CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 069


“Sepertinya ponselku tadi berbunyi..”


Rico diam saja saat Meta menghempaskan tubuhnya kembali kesofa. Meta langsung mengambil alih benda pipih yang tergeletak diatas meja dan menemukan dua panggilan tak terjawab disana.


‘Asisten Rudi ?’


Alis Meta berkerut saat mengetahui siapa gerangan yang menelponnya. Sesaat setelah ia melirik arloji yang melingkar dipergelengan tangan kirinya refleks Meta terhenyak saat menyadari jam makan siang telah terlewat jauh. Mendapati kenyataan bahwa Rudi telah berusaha menelponnya bisa jadi karena pak Tian mencari keberadaannya.


“Tidak perlu menelpon balik..” suara dingin yang ada disebelahnya mengurungkan niat Meta yang hendak mendial kembali nomor Rudi.


Meta menatap Rico sejenak sebelum akhirnya berucap dengan nada sedikit panik. “Aku harus menelpon balik, karena mungkin pak Tian..”


“Tian tidak akan mencarimu.” pungkas Rico yang terlihat tenang dengan posisi duduk yang tegak sambil menyilangkan kaki, seolah sengaja ingin memancarkan ketegasannya, kemauannya yang keras, kepercayaan diri yang melimpah ruah, serta aura mengintimidasi yang dominan.


Meta langsung menurunkan kembali tangannya yang memegang ponsel itu begitu saja dengan perlahan. “Pak Rico.. memberitahu pak Tian kalau aku disini..?” berucap ragu-ragu yang disambut dengan ekspresi alis yang terangkat acuh.


“Menurutmu ?”


Meta membisu. Dalam hati ia mengakui bahwa pak Rico benar-benar sosok yang cukup tanggap dengan situasi. Sama persis dengan pak Tian yang sangat cepat jika sedang menghandle sebuah keadaan, dan mengeksekusi setiap persoalan dengan tangan dingin.


“Sekarang jangan banyak alasan lagi. Kamu sudah makan.. sudah ke toilet.. aku tidak mau lagi mendengar alasan baru. Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan, karena kamu sudah membuang waktuku sekian jam. Apa kamu pikir waktuku tidak berharga..?”


Meta menelan ludahnya yang terasa pahit ditenggorokan. Pak Rico memang benar.. Meta sudah cukup banyak membuang waktu pak Rico yang berharga dengan sedari tadi membuat berbagai alasan untuk menghindari pembicaraan, ia bahkan baru mau membuat alasan baru yang akan mengatas namakan pekerjaannya yang mendesak di kantor pusat dengan harapan dirinya bisa mengelak dengan mudah dari hadapan pak Rico, namun ternyata pak Rico sudah mengantisipasi alasan tersebut dengan menghubungi langsung pak Tian untuk memberitahukan keberadaannya di tempat ini.


‘Omegot.. Meta.. kemana perginya keberanianmu tadi ?’


‘Matilah kamu, Meta..!!’


Dalam hati Meta merutuki dirinya pasrah, saat menyadari dirinya sudah tidak memiliki celah lagi untuk menghindar. Sementara keberaniannya tadi yang seolah-olah bisa menghancurkan bumi dan segala isinya, saat nekad mengusir Shela bak seorang prajurit yang mengusir penjajah telah menguap entah kemana.


“Meta..”


“I-iya..” tergeragap.


“Apa tujuanmu kembali kesini.”


Saat Meta mencoba menoleh, ia mendapati tatapan lekat pak Rico yang tidak berpindah dari dirinya, seolah ingin menelanjangi Meta dengan tatapannya yang tajam.


“Aku ? yah.. aku.. aku hanya berfikir kenapa aku yang harus terusir. Aku kan istri pak Rico, lalu kenapa aku yang harus mengalah dengan wanita itu..?”


Rico mendengus sejenak mendengar alasan receh tersebut. “Padahal kamu tau persis bahwa Shela adalah calon istri yang telah dipersiapkan oleh orang tuaku untuk..”


“Kenyataannya sekarang ini aku masih istri sah-nya pak Rico, kan ? dan ingat yah pak Rico.. aku tidak mau di madu ! enak saja !”


Rico tertawa sumbang mendengar dumelan tanpa dasar yang meluncur mulus dari bibir yang tadi sempat ia rasakan manisnya.


“Malah tertawa ? pak Rico pikir aku sedang bercanda ? tidak lihat kalau sekarang aku sedang serius..? aku tidak main-main, pak Rico, kalau pak Rico ingin menikah lagi silahkan.. tapi ceraikan aku dulu..!”


“Bercerai ? sepertinya cuma hal itu saja yang sedang kamu tunggu-tunggu dengan tidak sabarnya..”


“Ap-pa..?”


“Tenang saja.. kita memang akan bercerai.” ucap Rico santai. “Beri aku waktu satu bulan..” ujarnya lagi terdengar semakin tanpa beban.


Glek !


Sialan.. Meta merasa bathinnya tertohok keras. Bisa-bisanya dirinya setidak berharga itu dimata pak Rico sampai-sampai tidak ada setitik pun clue yang bisa meyakinkan Meta bahwa pak Rico ingin memperjuangkan dirinya meskipun hanya seujung kuku.


Saking begitu sakit rasa yang ada dihatinya Meta bahkan tetap berusaha menahan emosinya, demi rasa gengsi yang mati-matian ia pertahankan saat ini. Karena kalau hanya mengikuti amarah sesaat, mungkin Meta sudah menjambak rambut lelaki dihadapannya itu tanpa ampun.


