
Hari masih pagi. Tian sudah menaruh gelas kopi miliknya yang telah tandas saat Arini keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe.
“Sayang, boleh tidak sebentar sore aku mengajak Meta bertemu di café..?”
“Memangnya ada hal yang penting?”
“Tidak, sayang.. aku hanya kangen karena rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dan ngobrol dengan Meta..” Arini berucap seraya mendekati Tian.
“Tumben tidak bersama Lila..”
“Akhir-akhir ini Mercy Green Resort sering dipakai untuk berbagai event dan Lila menjadi sangat sibuk karena
semua itu. Aku tidak enak mengajaknya hangout disaat pekerjaannya sedang banyak-banyaknya.."
Tian terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan Arini.
"Boleh yah, sayang.. lagian sudah lama juga aku tidak keluar rumah..”
Yah.. tak terasa empat bulan telah berlalu, setelah mendung duka yang menyelimuti hati dan menorehkan luka yang cukup dalam pada akhirnya toh kehidupan harus terus berjalan.
Kepergian Saraswati yang kemudian disusul dengan keguguran yang dialami Arini cukup membuat mereka berdua semakin terpuruk.
Namun ternyata seperti itulah kehidupan. Jika memilih menghadapi setiap rintangan dan keterpurukan maka seiring waktu berlalu.. waktu juga lah yang kelak akan menyembuhkan semua luka hati.
Tian merasa sangat kehilangan.. Arini pun mengalami kehancuran.. namun jika mereka tidak bangkit secepatnya.. akan ada lebih banyak kehidupan yang terbengkalai. Ribuan orang yang menggantungkan kehidupan pada Indotama Group, dan terlebih lagi karena Sean buah hati mereka, merupakan alasan terbesar yang membuat Tian dan Arini harus bisa secepatnya bangun dan kembali menghadapi dunia dengan saling menguatkan.
“Boleh saja, tapi kamu tidak lupa peraturannya kan..?” Tian berucap tanpa menoleh, ia sudah menghempaskan tubuhnya keatas sofa, membereskan beberapa dokumen yang bertebaran diatas meja dan memasukkannya kedalam tas kerjanya.
Arini menyusul lelaki itu untuk duduk disana, tepat disamping Tian. “Iya, aku akan pergi dengan mang Asep dan Beni.”
“Aku akan menyuruh Haris ikut serta..”
“Tapi..”
“Biar pikiranku lebih tenang saat bekerja.” usai dengan kesibukannya memasukkan dokumen Tian menatap Arini lekat. “Kalau masih mau mengajukan protes aku akan menambah beberapa orang lagi sekalian..”
“Egh, tidak.. tidak.. baiklah Beni dan Haris sudah cukup..”
Tian tertawa tanpa suara, terlebih saat melihat ekspresi wajah Arini yang mencebik, menyadari Tian selalu serempong ini setiap kali dirinya ingin beraktifitas diluar sana. Benar-benar suami yang overprotektif..!
“Heh, melihatmu seperti itu rasanya ingin sekali memakanmu..” berucap pelan seraya membuang nafas berat.
“Rasanya..? tumben..” ujar Arini, karena biasanya Tian tidak pernah membuang waktu jika menginginkan dirinya.
“Tidak bisa, sayang, Laras sudah menunggu dibawah..” Tian berucap perlahan, menyembunyikan rasa enggannya dihadapan Arini.
“Laras ?”
“Hmm..”
“Bukankah biasanya dia selalu pergi kekantor dengan mobilnya sendiri?”
“Kata Laras mobilnya masih di bengkel. Tadi ia meminta tolong untuk menumpang padaku kekantor dan aku akhirnya mengiyakan..”
“Tadi? memangnya kapan kamu bertemu dengannya?” tanya Arini lagi karena seingatnya Tian bahkan belum
keluar dari kamar sejak bangun pagi.
“Dia mengirimkan pesan..”
“Ohh..”
“Sudah ya, aku pergi dulu..” sambil mencium sekilas dahi Arini kemudian berlabuh sedikit lama dibibir yang ranum sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
“Aku antar..!” ucap Arini tiba-tiba membuat Tian mengerinyit.
“Dengan penampilan seperti ini? kamu pikir aku rela melihat Rudi dan semua pengawal yang ada dibawah sana melihat istriku seperti ini..?”
Arini yang menyadari ia masih mengenakan bathrobe akhirnya hanya bisa terduduk kembali disofa dengan pasrah.
“Bisa-bisa sepagi ini aku sudah membunuh banyak orang..” dumel Tian lagi.
“Iya.. baiklah aku tidak jadi turun..” pungkas Arini sebelum persoalan yang sepele itu menjadi panjang. “Pergilah, dan jangan lupa cepat pulang yah, sayang..” sambil memeluk manja Tian yang membalasnya dengan anggukan.
