CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2. 66 - DESTINY


“Dia siapa..?”


“Bukan siapa-siapa..”


.


.


.


Diam-diam Meta menyusut sudut matanya begitu lift telah membawa tubuhnya turun ke lantai dasar. Ia tidak mau menarik perhatian beberapa karyawan best electro yang sedang berada didalam bilik lift yang sama dengannya.


‘Bukan siapa-siapa..’


Kalimat itu terus berputar dalam benak Meta. Meskipun Meta juga tidak tau apa sebenarnya yang hatinya inginkan tapi entah mengapa mendengar kalimat pak Rico itu hatinya tidak terima?


Tidak peduli apa motivasi pak Rico saat memutuskan untuk menikahinya, tapi sudah jelas-jelas sekarang statusnya adalah istri lelaki itu. Bisa-bisanya pak Rico berucap demikian tepat didepan hidungnya tanpa perasaan. Bahkan saat Meta memilih pergi pak Rico tidak menghalangi sama sekali. Lelaki itu lebih memilih tinggal bersama Shela si pelakor itu ketimbang mengejarnya..?


Benar-benar keterlaluan!!


Huhhf.. betapa konyolnya jika mengharapkan pak Rico akan mengejar dirinya. Pak Rico bahkan tidak peduli dengan kehidupannya lagi sejak terakhir ia mengirim Meta ke apartemen mewahnya.


Baiklah, Meta memang sadar bahwa dirinya tidak seberharga itu dimata pak Rico, tapi tetap saja rasanya begitu sakit diacuhkan seperti itu.. seolah tidak berarti.. tidak dianggap..


Pintu lift telah terbuka dan Meta masih berdiri menatap setiap punggung para karyawan yang keluar dari bilik lift yang sempit itu satu persatu. Kakinya serasa terpatri disana seolah enggan beranjak, sampai ketika seorang karyawan masuk kedalam bilik lift dan menekan angka tujuh belas, membuat pintu lift mengatup dan membawa tubuh Meta kembali keatas.. kelantai tujuh belas.. tanpa ia kehendaki.


Is this destiny ?


Maybe..


XXXXX


Meta merasa dirinya sudah gila.


Tapi ini kenyataannya, dan detik ini Meta malah mempercayai bahwa takdir telah memutuskan jalannya dengan sengaja, lewat lift yang telah membawa kembali tubuhnya tanpa sengaja, kelantai tujuh belas.


Apakah itu artinya Meta harus bisa memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya?


Entahlah..


Satu yang pasti bahwa sekarang kaki Meta sudah melangkah, terayun dengan tubuh tegak menuju sebuah pintu bertuliskan ruangan Ceo. Memanfaatkan keadaan yang mulai lenggang karena telah memasuki jam istirahat, terlebih saat melihat meja sekretaris yang kosong seolah ikut memudahkan Meta masuk ke ruangan pak Rico tanpa kendala.


Iya, Meta merasa dirinya memang sudah gila, dan itu benar.


Tapi Meta tidak peduli lagi, meskipun bisa saja pak Rico akan marah dengan sejumlah pemikiran nekad yang telah menguasai otaknya saat ini.


Persetan!


Meta hanya merasa bahwa waktu yang diberikan pak Rico sudah cukup mengembalikan jati dirinya kembali ketempatnya.


Lelaki itu menyuruhnya berfikir.. dan Meta memang telah melakukannya.


Hasilnya?


Setiap pagi Meta harus mengompres kedua matanya yang bengkak setelah setiap malam tertidur ditemani tangis akibat menahan kerinduan yang seolah menikam bilik hatinya. Merindukan Rei.. dan..


Akhh..!


Armetha Wulansari yang kuat.. tidak pernah menangis sesering ini sebelum ia masuk terlalu jauh dalam kehidupan seorang Rico Chandra Wijaya.


Sudah cukup.


Brakkk..!


“Meta?”


Rico terhenyak begitu pintu ruangannya kembali terpentang, terlebih saat menyaksikan seraut wajah Meta yang kaku berdiri tegak dibingkai pintu sejenak sebelum akhirnya melangkah pasti kedalam ruangan, dan berhenti tepat dihadapan Rico yang masih menatapnya bengong seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Kenapa dia kembali, kak..” bisik Shela keheranan seraya ikut berdiri dari duduknya yang baru saja meletakkan tas berisi makan siang yang belum sempat ia buka.


