
Hari kelima kepergian Tian yang masih tanpa kabar..
“Bagaimana kalau Pak Rudi meetingnya ditemani Arini saja ?”
Arini yang baru saja menginjakkan kaki kembali keruangan itu sontak menoleh keasal suara. Dilihatnya Rudi dan Vera sedang berdiri didepan meja Vera, dan tatapan keduanya kini terpusat padanya.
‘Ada apa ini ?’
“Arini..”
Arini melangkahkan kakinya kearah dua orang yang sedang berdiri dengan wajah bingung itu saat Vera memanggil namanya dengan gerak tubuh yang mengisyaratkan agar Arini mendekat.
Ragu Arini melangkahkan kaki mendekati Vera dan Rudi, semakin dekat Arini bisa melihat dengan jelas bahwa saat ini raut wajah Vera nampak pucat. Vera bahkan sedikit meringis seperti menahan sesuatu yang nyeri.
“Kamu kenapa, Ver ? Sakit ?”
Vera menggeleng. ”Ini bukan sakit yang seperti biasa, Arini. Aku.. hanya sedang datang bulan dan entah kenapa saat ini rasanya nyeri sekali. Tidak biasanya aku seperti ini,“ Vera mengeluh kemudian menatap Arini sejurus.
Sedetik kemudian Arini masih saja
bingung dengan apa yang sedang diinginkan Vera saat ini dari dirinya. “Lalu.. apa yang bisa aku bantu ?” Tanya Arini pada akhirnya.
“Tolong gantikan aku untuk mendampingi Pak Rudi meeting yah.. aku beneran gak kuat saat ini,”
Arini menatap iba Vera dengan wajahnya yang pucat dan memelas. “Aku..? tapi aku..”
Tatapan Arini pindah pada Rudi seolah mencari petunjuk apa yang harus ia lakukan, sementara Rudi masih terdiam, Rudi masih bingung sendiri melihat keadaan Vera yang masih setia meringis.
Sebenarnya Arini tidak merasa keberatan untuk menggantikan Vera, tapi.. apa nanti dia akan berguna ? selama ini statusnya hanya sebagai karyawan biasa, dan tidak pernah ikut meeting penting dengan perusahaan lain seperti sekarang ini.
“Vera, bukannya aku tidak mau membantumu dengan menggantikan kamu.. tapi kamu kan tau sendiri, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.. aku belum pernah..”
“Tidak apa-apa, tugasmu hanya mendampingi Pak Rudi untuk membantu menyiapkan berkas dan dokumen yang diperlukan beliau nanti. Kalau tidak ada yang mendampingi, nanti Pak Rudi akan sangat repot. Iya kan Pak Rudi..” Vera berucap lagi sambil meminta dukungan Rudi. Wajahnya kembali meringis.
Arini menatap Rudi yang terlihat salah tingkah diantara mereka berdua.
Sementara itu Rudi yang merasa disisi lain ia memang sangat memerlukan kehadiran seseorang untuk mendampinginya, dalam meeting dengan salah satu perusahaan besar yang menjadi mitra Indotama Group, tapi disisi lain ia juga tidak enak untuk meminta kesediaan Arini yang notabene merupakan Nyonya Sebastian Putra Djenar.
Rudi bisa saja meminta kesediaan
karyawan lain yang akan menggantikan Vera, dan yang pastinya bukan Arini. Tapi
saat jam makan siang begini mencari karyawan lain yang akan menggantikan Vera memerlukan waktu, sementara Rudi sendiri tidak memiliki lagi banyak waktu untuk menunggu.
Rudi harus tiba sebelum waktu yang ditetapkan karena Indotama Group sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu. Disiplin waktu itu yang diterapkan dengan keras oleh Pak Tian karena beliau sendiri sangat tidak suka jika ada yang tidak on time.
“Bagaimana ini Pak Rudi ? apa kehadiranku benar-benar bisa berguna ?” tanya Arini polos.
“Kalau k-kamu tidak keberatan, tentu saja aku sangat mengharapkan bantuanmu. Aku tidak bisa pergi sendiri tanpa didampingi seseorang.. itu akan sangat merepotkan nantinya,”
“Ya sudah kalau begitu aku bersedia menggantikan Vera,” putus Arini.
