
Follow my Ig. @khalidiakayum
...
“H-halo ...”
‘Mengangkat telepon saja lama sekali ...”
Kalimat pertama yang tertangkap
telinga Meta adalah sebuah dumelan. “Egh ... anu pak Rico ... itu karena ... “
“Tutup saja. Aku akan melakukan video call..”
“Egh ... tunggu ... jangann ...”
Klik.
Terlambat.
Meta terhenyak saat pembicaraan super singkat itu telah diputus dengan sepihak. Detik berikutnya ponsel Meta sudah terlempar keatas meja kaca dihadapannya begitu saja karena gerak refleks Meta yang tanpa sengaja telah melemparkan benda itu saat melihat panggilan video call dari Rico yang telah muncul dilayar depan ponselnya.
Dengan pikiran yang berlarian kesana kemari akhirnya Meta memutuskan untuk meraih kembali ponsel yang masih berbunyi itu, kemudian mengganti layar terima dari kamera depan menjadi kamera belakang terlebih dahulu di injury time, sebelum akhirnya memutuskan menerima panggilan tersebut dengan irama jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.
XXXXX
Rico sudah terlebih dahulu memasang wajah datarnya bahkan sebelum panggilan *video callnya* ditanggapi. Tapi setelah melihat apa yang terpampang di layar ponselnya, kedua alisnya sontak mengerinyit.
Bukan wajah lucu Rei, bukan pula wajah pas-pasan Meta. Melainkan sebuah pemandangan vas bunga diatas meja, lengkap dengan sebuket bunga mawar dari bahan plastik yang warnanya mulai memudar.
‘Apa-apaan ini?'
Rico bergumam dalam hati, saat menyadari Meta menerima panggilan video call-**n**ya dengan mode kamera belakang. Dalam hati Rico saat ini terbersit sedikit rasa was-was saat tidak menemukan dua sosok yang ia harapkan itu dilayar ponselnya.
“Halo Meta ... apa-apaan ini? jangan bercanda, mana Rei?”
kalimat Rico yang beruntun terdengar menggelontor tanpa tersusun dengan baik.
‘Ishh ... memangnya siapa juga yang mau bercanda denganmu tuan arogan?’
Dalam hati Meta bergumam seraya mencibir ke layar ponselnya yang menampakkan wajah tampan Rico yang terlihat bingung, tapi tetap saja didominasi kesan yang datar dan dingin.
“Anu ... Rei sudah tidur, Pak..”
“Mana? aku mau lihat ...”
Meta menelan ludahnya. Masih dengan posisi yang sama, menatap lekat-lekat wajah cool yang ada dilayar ponsel.
“Kamu ini sedang apa sih? kenapa
malah diam? Meta, sudah aku bilang jangan main-main yah, mana Rei?”
“Anu ... saat ini ibuku sedang bersama Rei, Pak Rico ... kalau tidur Rei terusik karena aku bersikeras menerima telepon didalam kamar, aku ... aku bisa dimarahi ibu ... “ berucap pasrah seperti sedang berada diantara pilihan buah simalakama.
Rico tercengang mendengar penjelasan tersebut.
‘Ibu? jadi ibu Meta sekarang sedang bersama Rei?’
Kenyataan yang ada membuat Rico nyaris tidak percaya. Mendadak Rico teringat perkataan Tian kemarin, tentang strategi untuk mempercayakan Rei menguasai hati Ibu Meta, lalu kemudian membiarkan semesta alam yang berbicara..
‘Ck ... ck ... bajingan licik itu ... selalu saja seperti ahli siasat kelas kakap yang bahkan bisa memprediksi alur cerita dengan jeli serta menguasai medan dengan sangat baik ...’
“Begini saja, setelah ini aku akan merekam Rei yang sedang tidur, nanti aku akan mengirimkan rekaman videonya ...”
Rico terdiam sejenak mendengar usul Meta, menatap lekat layar ponselnya yang masih menampakkan gambar vas bunga diatas meja, sebelum akhirnya berucap perlahan dengan berat hati.
“Baiklah ...”
Terdengar kecewa karena tidak bisa melihat langsung wajah Rei dan … Rei. Maksudnya wajah Rei saja. Iya ... Rei saja ...!
Tanpa sadar Rico mengusap tengkuknya berkali-kali. Lupa bahwa apapun gerak-geriknya bisa saja sedang diawasi oleh seseorang diseberang sana, dan itu memang benar.
