidak pernah membahas tentang cinta. Lalu kenapa sekarang itu bisa menjadi sebuah bahan pertimbangan?"
"Kalau tidak menginginkanku lalu untuk apa melakukan ini ..."
"Kata siapa aku tidak mengingingkanmu ...? Kalau tidak ingin, untuk apa membawamu kekamar ini ..." pungkas Rico.
Rico meraih kedua tangan Meta yang menyilang yang seolah ingin melindungi dirinya, namun kali ini Meta telah bersikeras.
"Tidak ... aku tidak mau ..." seperti tersadar dari hipnotis Meta beranjak kesisi ranjang yang lain.
Tekad bulat Meta yang mantap ingin menghindar tak ayal membuat amarah Rico terpancing begitu saja.
Dengan gerakan secepat kilat Rico menarik pergelangan tangan Meta dengan kasar ... hingga tubuh Meta tertarik keatas ranjang.
"PERSETAN!! LALU SEBUT SAJA BERAPA HARGANYA?!!"
Rico berucap geram. Frustasi dengan penolakan Meta.
Mendengar itu Meta terhenyak ... refleks kepalanya berpaling kearah pintu, suara Rico yang meninggi telah membuat Meta begitu khawatir jika bisa mengusik Rei yang tertidur tepat disebelah kamar, sampai-sampai Meta lupa bahwa Rico baru saja melempar harga dirinya ke jurang penghinaan ...
...
NEXT ...