
Bab yang diatas udah di support belum..? Yang belum.. buruan ih.. sebelum lanjut.. hehe..
“I’m sorry..” ucap Tian akhirnya, dengan intonasi perlahan menyadari wanita itu tak kunjung bicara.
“Aku tidak mendengar apa-apa,” padahal mendengar.
“Ya sudah kalau tidak dengar, salahmu sendiri..”
Arini mencebik.
‘Begitu dia bilang minta maaf ? Cihh..! Tidak ada tulus-tulusnya sama sekali !’
Mereka kembali terdiam sejenak usai perdebatan gabut barusan sebelum akhirnya Tian berucap lagi sengaja memancing reaksi Arini.
“Padahal aku mengajakmu makan siang sebagai wujud rasa terima kasih, karena kamu telah menggantikan tugas Vera dengan baik, dan berhasil membantu Rudi saat bertemu Mr. Edward. Tapi apa ini..? Kamu tidak menghargai niat baikku sama sekali, bahkan kamu sepertinya tidak menyukai semua yang aku lakukan..”
‘Ohh.. jadi makan siang barusan itu ucapan terima kasih Tian pada dirinya ? Dengan mengajaknya makan siang bersama dengan Lila yang duduk tepat dihadapannya ? Jadi itu hadiah Tian atas jerih payahnya kemarin ? Yang benar saja..!’
Arini mendengus dalam hati.
“Jadi makan siang tadi itu seperti hadiah ?” memilih mengungkapkan karena merasa tidak puas jika hanya mengomel didalam hati.
“Hemm.. kira-kira begitu.”
Arini membuang mukanya lagi.
“Kenapa reaksimu seperti itu ? tidak suka ?”
“Iya, aku tidak suka.” berucap spontan.
Tian yang mendengarnya bahkan sedikit terhenyak. Tidak menyangka jika Arini bisa bersikap seberani itu. “Apa yang membuatmu tidak suka ? bukankah makanannya enak ?” meskipun begitu Tian bahkan tidak serta merta berhenti untuk sengaja lebih mengundang reaksi Arini.
“Pokoknya aku tidak suka ! Aku tidak suka makanannya ! Aku tidak suka semuanya ! Aku tidak mau hadiah seperti itu !” kali ini lengkap dengan sepasang mata yang melotot kesal.
Tawa Tian nyaris pecah mendengar kalimat polos yang memberondongnya tanpa ampun, menyadari jika sudah seperti ini, itu berarti Arini sudah dalam mode menjadi dirinya sendiri.
Berucap polos, bertingkah absurd, lupa kalau harus mengendalikan diri, menjaga image, seolah-olah apapun kalimat yang sedang melintas dibenaknya saat itu, mampu ia ucapkan tanpa berfikir dua kali, sehingga tak jarang Arini nantinya akan menyadari efek perkataannya, menjadi salah tingkah dan gugup, setelah semua isi benaknya sudah telanjur terucap ludes tak bersisa.
“Baiklah, memangnya kamu mau hadiah yang seperti apa ?” sengaja memancing sambil mengulum senyum.
“Terserah..” membuang kembali
pandangannya keluar jendela dengan bibir manyun dua centi.
“Bukannya kalau menginginkan sesuatu, kamu bisa membelinya sendiri ? kamu punya uangku, tidak perlu meminta lagi kan ?”
“Kalau begitu aku ingin sesuatu yang tidak bisa aku beli dengan uangmu.”
Tian tertawa pelan. “Hehe.. tapi sayangnya aku bahkan bisa membeli apapun.. karena dengan uangku, sepertinya tidak ada yang tidak bisa aku beli.”
‘Cihh.. sombong sekali !”
Mendecih dalam hati, namun pandangannya tetap tidak berpaling, malah membuat gerakan melipat tangan didada.
“Kalau ada sesuatu yang tidak bisa aku beli berarti itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terbeli. Jadi kamu jangan coba-coba meminta bulan, bintang, matahari, planet dan hal yang tidak masuk akal lainnya.” tandas Tian.
Mendengar itu lagi-lagi Arini mencibir. Nah.. sekarang lelaki ini malah mengakui bahwa tidak selamanya uang yang dimilikinya bisa berkuasa atas apapun.
“Sebenarnya.. aku masih mempunyai sesuatu untukmu..” ujar Tian lagi sengaja membuat kalimatnya menggantung, membuat sorot mata Arini sontak beralih pada Tian.
“Apa ? mana ?” dengan sekali gerakan Arini sudah memutar tubuhnya, memposisikan duduknya hingga terlihat menghadap penuh kearah Tian, terlihat sekali tidak sabarnya.
Tian semakin terpesona menyaksikan sepasang mata yang bergerak-gerak indah itu namun melihat reaksi refleks Arini barusan tak urung membuatnya terkekeh kecil.
Sungguh Tian merasa sangat senang berada disituasi yang menyenangkan seperti ini. Tian bahkan tidak peduli jika sekarang ia dan Arini sedang berada didalam mobil yang didepannya ada Rudi dan Sudir yang pastinya sedang berusaha mati-matian menulikan kedua telinga mereka masing-masing sejak tadi.
“Masih rahasia. Nanti juga kamu akan tahu sendiri,”
“Eghh..? tapi..”
“Tunggulah sampai weekend besok,” Tian tersenyum misterius, membuat wanita dihadapannya membuang nafas kesal campur kecewa.
“Huhhf.. baiklah, sebenarnya kamu bahkan belum punya ide sama sekali, tentang apa hadiah yang akan kamu berikan, bukan ? Maka dari itulah kamu menyuruhku bersabar, padahal kamu hanya mau memikirkannya dulu sebelum..”
“Astaga.. jadi sekarang kamu sedang meragukan aku yah ?”