Meta bahkan harus menahan nafas saat menikmati setiap inchi pergerakan wajah yang akhir-akhir ini baru ia sadari sangat-sangat mirip dengan wajah yang begitu sering ia cium dan menciumnya.
Wajah siapa lagi kalau bukan wajah si kecil Rei ...?
Akh ... mendadak Meta merasa malu
saat menyadari betapa miripnya wajah Rei dengan wajah Rico.
“Baiklah ... kirimkan videonya dikontak whatsapp-ku.”
“Baik, Pak ...”
Kemudian hening.
Tanpa sadar Meta malah menatap lekat wajah yang terdiam dilayar ponselnya itu.
‘Wajahnya kelihatan lelah sekali. Pasti seharian ini jadwal pekerjaan Pak Rico sangat padat ...’
‘Tapi kenapa Pak Rico diam saja? apa yang sedang Pak Rico pikirkan?’
‘Kenapa masih diam saja sih? apa ... apa ponselku yang sedang nge-lag yah ...’
Bergumam-gumam dalam hati, terus hanyut dalam lamunan tanpa tepi.
Sedangkan Rico yang terlihat diam dengan kepala sedikit menunduk sesaat kemudian sudah kembali mengangkat wajahnya, menatap lagi vas bunga diatas meja, tanpa menyadari bahwa karena tatapannya yang dalam itu kedua pipi Meta langsung bersemu, seolah-olah sedang menerima tatapan lekat Pak Rico, padahal sudah jelas yang lelaki itu tatap adalah vas bunga jelek yang ada dihadapannya ... bukan dirinya ... akh ...!
“Bagaimana kabarmu?”
Terhenyak sejenak sebelum tergeragap memberi jawaban. “Egh …? aku ... baik ...”
Hening lagi. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Sedetik ... dua detik ... lima detik ... sebelum akhirnya ...
“Kamu pasti anak yang tidak berbakti kepada ibumu yah ...”
Mendengar tuduhan frontal itu Meta langsung mendelik, padahal Rico sama sekali tidak bisa melihat ia melotot.
“Enak saja menuduh seperti itu ... memangnya Pak Rico punya bukti apa sampai begitu tega menuduh aku sebagai anak yang tidak berbakti kepada ibuku ...?” protesnya dengan lugas.
“Aku memang punya bukti ...”
“Tidak mungkin ...”
“Serius ...”
“Mana buktinya?”
“Lihat saja ... saking tidak dengar-dengarannya kamu, ibumu bahkan sudah berhasil mengutukmu menjadi sebuah vas bunga ...”
Lagian menampakkan wajahnya yang amburadul dengan rambut acak-acakan seperti ini?
‘Haihh ... kenapa sekarang aku malah malu terlihat jelek dimatanya? huhh ... otakku ini sepertinya mulai tidak beres ...’
Benak Meta terdengar gaduh karena
didalamnya terus berperang kata-kata.
Rico tidak bisa menahan diri untuk mengulum senyum. Namun naasnya senyum itu terekam dengan jelas dilayar ponsel Meta, yang serentak kembali tertegun.
Ini pertama kalinya Meta melihat lagi senyum menghiasi bibir pak Rico, setelah mendung duka yang kemarin seolah telah mencuri semua senyum terlebih gelak tawa lelaki yang biasanya selalu tersuguhkan dengan begitu murah hati.
Pikiran Meta melayang ke awal ia
mengenal Pak Rico.
Rico Chandra Wijaya adalah orang yang ceria, tengil, dan juga playboy akut.
Pak Rico begitu sering berada di kantor pusat Indotama Group dalam berbagai keperluan bisnisnya, apalagi lelaki itu memiliki kedekatan yang teramat sangat istimewa dengan Pak Tian.
Meta masih mengingat dengan jelas, bahwa di setiap kedatangan Pak Rico tak pernah sekali pun lelaki tampan itu melewatkan kesempatan menabur pesona pada semua karyawan wanita.
Intinya Pak Rico sangat terkenal dikalangan kaum hawa ... sebelas dua belas dengan Pak Tian karena mereka berdua adalah idola kaum wanita dimanapun mereka berada ... termasuk dirinya. Haihh ...
Bedanya kalau Pak Tian adalah sosok yang dingin Pak Rico adalah kebalikannya seratus delapan puluh derajat. Lelaki itu sangat pecicilan.. dan juga sangat suka menggangu Arini di awal.
