CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 101


Kepoin novel author yang lain, check profil author yah.. 😘


- PASUTRI


- TERJERAT CINTA PRIA DEWASA


Support mereka juga yah.. 🤗


.


.


.


Senja mulai temaram manakala Rico rebah dalam pelukan Meta bersimbah peluh. Senyumnya terukir indah penuh kepuasan.


Seolah tidak ingin semuanya berakhir terlalu cepat Rico merengkuh tubuh mungil Meta yang masih polos itu masuk kedalam rengkuhannya yang hangat, menjaganya agar tidak berusaha menjauh, tidak ingin kemesraan tadi cepat berlalu.


Untuk sementara kedekatan seperti ini memang sangat Rico butuhkan. Rico merasa perlu untuk mengetahuinya.. mengetahui bahwa detik ini seluruh hidupnya mampu ia buat tunduk dihadapan wanita mungil ini.


Cinta?


Tidak. Rasanya ini lebih. Karena sejauh ini belum ada satu wanita pun yang bisa membuat Rico tidak bisa bernafas, hanya dengan membayangkan kehilangan dirinya saja. Bahkan kini tujuan hidup Rico seolah hanya berputar pada satu poros, ingin mengikat semua yang ada didiri Meta, dan tidak akan membuat Meta meragu lagi untuk mempercayakan hatinya. That's all.


"Dadd.. bukankah seharusnya kita sudah mulai bersiap ? acara makan malam sebentar.."


"Nanti saja.." tepis Rico dengan enggan.


"Tapi.."


"Sstt.." Mendesis seraya semakin mengetatkan pelukannya.


Meta pasrah saat mendapati sikap Rico yang keras kepala tidak mau beranjak. Meskipun dalam hati tau betul bahwa mereka berdua tidak boleh terlambat sebentar, karena satu kata terlambat bisa membuat pak Tian yang terkenal dengan pribadi yang tepat waktu itu bisa marah.


Bagi Rico kemarahan Tian pasti ibarat angin lalu, lalu bagaimana dengan dirinya? sebagai bawahan pak Tian, Meta merasa sangat tidak pantas jika dia datang terlambat dan membuat bosnya itu menunggu.


"Daddy.. " mengingat hal itu membuat Meta kembali merengek manja.


"Ada apa, sayang? masih mau lagi..?"


"Egh?" Meta mendelik, namun Rico malah tertawa kecil.


"Kasih waktu lima menit, baru kita mulai ronde keduanya.."


"Ish.. apaan sih? bukan seperti itu.."


"Aduhh..!" Rico meringis. Sepasang matanya sontak terbuka lebar akibat cubitan kecil Meta diperutnya yang keras. "Kok dicubit sih, momm.."


"Siapa juga yang minta ronde kedua? memangnya ini tinju..?"


Rico tertawa melihat ekspresi wajah Meta yang kesal namun justru terlihat menggemaskan. Sejujurnya Rico juga tau apa keinginan Meta sebenarnya, mengatakan hal mesum tentang ronde kedua hanya akal-akalan Rico untuk menggoda Meta.


"Lagian sudah tau aku masih ingin memeluk, mau buru-buru pergi saja. Memangnya sepenting apa sih makan malam itu? atau aku batalkan saja..? biar kita bisa dikamar terus sepanjang malam..?"


"Tidak bisa."


"Why?"


"Karena pak Tian bosku.."


"Aku suamimu. Mana yang lebih penting..?" tantang Rico sambil mengangkat kedua alis.


"Ish.."


"Keterlaluan. Masa pertanyaan begitu gak bisa jawab..? kalau wanita lain pasti akan langsung bilang pilih suami.."


"Aku istrimu, dadd.. bukan wanita lain." pungkas Meta sambil mencebik.


Rico menggigit bibirnya, menyadari jika mulutnya telah kembali salah berucap. "M-maaf.. aku bukan bermaksud membandingkan. Serius. Mommy.. pliss jangan marah ya.. ya.. ya.." Rico mengecup seluruh permukaan wajah Meta yang lembab begitu saja. Membujuk sebagai bentuk permohonan maafnya. "Mommy.."


"Hmm.."


"Jangan marah ya.."


"Untuk apa marah? buang energi."


"Aku hanya ingin berlama-lama seperti ini. Tidak mau diganggu dengan makan malam sia lan itu. Lagi pula kata Tian kita tidak boleh saling ganggu, lalu apa ini..? bukankah dia juga sedang menggangu namanya..?" Rico menggerutu panjang pendek.


"Pak Hendi itu salah satu rekan bisnis pak Tian sejak lama. Jadi wajar saja kalau pak Tian menghargai undangan beliau untuk makan malam. Lagian hotel ini juga milik pak Hendi.." imbuh Meta.


Mendengar penjelasan itu Rico menatap Meta lekat. "Kamu mengenal Hendi? mengenal dekat?"


Rico menatap Meta dengan tatapan aneh.


"Kenapa..?" tanya Meta heran dengan tatapan Rico padanya.


"Dimana kamu bertemu dengannya?"


"Daddy lupa aku sekretaris pak Tian? aku sering mendampingi pak Tian dalam beberapa pertemuan bisnis apalagi jika Rudi sedang menghandle sesuatu yang lain. Memangnya ada apa?"


