
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🙏
.
.
.
“Daddy..!”
Sean tidak bisa tertahan lagi.
Begitu pintu ruangan Ceo terbuka, bocah itu langsung melepaskan diri dari genggaman tangan Arini begitu saja, langsung menghambur kearah Tian yang tak kalah terkejut mendapati kehadiran istri dan buah hatinya diruang kerjanya.
Tian merentangkan tangannya menyambut langkah kecil Sean, yang langsung menubruknya dengan begitu bersemangat, sementara Arini yang ikut mendekat terlihat menautkan alis saat menyadari aura ketegangan yang sedang terjadi di ruang kerja suaminya itu, dimana Tian dan Rudi nampak behadap-hadapan dengan Tian yang masih berdiri kaku sementara Rudi sebaliknya.. tertunduk dalam.
Sejenak Arini menatap Tian yang telah mengangkat tubuh mungil Sean dan menggendongnya kemudian tatapannya berpaling kearah Rudi, memperhatikan dengan seksama sebelum akhirnya refleks Arini membekap mulutnya sendiri.
“Sayang.. ada apa ini ?” sepasang mata Arini masih setia mengawasi Rudi yang mencoba membuang muka, seolah tak ingin membiarkan kondisi wajahnya yang lebam tertangkap mata Arini apalagi Sean. “Rudi.. ada apa dengan wajahmu ?”
Rudi yang ditanya malah membisu.
Arini memalingkan wajahnya lagi kearah Tian dengan sepasang mata yang telah melotot tajam. "Sayang.. jangan bilang kalau kamu yang melakukannya..!” tuduhnya serta merta, membuat Tian sedikit gelagapan karena tidak bisa mengelak, sementara Arini benar-benar tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat melihat penampilan wajah Rudi yang berantakan.
“Cepat pergi kekamar mandiku, dan benahi wajahmu itu !” Tian berucap datar kearah Rudi, mengabaikan pertanyaan Arini yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh protes.
“Baik, pak..” hanya menunduk takjim kearah Tian dan Arini sebelum akhirnya melangkah kearah pintu menuju ruang pribadi Tian yang ada disudut ruangan.
Tian membuang nafasnya perlahan sebelum berusaha membuka suara. “Kenapa kalian kesini lagi ?” tanya Tian menatap Arini seolah tak terjadi apa-apa. Saat ini nada suaranya sudah begitu lembut, sangat jauh berbeda saat ia bicara dengan Rudi barusan.
“Ponselmu ketinggalan di jok mobil. Aku khawatir kamu akan membutuhkannya makanya aku menyuruh Sudir dan Haris untuk putar balik.”
Berucap demikian seraya menyerahkan benda pipih yang dimaksud kearah Tian yang langsung menyambutnya.
“Sayang.. kenapa kamu melakukan hal seperti itu kepada Rudi ?” Arini kembali bertanya begitu ponsel Tian telah berpindah tangan.
Bukannya menjawab namun Tian malah terlihat sibuk mengendus pipi Sean berkali-kali dengan gemas, membuat Sean kegelian bercampur senang mendapati perlakuan Tian tersebut. Sesaat kemudian lelaki itu terlihat mengutak-atik ponselnya sebentar, kemudian memanggil sebuah kontak seraya menyalakan mode speaker.
“Halo, Haris.. kamu sedang berada dimana ?”
“Saya sedang berada tepat diluar ruangan Ceo, pak Tian..”
“Masuklah kalau begitu.” Tian meletakkan ponselnya keatas meja begitu saja, bertepatan dengan bunyi ketukan yang disusul dengan pintu yang terbuka. Seraut wajah Haris muncul disana.
Arini yang ada dihadapan Tian hanya bisa memandangi gerak-gerik Tian sedari tadi, seraya menghembuskan nafasnya perlahan saat menyadari Tian yang belum berniat menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
“Sean.. mau tidak jalan-jalan dengan paman Haris ? nanti ajak paman Haris untuk beli ice cream..” Tian menatap putranya yang masih berada dalam gendongannya.
Mendengar kata ice cream sepasang mata Sean langsung berbinar. “Mau daddy.. aku mau aisklim..”
Tian tersenyum sebelum akhirnya menatap Haris yang sudah berada dihadapannya. “Haris, tolong belikan Sean ice cream di kafetaria, kemudian bawa Sean jalan-jalan mengelilingi kantor, ajak dia main sebentar.. karena saya perlu waktu untuk membicarakan hal yang penting terlebih dahulu..”
Haris menganguk tanda mengerti dengan perintah Tian. “Baik, pak..”
Tanpa menunggu lebih lama Tian mengikuti kemauan Sean yang telah beringsut turun dari gendongannya.
“Sean jangan nakal yah, sayang..” Arini mengusap pucuk kepala Sean.
“Iya mommy..”
“Haris.. hati-hati..” ucap Arini lagi kearah Haris.
“Iya, bu Arini..”
“Paman.. ayo.. cepat.. nanti aisklimnya habis..” Sean langsung menggenggam tangan Haris terlebih dahulu, sepertinya sudah tidak sabar lagi mendapatkan ice cream yang telah dijanjikan.
Begitu Haris dan Sean menghilang dibalik pintu, Tian langsung menuntun tangan Arini kearah sofa, mendudukkan tubuh mereka disana.
“Sayang.. kamu belum menjawab pertanyaanku sejak tadi. Kenapa kamu memukul Rudi ?”
Tian menghembuskan nafasnya dengan berat. “Tidak apa-apa. Aku hanya memberikan sedikit pelajaran atas kesalahan yang telah ia lakukan.”
