
Nyomot kalimat seorang author kondang NT, kalau suka novel ini jangan cuma berhenti di kamu ya, sebarkan dan ajak juga teman-teman dan orang-orang terdekat untuk ikut membacanya. π
(Salam dari author remahan peyek π)
.
.
.
Makan malam telah usai, kini mereka semua telah berpindah tempat, sepakat untuk duduk mengelilingi sebuah meja besar dijejeran terdepan, dekat panggung live music. Namun meskipun dijejeran depan, letak meja tersebut merupakan meja paling pojok, sengaja mencari tempat yang paling strategis agar tidak terlalu terlihat pengunjung yang lain, apalagi ditambah dengan penerangan lampu yang remang.
Bar Dewi Lagoon semakin ramai, dan suasana pun semakin cozy dengan lantunan suara merdu Hil dari panggung live music, menyanyikan tembang-tembang populer dalam negeri maupun mancanegara yang sedang hits saat ini, bersama band yang menggiring.
Saudara kembarnya Han juga terlihat disana, dan saat Hil menyanyi Han menabuh drum dengan handal.
.
.
.
Meta merasa agak risih saat menyadari Rico yang duduk merapat pada tubuhnya. Tidak hanya itu, tangan lelaki itu nyaris tidak pernah lepas melingkar disepanjang lengannya, dan jika ia membuat gestur tubuh menghindar sedikit saja maka yang ada Rico akan semakin merapat padanya. Jadi Meta memutuskan untuk pasrah menerima semua tingkah polah suaminya yang super lebay itu.
Sementara itu..
Rico bukannya tidak punya alasan mengapa ia berubah menjadi sealay itu.
Pengalamannya menjadi cassanova nyaris disepanjang hidupnya tidak mungkin tidak bisa membaca gelagat kaumnya sendiri.
Hendi Prawira Atmadja sudah jelas-jelas terlihat sangat menaruh perhatian pada istrinya, meskipun lelaki itu begitu pintar bersikap wajar namun tetap saja itu terlihat jelas dimata Rico.
Sementara Rudi, entah kenapa lelaki itu selalu melirik kearah Meta seolah ingin memastikan sesuatu.
'Apakah Rudi masih belum move on juga dari Meta? cih.. si brengsek itu sudah punya istri daun muda secantik Laras masih saja matanya jelalatan..!'
Rico bergumam dalam hati.
Kesal?
Tentu saja.
Kalau tidak mengingat ia harus menghargai Tian, saking kesalnya rasanya Rico ingin membawa Meta pergi dari tempat itu begitu saja, dan mengajaknya ber-olahraga di kamar sepanjang malam..
XXXXX
"Adik-adikmu sangat handal menyanyi dan bermain musik.." Tian berucap kearah Hendi yang tersenyum mendengarnya.
"Darah tidak bisa berbohong. Mendiang ibuku adalah seorang pianis handal pada masanya, jadi tidak heran kalau si kembar mahir dalam bermusik."
"Oh ya?"
"Hhmm.. selain menyanyi, mereka berdua juga menguasai banyak alat musik.."
"Tapi sepertinya kamu mulai memaksa mereka menekuni dunia bisnis seperti dirimu.."
Hendi tertawa kecil mendengar ucapan Tian. "No, I'm just giving them a choice.. aku memberi alternatif, dan mereka harus bisa memilih. Apakah musik hanya untuk menyalurkan hobi atau menjadikannya masa depan, karena dalam bisnis tidak ada pilihan suka atau tidak, hanya ada satu pilihan saja, yakni investasi masa depan.."
Tian mengangguk-anggukkan kepala mendengar penuturan Hendi yang masuk diakal. "Tapi aku salut, Hen. Kamu sangat jeli melihat peluang. Coba lihat.."
Hendi mengikuti arah pandangan Tian kearah panggung, dimana kedua adik kembarnya yang rupawan sedang beraksi.
"Kamu memanfaatkan peluang dengan baik, karena mereka adalah salah satu daya tarik terbesar dari hotelmu ini. Benar kan?"
Hendi tertawa keras mendengar ucapan Tian yang sangat mengena. Tentu saja Tian benar, pesona Han dan Hil tidak terbantahkan. Yang satunya terlalu tampan, yang satunya terlalu cantik.
(Han dan Hil)
Belakangan ini Han dan Hil bahkan telah menjadi fenomena tersendiri bagi pulau Dewi, terlebih hotelnya. Ibarat sebuah icon yang telah melekat dibenak siapapun.. si kembar yang rupawan, dan memiliki talenta musik yang luar biasa. Nama hotelnya bahkan langsung melejit dalam waktu singkat, begitu Han dan Hil menguasai panggung Bar Dewi Lagoon, kurang lebih sejak tiga bulan yang lalu.