“S-satu bulan yah ?” seperti bergumam pada diri sendiri. “B-baiklah.. tapi kenyataannya sekarang aku masih istri sah pak Rico, kan ?”


“Lalu..?”


“Lalu apa..?”


“Iya, lalu ?”


“Kenapa bertanya ? harusnya pak Rico sendiri yang menjawabnya.. meskipun hanya tinggal menunggu waktu satu bulan, tapi kenapa aku yang harus keluar dari rumah lalu kenapa Shela yang tinggal dengan pak Rico ? itu sama saja dengan kenapa aku yang harus pergi.. sementara Shela datang kesini membawa makanan untuk makan siang ?”


Mendengar kalimat Meta yang semakin aneh membuat Rico mau tak mau harus memijit tengkuknya sendiri yang lagi-lagi terasa semakin kebas.


Rupanya melihat Rico yang terdiam membuat Meta semakin percaya diri berusaha untuk memojokkan lelaki itu.


“Kalimatmu ini berputar kesana kemari.. semakin lama semakin membuatku pusing..”


“Kenapa harus pusing ? aku hanya meminta pak Rico berbuat adil..”


“Berbuat adil ?” alis Rico kembali bertaut.


“Selagi pak Rico membutuhkan waktu satu bulan untuk menceraikan aku, aku tidak mau pak Rico berselingkuh. Pak Rico harus menunggu sampai kita bercerai dulu secara resmi lalu terserah pak Rico mau melakukan apa. Mau dibawakan makan siang setiap hari kek.. siapa juga yang peduli..”


“Kalau begitu mulai besok, bawakan aku makan siang.” putus Rico begitu saja.


“Ha-ah ??!”


“Kenapa terkejut ? dari tadi kamu ribut hanya karena Shela membawakan aku makan siang, jadi mulai besok.. selama sebulan, bawakan aku makan siang..!”


Meta terhenyak. Ia masih membisu dengan mulut sedikit terbuka, bengong seraya mengawasi Rico yang tengah melirik rolex yang menghiasi pergelangan tangannya.


“Aku harus bertemu klien sebentar lagi, sebaiknya kamu kembali ke kantormu. Pergi sana..” usir Rico kemudian.


Meta terlihat masih betah terhenyak menerima semua perlakuan buruk itu, sementara Rico malah menjentikkan jarinya didepan wajah Meta yang sontak tersadar.


‘Ctek !’


“Oh.. egh.. pak Rico, tunggu sebentar.. tidak bisa.. aku..”


Rico yang tidak lagi mengindahkan kalimat Meta yang amburadul telah beranjak dari duduknya begitu saja dan melangkah mendekati meja kerjanya, kembali mengangkat gagang interkom.


Melihat pemandangan itu Meta juga ikut bangkit dari duduknya. “Pak Rico.. tapi aku.. nanti tidak bisa..”


Mengambang. Lagi-lagi pak Rico mengacuhkannya.


Meta sebenarnya berusaha ingin protes dengan keputusan tentang membawakan makan siang selama sebulan penuh. Itu keputusan yang gila. Memangnya pak Rico pikir dirinya pengangguran yang tanpa kesibukan ?


Pekerjaannya sebagai sekretaris pak Tian di kantor pusat indotama group saja sudah segudang, bagaimana mungkin pak Rico semena-mena menambah beban pekerjaannya dengan mengharuskan dirinya membawa makan siang ke kantor ini selama sebulan penuh ?


“Halo, Win.. suruh Dani bersiap, kita akan pergi sekarang..” Rico berbicara dengan Winda, sekretarisnya yang sepertinya sudah kembali berada dimeja sekretaris, yang letaknya berada tepat diluar ruangan Rico, sama sekali tidak menggubris keberadaan Meta yang masih menatapnya seolah ingin menjelaskan sesuatu yang akhirnya urung wanita itu ucapkan.


“Baiklah, sebaiknya aku pergi..” Meta berucap seraya menghembuskan nafasnya pasrah, sebelum kemudian memutuskan untuk berbalik dan melangkah keluar karena tidak kunjung mendapatkan perhatian dari Rico yang masih sibuk berbicara di interkom dengan sekretarisnya tentang beberapa dokumen yang akan dibawa serta.


Lewat ekor matanya Rico melepas kepergian Meta. Ada senyum devil yang melintas dibibirnya, sesaat setelah ia merasa bahwa ia telah berhasil mengerjai wanita absurd itu.


‘Mau bermain-main denganku..?’


‘Kamu pasti sudah bosan hidup tenang..!’


Desis Rico dalam hati, dengan benak yang sibuk merancang hal-hal yang akan ia lakukan selama satu bulan kedepan, untuk bisa mengerjai Meta yang sudah lancang membuat hatinya sebegitu kesal.


Kesal..?


Tentu saja. Terlepas dari seberapa rumit, seberapa buruk, dan seberapa singkat hubungan mereka nantinya, harga diri Rico sebagai lelaki tetap tidak rela jika ada lelaki lain yang secara suka rela berusaha peduli pada wanita yang sudah jelas-jelas berstatus sebagai istrinya..!


.


.


.


Bersambung..


Favoritekan novel ini,


like dan comment setiap bab-nya, dan


berikan hadiah serta vote yang banyak yah.. 🙏


Thx and Lophyuu all.. 😍