CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Tindakan persuasif


Yang belum Like bab sebelumnya dari bab 1 s.d. bab kemarin.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar bisa nambah performa.. 🤗 Terima kasih.. 😘


.


.


.


Ini adalah hari pertama Arini bekerja setelah cutinya yang seminggu full terlewat, dan dia langsung  menempati meja sekretaris yang setelah sekian lama ditempati oleh Vera.


Sejak tadi Arini sedang berusaha menyesuaikan diri dengan meneruskan semua pekerjaan Vera sebelumnya. Bersama Rudi, Arini juga sedang berusaha menyusun dan mencocokkan kembali jadwal Tian yang sempat berantakan untuk seminggu ini dengan menyesuaikan kembali waktu dan tempatnya dengan berbagai undangan dan agenda yang sudah ada sebelumnya dengan yang baru.


Seharusnya Arini memang sangat sibuk. Tapi sesuatu yang sejak tadi menghantui fikirannya selalu menghancurkan kosentrasinya setiap kali Arini mengingatnya, sehingga akhirnya Arini menyerah, diam-diam mengambil ponsel dan mengetik sesuatu disana.


“Sibuk ?”


Beberapa kali niat Arini urung saat


harus menekan tulisan ‘send’ di layar ponselnya. Dan  setelah beberapa kali menimbangnya akhirnya ia memberanikan diri menekan tulisan tersebut.


“Ada apa sayang ?”


Hanya beberapa detik berselang ia sudah mendapat jawaban dari chat whattsapp-nya barusan. Arini mengetik lagi dengan segera.


“Boleh aku masuk ? Aku mau bicara.”


Menekan lagi tulisan ‘send’ sambil menunggu jawaban dari ponselnya tapi yang ada Arini nyaris terjengkang karena bukan notifikasi chat masuk yang ia terima, melainkan bunyi interkom didepannya yang berdering nyaring menandakan sang bos yang ada didalam ruangan kaca itu sedang menghubunginya lewat interkom itu untuk yang pertama kalinya.


Arini mengangkat interkom itu perlahan. “I-iyya Pak..?” berucap fomal namun agak tergeragap.


“Kangen padaku yah ?” bisik suara


diseberang itu nampak berucap riang.


Arini menggigit kecil bibirnya mendengar kalimat nakal yang menggodanya itu. Kalau dalam kesempatan yang berbeda mungkin Arini akan langsung membalas keusilan Tian.. tapi saat ini ia sedang berada dikursi sekretaris yang awalnya ditempati Vera dengan Meta dan beberapa karyawan lainnya yang menghuni kubikel masing-masing. Sudah pasti Arini tidak bisa membalas keusilan tian tersebut dengan kalimat sesuka hati.


“Masuklah, aku juga kangen ingin


memelukmu sebentar..”  bisikan menggoda itu kembali menyapu gendang telinga Arini. Membuat Arini bersusah payah agar jangan sampai ada karyawan lainnya yang melihat ia tersipu saat mendengar kalimat rayuan pulau kelapa milik Tian.


HHhuffhh..


“Baiklah, Pak..” akhirnya menjawab dengan nada formal lagi, sambil meletakkan interkom itu ditempatnya semula.


“Sstt.. Arini..”


Arini yang sudah bersiap berdiri untuk beranjak sejenak urung saat mendapati wajah Meta yang muncul dari bilik kubikelnya.


“Dipanggil Pak Tian yah ?” berucap dengan nada bisik-bisik.


Arini hanya membalasnya pertanyaan itundengan angukan kikuk, yang disambut Meta dengan angukan serta kemudian isyarat dengan tangannya agar Arini cepat-cepat memenuhi permintaan sang bos besar.


Arini melangkah gontai kedalam ruangan kaca yang sedang tertutup rapat tirai-tirainya itu. Begitu Arini masuk, ia langsung bisa menangkap sosok Tian yang berada dibalik meja biro yang besar sedang membubuhkan tanda tangannya diatas beberapa dokumen.


Tian langsung mengangkat wajahnya saat menyadari Arini sudah mendekat.


