CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Keinginan


Suara hingar bingar khas tempat hiburan malam nampak terdengar sayup-sayup diluar sana. Malam ini suasana corner, salah satu tempat hiburan malam elite di ibukota yang pemiliknya tentu saja Rico Chandra Wijaya memang terlihat ramai. Mungkin karena diakibatkan efek weekend yang membuat corner malam ini terlihat sangat padat dengan manusia.


Namun terlepas dari hingar bingar itu, Rico dan Tian berada disalah satu vip room corner. Tidak seperti kebiasaan mereka yang lalu-lalu yang telah berusaha mereka tinggalkan.. malam ini mereka hanya berdua, ditemani rokok dan sofdrink.. tanpa wanita dan tanpa alkohol.


Rico menatap Tian yang sedari tadi hanya menghisap rokoknya kuat-kuat. Asbak yang menampung puntung rokoknya bahkan terlihat mulai penuh.


“Tian.. lalu bagaimana keadaan nenekmu ?” tanya Rico setelah beberapa saat lamanya mereka hanya berdiam diri, dengan Rico yang hanya bisa menonton Tian yang menghabiskan rokok sebatang demi sebatang.


“So far so good..”


Rico menggeleng berkali-kali. “Kamu benar-benar suka mengambil resiko yah..”


“No risk.. no gain..”


“Cihh.. berhenti mengatakan kata-kata mutiara..!”


Rico yang awalnya terlihat serius akhirnya tidak bisa menahan diri untuk mengumpat, membuat Tian tertawa mendengar kekesalan Rico.


“Sialan.. dalam keadaan seperti ini masih bisa tertawa..”


Tawa Tian mulai mereda. “Lalu aku harus bagaimana, Co ? menangis ? aku bahkan lupa sudah berapa kali aku menangis akhir-akhir ini..” desis Tian dengan wajah yang kali ini sudah begitu datar, kemudian ia menekan batang rokoknya ke asbak, menyambar sekaleng softdrink dingin dan mulai meneguknya.


Rico melirik lelaki itu sejenak. “Tian, aku ingin menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal dibenakku, tapi aku mohon.. tolong jangan tersinggung yah..”


Tian tersenyum hambar. “Apa lagi yang ingin kamu tau, Co ? bukannya semua yang menyangkut persoalanku sudah aku beberkan semuanya ?”


“Ini.. ini tentang pemeriksaan itu..”


“Pemeriksaan apa ?”


Rico menatap Tian ragu-ragu. “Apakah kamu yakin semuanya baik-baik saja ? maksudku.. karena nenekmu bahkan mencurigai dirimu menyabotase.. apakah kamu benar-benar tidak menyabotase hasil pemeriksaan Arini waktu itu..”


Tian menarik nafas berat. “Aku memang sungguh sial..” desisnya nyaris putus asa. “Aku akui semua itu benar. Aku memang menyabotase hasil pemeriksaan karena saat itu aku merasa harus melakukannya. Aku tidak ingin Arini mendengar sesuatu yang dapat mematahkan hatinya.. tapi ternyata kekhawatiranku berlebihan. Hasil test menyatakan bahwa Arini bisa hamil kapan saja.. itu kata dokter Rina saat menerangkan hasil pemeriksaan waktu itu.. tapi karena aku sudah lebih dahulu ketahuan ingin melakukan hal yang curang, maka nenek menolak untuk mempercayaiku lagi..”


Rico berfikir sejenak. “Kalau begitu.. apa kamu tidak salah membuatnya ??” kembali bertanya dengan tampang blo’on yang langsung menghasilkan satu buah lemparan bantal kursi kewajahnya.


“Sialan ! bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan bahwa aku salah membuatnya..??!”


“Egh, jangan kesal dulu.. aku kan hanya bertanya..” elak Rico masih dengan wajah polos tak bersalah.


“Cihh.. bicara sembarangan lagi, tidak akan aku beri ampun !” Tian berucap kesal.


Rico malah tertawa cekikikan seraya menaruh kembali bantal yang dilempar Tian tadi keatas sofa. “Habisnya aku bingung dengan kasusmu ini.. masa menghamili istrimu saja sampai sesusah ini sih ? aku saja dengan Lila tidak pernah aku pikir, aku sangka, aku rencanain.. tiba-tiba sudah jadi begitu saja..” Rico berseloroh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat terbayang kondisi Lila saat ini dengan perut yang membuncit sempurna.


“Mungkin ini karma karena dulu aku sering mempermainkan wanita..”


“Aku bahkan lebih sering dari dirimu..”


Tian melengos mendengar kalimat songong itu.


