
Bunyi tiga kali ketukan pintu dari luar terdengar, diikuti kemunculan sosok tubuh Rudi yang masuk kekamar mereka dari balik pintu yang memang hanya terkatup tapi tidak terkunci sejak tadi.
“Apa yang harus saya kerjakan, Pak Tian ?”
Begitu melihat kehadiran Rudi, Tian mendadak salah tingkah. “Egh.. anu, Rud.. tolong belikan.. mmmh..” Tian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana caranya menyampaikan kepada Rudi yang masih berdiri menunggu dengan ekspresi keheranan melihat gelagat Tian.
Tian melirik kearah Arini yang langung mencebikkan mulutnya membuat Tian balik terperangah. Namun setelah Tian terlihat balik melotot padanya, mau tak mau nyali Arini ciut juga. Dengan wajah cemberut akhirnya ia mendekati Rudi, berniat untuk membisikkan sesuatu.
“Ehem.. T-Tolong belikan aku pembalut yah, Rud..”
Telinga Rudi langsung memerah mendengar request sang nyonya besar, namun apalah daya Rudi harus tetap menyanggupi pemintaan tersebut.
“Baik, bu..”
Rudi menganguk pasrah dan tanpa basa-basi lagi ia sudah berbalik saat tiba-tiba Arini yang teringat sesuatu kali ini refleks langsung berteriak mengingatkan. “Yang ada sayapnya yah, Rud..”
Rudi berbalik sejenak menghadap Arini hanya untuk kembali mengucapkan kalimat yang sama. “Baik, bu..”
Rudi sudah hampir hilang dibalik pintu manakala Arini yang kembali teringat sesuatu sontak kembali memanggil nama lelaki itu lagi. “Rudi..” kali ini Arini langsung melesat kearah pintu secepat kilat.
Rudi yang melihat Arini menyusulnya dibingkai pintu kembali menautkan alis. “Masih ada lagi yang ingin dibeli, bu ?”
Arini menggigit bibirnya sejenak sebelum berucap sangat perlahan seolah takut seseorang dibelakang sana yang sejak tadi tak henti mengawasinya lekat itu bisa mendengar ucapannya.
“Rudi.. tolong belikan juga aku piyama tidur yang ada gambar doraemon-nya,” bisik Arini was-was.
“Tapi, bu.. bukannya disalah satu paper bag tadi sudah ada baju ti..”
“Ssstt, jangan banyak protes. Belikan saja dua pasang yah.. dan ingat.. yang ada gambar doraemonnya..” bisik Arini lagi menekankan, membuat Rudi yang kendati merasa aneh dengan pesanan Arini, lagi-lagi tak kuasa menolak hingga akhirnya dengan terpaksa mengiyakan permintaan Arini sebelum benar-benar berlalu.
Piyama doraemon ?
Hhhh.. Arini menelan ludahnya kelu. Itu sama sekali bukan karena dirinya fans beratnya doraemon, tapi karena dalam keadaan seperti itu Arini tidak bisa lagi memikirkan karakter kartun yang lain selain si doraemon yang merupakan salah satu tokoh kartun legendaris yang sangat familiar.
Alasan mengapa harus memberikan spesifikasi seperti itu karena Arini hanya memikirkan satu hal, kalau Rudi harus mencari piyama dengan gambar karakter doraemon, sudah pasti model piyamanya adalah model standar piyama tidur biasa. Tidak mungkin Rudi bisa menemukan lingerie yang motifnya doraemon kan ?
Iya.. tentu saja. Arini harus memberikan spesifikasi yang jelas karena tadi saat dirinya membereskan semua isi paper bag yang dibawa Rudi, Arini juga menemukan sebuah paper bag yang isinya beberapa helai baju tidur kurang bahan seperti biasanya, yang membuatnya membayangkan betapa malunya jika malam ini ia harus kembali tidur dengan mengenakan pakaian itu seperti kejadian kemarin malam, saat Tian pulang kerumah dan mendapatinya tertidur diatas ranjang dengan pakaian seronok.
Saat Arini berbalik usai bernegosiasi singkat dengan Rudi perihal piyama doraemon pesanannya, Tian yang terlihat sudah berganti pakaian entah sejak kapan itu sudah mengenakan kaos dan celana Bermuda.
