
Sudah like bab diatas-kan ? jangan lupa ya.. sekalian sama bab-bab
sebelumnya yang belum di like.. 🤗
.
.
.
Sial.. ini benar-benar diluar dugaannya. Awalnya Rico merasa bahwa wanita se-agresif Shela yang selalu terang-terangan memberikan signal ketertarikan pada dirinya, begitu sering mencuri cium dan memberikan pelukan padanya, bahkan dengan berani pernah melu mat bibirnya dengan ganas dikolam renang, pasti punya track record buruk dalam pergaulannnya dan itu akan membuat Rico punya alasan kepada ibu agar bisa menolak Shela.
Tapi prediksinya ternyata salah besar.. karena yang ada Shela terlihat cukup baik meskipun ia hidup dijaman modern dengan lingkup pergaulan masa kini yang serba bebas, serta memiliki latar belakang keluarga yang berkecukupan.
Hal itulah yang membuat Rico semakin dibuat pusing dengan kehadiran Shela. Karena biar bagaimanapun Rico tetaplah lelaki normal.. bisa-bisa imannya lemah juga kalau setiap hari digoda oleh rayuan buaya betina.
“Memangnya ada apa sih, pak Rico?”
Rico membuka matanya, masih dengan tubuhnya yang bersandar malas ia menatap Dani yang juga sedang menatap bos-nya dengan pandangan bingung.
“Dan.. bisa tidak sih kamu kirim Shela untuk sementara waktu..?”
“Tapi.. aku harus mengirimnya kemana pak Rico ?”
‘Cihh.. memangnya Shela itu sebuah benda sehingga dengan mudah aku paket-kan kemana ?’
Dani nge-dumel dalam hati meskipun sikapnya tetap takjim.
“Yaaa.. kemana kek.. ke antartika kalau perlu..”
‘Busettt !’
Lagi-lagi Dani dibuat terhenyak mendengar ucapan Rico yang seenaknya.
“Pak Rico.. maaf, tapi saya tidak mengerti dengan jalan pikiran pak Rico. Menurut saya Shela itu cukup baik sebagai wanita. Dia malah kelihatan lebih cocok untuk anda daripada..”
Mengambang. Dani memilih tidak melanjutkan kalimatnya karena mendapati tatapan Rico yang menghunus setajam belati.
Kalau boleh jujur sebenarnya Dani jauh lebih suka jika pak Rico memilih wanita seperti Shela, daripada Meta yang selama ini hanya bisa menyusahkan pak Rico, memeras pak Rico, dan anehnya juga tidak bisa menghargai pengorbanan bos nya itu.
Meta sangat tidak cocok untuk menjadi pendamping pak Rico, baik dari latar belakang pendidikan, keluarga, kehidupan, apapun itu. Satu-satunya hal yang membuat wanita itu terlihat tepat berada dalam lingkup kehidupan pak Rico hanya karena Rei menyukai nya. Itu saja.
Saat keadaan menjadi hening dengan fikiran Rico dan Dani yang mengembara, sibuk mencari cara agar bisa membuat Shela menjauh untuk sementara waktu dari kehidupan Rico dan Rei sesuai keinginan Rico, mendadak Dani teringat sesuatu.
“Pak Rico.. saya ingat, waktu saya menyuruh seseorang untuk merekam perbincangan Shela dan teman-temannya tempo hari.. saat itu mereka berlima sempat membicarakan tentang perencanaan holiday ke pulau Dewi..”
“Oh ya.. lalu.. ?” tanya Rico bangkit dari posisi rebahannya dengan semangat empat lima.
“Tapi sepertinya pembicaraan itu belum terlalu fix karena..”
Rico sudah menjentikkan jari dengan wajah sumringah. “Itu dia.. itu dia, Dan.. itu dia jalan keluarnya..”
“Kirim mereka semua kesana, kalau perlu.. secepatnya..! dan selama-lamanya !”
Dani melongo mendengar kalimat konyol Rico yang over semangat. “Ke pulau Dewi, pak ?” ulang Dani untuk memastikan.
“Iyalah.. memangnya mau kemana lagi ?”
“Mereka berlima ? semuanya pak ?” tanya Dani lagi-lagi untuk semakin memastikan.
“Hhmm..”
“Tapi pak..”
“Hubungi sebuah travel yang bagus dan buatlah kerjasama dengan pihak travel agar bisa mengirimkan mereka berlima paket tour ke pulau Dewi.”
“Lalu budgetnya, pak..?”
“Tentu saja aku yang akan menanggungnya..”
Dani yang mulai paham dengan keinginan serta ide cemelang sang maestro akhirnya mengangguk takjim. “Saya mengerti, pak.. nanti akan saya urus semuanya..”
Rico bersandar lega dikursi kebesarannya. Manakala ia kembali teringat sesuatu yang nyaris ia lupakan. “Oh ya, Dani.. bagaimana urusannya dengan rumah yang ada di blok k nomor dua puluh perumahan buana permai ?”
“Sedikit alot, pak.. kemarin saat saya cek langsung yang punya rumah masih agak ragu untuk melepasnya karena katanya mulai kerasan tinggal disana. Jadi sekarang saya masih dalam tahap negosiasi..”
“Negosiasi apanya ? kelamaan !” semprot Rico membuat Dani menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. “Aku tidak mau tau, siang ini selepas makan siang kamu datang langsung kesana, tambah penawarannya menjadi dua kali lipat, langsung bawa uang cash. Aku mau liat mana ada yang kuat godaan kalau sudah liat uang didepan mata..” ujar Rico lagi dengan pongah. Selalu sikapnya akan berubah menjadi songong seperti itu setiap kali ia bicara tentang uang, sekaligus tidak bisa menghargai uang.
Mendengar perintah itu Dani tak urung mendelik. Bagaimana tidak ? Harga yang begitu fantastis untuk sebuah rumah dengan tipe empat puluh lima yang bahkan nyaris belum pernah di renovasi dari bentuk aslinya sama sekali.
“Baik, pak.. saya akan langsung menemui pemilik rumah itu. setelah makan siang..” ujar Dani yang hanya ditanggapi dengan acungan jempol oleh Rico yang duduk dengan senyum kepuasan di bibirnya.
Beberapa masalah telah mendapatkan jalan keluarnya..
Bathin Rico tersenyum.
.
.
.
Bersambung..
Favoritekan novel ini,
like dan comment setiap bab-nya, dan
berikan hadiah serta vote yang banyak yah..
Thx and Lophyuu all.. 🥰