Seiring waktu berlalu saat pernikahannya dengan Ceo PT. Mercy Ariella Hasyim terkuak, Pak Rico terlihat seperti seorang playboy insyaf.
Sikapnya masih tengil, tapi sangat terlihat bahwa sosoknya terus menjadi dewasa seiring waktu.
Meta sering mendengar selintingan isu bahwa kisah cinta Pak Rico tidak semanis Pak Tian yang begitu fenomenal saat harus mengejar cinta Arini.
Entahlah ... Meta juga tidak terlalu sibuk memperhatikannya sejauh ini.
Tapi meskipun begitu kenyataannya makna dari sebuah keluarga mampu membuat Pak Rico berubah, dan kehadiran Rei membuatnya terlihat sangat mencintai keluarga kecilnya. Meskipun pada awalnya sepertinya semua orang bahkan tau bahwa baik Pak Rico maupun Ibu Lila, tidak pernah saling mencintai sebelumnya..
“Jangan menatapku terus ...”
Brukk ...!
Bunyi sesuatu yang terjatuh, dan tiba-tiba layar ponsel Rico berubah menjadi gelap. Rico bahkan tersentak kaget dari duduknya.
“Meta ada apa? Apa yang terjadi? halo Meta ...?! Meta, apa yang ter ..."
Detik berikutnya layar ponsel Rico telah kembali kea asal mula, lagi-lagi gambar vas bunga diatas meja.
“Meta?”
Panggil Rico lagi dengan nada khawatir.
“Maaf Pak, tadi ponselnya jatuh ...”
“Astaga …” Rico mengusap wajahnya
seraya menggeleng berkali-kali.
XXXXX
‘Ini gila ...! ini benar-benar gila! aku sudah gila!!’
‘Memalukan!"
Rico memaki dirinya dalam hati, saat menyadari wajahnya yang masih setia tersenyum setelah panggilan video call itu telah berakhir, bahkan sejak kira-kira dua menit yang lalu.
Ada apa dengan dirinya ? saat ini Rico bahkan sedang bingung, apa yang sudah membuatnya begitu bahagia?
Apa menyadari Meta yang bahkan telah menjatuhkan ponselnya menandakan kegugupan yang luar biasa itu bisa membuatnya sebahagia ini?
Kepala Rico sontak menggeleng berkali-kali.
Merasa semakin aneh karena saat ini ia malah tengah mencoba mengenyahkan penampakan gambar vas bunga jelek yang menjadi teman bicaranya sejak tadi.
“Sial ... aku tadi bahkan sempat menanyakan kabarnya ... cihh ...”
Rutuk Rico geregetan sendiri.
Sementara itu ... ribuan mil jauhnya dari tempat Rico, adegan yang sama juga terjadi ...
.
.
.
‘Ini gila..! Ini benar-benar gila ! Aku sudah gila!’
‘Memalukan!’
Meta memaki dirinya sendiri dalam hati seraya mengawasi kedua tangannya yang seperti sedang mengalami tremor. Gemetaran lengkap dengan keringat dingin.
Saat ini dirinya sedang benar-benar menyesali kelakuan bodohnya.
Mengapa dia bisa menatap wajah Pak Rico begitu lekat?
Bagaimana mungkin setelah jarak ribuan mil diantara mereka, ini dan Pak Rico bahkan bisa menebak dengan pasti apa yang sedang ia lakukan?
Mengapa juga dirinya begitu terpesona melihat wajah tampan dilayar ponselnya ?
‘Bodoh!'
Lagi-lagi Meta memaki dalam hati. Meta bahkan telah menjatuhkan ponselnya kelantai begitu saja, hanya karena tidak bisa menahan kegugupan karena kelakuannya yang ketahuan.
Bagaimana mungkin ia sudah
memperlihatkan dengan suka rela seberapa gugup dirinya?
'Jangan menatapku terus ...'
Kalimat itu bahkan kembali berputar diotak Meta. Kalimat yang diucapkan Pak Rico kepada dirinya seakan lelaki itu meyakini seratus persen dengan apa yang ia katakan. Pak Rico bahkan melarang Meta untuk menatap wajahnya terus menerus.
‘Oh my ... mau ditaruh dimana mukaku setelah ini ...?’
...
Bersambung ...
Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 😘