CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Pergi


“Bukankah penerbangannya besok pagi ? lalu untuk apa ke bandara malam-malam begini ?” tanya Arini sambil menghempaskan tubuhnya diatas sofa.


Ia baru saja selesai menyiapkan koper yang isinya semua keperluan yang akan dibawa Tian nantinya. Tidak terlalu banyak, dan semua barang baik pakaian, peralatan pribadi, dan beberapa dokumen yang menjadi isi koper kecil itu tentu saja semuanya sudah sesuai dengan arahan Tian.


Tian yang sejak tadi hanya duduk di sisi ranjang sembari mengawasi setiap gerak-gerik kesibukan Arini saat ini memilih duduk bersandar dikepala ranjangnya dengan santai, sambil sesekali mengutak-atik ponsel yang ada ditangannya.


“Aku dan Rudi akan mampir ke kantor dulu untuk mengambil beberapa dokumen yang tertinggal sekaligus mengecek lagi kesiapannya. Setelah itu kita akan langsung ke bandara.”


Arini mengerinyit. “Bukannya Pak Rudi tidak ikut ?”


“Darimana kamu tau kalau Rudi tidak akan ikut ?” Tian menatap Arini yang seketika gelagapan ditodong dengan pertanyaan seperti itu dengan tatapan mata menyelidik.


“Aku.. aku hanya menebak..” kilahnya.


Tian mengerling nakal. “Bilang saja kamu mencuri dengar pembicaraanku dengan vera kemarin. Iya kan ?”


Ditodong seperti itu tentu saja membuat Arini gelagapan. “Egh, aku ? tidak.. aku tidak mencuri dengar..” wajah Arini bersemu merah karena pada kenyataannya Tian memang benar, kemarin Arini memang sengaja mencuri dengar pembicaraan Tian dan Vera yang membahas keberangkatan Tian.


Tian tertawa mengejek. “Mau mengakui hal sepele begitu saja gengsi..” cibirnya.


“Aku tidak gengsi, dan aku tidak mencuri dengar. Aku hanya tidak sengaja mendengarnya..” masih berkilah.


Tian mencibir. “Baiklah.. kamu tidak sengaja mendengarnya.”


“Memang aku tidak sengaja mendengarnya,”


“Iya, dan kamu juga tidak sengaja selalu melotot kearahku setiap kali aku lewat didepan kubikelmu kan ? Kamu juga tidak sengaja selalu menatap kejendela kaca ruanganku sambil berlama-lama melamun didalam kubikelmu. Iya kan..?”


Kedua bola mata Arini rasanya ingin melompat dari sarangnya mendengar cibiran Tian yang tentu saja pasti sengaja dilakukan Tian untuk mengolok-olok dirinya.


Akhirnya Arini memilih untuk menggeleng berkali-kali. “Itu tidak benar. Untuk apa aku melakukan hal bodoh seperti itu ?”


“Untuk apa ? mana aku tau..? Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa melakukan hal bodoh seperti itu, karena cctv-ku tidak mungkin berbohong..”


‘Oh God.. betapa memalukannya. Jadi selama ini Tian tau setiap gerak-gerik nya dikantor terlebih saat ia selalu mengawasi lelaki itu ?‘


Rasanya Arini ingin menangis dan berteriak kencang saking malunya, namun bukan Arini namanya kalau ia tidak berusaha untuk mengeles dulu. Pantang menyerah meskipun sudah jelas-jelas terciduk.


“Jadi kamu secara tidak langsung mengakui kalau selama ini kamu selalu mengawasiku dari cctv.”


“Egh, apa kau bilang ?!”


Arini mencibir. “Ihh.. padahal selama ini aku selalu berfikir pekerjaanmu sangat banyak dan kamu adalah orang yang sangat sibuk. Tapi ternyata kamu masih sempat melakukan hal konyol seperti itu, ck.. ck.. ck..”


“Apa kau bilang ? Aku selalu mengawasimu ? cihh.. sejak kapan kamu jadi tidak tahu malu begini..?” Tian menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan kepercayaan diri Arini yang kelewat over.