“Kesini..” titahnya membuat Arini urung meletakkan tubuhnya keatas kursi yang berseberangan meja dengan kursi yang sedang diduduki Tian saat ini.


Arini mengerinyit.


“Duduk disini saja..” tersenyum sambil menepuk-nepuk pahanya.


Menyadari maksud Tian, Arini manyun sebentar namun akhirnya ia toh tetap mendekati lelaki yang menatapnya dengan tatapan memerintah yang tak terbantahkan seperti biasanya.


Arini akhirnya memutari meja biro yang besar itu guna bisa mendekati kursi kebesaran Tian, dan begitu sampai lelaki itu langsung menarik pergelangan tangan kanan Arini dengan sigap hingga Arini benar-benar terduduk diatas pahanya.


“Mau bicara apa ?” menatap Arini dengan sepasang mata yang dipenuhi kasih sayang.


“Tadi pagi aku mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan..” ujar Arini lirih.


Tian terkekeh kecil. “Kali ini isu apa


lagi ? hhmm..?” menyentuh lembut dagu istrinya yang membingkai sempurna.


“Sayang, kamu kan tau saat ini semua media massa sedang membicarakanmu..”


“Mereka akan berhenti dengan sendiri..” kali ini membelai beberapa anak rambut yang meriap.


“Semua menyebutmu melakukan skandal dengan karyawanmu sendiri..”


“Biarkan saja..” tangan Tian sudah turun mengelus punggung belakang Arini.


“Tadi Meta memberitahukan aku sesuatu..” terus mengadukan apa yang mengganjal difikirannya


“Hhmm..? apa itu ?” jemarinya mulai mencari celah untuk menyusup, sementara target seperti biasa tidak menyadari pergerakan itu.


“Lalu..?” mulai melancarkan aksi yang semakin terang-terangan tapi sayangnya target operasi keburu menyadari kenakalannya.


“Sayang !! Kamu mendengarkan aku tidak sih..?!” memekik kesal saat baru tersadar bahwa Tian sudah melakukan banyak hal diluar kesadarannya.


“Iya, sejak tadi aku mendengarkan..” kilah Tian.


“Mendengarkan bagaimana kalau seperti ini..?” Arini ingin bangkit dari duduknya dengan kesal sambil meraup bagian hem depannya yang hampir keseluruhan kancingnya telah terbuka akibat ulah Tian, tetapi lelaki itu sudah keburu memeluk pinggangnya kuat-kuat.


“Iya, maaf..” meringis menatap Arini dengan pandangan memohon agar istrinya tidak mencoba beranjak dari pangkuannya.


Akhirnya Arini mengalah sambil membuang nafasnya yang kesal. Ia kembali duduk diatas pangkuan Tian sambil sibuk mengancingkan kembali kancing bajunya, melirik sekilas ekspresi Tian yang malah menatap lekat-lekat indahnya pemandangan alam yang karena posisi Arini yang berada tepat didepan matanya, membuat gambaran pemandangan itu juga benar-benar berada tepat didepan hidung suaminya yang super mesum itu.


“Sayang..!” panggil Arini saat melihat tatapan Tian yang belum berpindah dari sana.


“Hmm,”


“Kamu ini sedang memikirkan apa sih ?!”


“Gunung..”


“Appa..?!”


“Ah.. tidak.. tidak..” sambil menggeleng langsung mengangkat pandangannya menatap Arini yang sedang menatapnya dengan tatapan galak.


“Tuh kan.. aku bicara panjang lebar sejak tadi tapi kamu tidak mendengarnya sama sekali..” merenggut.


“Kata siapa aku tidak mendengarnya..? kamu bicara tentang Vera kan ?”


“Huh,”


“Lalu kamu ingin aku melakukan apa sayangku ?”


Arini mendelik. “Bukannya kamu sering bilang bahwa kamu adalah suamiku yang hebat..? lalu mengapa diam saja menerima semua ini ?”


Tian mengulum senyum. “Tapi aku juga sering bilang bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak bisa aku lakukan.. Coz im just a human..” lelaki itu malah membela diri.