Arini memutuskan untuk mengantar Tian sampai didepan pintu kamar, namun ketika Tian membuka pintu pemandangan bocah kecil yang berdiri bersama suster dibelakangnya sudah menyambut mereka berdua tepat didepan pintu, membuat senyum Tian dan Arini sama-sama merekah karena kehadirannya.
“Halo, jagoan Daddy.. selamat pagi..” Tian membungkuk untuk meraih bocah lelaki itu yang dengan sigap melompat kedalam pelukan Tian.
“Selamat pagi, Daddy.. selamat pagi Mommy..” Sean merengkuh leher Tian kuat-kuat sambil mencium pipi Tian yang dibalas Tian dengan mencium kedua pipi Sean kembali.
Arini yang melihatnya serta merta memberi wajahnya untuk mendapat perlakuan yang sama dari Sean.
“Sini sama Mommy yah.. Daddy mau berangkat kerja..”
Kali ini tanpa drama seperti biasanya Sean beralih kedalam pelukan Arini dengan mudah.
“Sean, Daddy pergi dulu yah.. jaga mommy baik-baik..” Tian kembali mengecup singkat kedua pipi dua orang yang paling ia cintai dalam hidupnya itu sambil tersenyum.
“Sean akan menjaga mommy..” berucap dengan tertawa-tawa riang khas bocah.
“Aku pergi dulu, sayang.. “ kali ini Tian benar-benar telah beranjak setelah mendapati angukan Arini dengan senyumnya yang khas, saat melepas kepergiannya setiap pagi seperti biasanya.
“Hanum.. biar Sean main sama saya dulu pagi ini.. soalnya siang nanti saya mau keluar..”
“Baik, bu..”
Usai berucap demikian Arini membawa Sean masuk kedalam kamarnya, setelah mengatupkan daun pintu terlebih dahulu, meninggalkan Hanum yang masih menunduk takjim sampai pintu kamar itu mengatup kembali.
XXXXX
menuju kantor pusat Indotama Group, tanpa berniat mengajaknya bicara sedikit pun.
Tak terasa.. empat bulan telah berlalu. Kepergian Saraswati membawa episode baru dalam kehidupan Laras.
Setelah bertahun-tahun lamanya mengikuti kemanapun langkah Saraswati, kepergian Saraswati pada awalnya membuat dirinya merasa tak tentu arah dan tujuan.
Namun seminggu berselang, lewat sebuah surat wasiat yang disampaikan pengacara keluarga Djenar, diketahui bahwa Saraswati telah memberikan dirinya bagian dari harta Saraswati yang jumlahnya lumayan fantastis. Satu unit rumah mewah di salah satu kompleks perumahan elite di ibukota, dua unit kendaraan yang satunya bahkan berjenis sport utility vehicle, tabungan dengan nominal mencapai sebelas digit, dan kepemilikan pada sebuah rumah mode yang brandnya sudah menembus pasar luar negeri.
Seharusnya semua itu terlihat sudah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan tentang masa depannya, bukan? tapi entah kenapa Laras justru merasa Saraswati seolah ingin membelinya.
Apakah dirinya pantas menerima semua itu?
Jawabannya tentu saja tidak.
Semua itu berlebihan. Bahkan saat wasiat itu dibaca Laras bisa melihat Tian dan Arini sempat mengerutkan alis secara bersamaan, meskipun keduanya tidak melontarkan protes apapun, dan menerima semua garisan keinginan Sarsawati yang tertuang dalam wasiat.
Mungkin mereka berdua hanya tidak menyangka Saraswati akan sebegitu loyalnya, memberikan harta sebanyak itu pada seorang Larasati yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya, meskipun telah menyandang nama besar Djenar.
Saraswati telah menjadikan dirinya sebagai cucu angkat, pada beberapa tahun yang silam. Dan setelah semua itu sehari-harinya Laras tidak pernah lagi lepas dari kehidupan Saraswati dimanapun wanita tua itu berada, karena ia juga telah merangkap menjadi asisten pribadi Saraswati Djenar.
Semua kebaikan hati Saraswati lewat surat wasiat itu, justru membuat Laras memikirkan hal yang lain, bahwa Saraswati seolah sengaja ingin membujuknya lewat warisan yang ia berikan.
Setelah Saraswati meninggal Laras meminta Arini agar untuk sementara waktu dirinya tetap bisa tinggal dirumah mereka, sambil tak lupa meminta agar bisa dipekerjakan dikantor Pusat Indotama Group.
Belakangan ini Laras malah sedang gencar-gencarnya berusaha agar bisa menggantikan posisi Meta, menjadi Sekretaris Tian di kantor pusat.
Untuk hal yang satu ini, Laras cukup jeli. Laras tidak memintanya kepada Arini karena mengingat Meta merupakan sahabat dekat istri Tian yang kampungan itu.
Laras memintanya langsung kepada Tian dengan sedikit ‘memaksa’, yang sepertinya usahanya akan segera membuahkan hasil sesuai harapannya.
