CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 099


"Sayang.. siapa itu?"


"Bukan siapa-siapa, sayang..!!"


Brukk


Rico dan Rudi hanya bisa menahan nafas melihat daun pintu dihadapan mereka berdua yang telah terkatup rapat.


'Sia lan, Tian..'


Mungkin begitu pemikiran Rudi dan Rico yang akhirnya beranjak dari depan pintu kamar Tian dengan tubuh lunglai.


Mereka berdua tidak bicara satu sama lain, tapi begitu kompak hingga langkah keduanya bisa sama-sama menuju kearah yang sama, yakni kedepan lift.


"Kalian bertengkar lagi ya?" Rico yang akhirnya bertanya lebih dahulu setelah mereka telah berada didalam lift yang sama, menuju lantai satu.


Rudi menggeleng. "Tidak. Aku hanya meminta waktu untuk tidur satu jam, dan begitu aku bangun Laras sudah tidak ada." usai berucap demikian Rudi melirik Rico sejenak, dalam hati ingin menanyakan hal yang sama perihal Meta yang juga tidak berada dikamar.. tapi akhirnya Rudi memilih untuk tidak menanyakannya.


"Awalnya aku mengira Meta ada dikamar Rei, tapi ternyata.." Rico berucap tanpa diminta, kemudian ia membuang nafasnya yang berat, seberat lidahnya untuk mengakui dihadapan Rudi bahwa kenyataan Meta sedang kecewa dan marah padanya setelah mengetahui kenyataan tentang Shela dan dirinya.


Pintu lift telah terbuka dan mereka berdua berjalan bersisian menuju pintu hotel.


"Sebaiknya kita mencari kemana?" kepala Rico celingak-celinguk bingung saat semilir angin terasa menerpa begitu mereka sampai diluar.


"Ada dua alternatif tempat terdekat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari hotel ini, yang pertama pantai.. dan yang kedua, pusat area penjualan cenderamata.."


Rico menyimak semua kalimat Rudi yang sepertinya mengetahui betul seluk-beluk pulau Dewi, karena kenyataannya asisten Tian itu memang telah beberapa kali datang ketempat ini bersama Tian dalam rangka urusan bisnis Indotama Group yang memang merambah banyak sektor.


"Sebaiknya kita berpencar, aku akan kearah pantai.. sementara pak Rico ke pusat area cenderamata. Siapa yang bertemu Laras dan Meta terlebih dahulu, harus saling memberi informasi. Bagaimana, pak Rico?"


Rico berfikir sejenak, namun akhirnya memilih untuk mengangguk, setuju dengan strategi Rudi.


"Baiklah.. tapi seperti yang kamu bilang tadi, jangan lupa saling memberikan informasi."


Rudi mengangguk, dan mereka berdua pun berpisah, masing-masing kearah sesuai yang telah disepakati.


XXXXX


"Kamu mengenal mereka?"


Han memperhatikan Laras yang mematung sambil bersidekap dada, dengan tatapan lurus memperhatikan dua wanita yang berada didepan kios cenderamata.


Laras hanya menaikkan alisnya sedikit.


"Dua-duanya?" tanya Han lagi semakin penasaran melihat Laras yang masih mematung.


Kali ini Laras terlihat menggeleng. "Hanya yang berambut pendek.."


Han mengarahkan pandangannya kembali kedepan, mendadak ia seperti mengingat sesuatu dan..


"Wanita berambut panjang itu.. bukankah dia adalah salah satu wanita yang tadi sempat mengejarmu?"


Laras mengangguk acuh. "Kamu benar, Han. Dia memang wanita yang kena timpuk kaleng bekas sofdrink yang aku tendang itu.."


Han terhenyak sebentar mendengarnya. "Sepertinya mereka sedang berselisih paham."


"Hhmm.."


"Kamu tidak ingin membantu temanmu?" tanya Han lagi. "Wanita yang berambut pendek itu.."


"Aku bukan temannya."


Han menggaruk kepala yang tidak gatal, semakin dibuat bingung dengan jawaban Laras yang seolah tidak sinkron satu sama lain.


Bunyi ponsel Han mampu mengusik konsentrasi Han yang awalnya terpusat pada Laras.


"Iya.. halo?" suara Han terdengar begitu ia menempelkan ponselnya ketelinga.


...


"Aku sedang tidak bersamanya, kak.. ah, baiklah, aku akan menelpon Hil terlebih dahulu sebelum kembali.."


"Ada urusan?" tanya Laras saat melihat Han telah mengakhiri pembicaraan singkat itu sebelum berbalik menatapnya lagi.


Han mengangguk lesu. "Kakakku menelpon, ia ingin aku dan Hil segera kembali kehotel.."


"Kalau begitu, pergilah.."


"Tapi.." Han terlihat ragu saat pandangannya mengarah ke wanita berambut panjang yang tengah berada didepan kios cenderamata.


"Tidak apa-apa. Aku janji aku tidak akan ikut campur.." Laras meringis geli seolah bisa membaca jalan pikiran Han yang sedang mengkhawatirkannya.


"Baiklah.. egh, by the way jangan lupa sebentar malam.."


"Akan aku usahakan, tapi aku tidak bisa berjanji.."


"Oh come on, Laras.." lelaki itu terlihat memohon.