“Egh.. kamu kenapa sih?” tanya Rico masih bingung dengan sikap Meta yang tidak seperti biasanya.


“Tidak dengar? aku mau dia keluar..!”


“Egh.. apa-apaan ini ? enak saja menyuruhku keluar.. kamu tidak tau siapa ak..”


“Bodo amat!!” pungkas Meta cepat sambil menatap galak kearah Shela, yang membuat wanita itu mundur selangkah, sedikit bersembunyi dibalik punggung kokoh Rico yang masih belum berhasil mengurai situasi apa sebenarnya yang dihadapinya saat ini.


Melihat Shela yang seolah sedang meminta perlindungan Rico membuat hati Meta semakin geram saja.


“Pak Rico akan menyuruh dia keluar atau aku yang akan..”


Rico mengangkat tangannya, menghalau kelanjutan kalimat Meta yang dipenuhi amarah. Sejenak Rico menarik nafasnya sebentar sebelum akhirnya berucap perlahan namun tegas.


“Shela.. sebaiknya kamu pulang saja..” putus Rico tanpa berfikir dua kali.


“Tapi, kak..”


“Pulanglah dahulu, nanti kita akan bicara dirumah..”


‘Bicara di rumah ya..?’


Meta memutar bola matanya mendengar kalimat Rico. Cihh..!


Meskipun terlihat tidak rela namun akhirnya Shela mengangguk juga. “Baiklah kak.. aku akan menunggu dirumah..” ujarnya perlahan seraya mengambil tasnya yang tergolek diatas meja.


Tentu saja Shela tidak ingin bertindak berlebihan, dia berusaha menunjukkan sikap terbaiknya dengan tetap menuruti keputusan Rico meskipun sesungguhnya Shela merasa sangat dongkol dengan kehadiran wanita yang menurut Rico tadi 'bukan siapa-siapa'.


Shela masih lebih mempercayai bahwa wanita dihadapannya ini pasti hanyalah satu dari sekian banyak wanita yang mengejar-ngejar duda keren seperti Rico Chandra Wijaya.


Shela tertawa dalam hati karena yang ia yakini seratus persen bahwa tentu saja dirinyalah yang akan tetap menjadi pemenangnya, karena telah mengantongi restu orang tua Rico.


“Bawa pergi juga makanan itu..”


Mendengar kalimat jutek Meta membuat Shela sontak melotot. “Kamu jangan ngelunjak yah..” ujarnya menatap sengit Meta dengan kekesalan yang maksimal.


Mendengar keputusan Rico yang mengikuti kemauan wanita gila dihadapannya ini saja sudah membuat Shela geram bukan kepalang.. sekarang dia malah harus kembali menerima tingkah wanita itu yang semakin seenaknya.


Meta tidak membalas kalimat Shela, melainkan melotot menatap Rico yang akhirnya hanya bisa mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa kebas.


Rico membuang nafasnya berat seraya menoleh kearah Shela. “Bawa pulang saja semua makanan itu..” ujarnya lagi perlahan namun cukup membuat Shela menghentakkan kakinya kelantai dengan kesal sebelum akhirnya meraih tas makanan diatas meja dengan sedikit kasar.


“Baiklah kak.. aku pulang..” menatap Rico dengan tatapan kecewa namun tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusan lelaki itu.


Rico menganguk perlahan, membuat Meta kembali memutar bola matanya menyaksikan pemandangan yang terasa memuakkan.


“Jangan pikir bahwa urusan kita sudah selesai yah..” ucap Shela seraya melirik Meta yang tengah berdiri dengan pongah sambil melipat tangan didada.


“Tentu saja. Urusan kita memang belum selesai.” Meta balas melotot tanpa gentar.


“Kamu..”


“Shela..” Suara berat Rico telah memutus kalimat dengan nada tinggi milik Shela. “Pergilah dahulu.. aku akan menyelesaikan urusanku dengan Meta, baru kemudian kita akan bicara..”


...


Bersambung..


Favoritekan novel ini,


like dan comment setiap bab-nya, dan


berikan hadiah serta vote yang banyak yah.. 🙏


Thx and Lophyuu all.. 😘