CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Jauhi balkon


Hari masih belum bisa dikatakan terlalu siang, namun suasana Mercy Green Resort  sudah mulai ramai saat Arini menginjakkan kaki untuk pertama kalinya, berjalan perlahan dibelakang salah satu anak buah Tian yang bernama Beni.


Resort yang memang sangat menawan ini menjadi lebih indah dengan tambahan dekorasi yang berkelas. Sepanjang jalan masuk menuju gerbang utama Mercy Green Resort tadi Arini bahkan sudah terkagum-kagum saat disuguhkan pemandangan bunga papan ucapan selamat atas peresmian Mercy Green Resort yang bertumpuk satu sama lain begitu padatnya menghiasi kanan kiri jalan, jumlahnya mungkin ratusan saking banyaknya.


‘Luar biasa..’


Mulut Arini tidak berhenti berdecak


sejak tadi. Memasuki gerbang utama yang dihiasi tulisan selamat datang dengan penjagaan keamaan yang ketat, tentu saja mobil yang dikendarai mang Asep bisa langsung melaju dengan mulus tanpa hambatan hanya dengan mempelihatkan sebuah kartu khusus berlogo Indotama Group.


Arini datang diantar mang Asep dan didampingi seseorang yang berpenampilan rapi seperti Rudi, yang tadi diperkenalkan Tian bernama Beni, merupakan salah satu dari sekian banyak orang kepercayaan Tian, yang bersama Sudir dan mang Asep sudah siap menjemput saat Arini, Tian dan tentu saja Rudi menginjakkan kaki di tempat penjemputan area khusus penumpang.


Saat masih dipesawat Tian memang sudah menjelaskan bahwa Arini nantinya akan didampingi Beni akan diantar langsung mang Asep ke Mercy Green Resort terlebih dahulu, sementara Tian nanti akan menyusul setelah menyelesaikan beberapa kesibukannya sebelum peresmian dimulai. Sengaja datang lebih awal yang bertujuan untuk menghindari keramaian yang akan memicu kecurigaan, meskipun yang ada situasi kawasan Mercy Green Resort saat ini saja belum apa-apa sudah sangat ramai.


Tanpa kendala berarti Arini tiba di


salah satu unit resort, dengan Beni yang setia mengantarkannya sampai didepan pintu.


Arini baru saja menutup pintu kamar yang ada dibelakangnya, belum sempat berniat untuk mengagumi interiornya manakala ponselnya sudah lebih dulu berdering. Ia tersenyum lebar dan langsung menekan tombol terima saat mengetahui panggilan itu berasal dari Tian.


“Iya, sayang..” sapanya riang.


“Sudah sampai ?” suara berat Tian


terdengar diseberang.


“Sudah barusan, ini sudah ada didalam resort..”


“Syukurlah,” singkat. “Tunggulah aku disana, ingat.. jangan keluar dari kamar, dan jangan kemana-mana. Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menelpon atau mengirim sms kepada Beni saja. Dia ada diluar kamarmu.”


“Iya.. iya.. aku tau..” manggut-manggut.


Tian terdiam sejenak, sebelum akhirnya berucap meskipun terasa berat.. “Arini, satu lagi..”


“Ya ?”


“Jangan dekati balkon..”


Arini yang sebenarnya saat itu memang sedang berniat mendekati balkon karena ingin menikmati view Mercy Green Ressort yang selama ini begitu viral digembar-gemborkan media karena keindahan danau buatannya yang sangat eksotis saat dinikmati dari balkon setiap unit resortnya tersebut, sontak menghentikan langkahnya.


Arini menghembuskan nafasnya berat, refleks kakinya  melangkah mundur beberapa langkah, menjauhi balkon. “Baik sayang.. aku akan mengingatnya..”


---


 


Arini meletakkan ponselnya diatas meja rias. Ia baru saja selesai berbincang dengan Meta, tetangga kubikel sebelahnya itu. Mereka membicarakan banyak hal, karena seperti biasa Meta adalah tipe orang yang sangat suka mengobrol, dan Meta tentu saja merasa kehilangan pendengar setia ocehannya karena pengajuan cuti Arini selama satu minggu dengan alasan mendampingi ayahnya yang melakukan operasi transpalantasi jantung di rumah sakit yang ada dikotanya.


Diakhir obrolan Meta akhirnya bisa


bernafas lega karena mendengar bahwa hari senin Arini sudah bisa kembali bekerja seperti biasanya, otomatis dia tidak akan kesepian lagi.


Arini bangkit dari kursi dan kembali


mendekati ranjang setelah terlebih dahulu menyambar ponselnya yang tadinya tergeletak diatas meja. Arini menghempaskan tubuh keatas ranjang  yang super empuk itu entah untuk yang keberapa kalinya seharian ini.


Rasanya bosan sekali. Sebelum menelpon Meta tadi Arini bahkan sudah terlebih dahulu menelpon suster Eni agar bisa disambungkan kepada ayah sekedar melepas rindu, mengabarkan bahwa dirinya dan Tian sudah tiba dengan selamat, sekaligus mengecek keadaan ayah dan aktifitasnya ayah seharian ini.


Sementara Tian.. suaminya itu hanya menelpon sekali saat dirinya baru sampai di kamar resort dan belum memberi kabar kembali hingga sore ini.


Gerutu Arini dengan posisi menelungkup sambil menatap ponselnya lekat-lekat. Berharap yang dinantinya akan menghubungi karena selama ini Arini memang tidak pernah menghubungi Tian lebih dahulu karena takut mengganggu kesibukan Tian yang tidak ada habisnya.