“Kak, kita sudah mau sampai..” Laras berucap lembut, namun cukup membuat Tian tersadar dan mengangkat pandangannya serta merta. Laras memang terbiasa memanggil Tian dengan sebutan tersebut.
“Kenapa tidak ingatkan sejak tadi, Ras..” Tian bergumam sambil mematikan daya laptopnya dengan tergesa, langsung membenahi laptopnya dengan tergesa juga.
“Maaf, kak, mm.. mari aku bantu, kak..” saat Laras mencoba mengambil alih laptop tersebut jemarinya menyentuh jemari Tian yang saat itu sedang memegang laptop yang sama.
“Sudah, tidak apa-apa.. ayo turun..” berucap demikian Tian menarik tangannya serta merta secara refleks kemudian memasukkan laptop begitu saja kedalam tas. Tian membuka pintu mobil yang dikendarai Sudir dan keluar begitu saja tanpa menoleh.
Rudi yang telah menunggu Tian seperti biasa di lobby kantor pusat serentak mengerinyit saat melihat sosok Laras turun dari pintu seberang. Mata mereka beradu sejenak sebelum akhirnya Laras membuang muka dengan acuh.
“Bacakan agenda untuk hari ini, Rud..” suara Tian memecah fokus Rudi yang awalnya tertuju pada Laras.
“Agenda awal meninjau lokasi proyek dengan pak Rico ke Indotama Times Square..” Rudi telah mensejajari
langkah Tian saat ia memberitahukan agenda kerja Tian.
Tian menautkan alis. “Bukannya nanti siang selesai meeting baru tinjau lokasi?”
“Jadwalnya diubah, pak.. tinjau lokasi dulu baru meeting..”
“Kenapa diubah ?”
“Kata pak Rico kalau siang panas katanya, jadi mendingan pagi ini saja..”
Tian sontak menghentikan langkahnya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali menyadari sikap Rico yang semena-mena itu tidak pernah berubah.
“Baik.. kalau begitu tidak usah naik, kita langsung ke lokasi saja.” putus Tian yang disambut anggukan Rudi. “Beritahu Meta kalau kita akan langsung ke lokasi..” ucap Tian lagi menyebut nama Meta, yang saat ini merupakan sekretaris pribadi Tian yang menggantikan Arini yang pada waktu itu diketahui telah mengandung Sean, karena sejak saat hamil itulah Arini tidak lagi diperbolehkan bekerja oleh Tian.
“Baik, pak.. nanti saya akan menelpon Meta untuk memberitahukannya,”
Tian berbalik arah, namun karena gerakannya yang sedikit terburu-buru tanpa sengaja ia telah menabrak satu sosok yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya dan..
Brukk !!
Sosok itu terhuyung kebelakang. Melihat itu dengan gerakan refleks Tian berhasil menangkap tubuh itu dan menariknya agar tidak menyentuh lantai.. sedangkan tubuh itu serta merta ikut bergerak menahan tubuhnya sendiri dengan mengalungkan tangan dileher Tian begitu saja, membuat kedua wajah berjarak hanya beberapa centi.
‘Laras..’
Tian menelan ludah saat menyadari siapa gerangan wanita yang tanpa sengaja telah berada dipelukannya, manakala tubuh itu kembali tertarik kembali menjauh dari tubuhnya karena Rudi terlihat sigap menarik lengan Laras dengan gerakan yang secepat kilat, agar bisa menjauhi tubuh sang bos besar secepatnya.
“Maaf, kamu tidak apa-apa kan, Ras..?”
“Tidak kak.. aku tidak apa-apa.. terima kasih telah menolong aku tadi, karena kalau tidak sudah pasti aku akan terjatuh..” menggeleng sambil melempar senyum manis kearah Tian.
Tian mengangguk kecil. “Sudah seharusnya..”
“Maaf, Pak Tian, sebaiknya kita segera pergi, karena Pak Rico juga sudah dalam perjalanan menuju lokasi..” Rudi berucap mengingatkan, sengaja memutus interaksi itu secepatnya.
“Baiklah ayo, kita segera berangkat..” Tian langsung melangkah kembali ke Lobby dimana Sudir telah menunggu mereka kembali.
“Selalu jaga sikapmu, dan anggaplah ini sebagai peringatan pertamaku..!” desis Rudi saat melewati tubuh Laras yang masih berdiri terpukau menatap punggung kekar Tian yang menjauh.
Rudi bahkan menyeringai sengit saat gadis itu nampak sedikit terperangah begitu mendengar kecaman Rudi yang terlontar dengan suara yang dingin dan datar, lengkap dengan kerlingan mata yang sinis seolah mengancam.. namun sayangnya sedikitpun tidak cukup membuat Laras gentar..
.
.
.
.
Bersambung..
Like, Vote, Comment seperti biasa yah.. kesayanganku.. 😘😘😘