"Yesss.." Han terlihat girang. "You have promised, you can't break it.." ujar Han lagi, dengan sepasang mata berbinar.


XXXXX


Gadis penjaga kios cenderamata tetap tidak bergeming, masih terus memegang kalung cangkang kerang itu meskipun Shela sudah dua kali menanyakan berapa harga kalung tersebut.


"Berapa harganya?" tanya Meta, akhirnya memalingkan wajahnya dari wajah songong milik Shela, ganti menatap gadis penjaga kios cenderamata dengan sikap tenang.


"L-lima puluh ribu, kak.."


Tanpa basa-basi Shela mengeluarkan uang seratus ribu dan menyerahkannya kearah gadis penjaga kios.


"Berikan padaku. Aku akan membayarnya dua kali lipat.."


"T-tapi kak.."


"Berikan saja." ucap Meta lagi dengan nada datar sambil memberi isyarat pada sang gadis penjaga kios untuk menuruti permintaan ngotot Shela.


"Benar tidak apa-apa, kak..?"


Meta menganggukkan kepalanya untuk lebih meyakinkan. "Tidak apa-apa, berikan saja kepadanya,"


Dan akhirnya..


Shela tersenyum puas begitu kalung itu benar-benar menjadi miliknya.


Sebenarnya bukan karena dirinya sangat menginginkan kalung itu, namun lebih karena ia merasa puas bisa mengambil sesuatu yang diinginkan wanita yang pernah muncul tiba-tiba diruangan Rico dan mengacaukan acara makan siang mereka waktu itu.


Shela langsung memakai kalung tersebut tepat dihadapan Meta, seolah sengaja ingin memamerkannya.


"Dasar bodoh.. kenapa semudah itu kamu menyerah dan mengalah padanya..?"


Meta berbalik untuk mendapati sebuah suara yang sepertinya sangat dikenalnya itu, dan benar saja.. Laras telah berdiri dibelakangnya sambil berkacak pinggang. Namun yang Meta tidak mengerti, mengapa wajah wanita itu terlihat kesal bukan main.


Sementara itu, disisi lain, Shela yang terlihat dua kali lipat lebih terkejut dengan kehadiran Laras sontak melotot menatap sosok Laras yang telah berdiri dengan angkuhnya.


"K-kamu lagi?"


"Kenapa? belum puas aku pelintir tangan kananmu, sudah mau minta dipelintir lagi tangan yang lain..?"


Mendengar ancaman itu membuat nyali Shela sedikit menciut, apalagi saat ini ia juga tidak menemukan keempat sahabat karibnya yang entah menghilang kemana.


"Apa yang kamu cari? teman-temanmu? cih.. dasar pengecut, beraninya main keroyokan." ejek Laras. "Sebaiknya kamu pergi, sebelum aku tergoda untuk memberimu pelajaran kedua." kecam Laras kemudian sambil menatap galak dan bersungguh-sungguh.


Wajah Shela bersemu merah. "Dasar tukang ikut campur persoalan orang lain..!" dumel Shela sambil buru-buru beranjak dari hadapan Laras dengan dongkol, apalagi matanya belum juga menangkap sosok keempat sahabatnya.


Tanpa kehadiran teman-temannya, bagaimana mungkin Shela memiliki keberanian?


Shela benar- benar tidak ingin seorang diri saat harus melawan dan berurusan dengan wanita bar-bar yang telah memutar pergelangan tangannya dengan kasar itu.


Meta menarik nafas lega melihat Shela yang memilih mundur daripada harus meladeni Laras.


'Ternyata dimanapun berada dan dengan siapapun itu, Laras memang selalu saja bermasalah..'


Meta membathin.


Sebenarnya dia ingin berterima kasih, karena bagaimana pun Laras telah berhasil mengenyahkan Shela dari hadapannya, namun ungkapan rasa terima kasih Meta urung begitu mendengar kalimat ketus Laras kemudian.


"Apa kamu selalu semurah hati itu?" ucap Laras dengan nada yang kesal, seolah masih belum bisa menerima jika Shela mendapatkan kalung tersebut.


"Apa maksud.."


"Dalam hidup ini, seharusnya kamu harus bisa memilih dan mengambil keputusan dengan baik. Agar kamu tidak pernah menyesali keputusanmu.. yang kemudian akan membuatmu selalu menengok kebelakang..!"


Meta terdiam. Kalimat Laras ini.. ini pasti bukan hanya semata-mata karena sebuah kalung. Wanita yang dua atau bahkan tiga tahun lebih muda darinya itu jelas-jelas sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang sarat makna dengan nada menyindir yang begitu kentara.


"Laras.." panggil Meta perlahan seraya menatap sepasang mata Laras yang ada dihadapannya. "Selama ini kita berdua tidak pernah menyisihkan waktu untuk bicara."


"Lalu?" menatap Meta dengan sikap pongahnya seperti biasa.


"Mari kita bicara sekarang.."


Laras terhenyak mendengar kalimat tegas Meta, namun ia tidak membantah ketika Meta menunjuk kearah sebuah kedai kopi yang hanya berjarak dua kios dari kios cenderamata itu.


.


.


.


Bersambung..


Like dan semua bentuk support untuk author jangan lupa yah.. 😀


Thx and Lophyuu all.. 😘