“Kesalahan apa yang sudah membuatmu melepas tangan seperti itu ?” Arini menggeleng berkali-kali. “Tidak.. tidak.. kamu tetap tidak boleh melakukannya kepada Rudi, meskipun Rudi telah berbuat kesalahan..”
Wajar Arini merasa tidak rela dengan sikap Tian. Bagaimana pun selama ini Rudi telah mengabdi sekian lama, dengan dedikasi dan loyalitas tanpa batas kepada Tian. Arini benar-benar tidak habis pikir.. hal apa yang bisa membuat Tian semarah ini, sehingga nekad memberi Rudi pengajaran seperti itu.
Mendengar kalimat Tian yang terkesan tidak nyambung itu membuat Arini menatap bingung kearah Tian yang juga sedang menatapnya tanpa berkedip.
“Ini tentang perbuatan Rudi dan.. masa depan Laras.”
“Perbuatan Rudi dan.. masa depan Laras ?” ulang Arini semakin bingung. Sejenak kemudian ia yang mulai memahami arah pembicaraan Tian terlihat menggeleng tak percaya. “Tidak mungkin.. Rudi tidak mungkin..”
Arini terus menggelengkan kepalanya tak ingin mempercayai, namun akhirnya ia tidak bisa berbuat apa-apa saat menyaksikan keseriusan dimata Tian yang menatapnya dengan dalam.
“Apa.. kamu.. kamu akan menikahkan mereka ?” tanyanya lagi setelah sekian lama menyangsikan namun akhirnya memilih untuk lebih mempercayai Tian karena sudah pasti Tian tidak mungkin keliru dalam hal ini.
Tian mengangguk, lega saat menyadari bahwa akhirnya Arini mau mempercayai dirinya.
“Kamu mau memaksa Rudi untuk menikahi Laras ?”
“Aku tidak memaksa. Tapi sudah sepantasnya Rudi bertanggung jawab dengan masa depan Laras.. setelah ia merusaknya..”
Arini terhenyak.
Bertanggung jawab ?
Dengan masa depan Laras ?
Setelah merusaknya ?
Hhhh.. semuanya telah jelas sudah, karena penggalan kalimat.. 'Bertanggung jawab dengan masa depan Laras setelah merusaknya..'
Ketiga penggalan kalimat itu sudah lebih dari cukup dari sebuah penjelasan, bahwa Rudi dan Laras..
Astaga.. Arini sungguh tidak bisa mempercayainya. Tapi lebih dari semua itu.. hati Arini sedikit tersentil saat dengan mata kepalanya sendiri ia bisa menyaksikan betapa raut wajah Tian yang terluka serta dipenuhi kekecewaan yang mendalam, seolah Tian telah gagal menjaga sesuatu yang sudah seharusnya ia jaga, sesuatu yang telah menjadi tanggung jawabnya.
“Sayang.. maukah kamu menanggalkan semua prasangkamu terlebih dahulu demi aku ? aku mohon.. berikan aku kesempatan untuk melakukan tanggung jawabku kepada Laras. Seberapa besar kamu tidak menyukainya.. aku mengerti. Tapi aku tidak bisa membuangnya dan menganggapnya bukan siapa-siapa..”
Arini tertunduk dalam diam.. namun di ulu hatinya yang terdalam merasa terluka. Ia terluka karena kesedihan Tian.. kesedihan yang dikarenakan kegagalannya melindungi orang yang seharusnya bisa ia lindungi.
Disaat seperti ini Arini selalu merasa sangat membenci dirinya sendiri, yang tidak bisa mencegah hatinya untuk kembali membenci keegoisan Saraswati.
Saraswati yang dulunya begitu egois karena telah merusak hubungan antara Tian dan Laras yang awalnya begitu murni.. sehingga menjadi seperti ini. Mengingat jauh sebelum ia mengetahui kebenarannya.. Tian sudah terlihat begitu enggan dengan kehadiran Laras.. hanya saja dirinya terlalu naïf untuk bisa menyadarinya.
Sejak kejujuran Tian tentang Laras di villa tempo hari.. Arini merasa hatinya telah menjadi sekeras karang jika sudah menyangkut Laras. Arini bahkan telah melupakan semua kebaikan yang ada dalam dirinya.
Dan saat ini.. secara tersirat Tian sudah dengan jelas meminta pengertiannya.. untuk bisa berdiri disisi Laras. Sedangkan disaat yang sama, Arini bahkan tidak tau apakah ia mampu melakukannya ?
“Aku akan memanggil Laras kesini..” Tian bangkit dari duduknya, hendak menuju meja kerjanya agar bisa menekan interkom.
“Jadi kamu benar-benar ingin mereka menikah ?” Arini kembali mengulang pertanyaan yang sama.
Langkah Tian terhenti mendengar pertanyaan itu. Ia berbalik sejenak untuk mendapati Arini yang menatapnya, mengangguk perlahan namun dengan keyakinan.
“Apakah mereka akan setuju ?”
Terdiam sejenak, sebelum akhirnya berucap datar..
“Persetan.. aku tidak membutuhkan persetujuan mereka..!”
Kalimat itu terdengar sangat dingin.. namun tatapannya melembut saat kembali menatap wajah Arini.
“Sayang, aku hanya membutuhkan dukunganmu saja.. atas setiap keputusan yang telah aku putuskan..”
.
.
.
Bersambung..
Surprise.. 😍
Hai.. ketemu lagi.. 🤭
kaget gak karena aq up lagi hari ini ?
hehe.. 😜
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 🥰