"Tian, kamu bahkan lebih jeli menilainya.." ujar Hendi disela-sela tawanya yang mulai reda. "So, bagaimana keputusanmu?" tanya Hendi to the point begitu mendapat kesempatan untuk mencari cela, menangkap peluang kerjasama yang telah ia tawarkan untuk Ceo Indotama Group itu sejak sebulan yang lalu.
Tian mengulum senyum. "Istriku menyukai mereka.." ujar Tian sambil menatap Arini yang ada disampingnya.
Arini yang awalnya terlihat fokus menatap kearah Hil yang berada diatas panggung menatap Tian sejenak.
"Sayang, aku sangat menyukai lagu ini. Terlebih saat lagu ini dibawakan mereka.." berucap demikian sambil kembali fokus menatap panggung. Bibir mungil Arini terlihat ikut bersenandung kecil, mengikuti alunan suara Hil yang merdu mendayu.
Melihat sikap Arini membuat senyum Tian semakin sumringah. Detik berikutnya kepala Tian terlihat mengangguk, membuat Hendi nyaris tidak bisa mengendalikan gestur tubuhnya untuk tidak melompat kegirangan.
"Karena aku selalu menyukai apapun yang disukai istriku, maka aku memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku akan menghubungimu secepatnya, begitu kami kembali.." ucap Tian sambil menyodorkan tangannya kearah Hendi.
"Terima kasih, Tian.." Hendi menyambut uluran tangan Tian dengan penuh semangat.
'Finally.. thanks God..!'
Bathin Hendi mengucap syukur dalam hati.
Tidak sia-sia ia menjamu Tian dan kawan-kawannya ini dengan istimewa, dan adalah keputusan yang tepat melibatkan Han dan Hil dalam makan malam, karena si kembar yang termasuk tipe easy going terlihat begitu mudah membaur dan menarik simpati baik lewat penampilan, maupun dengan sikap dan pembawaan keduanya.
Hendi menatap kearah panggung dimana Hil telah selesai menyanyikan lagu All I Want milik Olivia Rodrigo yang tak disangka sangat disukai istri Sebastian Putra Djenar.
Sungguh kebetulan yang manis.
'Thank you very much, my lovelly twins.. you are my lucky..!'
Bisik Hendi dalam hati, senyumnya merekah menyambut Hil yang terlihat bergerak turun dari panggung, mendekati meja mereka.
XXXXX
"IΒ found a guy, told me I was a star, he held the door held my hand in the dark, and he's perfect on paper but he's lying to my face, does he think that I'm the kinda girl who needs to be saved?"
(Kutemukan seorang pria, mengatakan padaku kalau akulah seorang bintang, dia menahan pintu, memegang tanganku dalam gelap, dan dia sempurna di atas kertas, namun dia berbohong di wajahku, apakah dia berpikir kalau aku adalah gadis yang harus diselamatkan?)
All I Want - Olivia Rodrigo
Hil berucap di mic sambil berjalan turun dari panggung, mendekati meja yang diduduki kakaknya Hendi bersama rombongan teman-temannya. "Dia adalah tamu istimewa Han dan Hil malam ini.."
Laras gelagapan ditempat duduknya begitu melihat Hil mendekat dan berdiri tepat dihadapannya.
"Hadirin semuanya, beri applause untuk Laras..!!"
Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan, membuat wajah Laras pias dalam sekejap.
"Hil.. aku.. tidak bisa.." Laras meringis.
"Laras, ayo.. kamu bisa.." Arini mencoba memberi semangat kepada Laras yang masih terdiam ditempatnya.
Saat Laras menatap Rudi yang ada disampingnya, lelaki itu hanya mengangkat bahu seolah memberikan Laras kesempatan untuk membuat pilihannya sendiri.
"Tidak apa-apa, Laras.. ada Hil yang akan mendampingimu, ayo.." Hendi bertepuk tangan, menyemangati Laras yang dikenalinya sebagai adik Tian itu.
Hil telah mengulurkan tangannya kearah Laras sambil tersenyum manis.
"Laras, jangan kecewakan semua orang.." kalimat Tian membuat wajah Laras semakin pucat, karena kalimat Tian sudah pasti ibarat titah bagi siapapun.
Akhirnya Laras memberanikan diri menyambut uluran tangan Hil yang menyambutnya dengan senyum kepuasan.
"Semuanya.. kasih Laras applause dong.." suara Hil yang mendayu membuat semua pengunjung yang memadati tempat itu dengan senang hati bertepuk tangan memberikan Laras semangat.
"Laras punya suara yang bagus.." ungkap Tian lagi sambil menyesap soft drink yang ada diatas meja.
"Tian benar.. tapi aku sudah lama tidak melihatnya bernyanyi." Rico membenarkan.
"Oh ya..? wah.. pasti menarik ini.." Hendi menyambut antusias.