“Syukurlah.. kalau begitu aku bisa pulang lebih cepat untuk minum obat pereda nyeri sekaligus bisa istirahat dirumah,” Vera berucap lega sambil menyerahkan satu buah map file berisi dokumen yang diperlukan untuk meeting lengkap dengan softcopy-nya kepada Arini.
Arini menganguk sambil menerima map file yang diserahkan Vera padanya.
“Egh.. mata kamu kenapa, Arini ?” Vera tiba-tiba saja sudah bertanya saat melihat bola mata Arini yang nampak sedikit sembab.
“Aaa.. eh...?”
“Kamu.. habis menangis ?”
“Ahh.. tidak.. tadi.. mataku kelilipan
debu..” Arini mengelak. Ia mencoba tersenyum saat menyadari dua pasang mata milik Vera dan Rudi sedang mengawasinya.
“ohh..” Vera manggut-manggut.
“Ya sudah.. kalau begitu kita bisa
berangkat sekarang,” ucap Rudi kemudian sambil melirik sekilas arloji yang ada dipergelengan tangannya, kemudian mengisyaratkan Arini untuk segera beranjak.
Arini menatap Vera yang juga sedang membereskan meja kerjanya se-ala kadarnya. “Cepat sembuh, yah, Ver..” ucapnya tulus.
“Iya, Arini.. terimakasih yah..”
Vera membalas senyum Arini dengan menganguk, kemudian Arini beranjak kekubikelnya untuk mengambil tas-nya yang tergolek diatas meja.
Saat ini semua kubikel masih terlihat sepi serta kosong melompong, tidak ada karyawan seorang pun yang tertinggal disana termasuk Meta, karena jam makan siang memang belum berakhir.
Sambil memeluk map file ditangannya Arini mengikuti Rudi yang sudah melangkah lebih dahulu kearah lift.
XXXXX
Saat ini Arini dan Rudi sedang dalam perjalanan menuju Hotel Mercy yang letaknya sebenarnya masih berada dijantung kota, tidak seberapa jauh dari kantor pusat Indotama Group.
Tapi mengingat jam-jam sekarang ini jalanan ibu kota biasanya dalam kondisi padat merayap seperti yang mereka lalui sekarang maka Rudi tentu saja sudah memperhitungkan dengan baik waktu perjalanan yang akan mereka butuhkan saat ini.
Arini mempergunakan waktu yang singkat itu untuk mempelajari sekilas dokumen hardcopy yang diserahkan Vera padanya. Meskipun awalnya Arini merasa hatinya dalam kondisi yang buruk, tapi Arini bersyukur dengan diberikan tugas mendamping Rudi saat ini rasa sakit hatinya karena selalu memikirkan gossip tentang Tian sedikit teralihkan.
Dalam beberapa kesempatan Arini juga bertanya tentang beberapa materi yang tidak terlalu dia pahami kepada Rudi, dan Rudi tentu saja dengan senang hati menjelaskannya meskipun disaat yang sama ia juga harus fokus dengan jalanan yang ada didepannya. Apalagi karena tadi ia terburu waktu ia memutuskan menyetir sendiri dan tidak menggunakan jasa sopir perusahaan.
Rudi merasa sedikit kagum karena Arini terlihat sangat antusias untuk bisa mempelajari sesuatu yang memang belum pernah ia kerjakan sebelumnya. Meskipun waktu mereka terbilang sangat singkat, namun ia menghargai usaha istri rahasia bos nya tersebut.
“Pak Rudi, apakah hotelnya masih jauh ?” Arini mengangkat wajahnya yang sejak tadi terbenam dalam dokumen yang ada ditangannya.
“Tidak bu, hotelnya sudah didepan. Kira-kira tiga menit lagi kita sudah masuk area hotelnya..”
“Ooh,” Arini bergumam singkat.
“Ada apa, bu Arini ?”
“Tidak apa-apa.. saya hanya merasa sedikit gugup..” Arini nyengir. Saat ini ia mulai merapikan kembali dokumen yang dipelajarinya sejak ia memasuki mobil Rudi, menatanya kembali dengan rapi seperti sedia kala kedalam map file yang tadi dipercayakan Vera padanya.
Rudi yang melihat ekspresi Arini menahan senyum. Istri rahasia bos-nya ini diakuinya memiliki sifat yang terkadang begitu polos seperti sekarang.
Memasuki kawasan Hotel Mercy tiba-tiba ponsel Rudi berdering.