“Tapi sekarang kamu bisa melakukannya. Membersihkan


namamu agar tidak jadi bulan-bulanan, dan meredam isu yang membawa-bawa nama Vera.. itu kan bukan hal yang sulit untukmu. Lalu kenapa kamu malah diam saja..?”


Tian hanya menatap celotehan itu tanpa berkedip sambil terus tersenyum. Tidak bisa ia pungkiri bahwa ia sangat menyukai wajah polos Arini jika sudah berucap tanpa titik koma seperti ini. Sungguh menggemaskan.


Sejenak Tian hanya mengelus pipi Arini perlahan, dengan senyum yang tak pernah lekang. Mengabaikan sejenak pancaran mata meminta penjelasan milik Arini yang tidak bergeser sedikitpun saat menatapnya.


“Mengenai Vera, aku akui, meskipun aku sedikit tidak adil karena memberi promosi dilandasi kepentingan pribadi.. tapi bukan berarti Vera tidak pantas menduduki jabatan tersebut. Vera sudah bekerja cukup lama, sejauh ini ia memiliki dedikasi yang tinggi untuk pekerjaan dan sangat loyal kepada pimpinan. Aku sudah menghubunginya langsung tadi pagi.. memberikan dirinya dukungan moril agar bersabar menghadapi isu yang tidak menyenangkan ini. Hanya bisa meminta Vera untuk bersabar.. dan mengemban pekerjaan yang baru dengan penuh tanggung jawab. Aku yakin mental Vera tidak sekerdil itu, untuk menyerah hanya karena perkataan orang lain..”


Meskipun Arini terdiam, namun bukan berarti dirinya langsung merasa puas dengan kalimat penjelasan Tian barusan.


“Benar. Aku bisa saja dengan mudah membuat semua orang, siapapun itu, untuk menutup mulut. Apalagi orang-orang yang ada di kantor pusat ini ?” Tian tertawa kecil sejenak sebelum kemudian kembali berucap.. ”Itu adalah perkara yang sangat mudah. Hanya menutup mulut kan ? Lalu bagaimana caranya aku bisa mencegah apa yang mereka fikirkan..?”


Arini masih terdiam menyimak setiap kalimat Tian. Berusaha mencerna maksud apa yang hendak disampaikan suaminya.


“Intinya, aku tidak suka membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang aku tau pasti tidak bisa aku lakukan. Menutup mulut semua orang itu mudah. Tapi jika aku tidak bisa mencegah prasangka yang terus ada didalam benak mereka.. buatku itu sama dengan zonk. Terlihat berhasil.. tapi sebenanya tidak. Untuk itulah aku memilih diam, aku tidak ingin hidupku hanya dipenuhi oleh opini orang lain. Let it flow.. karena kenyataan akan tetap berada dijalurnya.. sedangkan isu akan menguap.. seiring waktu berjalan..”


Usai berucap demikian Tian mendekatkan wajahnya. Tapi tidak seperti biasanya yang selalu bertindak tanpa aba-aba dan langsung melahap. kali ini ia menghentikan aksinya tepat saat menerima gelagat Arini yang terlihat terhenyak.


“Aku mau menciummu. Kondisikan dahulu tanganmu yang selalu meninju setiap kali terkejut..” ujarnya mengingatkan.


Kali ini Arini tidak bisa menahan diri


untuk tertawa, namun meskipun begitu ia malah memberikan Tian kejutan menyenangkan dengan melakukan tindakan persuasif yang tidak disangka oleh suami tampannya, yang entah kenapa setiap tindakan dan pola pikirnya selalu bisa membuat Arini terkagum-kagum.


Arini mengalungkan kedua tangannya dileher Tian begitu saja, serta merta menunduk untuk mendapati suaminya itu terlebih dahulu, dengan lembut..


.


.


.


.


.


Bersambung…


Like,


Comment,


VOTE,


Jangan lupa ya.. terus beri dukungan untuk si newbie ini.. 😅Lophyuu.. ALL.. 😘