"Tidak.. tidak ada apa-apa."


Rico membisu, tetap menutup mulut meskipun Meta terlihat mengerinyit heran mendapati wajahnya yang mendadak datar.


Bukan apa-apa, Rico juga mengenal Hendi meskipun tidak terlalu dekat. Hendi adalah duda beranak satu seperti dirinya, yang memiliki visual lumayan tampan untuk seorang lelaki. Belakangan ini nama Hendi juga semakin dikenal dalam bisnis perhotelan karena kesuksesan lelaki itu membuka jaringan hotel dan ressort di beberapa lokasi wisata strategis, contohnya Dewi Beach Lagoon, tempat mereka menginap sekarang di pulau Dewi.


"Oh iya, dadd.. aku hampir lupa ingin menanyakan sesuatu.."


"Apa itu?"


"Kata Rei, daddy mengatakan kepadanya bahwa Shela sudah pergi ke laut dan dimakan ikan hiu.."


Mendengar itu Rico sontak tertawa, dia memang mengatakan hal itu kepada Rei untuk menyenangkan hati Rei yang merasa keberatan dengan kehadiran Shela. Tidak menyangka jika Rei akan mengatakan hal yang sama dengan begitu polosnya kepada Meta.


'Rupanya bocah itu benar-benar telah mengukuhkan diri untuk menjadi tim mommynya.."


Bathin Rico merasa lucu, namun terselip pula rasa bangga dan bahagia, mengingat betapa Rei sangat menyayangi Meta.


"Jangan tertawa dulu, karena ceritaku belum selesai.."


"Baiklah, teruskan.." Rico mengusap dagu dan pipi Meta dengan penuh kasih. Jika dirinya tidak salah menebak.. Rico merasa dia tau apa yang akan diucapkan Meta kemudian.


"Aku bertemu Shela."


'Tepat seperti dugaan.'


Rico kembali membathin. Tidak tertarik menanggapi apalagi membahas, Rico malah tertarik dengan tampilan penuh bibir Meta yang kemerahan dan masih terlihat membengkak akibat ulahnya beberapa saat yang lalu.


Meta tidak bisa mengelak saat segenap kelembutan Rico berlabuh dibibirnya yang bahkan masih terasa kebas. Keinginannya untuk bertanya lebih banyak tentang kehadiran Shela di pulau Dewi seolah tertelan oleh permainan Rico yang lembut dan membuai.


Nafas Rico mulai memburu saat hasrat lelaki itu semakin tidak terkendali. Detik berikutnya Rico telah bergerak cepat, diluar dugaan malah membalik keadaan membuat Meta terpekik malu saat menyadari ia telah terduduk diatas Rico yang tersenyum.


Tubuh polosnya terekspos sempurna begitu selimut tersibak, memanjakan mata Rico yang kemudian menuntunnya untuk melakukan hal tergila yang tidak pernah terfikir oleh Meta sebelumnya.


Rasa malu dan enggan menguasai jiwa polosnya, namun saat melihat ekspresi wajah Rico yang menyukai dan sangat menikmati setiap gerak terkecil hingga pada tarikan dan hembusan nafasnya yang melenguh perlahan sekalipun..


Semua itu cukup sebagai alasan untuk membuat hati Meta tergerak, agar semakin menyenangkan lelaki yang telah mencuri segenap cinta yang ia punya..


.


.


.


Beberapa saat tenggelam dalam indahnya surgawi, kini mereka seolah kembali ke pengaturan awal. Saling memeluk dan menenangkan adrenalin yang sempat meledak-ledak.


"Aku berhutang jawaban kan..?" Rico berbisik ditelinga Meta yang masih meringkuk malas dalam pelukannya.


Meta menganguk kecil seraya mendongak untuk mendapati wajah Rico, tak menyangka jika Rico akan mengatakan hal tersebut tanpa ia minta.


"Tentang Shela.. sebenarnya.. aku yang mengirimnya beserta teman-temannya kemari, ke pulau Dewi ini.."


Pupil mata Meta membesar, namun Rico telah mengusap bibir Meta dengan jemarinya, seolah melarang Meta untuk menyela.


"Aku melakukannya agar aku dan Rei bebas menemuimu. Saat itu aku terlalu takut Shela akan mengatakan sesuatu kepada ayah dan ibu. Aku masih bingung.. bimbang dengan apa yang hatiku mau, tapi sekarang tidak lagi. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi hatiku untuk menetapkan pilihan.."


Rico menarik nafas sejenak, mengulum senyum saat melihat sepasang mata Meta yang terlihat haru dan berkaca, membuatnya serentak mendekatkan wajah, membuat kedua wajah mereka tidak lagi berjarak.


Rico berbisik sangat lembut begitu pucuk hidung mereka bertemu, dengan kedua bibir yang menempel lembut tanpa *****. Hanya saling menyentuh.. yang getarnya begitu membuai hingga telah sampai ke kalbu..


"Jangan pikirkan apa-apa lagi. Cukup aku dan Rei, sisanya.. biar aku saja.."


.


.


.


Bersambung..


Supportnya jangan lupa ya.. Thx and Lophyuuu all... 😘