“Ini Pak Tian, bu..” ucap Rudi memberitahu saat mengetahui identitas penelpon.
Mendadak hati Arini berdesir mendengar nama itu. “Pak Tian..?” ulangnya.
Rudi menganguk, “Saya angkat telpon dulu, bu..”
Rudi berucap lagi yang langsung direspon angukan cepat oleh Arini. Rudi yang memang sudah menggunakan earphone sejak awal menyetir nampak menekan earphone tanda menerima panggilan tersebut.
“Rudi, kamu belum sampai ditempat meeting ?”
“Saat ini saya sudah memasuki area Hotel Mercy, Pak..”
"Baik, jangan terlambat dan jangan membuat klien menunggu kita,”
“Iya, Pak Tian.. saya mengerti. Secepatnya kami akan tiba di co-working space hotel sebelum Mr. Edward tiba disana,”
"Baguslah kalau begitu..”
Terdiam sejenak.
“Ehem, Rud..”
“Iya, Pak ?”
Tian terdiam lagi, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang begitu ingin dia ketahui.
"Ehmm, apakah.. benar kamu pergi menemui Mr. Edward bersama istri saya...?”
“Ahh, Iya pak, maaf saya khilaf
memberitahukan sebelumnya, bahwa Vera mendadak tidak enak badan dan saat ini ibu Arini yang mendampingi saya untuk meeting,”
Tian terdiam lagi. Yah.. sebelum
menelpon Rudi sebenarnya Tian sudah terlebih dahulu menelpon Vera untuk menanyakan kesiapan mereka meeting dengan Mr. Edward yang rencananya akan dilakukan di co-working space hotel mercy. Tapi tak disangka Tian malah mendapat informasi dari Vera bahwa karena sekretarisnya itu sedang tidak enak badan, maka Vera sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, dan Arini-lah yang menggantikannya mendamping Rudi dalam meeting nanti.
“Halo, Pak Tian ?”
"Ahh, iya.. iya baiklah.. dan.. ehem.. sampaikan juga kepada Arini kalau saya percaya kalian berdua bisa melakukannya dengan baik.”
“Baik, Pak.. pasti saya akan sampaikan. Kami berdua akan berusaha semaksimal mungkin, dan begitu selesai, saya akan segera melaporkan hasilnya.”
‘Cih.. kenapa tidak menyampaikanya saja sendiri sih, Pak Tian..?’
Bathin Rudi lagi-lagi acap kali menerima sikap Tian yang tidak pernah berubah.
"Bagus.. saya tau saya bisa mengandalkanmu, Rud.. Good luck yah,”
“Baik, Pak Tian.. terima kasih..”
"Oh yah.. satu hal lagi, saat ini saya masih transit di Dubai dan sepertinya penerbangan ke Indonesia mengalami delay.” Suara Tian terdengar menahan kesal. “Rudi, tolong koordinasikan semuanya dengan Haris dan pantau terus perkembangan apartemen. Kalau keadaan benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi, bawa saja Arini kerumah saya bagaimanapun caranya, dan jangan biarkan Arini menyaksikan kejadian apapun.”
“Baik, Pak saya mengerti,”
Pembicaraan itu berakhir.
Rudi menatap Arini yang sejak awal nampak sudah menyimak penuh pembicaraannya dengan Pak Tian via telepon barusan meskipun sudah pasti wanita itu tidak bisa mendengar apa saja yang diucapkan Pak Tian diseberang sana, tapi sorot matanya menggambarkan rasa keingintahuan yang besar.
“Pak Tian barusan memberikan semangat untuk ibu Arini agar berhasil melewati meeting kali ini dengan hasil yang maksimal,”
Sepasang bola mata Arini yang bening itu terlihat berpendar seketika saat mendengar kalimat Rudi.
“Benarkah ?” lirih.
Seandainya kemarin ia tidak pernah mendengar gossip yang beredar tentang Tian dari mulut Meta, mungkin saat ini hatinya sudah melompat-lompat kegirangan, hanya dengan mendengar kalimat bahwa saat ini Tian sedang mendukungnya.
“Pak Rudi..”
“Iya, bu ?”
Arini terdiam, menimbang-nimbang sejenak, sebelum akhirnya membulatkan hati untuk tetap bertanya hal yang selama ini mengganggu fikirannya. “Ehem, saya.. saya hanya ingin tau, kenapa Pak Tian belum kembali ? apa ada masalah dengan pekerjaan beliau di Singapore ?”