Entah kenapa Arini merasa disaat


hubungannya dengan Tian semakin membaik, menjalani segala sesuatu yang serba


kucing-kucingan seperti ini belum apa-apa sudah membuat hatinya berkali-kali lipat lebih lelah dari sebelumnya.


Arini tersenyum kecut. Mau tidak mau ia memang sudah bertekad akan menjalani semuanya dengan kesabaran. Ia meyakini saat Tian membuka hatinya maka semua yang kelak akan dihadapinya sudah bukan lagi sebuah rintangan yang besar. Dan saat ini Tian sudah membuka hati untuknya.. lalu apa lagi yang kurang ?


Tidak boleh kemana-mana, tidak boleh keluar kamar, bahkan tidak boleh mendekati balkon, semua itu hanya karena agar dirinya tidak terlihat, bukan ?


Hari ini begitu banyak mata publik yang tertuju pada seorang seorang Sebastian Putra Djenar. Tentu lelaki itu sudah memahami medan dengan sangat baik. Melarangnya mendekati balkon.. tentu saja. Karena mata awak media pasti sedang mengintai balkon ini dari bawah sana. Hal sepele yang tidak pernah terpikir oleh otak sederhananya sama sekali. Jika Tian tidak segera mengingatkan, dapat dipastikan ia pasti sudah melakukan kecerobohan.


Kalau hanya mengenai statusnya yang seperti ini.. Arini masih optimis bisa menjalaninya. Entah sampai kapan Tian bisa mengakui dirinya.. bahkan Arini sendiri tidak tau. Diperjanjian itu jelas tertulis bahwa disaat enam bulan berlalu Tian bahkan bisa memutuskan hal apapun itu termasuk bisa mengajukan perceraian, tidak peduli ia bisa memberikan pewaris keluarga Djenar atau tidak. Hehh, bagaimana mungkin Arini bisa melupakan point penting perjanjian yang disodorkan Saraswati Djenar dan pengacara mereka ?


Arini meyakini dengan pasti bahwa saat ini ia tidak mau memikirkan apa-apa lagi. Cukuplah dengan mencurahkan cinta dan kasih sayangnya dengan segenap ketulusan hati, memberikan semua yang ada pada dirinya untuk Tian tanpa tersisa lagi, menikmati setiap inchi kasih sayang lelaki itu.. sungguh, bahkan Arini tidak tertarik lagi untuk menanyakan tentang apakah Tian benar-benar mencintainya atau tidak ?


Tidak. Arini tidak lagi menginginkan apa-apa. Tian sudah banyak berkorban untuknya tanpa ia meminta. Sudah sepantasnya jika ia memberikan semua yang ada pada dirinya tanpa bersisa.


Arini membuang nafasnya, mencoba menghilangkan pemikiran berat yang singgah dibenaknya, dengan meraih remote untuk menyalakan kembali televisi, seperti biasa ia memilih untuk mencari channel khusus yang menayangan persiapan menjelang peresmian Mercy Green Resort yang nyaris seharian ini menjadi hal paling menarik yang selalu ditontonnya sepanjang hari.


Hari memang sudah mulai beranjak sore, dan acara puncak peresmian hanya tinggal kurang lebih tiga jam lagi. Empat stasiun televisi terkemuka tanah air bahkan melakukan kerja sama untuk mengadakan siaran langsung sekaligus mengulas tuntas tentang jalannya peresmian, sementara bintang terangnya yakni Ceo Indotama Group bahkan belum menampakkan batang hidungnya sedikitpun disekitar lokasi Mercy Green Resort. Itulah yang menjadi salah satu point pemberitaan sepasang artis muda yang sedang naik daun yang menjadi host, pemandu jalannya siaran langsung persiapan acara sejak tadi siang ditelevisi.


Mendengar itu sontak Arini membuang nafasnya berat.. namun perhatiannya serentak teralihkan saat tiba-tiba ia mendengar bunyi mesin smart card lock pintu kamar resort yang menandakan seseorang tengah membuka akses pintu masuk itu dari luar.


Arini belum sempat bangkit dari


posisinya yang sedang rebahan diatas ranjang manakala seraut wajah tampan Tian muncul dibalik pintu, kemudian langsung menutupnya dari dalam. Arini masih terhenyak ditempat saat Tian sudah melangkah mendekat dengan senyum sumringah. Dirinya yang masih tak menyangka kehadiran lelaki itu sontak menatap berganti-ganti layar televisi dengan sosok Tian yang berdiri menjulang nyata dihadapannya.


“Kapan kamu tiba ? padahal dua orang host itu barusan membicarakan dirimu. Kata mereka kamu belum ada tanda-tanda berada


disekitar resort ini..” tanya Arini linglung.


Tian tertawa sambil bergerak membuka jam tangan rolex yang melingar dipergelengan tangannya. “Tentu saja aku harus bisa mengecoh mereka.” ucapnya santai seraya menaruh jam tangannya keatas nakas, setelahnya lelaki itu sudah melangkah gontai kearah kamar mandi.


Arini hanya bisa menatap pemandangan punggung kekar itu dengan tatapan takjub campur bingung, tapi ia belum sempat bertanya apa-apa saat melihat punggung Tian sudah lebih dahulu menghilang disana, dan sesaat kemudian Arini sudah mendengar suara gemericik suara shower dari dalam, menandakan jika lelaki itu sedang mandi.


.


.


.


.


.


Bersambung…


(Mandi yang bersih yah, bang.. author tungguin sampe kelar..😅)


Like and Comment jangan lupa ya..😃


Lophyuu.. all.. 😘