CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 076


“Aku kan sudah membawa makan siang seperti yang pak Rico inginkan Jadi tugasku hari ini sudah selesai..” kilah Meta lagi melihat Rico yang hanya menatapnya tajam tanpa kata.


“Wah.. benar-benar..” gumam Rico sangat perlahan, bahkan Meta tidak bisa mendengar apa yang Rico katakan meskipun Meta tau bahwa Rico baru saja bergumam.


Rico benar-benar berdecak dalam hati begitu ia menyadari bahwa Meta bahkan hanya menyediakan satu buah lunch box untuknya tapi tidak untuk *dirinya sendiri.


Rupanya wanita dihadapannya ini benar-benar hanya berniat membawa makan siang-nya saja tanpa berkeinginan duduk lebih lama, makan bersama, dan menghabiskan waktu dengannya*.


.


.


.


“Pak Rico tidak perlu khawatir.. aku tetap akan datang lagi besok untuk membawa makan siang sesuai keinginan pak Rico..” berucap seraya berniat beranjak namun urung begitu mendengar suara berat minim nada yang menyeruak tiba-tiba..


“Berhenti.”


Mendengar itu cukup membuat gerakan Meta terhenti meskipun ia sudah terlanjur mengangkat tubuhnya dari atas sofa.


“Duduk.” Rico memerintah lagi dengan kalimat yang dingin, wajahnya ikut-ikutan mengeluarkan aura yang seolah bisa membekukan sel-sel darah yang ada didalam tubuh Meta.


Tidak ingin situasinya menjadi semakin runyam Meta memilih mengembalikan posisi tubuhnya keatas sofa.


‘Baiklah.. lalu apalagi sekarang ?’


Bathin Meta, mulai sadar bahwa ternyata tidak semudah itu dirinya membebaskan diri.


“Temani aku makan,”


Meta membelalak mendengar titah yang terucap dengan acuh tersebut. Namun lagi-lagi Meta memilih mengalah.. setidaknya ia tidak ingin lagi menjadi sosok pembangkang di detik-detik terakhir waktunya yang tersisa.


Pak Tian benar.. ia harus bisa memanfaatkan waktu satu bulan yang tersisa ini sebaik mungkin, meskipun bukan untuk memantapkan hubungan mereka berdua kedepan seperti yang diungkapkan pak Tian, melainkan.. sebaliknya, Meta ingin membuat kenangan yang baik-baik saja, yang nantinya akan bisa ia kenang dalam hidupnya kelak, dikala pada besok hari.. takdirnya dengan pak Rico benar-benar terputus dan berakhir.


“Seperti ini kan ?” tanya Meta lagi mencoba tersenyum kecut saat ia telah duduk dengan nyaman, siap menemani Rico hingga selesai makan sesuai dengan keinginan Rico.


Rico menggeleng. “Belum cukup baik..”


Meta bahkan belum sempat menanggapi manakala.. alis Rico terangkat seraya menunjuk lunch box yang ada diatas meja.


‘Sebentar.. pak Rico tidak sedang meminta untuk disuapi kan..?’


Pikiran Meta nge-lag mendadak begitu menyadari maksud tersirat Rico lewat gerak tubuhnya. Sementara Rico yang mulai tidak sabar mendapati kebingungan Meta akhirnya menarik nafas kesal.


“Jangan pura-pura bodoh dan tidak paham.. cepat suapi aku !” ujar Rico ketus seraya menatap Meta galak.


“A-appa..?!”


XXXXX


Sejak awal Rico bisa melihat bahwa lunch box dengan ukuran jumbo yang dibawa Meta itu sepertinya memang terlalu banyak untuk porsi makannya. Karena itu lah, saat belum ada separuh Meta menyuapinya tanpa kata dan dengan tangan yang awalnya agak gemetar Rico telah mengambil alih sendok yang awalnya berada ditangan Meta itu, kemudian ia menyodorkannya dihadapan Meta yang malah balas menatapnya dengan tatapan bingung.


"Kenapa melotot ? cepat buka mulutmu..”


“Egh.. tapi.. tidak..”


“Aku tau kamu juga belum makan dan porsi makanan ini terlalu banyak untukku. Lagipula ini salahmu juga.. kenapa hanya memesan satu paket saja..”


“Tapi itu.. karena aku pikir..”


“Besok bawakan  makanan untuk dua orang, dan tolong kurangi sedikit porsiku..”


Meta menelan ludahnya kelu sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap mengangguk.