Tidak hanya Hendi, semua yang ada di meja tersebut bahkan yang berada didalam bar itu terlihat antusias menatap kearah panggung, terlebih saat melihat Laras telah berada disana dengan menggenggam mic ditangan.
Diatas panggung, Laras, Han, Hil dan band pengiring nampak terlihat berembuk sejenak.
"Han, katamu aku bisa request lagu . kenapa sekarang aku yang ditodong untuk bernyanyi?" protes Laras kepada Han yang tertawa mendengarnya.
"Setelah ini, aku akan menyanyikan lagu apapun yang kamu mau. I Promise." ucap Han sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf "V" kearah Laras.
"Mau menyanyikan lagu apa, Ras?" tanya Hil.
"Here's your perfect..?" Laras berucap ragu.
Sesungguhnya setelah mendengar lagu All I Want yang dibawakan Hil barusan, bathin Laras semakin diliputi rasa gamang. Perasaan melow telah mengungkungnya seolah tak ingin usai meskipun Laras telah berusaha menegarkan hatinya sejak awal.
Pembicaraan dengan Meta tadi sore itu begitu membekas dan menohok, membuat bathinnya semakin terasa ngilu, gundah tak berkesudahan.
"Jamie Miller?"
Pemandangan sepasang mata Hil yang membesar, mengoyak lamunan sesaat Laras. Laras pun mengangguk membenarkan.
"I love it. Pilihan yang hebat.." Hil mengacungkan jempolnya.
"Aku akan mengiringinya dengan piano saja yah.. mau?" tawar Han.
"Boleh.."
Anggukan Laras disambut dengan antusias oleh Han yang langsung berpindah memposisikan dirinya didepan piano, sementara Hil dan dua teman mereka lainnya memilih turun dari panggung tersebut sejenak, mengambil tempat untuk menyaksikan penampilan Laras dan Han dari bawah panggung dan memesan minuman.
Lampu panggung meredup, yang tersisa hanya sebuah lampu sorot yang terfokus pada Laras dan Han yang berada diatas panggung. Denting suara piano mulai mengalun syahdu lewat jemari Han yang memainkannya dengan mahir.. dan suasana pun menghening..
Laras berdiri begitu terang, disamping piano dengan mic ditangan..
'I remember the day, even wrote down the date that I fell for you, and now it's crossed out in red, but I still can't forget if I wanted too..'
(Aku ingat hari itu, bahkan aku menulis tanggalnya, hari dimana aku jatuh cinta padamu, dan sekarang hal itu adalah hal terlarang, tapi aku tetap tidak bisa melupakannya bahkan jika aku mau..)
Bait awal lagu Here's your perfect milik Jamie Miller mulai mengalun merdu, dan ucapan Tian dan Rico ternyata tidak meleset, karena suara Laras pun terdengar sangat bagus.
Kali ini sepertinya tidak ada lagi mata yang menolak untuk memandang Laras.
Cantik, merdu, dan bersinar.. namun sepasang matanya berkilau seolah bertelaga..
'I'm the first to say that I'm not perfect, and you're the first to say you want the best thing, but now I know a perfect way to let you go, give my last hello, hope it's worth it, here's your perfect..'
(Aku sudah mengatakan sejak awal aku tidak sempurna, dan kamu yang pertama mengatakan bahwa kau menginginkan yang terbaik, tapi sekarang aku tahu kesempurnaan adalah membiarkanmu pergi, berikan aku sapaan terakhir, berharap itu sebanding, ini kesempurnaan mu..)
.
.
.
Pada bait reff sepasang mata Laras nampak berkaca, suaranya sempat bergetar lirih.. membuat semua mata yang menatapnya seolah terhipnotis, masuk kedalam makna lagu dengan lirik yang mendalam.. yang menggambarkan sebuah perasaan dan pengharapan seseorang yang terabaikan, dan tidak pernah dianggap oleh pasangannya.
Namun meskipun begitu, Laras tetap melanjutkannya dengan baik, terlebih ketika ia berusaha menghindari tatapan Rudi suaminya yang ada dibawah sana.. yang menatapnya lurus, dingin, tak berkedip, seolah ingin menelanjangi seluruh dirinya.
Laras memilih mengalihkan tatapannya, dan matanya bersirobok dengan sepasang mata Han, yang tersenyum kearahnya dengan seluruh jemari yang tetap bergerak lincah diatas tuts piano.
"You are the best.."
Sepenggal kalimat yang bisa Laras tangkap dari gerak bibir Han saat menatapnya, seolah ingin memberikan semangat, begitu menyadari sepasang mata Laras yang bersinar teramat sangat sendu.. jauh dikedalaman sana..
.
.
.
Bersambung..
Hanya support kalian yang selalu membakar semangat.. π₯°
Thx and Loopphyyuu kesayangan.. π