“Kamu sendiri yang mengatakan melihatku melamun dari cctv, bukankah itu sama artinya kamu mengawasiku..?”


“Bodoh.., tentu saja aku tidak hanya mengawasimu, tapi lebih tepatnya mengawasi semua karyawanku untuk selalu memastikan apakah mereka bekerja dengan sungguh-sungguh atau hanya melamun seperti yang kamu lakukan. Mengerti ?”


Arini nyaris tersedak mendengar kalimat Tian. Wajahnya langsung bersemu merah.


“Mempunyai karyawan yang hobinya berlama-lama melamun seperti dirimu, perusahaanku bisa rugi !”


Arini menyebikkan mulutnya kearah Tian yang balas melotot padanya.


‘Apa dia bilang tadi ? perusahaan raksasa sekelas Indotama Group mana bisa merugi hanya karena satu orang karyawan yang melamun ?? cihh.. dasar tukang melebih-lebihkan !!’


Arini ngeumel dalam hati.


"Dari wajahmu sepertinya kamu sedang mengataiku dalam hati, kan ? Memangnya kamu mau aku pecat ?”


“Kenapa kamu suka sekali mengancam ?”


“Terserah aku. Aku kan bos nya..”


Arini melotot kesal. Tapi akhirnya ia memilih mengunci mulutnya  rapat-rapat setelah menerima ancaman memecat yang menjadi senjata mutakhir Tian yang sejauh ini selalu berhasil membungkamnya.


Sudah tidak terhitung seharian ini entah sudah berapa kali Tian mengancam Arini dengan kalimat mematikan itu.


“Arini..”


Panggilan lembut itu membuat Arini yang sejak tadi misuh-misuh dalam hati sontak memalingkan wajah keasal suara. Dilihatnya Tian tengah menatapnya sambil bangkit dari ranjang dan melangkah kearahnya kemudian berhenti tepat dihadapan Arini.


‘Dia mau apa..?’


Bathin Arini yang menyadari sosok itu telah menjulang kokoh tepat dihadapannya dengan kedua tangan yang terbenam dikedua saku celananya.


“Jangan tidur di sofa lagi, nanti badanmu sakit.”


Arini menengadah. “Lalu aku harus tidur dimana ?”


“Di ranjangku.”


“Egh ? kalau aku tidur disitu, lalu.. lalu kamu.. kita..”


“Cih.. otakmu itu sebenarnya sedang travelling kemana ?”


Tian mendengus saat menyadari gerak-gerik aneh penuh dengan ekspresi gelisah pada wanita dihadapanya ini.


“Astagah.. Arini.. ! sebenarnya kamu sedang memikirkan apa sih..?!” Tian merasa gemes sendiri melihat tindak tanduk yang semakin mencurigakan dihadapannya ini.


Mendengar itu Arini langsung mematung. “Aku ? aku tidak memikirkan apa-apa. Memangnya apa yang aku  pikirkan..?” kilahnya sambil menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal, kemudian ganti menggaruk kedua lengannya kiri dan kanan yang juga sebenarnya tidak gatal.


“Apa ? tid.. tidak.. kenapa kamu menanyakan hal yang aneh ?”


Tian melengos. “Sedari tadi menggaruk kesana kemari, kalau tidak sedang sakit kulit lalu apa namanya ?”


“Egh..? anu.. sepertinya ada nyamuk. Kamarmu ini banyak nyamuknya,” gerutunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya kesana kemari diudara.


“Iya, dan nyamuknya kurang kerjaan sampai harus menggigit tengkukmu segala..” cibir pria itu saat menyadari kelakuan absurd Arini yang mulai kambuh. “Sudahlah.. sebentar lagi Sudir dan Rudi akan menjemputku. Dan setelah itu kamu bisa menguasai ranjangku selama aku tidak ada.”


Arini melongo blo’on. “Jadi cuma selama kamu tidak ada.. ?” ia mencibir kecewa.


Tian menatap Arini.


‘Wanita ini.. selalu saja memancing tanpa ia sadari.. huhh !!’


“Eh.. anu.. maksudku..”


“Maksudmu apa ?”