“Tidak.. aku tidak sedang meragukanmu, tapi yang sedang aku bicarakan ini adalah kenyataan..”
“Baiklah,” potong Tian segera sambil menatap Arini serius. “Benar mau hadiahmu sekarang ?” tanyanya lagi seolah ingin meyakinkan.
“Iya. Tentu saja. Aku mau hadiahku sekarang, mana hadiahku ?” Arini terlihat bersemangat lagi begitu mendengarnya, matanya yang berbinar membuat akal sehat Tian langsung goyah.
Tian membathin.
“Kamu pintar sekali memprovokasi yah..” ucap Tian akhirnya, sambil mengeluarkan ponsel kemudian terlihat mengetik sesuatu.
“Aku tidak meminta apapun, justru kamu yang mengatakan ingin memberikan aku hadiah..” kilahnya lagi, kali ini Tian hanya menanggapinya dengan menganguk kecil dengan senyum yang tak lagi lekang dari bibirnya. Tanpa bicara ia terus menyelesaikan kegiatannya mengetik, sebelum akhirnya menekan icon bertulis ‘Send’.
Kurang dari lima detik saat Rudi yang duduk didepan pas disamping Sudir yang mengemudikan mobil dengan tenang, mengeluarkan ponselnya yang baru saja menerima sebuah notifikasi masuk.
Dahi Rudi sontak mengerinyit saat membaca isi pesan yang dikirim oleh sang bos yang sedang duduk dikursi yang berada tepat belakangnya.
'Saya akan membawa Arini sekarang saja, siapkan jet secepatnya, suruh Sudir putar balik ke bandara sekarang, lakukan semuanya tanpa bicara.. jangan sampai Arini tau.'
Rudi berdecak dalam hati. Setelah sejak tadi dirinya dan juga Sudir diam seribu bahasa, berpura-pura menjadi orang yang bisu sekaligus tuli yang seolah-olah tidak mendengar pembicaraan bahkan perdebatan apapun dari bangku belakang itu.. akhirnya ini endingnya. Sebuah keputusan yang menyalahi agenda yang telah tersusun.
'Baiklah, Pak.'
Jawaban yang singkat, padat dan jelas. Tian menyimpan ponselnya setelah membaca jawaban dari Rudi tersebut, sambil tersenyum kecil menatap Arini yang masih menatapnya bingung, wanita itu bahkan sempat membuat gerakan isyarat dengan mengangkat kedua alisnya, sorot matanya yang
tidak sabar seperti menyiratkan pertanyaan..
‘Mana hadiahku..?’
Rasanya saat ini betapa inginnya Tian menyentuh wajah polos itu, menjawil hidung bangirnya, bahkan sekalian ******* bibir Arini kalau perlu.. tapi Tian menahan diri.
“Ssstt.. tunggu saja, aku sedang
menyiapkannya untukmu.” ucapnya pada akhirnya mengalihkan beberapa fikiran mesum yang hendak mampir menguasai akal sehatnya.
”Tapi..”
“Sebaiknya persiapkan dirimu, jangan sampai kamu terharu..“ ucap Tian sambil tersenyum kearah Arini, sebelum akhirnya berpura-pura menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Arini yang melihat tingkah Tian itu sontak mengerinyit.
‘Dihh.. kok malah tidur sih ? lalu dimana hadiah ku ?’
Bibirnya semakin mengerucut ketika melihat tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Tian.
Mengapa dia malah tidur ? Apa dia benar-benar tidur ?
Sedetik dua detik Arini hanya memandangi wajah tampan yang nampak memejamkan mata dengan tenang itu setelah seperti biasa akhirnya ia baru menyadari sesuatu setelah begitu terlambat menyadari apa yang sedang mereka bicarakan beberapa saat yang lalu. Tentu saja tentang betapa tidak tau malu dirinya yang sudah berani meminta hadiah kepada Tian.
‘Astaga.. apa yang aku lakukan sih..’
Detik itu juga Arini merasa gelisah, malu bukan kepalang.
Meski mata Tian terpejam tapi Tian
berani bertaruh bahwa saat ini Arini pasti sedang gelisah memikirkan apa yang sudah telanjur ia ucapkan. Rasanya saat ini Tian benar-benar ingin tertawa, saat menyadari semua sifat Arini yang begitu kontras justru membentuk kepribadian unik yang membuat Tian akhirnya mengakui.. bahwa dirinya bisa takluk dengan begitu mudah.
Sementara Rudi langsung bergerak cepat, sesaat setelah mengetikkan jawaban pesan balasan kepada Tian barusan, selanjutnya tanpa suara ia langsung memberi kode kepada Sudir yang ada disampingnya untuk memutar balik mobil yang mereka tumpangi agar menuju bandara.
Sudir yang begitu paham dengan maksud Rudi langsung menganguk tanda mengerti, sementara mulut mereka masih tanpa kata.
Rudi kemudian mengetikkan kembali beberapa pesan diponselnya, untuk dikirimkan ke pihak-pihak yang nantinya akan terlibat pada keberangkatan yang sedianya dirancang sang bos untuk memberi surprise istrinya pada besok hari, mendadak berganti saat itu juga.
Rudi menggeleng-gelengkan kepalanya, bahkan sekarang ia harus melaksanakan semua titah sang Ceo dengan tanpa suara dan hanya bisa mengandalkan chat agar tidak merusak kejutan manis yang akan diberikan Pak Tian kepada bu Arini nantinya.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Masih sanggup untuk lanjut next bab-nya gak..? 😅
Like dulu yah.. trus tinggalin jejak dikolom coment buat nambah performa author..😁
Jangan lupa kalau ada stock koin or vote, sedekahin author juga.. (hehe ngareppp 🤭)
Lophyuuu all… & Cekidooottt….