Rudi mengerinyit sejenak. “Oh, tidak bu, semua pekerjaan Pak Tian di Singapore justru berjalan dengan sangat lancar. Pak Tian bahkan hanya memerlukan waktu kurang dari satu hari untuk menghandle semuanya..”
“Tapi kenapa dia belum kembali ?”
Rudi menatap Arini sejenak.
“Pak Rudi.. k-kenapa ? ini.. ini sudah lima hari, dan saya tidak mengetahui apapun tentang keadaan Pak Tian.. ” Arini tidak tahan lagi. Akhirnya dengan terpaksa ia membuka rahasia hatinya selama lima hari yang tanpa kabar apapun dari Tian. Arini bahkan merasa saat ini dirinya sudah hampir menangis dihadapan Rudi.
Rudi menarik nafas sejenak.
‘Astaga.. apa-apaan sih Pak Tian ini ? Mengawasi semua hal yang berkaitan dengan bu Arini sampai pada bagian terkecil, tapi tega sekali membiarkan istrinya merana seperti ini bahkan sama sekali tidak memberi kabar selama lima hari ? ck.. ck.. ck..’
Pantasan saja bu Arini selalu terlihat uring-uringan setiap hari, ternyata bukan hanya karena rindu semata, melainkan sudah bercampur rasa penasaran, rasa ingin tau, bahkan pastinya juga rasa kecewa.
Rudi benar-benar dibuat terkesima dengan kenyataan tentang cara mencintai dan melindungi seorang wanita versi sang Ceo Indotama Group.
“Begini bu, sehari setelah pekerjaan di Singapore selesai, malamnya Pak Tian langsung berangkat ke London. Ada pekerjaan penting yang harus segera beliau tangani dikantor cabang yang ada di London. Mungkin karena sangat sibuk, pak Tian lupa memberi kabar..” Rudi tidak yakin apa perkataannya bisa menghibur hati si nyonya besar. Entahlah.. Rudi hanya berusaha semaksimal mungkin saat melakukannya.
Arini yang mendengar itu hanya terdiam.
Begitukah ?
Jadi Tian sangat sibuk. Saking sibuknya sampai-sampai ia lupa memberi kabar pada dirinya. Tapi untuk Pak Rudi, Vera, dan mungkin masih ada yang lain lagi.. dia selalu punya waktu dan tidak penah lupa untuk sekedar menelpon.
Ternyata hanya sampai disitu arti
seorang Arini Ramdhan untuk seorang Sebastian Putra Djenar, kan ? Pada kenyataannya ia memang tidak memiliki arti apa-apa dimata suaminya sendiri. Saat ini Arini bahkan sudah meyakini bahwa Tian memang memilik hubungan istimewa dengan wanita bernama Lila, seperti yang dibicarakan semua karyawan dikantor pusat Indotama Group. Tian pasti lebih memilih menelpon, memberi kabar, dan tidak ingin membuat khawatir orang yang ia cintai, kan ?
Arini menghempaskan nafasnya lagi. Mencoba sekuat tenaga membuang segala pikiran yang menyangkut Tian dari otaknya.
Ah sudahlah.. bukankah sebaiknya saat ini dirinya hanya fokus untuk mendampingi Rudi sebaik-baiknya, daripada harus memikirkan gossip yang beredar yang ujung-ujungnya hanya akan membuat hatinya semakin terluka.
Arini mengerling kearah Rudi yang masih setia mengemudi dengan tenang disampingnya, dan Arini bertekad untuk mengerahkan segenap kemampuannya yang ada agar membuat klien Tian kali ini terkesan sehingga bisa menghasilkan deal-deal bisnis yang menguntungkan bagi Indotama Group.
Dengan begitu pasti Tian akan merasa sedikit bangga padanya, bukan ? bahwa sebagai istri, ia tidak hanya bisa membuat Tian sakit kepala setiap saat karena mendapatkan istri yang jauh dari yang ia harapkan, namun setidaknya dirinya juga bisa berguna demi kelancaran masa depan bisnis Tian, meskipun nilainya tidak seberapa.
.
.
.
Bersambung..
1 bab, tapi panjang yah.. lebih dari 2000 kata loh.. 😁
Jangan lupa dukung terus author newbie ini, 🙏 Lophhyuuu.. all.. 😘