“Atau karena aku sudah memperlakukan Arini dengan tidak baik diawal kami menikah ? dulu aku bahkan benci saat memikirkan harus memiliki anak darinya..” ujar Tian lagi seolah bergumam pada diri sendiri setelah beberapa saat ia terus berfikir tentang karma apa yang membuat semua ini terasa begitu rumit untuknya.


“Kalau itu sepertinya masuk diakal..” pungkas Rico. “Siapa suruh istri sendiri dianggurin. Dosa tau sudah menikah tapi tidak memberi nafkah bathin kepada istri...”


“Sok tau !”


Meskipun yang dikatakan Rico itu ada benarnya tapi Tian tetap saja melotot kesal kearah Rico yang masih bisa berucap dengan santai diantara kemelut persoalan yang menghimpit dirinya.


“Tian.. besok kamu jadi pergi lagi ?”


Tian menganguk lesu. “Hmm..”


“Lalu.. Arini..?”


Tian menarik nafas berat. “Awalnya lancar, tapi sekarang.. sepertinya dia mulai meragukan diriku. Hehh.. aku bahkan selalu mengatasnamakan Matsuya setiap kali aku pergi..” Tian menyebut salah satu perusahaan otomotif dari negeri tirai bambu yang tiga bulan lalu telah melebarkan penetrasinya ke pasar Indonesia dengan menggandeng Indotama Group, selaku partner dalam membuka pabrik yang mengeluarkan produk-produk andalan dengan berbagai kelas, mulai dari tipe city car, sedan, hatchback, multi purpose vehicle, bahkan yang sekelas sport utility vehicle.


"Sepertinya aku harus mengingatkan Lila untuk sering-sering menelpon Arini agar dia tidak terlalu sedih dan kesepian, kalau perlu mengajaknya jalan-jalan sekalian.."


"Terima kasih, Co.. aku sering merepotkan kalian.."


"Tidak apa-apa. Saat ini dokter juga menyarankan agar Lila lebih sering berjalan dan beraktifitas.. anggap saja latihan untuk melancarkan persalinan nanti.."


"Aku ikut senang mendengarnya, Co. Kamu benar-benar lelaki beruntung.."


Rico tersenyum mendengarnya, namun sedetik kemudian ia sudah melirik Tian lagi. “Tian, kenapa sih kamu suka sekali menanggung semua beban seorang diri ? saat ini aku malah berfikir bahwa sebaiknya kamu jujur saja dengan Arini.. tentang dirimu.. dan tentang nenek..”


Tian menggeleng. “Aku tidak mungkin memberitahu Arini yang sebenarnya. Meskipun aku tidak berniat sama sekali untuk berpisah, tapi mempertaruhkan pernikahan kami tentu saja bisa menyakiti hati Arini juga..”


“Aku malah merasa sekarang kamu sedang berjudi dengan masa depan pernikahanmu sendiri..”


“Tidak. Ini bukan berjudi.. lebih tepatnya aku sedang menempuh semua cara untuk mempertahankan semuanya dengan segala daya yang aku punya..” kemudian menghembuskan nafasnya dengan sangat berat.. “Meskipun sepertinya.. kali ini aku benar-benar akan kalah..”


Rico terdiam mendengar kalimat Tian. Dan Tian pun terdiam lama setelahnya. Sementara suara dentuman musik dari luar vip room corner masih menggema dengan keras.. melemparkan ingatan Tian seolah kembali pada pembicaraan nyaris tiga bulan yang lalu.. saat Saraswati berhasil membungkam perlawanannya.. dan membuat Tian menyerah..


---


‘Kanker ovarium stadium 4’


“Itu adalah hasil USG abdomen dan CT Scan.. kamu bisa membawanya kepada Hans untuk meminta penjelasan..”


Saraswati menaruh hasil pemeriksaan yang dimaksud keatas meja dengan tangan bergetar sambil menyebutkan nama dokter Hans, dokter pribadi keluarga Djenar.


Tian menatap lembaran yang ada diatas meja itu dengan tatapan nanar, belum berniat menyentuhnya manakala Saraswati kembali berucap.


“Atau kamu bisa menanyakannya kepada dokter lain kalau sekiranya kamu meragukan Hans..”


Tian menggeleng lemah. “Tidak perlu, aku mempercayai, nenek.” kemudian ia menambahkan sambil menatap Saraswati dengan pandangan sendu. “Lalu apa kata dokter ?”


“Seperti yang sudah aku katakan tadi.. aku mengidap kanker ovarium stadium 4, karena telah terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening dan daerah disekitar dada..”