“Sekarang cepat buka mulutmu !”


“T-tapi..”


Melihat Meta yang masih betah bengong didepan sendok yang berada tepat didepan mulutnya itu membuat Rico menggerutu kesal.


“Apa saat ini kamu sedang menguji kesabaranku ?” ujar Rico ketus.


“B-bukan seperti itu, tapi.. tapi itu..”


“Kenapa ? tidak mau makan dengan sendok yang sama bekas mulutku ?”


“Aaa.. bukan seperti itu.. aku hanya..”


“Untuk apa memikirkan bekas sendok dari mulutku, sementara kamu bahkan sudah berkali-kali merasakan mulutku secara langsung..”


“Hentikan, hentikan..! baik.. baik..”


Hap !


Tanpa berfikir dua kali Meta langsung melahap isi sendok yang sejak tadi diacungkan Rico dihadapannya itu.


Begitu lebih baik.. daripada ia harus mendengar kalimat demi kalimat tidak tau malu yang nantinya akan diucapkan pak Rico saat harus membahas sesuatu, yang sialnya sesuatu itu benar adanya.


Kenyataanya Meta memang telah berkali-kali merasakan bagaimana rasanya mulut dengan aroma mint yang bercampur samar aroma nikotin itu, saat dengan profesionalnya Rico telah mengajari mulut Meta cara bertukar kenikmatan yang rasanya begitu luar biasa mendebarkan, sampai-sampai Meta tidak bisa menjabarkan dengan kata, bagaimana nyaman-nya saat melakukan hal yang dipikiran Meta awalnya begitu menjijikkan.


Meta menyadari bahwa seharusnya ia membenci setiap hal yang selalu dilakukan Rico dengan pemaksaan itu, namun yang ada.. saat pertama Rico melakukannya didalam mobil, Rico terlihat puas karena pada akhirnya Meta telah menyerah dengan begitu mudah..dan terakhir saat kemarin Rico kembali melakukan hal yang sama di ruangan ini Meta tidak hanya menyerah.. tapi malah berusaha mengimbangi apa yang telah diajarkan Rico dengan irama yang sama.


Kalau mengingat semua hal memalukan itu, Meta merasa ia ingin lari bersembunyi hingga kelubang semut !


Tindakan Meta yang melahap satu suapan penuh itu tak urung membuat Rico tersenyum dalam hati. Rico merasa cukup puas hanya dengan menatap pemandangan kedua telinga Meta yang semakin memerah, ditambah dengan gerak-gerik kikuk yang kaku sejak tadi.


“Meta..” panggil Rico lirih saat menyaksikan Meta yang tengah menunduk risih sambil mengunyah makanan dalam mulutnya dengan perlahan.


“Hmm..”


“Kalau kamu selalu bisa bersikap baik dan menurut seperti ini, besok aku akan memberimu hadiah.”


Meta melirik Rico sekilas tanpa minat, sebelum kembali menunduk saat menyadari tatapan tajam Rico yang melekat padanya tanpa berpaling. “Memangnya dimata pak Rico, apakah selama ini sikapku sangat buruk ?” memilih bertanya demikian setelah makanan yang terkunyah perlahan sedikit demi sedikit melewati tenggorokannya.


“Tidak juga.. hanya saja, terkadang kamu memang cukup keras kepala, susah diatur, dan.. kurang peka..”


'Kurang peka ? apa maksudnya coba ? apa pak Rico tidak sadar kalau sebenarnya dia itu seperti sedang membicarakan dirinya sendiri ? cihh..!'


Meta menggerutu dalam hati, namun detik berikutnya ia memilih untuk mengambil alih sendok yang berada ditangan Rico kembali.


Meta menyendok satu suapan penuh yang kemudian ia sodorkan kewajah Rico dengan ekspresi datar. “Aku juga tidak pernah berniat membuat pak Rico kesal. Aku baru tau kalau sikapku selama ini terlihat seperti itu..”


Rico tidak berucap sepatah kata pun lagi, namun ia tetap membuka mulutnya, menyambut suapan penuh Meta yang langsung memenuhi rongga mulutnya begitu saja.


Sambil mengunyah perlahan, sepasang mata Rico terus mengawasi Meta lekat.. meskipun Meta selalu menghindar dengan berbagai gerak dan cara..


.


.


.


Bersambung..


Favoritekan novel ini,


like dan comment setiap bab-nya, dan


berikan hadiah serta vote yang banyak yah.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 🥰