“Anu.. maksudku..”


Bunyi ponsel Tian bergema, menyelamatkan Arini dari keadaan yang mematikan. Tian terlihat mendengus sebelum akhirnya menerima panggilan yang datangnya dari Rudi, asisten pribadinya.


“Halo, Rud ?”



“Oh ? kalian sudah ada di lobby ?”



“Baiklah tunggu sebentar, aku akan segera turun.”


Pembicaraan itu berakhir.


“Bukannya penerbangannya dini hari ? kenapa sudah mau pergi ?”


“Kan tadi sudah kubilang kalau aku dan Rudi masih harus kekantor untuk menyiapkan beberapa dokumen tambahan. Selesai itu aku langsung ke bandara.”


Arini terdiam sejenak.


“Lalu.. kapan kamu kembali ?” tanyanya ragu-ragu. Ia merasa malu bertanya seperti itu tapi jika tidak bertanya maka hatinya seperti tidak tenang.


Tian sudah menarik gagang kopernya dan beranjak keluar. Melihat itu serta merta Arini bangkit dari sofa langsung


mengekor langkah Tian keluar kamar. “Aku belum tau pasti, tergantung negosiasinya, kenapa memangnya ?”


“tidak apa-apa ..” lirih.


Tian menghentikan langkahnya, membuat Arini yang berada dibelakangnya ikut berhenti. “Aneh.. aku saja belum pergi tapi kamu sudah kangen begini..” desisnya tanpa menoleh namun Arini tidak tau bahwa sebenarnya Tian berucap demikian sambil senyam-senyum sendiri.


“Idiihh, siapa juga yang kangen ?”


Tian menoleh kebelakang sekilas, memamerkan senyum usilnya yang dibalas cibiran oleh Arini sehingga tawa Tian lepas berderai begitu saja melihat ekspresi wajah yang dihiasi semburat itu.


“Sudahlah.. mengaku saja. Sekarang kita kan sudah berteman.. jadi tidak apa-apa jika kamu bicara jujur..” ucap Tian disela-sela tawanya sambil kembali melangkahkan kakinya menuju pintu.


“Huh, ge er banget jadi orang.“ desis Arini kesal.


Tian berbalik saat mereka sudah berada tepat dibingkai pintu. Menatap wanita dihadapannya lekat. “Baiklah, aku pergi dulu. jaga dirimu yah..”


Arini menganguk kikuk, “Hemm,”


“Kerja yang rajin, jangan sering-sering melamunkan aku..”


Arini melotot. “Apa sihh..?”


Tawa Tian berderai lagi menyaksikan tatapan protes itu. Sejenak setelah tawanya reda sambil menarik nafasnya berat ia menatap Arini dalam-dalam.


“Satu hal penting yang harus kamu ingat, Arini.. jangan pernah mempercayai apalagi membuka pintu ini untuk orang yang tidak kau kenal,”


Tatapan mereka beradu. “Aku mengerti..”


“Tidak.. tidak.. maksudku meskipun kau mengenal orang itu tapi.. tapi kau.. maksudku orang itu..”


“Maksudmu orang yang seperti Pak Rico kan ?” Arini memotong kalimat Tian begitu saja. Yah.. ia sangat paham dengan apa yang menjadi maksud Tian sebenarnya. Bahwa karena ia tidak boleh terlihat berada di apartemen Tian maka ia tidak boleh menampakkan dirinya pada siapapun, termasuk dihadapan Pak Rico.


“Aku sudah paham tentang semua itu, jadi kamu tenang saja, karena meskipun aku mengenal Pak Rico atau siapapun itu nantinya, aku janji, aku tetap tidak akan pernah membuka pintu apartemen ini untuk siapapun.”


Bersambung..


Sekalian Pansos dikit yak.. 😅 siapa tau ada yang mau kenal lebih dekat 🤗, ini akun medsos pribadi author, yg author pake buat 'nyampah' novel ini 😁 :


Ig.         ->   khalidiakayum


fb.        ->   Khalidia Kayum Rahmat


tiktok. ->   @lidiaaa121


Lophyuuu all…