Tian menghela nafasnya yang terasa sesak. Ia pernah mendengar bahwa kanker ovarium termasuk silent killer yang menduduki peringkat ketiga kanker yang sering menyerang para wanita setelah kanker payudara dan leher rahim, dan kanker ovarium memang begitu sering menghantui para wanita pasca menopause.


“Bukankah itu bisa disembuhkan ? nenek bisa melakukan operasi dan kemoterapi..”


“Tidak..” memutus ucapan Tian begitu saja.


“Tapi kenapa, nek ? bukankah nenek harus mencobanya dulu ? kalau nenek mau melakukannya pasti masih bisa disembuhkan..”


“Aku sudah mencobanya, Tian.. tapi aku tidak bisa. Aku sudah pernah menjalani kemoterapi konvensional dan ternyata semua itu rasanya sangat menyakitkan. Aku sangat menderita.. tubuh tuaku ini tidak mampu menerima efeknya. Saat pertama kali menjalaninya aku bahkan sampai muntah hingga lebih dari dua puluh kali dalam sehari..”


Tian tercekat mendengar kenyataan pahit itu, serta merta dadanya terasa sesak, ia berdiri mendekati Saraswati, langsung memeluk wanita tua yang tengah berlinang air mata itu.


“Aku tidak mau menjalaninya lagi, Tian. Aku benar-benar tidak bisa.”


“Nek..”


“Tian, aku sudah cukup tua. Aku tidak mau menjalani operasi apalagi kemoterapi. Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku yang sedikit ini. Jika memang yang diatas berkenan untuk memberikan kesempatan disisa usiaku.. aku hanya berkeinginan bisa memeluk anakmu secepatnya..”


“Nek.. jangan membahas hal itu dulu..”


“Tidak Tian.. aku harus mengatakannya padamu agar kamu mengerti seberapa besar keinginanku. Aku tidak punya keinginan yang lain lagi.. apakah kamu mengerti dengan apa yang aku inginkan ?”


Tian memeluk erat Saraswati yang semakin terisak, saat ini Tian bahkan tidak bisa membendung air matanya lagi. Bagaimana mungkin ia bisa tetap tegar saat mendengar semua ini ? membayangkan akan kehilangan Saraswati.. bahkan setelah dua puluh tahun telah berlalu, luka karena kehilangan kedua orangtuanya masih membekas dibenak Tian.. menorehkan perih yang teramat dalam.. lalu bagaimana mungkin ia siap kehilangan lagi..?


---


Dengan kondisi fikiran yang kalut Tian berusaha memutar otaknya. Tian benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk memikirkan jalan keluar terbaik dari dilemma yang ia hadapi saat ini. Disisi lain ia tidak bisa menolak Saraswati.. namun disisi lain ada Arini yang tidak mungkin ia tepikan begitu saja.


Mengingat selama ini Tian lah yang memaksa dan begitu optimis bisa meluluhkan hati Saraswati. Bagaimanapun Tian masih meyakini bahwa Saraswati masih memiliki hati jika memang dia meminta dimengerti dengan sepenuh hati.


Tapi kenyataan yang ada didepan Tian saat ini sanggup memporak porandakan semua usaha yang ia rancang dari jauh-jauh hari. Kenyataan bahwa Saraswati mengidap silent killer yang sudah berada di fase stadium akhir membuat langkah Tian terhenti ditengah jalan. Tidak bisa meneruskannya lagi..


Tangan Saraswati telah berada dalam genggaman Tian sejak tadi. Bahkan saat Tian mengambil beberapa lembar tissue yang ada diatas meja untuk menyusut setiap bulir yang membekas diwajah tua itu.. sebelah tangan Tian tetap menggenggam erat tangan keriput Saraswati.


Tian menunggu saat Saraswati benar-benar tenang, sebelum kemudian ia memutuskan untuk berlutut dihadapan neneknya yang terkesiap melihat pemandangan itu.


“Tian.. kenapa kamu..”


“Nek.. aku mengerti semuanya, karena keinginan nenek adalah keinginanku juga.”


Berucap demikian dengan bibir bergetar, dengan sepasang mata Saraswati yang mengawasinya tanpa kedip, menunggu apa yang hendak dikatakan Tian selanjutnya.


“Mari kita bekerja sama, nek. Aku berjanji aku akan menuruti semua keinginan nenek, apapun itu.. tapi nenek juga harus melakukan satu hal padaku terlebih dahulu…..”


.


.


.


.


Bersambung…


LIKE,


COMMENT,


VOTE,


FOLLOW,


SUBSRCIBE,


Terima Kasih.. 🤗


See you and lopphyuu…😘