Pemandangan itu cukup ampuh melegakan hati Arini, karena itu artinya ia tidak akan lagi berhadapan dengan Tian yang hanya menggunakan bathrobe, sambil membayangkan isi dibalik bathrobe itu.
‘Cihh.. kenapa aku jadi omes seperti ini sih..? sampai harus membayangkan tubuh Tian yang sempat beberapa kali dilihatnya..? oh.. Arini, stop it..!’
“Belum mau mandi ?” tegur Tian sambil lalu, hampir membuat Arini terlonjak dari lamunannya yang sedang memikirkan hal yang gila. Serentak Arini mencoba menetralisir perasaannya yang masih jedag-jedug tak menentu.
“Aku mau menunggu Rudi membawa pesananku dulu.” kilahnya singkat.
“Pembalut ?”
“Egh ?” Arini mendelik saat mendengar Tian malah bisa mengucapkan kata ‘pembalut’ itu dengan santai. “I-Iyaa..”
“Memangnya benda itu ada sayapnya ?”
“Kenapa ?” ia memberanikan diri untuk bertanya.
Tian nampak menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Hening.. sebelum akhirnya bunyi ponsel Tian yang tergeletak diatas ranjang memecah kesunyian yang ada. Tian beranjak meraih ponselnya yang masih berbunyi tersebut, nama Haris tercetak jelas disana.
“Iya, Haris ? bagaimana ?”
“Saya hanya ingin menyampaikan hasil investigasi sementara, Pak..”
“Oh ya ? lalu bagaimana hasilnya ?”
“Seperti pengakuan awal, Pak.. hanya paparazzi,”
“Kamu yakin itu hanya paparazzi biasa ?”
“Dugaan kuat sementara hanya itu Pak Tian.. motifnya standar, ingin mencari tahu kehidupan pribadi Pak Tian dan menjual beritanya ke-chanel gossip Lembah tarah.”
“Baiklah.. cuma itu ?”
“Untuk sementara cuma itu yang bisa saya sampaikan, Pak,”
Tian terdiam sejenak, sebelum akhirnya berucap. “Tapi meskipun begitu saya masih merasa ada sesuatu yang ganjil. Jadi tetaplah waspada, cari informasi yang lebih akurat, sebelum saya benar-benar puas dengan hasil laporan kalian..”
“Baiklah Pak Tian, saya mengerti.”
Tian menyimpan ponselnya diatas nakas dengan fikiran yang masih mengembara. Bukannya ia tidak mempercayai hasil penyelidikan Haris dan anak buahnya yang sejauh ini selalu akurat dan terpercaya, tapi Tian hanya merasa ada yang sedikit janggal disini. Kelihatannya seperti modus biasa.. karena kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali terjadi. Selalu saja ada orang yang nekad ingin menembus kehidupan privacy-nya.. dan Tian tau persis bahwa itu sudah menjadi resiko yang akan selalu terjadi disepanjang hidupnya.
Tapi kasus kali ini sepertinya tidak
sama. Jika itu hanya ulah dari seorang paparazzi biasa, apakah tidak aneh jika dia nekad menyewa satu lantai full berjumlah empat belas unit yang berada di lantai enam, tepat satu lantai diatas apartemen Tian, dengan dalih hanya untuk mencari berita tentang kehidupan pribadi seorang Sebastian Putra Djenar ? Sementara harga sewa satu unit saja apartemen miliknya itu harganya mencapai lima puluh juta rupiah perbulan. Mana mungkin untuk ukuran seorang paparazzi lepas ia rela mengeluarkan uang hingga tujuh ratus juta untuk menyewa 1 lantai full..?
Jika berbicara tentang untung ruginya, maka semua pengakuan dan alibi yang diucapkan paparazzi tersebut sangatlah tidak masuk diakal Tian !
Tian yang sedang berfikir keras seperti baru tersadar bahwa Arini yang awalnya sedang duduk tepat dihadapan cermin sekarang sudah berdiri tepat dihadapannya dengan sorot mata yang sedang menuntut penjelasan.
.
.
.
.
.
Bersambung…
Mau next bab ? Support dulu dong yah.. biar tambah cakep.. hehe..😁